Terobsesi Kamu Season 2
Demi bakti pada orang tua, Vira merelakan waktunya Jakarta-Bandung merawat sang ayah.
Namun, tanpa disadari, jarak yang ia tempuh justru menciptakan celah lebar di rumah tangganya sendiri. Ia perlahan kehilangan pijakan sebagai pendamping suami dan sosok ibu sambung bagi putri mereka.
Celah itu tak dibiarkan kosong. Hadirnya seorang tutor muda—Cintya yang begitu akrab dengan sang putri membawa badai hasutan yang mengguncang pondasi pernikahannya.
Ketika pengkhianatan mulai membayangi dan kenyamanan rumahnya mulai direbut, Vira tidak membiarkan kebahagiaannya dirampas begitu saja oleh mereka yang berniat menghancurkan.
"Kau terobsesi ingin memiliki suamiku?" Vira menatap tajam wanita muda yang menjadi tutor putrinya.
"Aku akan merebutnya dan menggantikan posisimu secepatnya, Vira," balas Cintya dengan seringai dingin.
Akankah Vira dan William mampu bertahan dalam menjalani pernikahan yang mulai terkoyak karena orang ketiga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drezzlle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita Masa Lalu
Vira memberikan tatapan muak kepada kakak iparnya. Tanpa memedulikan tatapan tajam Monic, ia mendekat dan menarik lengan Chika untuk menjauh.
"Sudah Mama katakan, tunggu Mama yang menjemput," ujar Vira tegas.
Chika menyentak tangannya, menatap ibu tirinya itu dengan sinis. "Kelamaan ... keburu ngantuk," sahutnya ketus.
"Kau ini jadi mama kerjanya apa saja? Tidur seharian? Harusnya kau tahu kalau hari ini Chika pulang lebih awal," timpal Monic. Ia mendekat ke arah Vira dengan langkah angkuh.
Vira berdecak kesal, mengabaikan cemoohan itu. Ia kembali menarik lengan putrinya, memaksa gadis itu masuk ke dalam rumah untuk menghindari keributan yang lebih memalukan di halaman.
"Oh, iya, Chika! Jangan lupa sore ini Miss Cyntia mulai mengajar, ya. Kau bisa belajar di rumah dengannya nanti. Onty sudah meneleponnya. Oke!" seru Monic mengingatkan.
Langkah Vira terhenti. Ia berbalik dengan dahi berkerut. "Apa maksudnya, Kak? Ada guru yang akan mengajar di rumah?"
"Kenapa? Apa kau merasa perlu tahu?" Monic yang tadinya hendak masuk ke mobil, kembali berdiri tegak dengan raut menantang.
"Tentu saja. Aku harus tahu," tegas Vira.
Sudut bibir Monic terangkat, membentuk seringai dingin yang meremehkan. Ia menutup pintu mobilnya dengan dentuman keras lalu melangkah mendekati Vira.
"Selama ini yang mengurus Chika adalah Mommy dan aku. Jadi, kau sebagai pendatang baru tinggal menurut saja," tukasnya tajam.
Chika yang jengah melihat perdebatan itu segera melarikan diri masuk ke dalam rumah sembari menangkup telinga. Ia enggan terseret dalam ego dua orang dewasa itu.
"Tapi aku mamanya sekarang! Aku berhak tahu siapa pun yang memasuki rumah ini!" Vira bersikeras.
Monic mendengus kasar. Ia meraih sebuah map merah dari dalam mobil lalu melemparkannya ke arah Vira. "Ambil itu!" ketusnya sebelum masuk kembali ke mobil dan memacu kendaraannya keluar halaman dengan kasar.
Vira memungut map berisi profil tutor tersebut dan membawanya masuk.
"Chika, kenapa tidak bicara soal tutor ini?" tanya Vira saat melihat putrinya hendak naik ke lantai dua.
"Sudahlah. Sekarang kan Mama sudah tahu. Jangan dibuat ribet!" sahut Chika seraya mempercepat langkah dan membanting pintu kamarnya.
Vira menyusul hingga ke ambang pintu. "Papa juga belum tahu soal ini, kan?"
Chika melepas sepatunya dengan kasar hingga benda itu terpental hampir mengenai wajah Vira. Beruntung, Vira sigap menghindar. Ia memungut sepatu itu dan melemparkannya kembali ke pangkuan Chika.
"Letakkan yang benar!" tegas Vira dengan suara rendah namun menekan. Chika tersentak melihat kilat kemarahan di mata ibu tirinya, lalu dengan bersungut-sungut menaruh sepatu itu di rak.
"Mulai sekarang, Mama pegang satu kunci cadangan. Tidak ada lagi drama bangun terlambat. Dan ingat, buang sampahmu pada tempatnya. Jangan biarkan kamar ini jadi TPS lagi!"
Vira keluar dari kamar dengan napas memburu. Ia segera menghubungi William untuk membahas perihal kedatangan tutor ini sebelum amarahnya kembali meledak.
.
.
Sore harinya, bel rumah berbunyi. Bi Ijah segera melapor dengan wajah ragu. "Bu, ada tamu. Namanya Cyntia, katanya guru les yang dikirim Non Monic."
Vira mengangguk, mengalihkan Anggi yang sedang disuapinya kepada sang pengasuh. Di ruang tamu, seorang wanita muda dengan blus merah dan blazer hitam menyambutnya dengan senyum yang sangat ramah.
"Perkenalkan, saya Cyntia. Tutor yang direkomendasikan Ibu Monic untuk Chika," ucapnya santun sembari menjabat tangan Vira.
