Novel ini berkisah tentang kehidupan SMA yang sarat dengan cinta- cintaan, persahabatan, persaingan antar geng di sekolah, dll. dengan latar belakang olah raga bela diri seperti karate, tinju, kick boxing, muathai dsb
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemenangan yang Menyakitkan
Sekitar setahun yang lalu di kota Manado, waktu menunjukkan hampir pukul 23.00.
Angin malam bertiup cukup kencang malam itu, membawa bau asap motor yang pekat.
Mauren sudah tertidur di kamarnya, tanpa tahu di jalan Boulevard Tondano ada 2 orang muda yang mempertaruhkan dirinya: siapa yang kalah dalam balapan motor ini harus menjauh dari Mauren.
Deretan lampu PJU berwarna kuning yang terpasang di sepanjang jalan lurus itu tidak cukup menembus kegelapan malam. Sekitar 20 anak muda yang berusia sekitar 17-18 tahun, sudah berkumpul di pinggir jalan, dengan HP masing-masing di tangan siap merekam aksi 2 anak muda itu.
Dua motor bebek bersiap berhadapan di dua garis start yang dibuat dadakan dengan kapur oleh wasit pertandingan ini. Jino menarik gas motornya dengan kencang, sehingga memekakkan telinga. Dia memegang helm full-face-nya, memastikan helm sudah terpasang dengan benar.
1 kilometer di depan dia, Mauro juga sudah bersiap dengan motor bebeknya. Helm full-face-nya juga sudah terpasang rapi. Dahinya berpeluh, dan matanya fokus ke depan. Seolah tak mau kalah dengan Jino, Mauro juga memutar gas motornya sampai meraung begitu kencang.
Kemudian, sambil membawa bendera, wasit berjalan perlahan ke tengah-tengah mereka dan meletakkan sebuah botol berisi air mineral. Aturannya sederhana, namun berisiko tinggi: siapa yang berhasil duluan mengambil botol itu, dialah pemenang dalam adu balap liar ini.
“