Vira mempersilakannya duduk dan meminta Bi Ijah memanggil Chika. Sembari menunggu, Vira melakukan sesi wawancara singkat.
Melihat latar belakang pendidikan Cyntia yang impresif, Vira akhirnya merasa cukup tenang untuk menerimanya.
"Baik Cyntia, kau bisa mulai mengajar mulai hari ini."
Vira lalu memanggil putrinya dengan suara keras karena tak kunjung turun. "CHIKAA!"
Gadis belia itu akhirnya menunjukkan batang hidungnya dengan muka bantal dan raut lesu.
"Chika, Miss Cyntia mulai mengajar hari ini. Gunakan ruang tengah dulu untuk belajar, ya?"
"Hai, Chika ... kita bertemu lagi," sapa Cyntia sembari melambaikan tangan.
Vira menoleh cepat. "Kalian pernah bertemu?"
Cyntia tersenyum misterius. "Iya, kami pernah bertemu tiga tahun lalu di Aussie. Keluarga kami ... maksudnya William dan keluarga saya sangat akrab, karena itulah Ibu Monic meminta saya mengajar Chika setibanya di Indonesia."
Vira mengangguk, meski hatinya mulai merasa tidak nyaman menyadari bahwa tutor ini adalah "orang kiriman" kakak iparnya.
"Tinggal di mana selama di Indonesia, Cyntia?" tanya Vira, mencoba menggali informasi lebih dalam.
"Saya tinggal sendiri di apartemen. Tapi sepertinya hanya sementara, karena saya sudah menemukan 'rumah' baru," jawab Cyntia dengan nada suara yang tiba-tiba mendingin.
"Oh, kau akan menetap lama?" Vira mencoba tetap ramah.
Cyntia menggeleng perlahan. "Kedatangan saya ke Indonesia sebenarnya untuk menemui kekasihku yang tiba-tiba menghilang. Aku sangat merindukannya," lanjutnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Vira tersenyum kaku, merasa bersalah telah menyinggung privasi Cyntia.
Namun, suasana canggung itu mendadak pecah saat terdengar derap langkah kaki mendekat.
"Sayang, siapa—"
William terpaku di tempatnya. Kalimatnya menggantung di udara saat Cyntia menoleh ke arahnya.
Vira segera bangkit menyambut suaminya. "Oh, ini tutor rekomendasi Kak Monic yang kubicarakan tadi."
Cyntia ikut berdiri. Ia menatap William dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kebahagiaan dan kerinduan yang mendalam. Ia mengulurkan tangannya tanpa ragu.
"Sudah lama kita tidak bertemu, William."
William sama sekali tidak membalas uluran tangan itu. Ia justru mematung dengan tatapan dingin. Kemudian, memalingkan wajah dan beralih ke sang istri.
"Sayang, aku ingin istirahat sebentar. Kita bicara di kamar saja, ya?" ucap William. Ia mengusap lembut pipi Vira dengan ibu jarinya, sebelum berbalik meninggalkan ruang tamu.
Cyntia menarik kembali tangannya perlahan. Senyum manisnya kini berubah menjadi getir, namun matanya tetap mengikuti punggung William hingga menghilang di balik tangga.
"Miss Cyntia, Anda bisa menunggu sebentar sampai Chika kembali. Nanti saya minta asisten rumah tangga menyiapkan ruang belajar terlebih dahulu," ujar Vira dengan nada sopan. Tanpa menunggu jawaban, ia segera menyusul langkah suaminya menuju lantai dua.
.
.
Di dalam kamar, suasana terasa menyesakkan. William mengembuskan napas kasar sembari melepas dasinya. Ia berdiri membelakangi pintu, menatap kosong ke arah jendela kamar yang memperlihatkan langit sore yang cerah.
Suara pintu yang terbuka membuat William menoleh. Ia melihat Vira melangkah mendekat.
"Jadi, dia tutor yang direkomendasikan Monic?" William bertanya dengan nada suara yang tidak senang. Ada kegelisahan yang nyata dalam sorot matanya.
Vira mengangguk perlahan. Ia mendekat, membantu suaminya melepaskan jas kerja yang masih melekat, lalu melingkarkan kedua tangannya di leher William dengan manja.
"Dia cantik, bukan?" goda Vira, mencoba mencairkan suasana yang kaku.
William menggeleng cepat tanpa ragu. "Wanita tercantik di dunia ini adalah istriku," bisiknya tepat di depan bibir Vira, sebelum mendaratkan kecupan singkat yang hangat.
"Dia bilang ... kalian saling mengenal. Seberapa jauh?" Vira mulai melancarkan pertanyaan intinya. Ia ingin tahu hubungan seperti apa yang terjalin antara William dan keluarga Cyntia hingga kakak iparnya begitu bersikeras membawa wanita itu masuk ke rumah mereka.
William menelan saliva, tenggorokannya mendadak terasa kering. Gurat ketegangan kini terpahat jelas di wajahnya yang biasanya tenang.
"Vira ... kau tahu sendiri, aku tidak pernah sanggup membohongimu dalam hal apa pun, kan?" ucapnya dengan nada ragu yang sangat kentara.
Melihat ekspresi serius suaminya, jantungnya mulai berdegup tidak keruan, menanti kalimat yang akan meluncur dari bibir William.
"Kami ... dulu sempat bertunangan, Vira," lanjut William dengan suara rendah.
Bersambung...
🤣🤣semuanya aja lah
mulai bsk dicatat tiap bln-nya will spy bs jaga, sblm 'dapat' minta jatah dl🤭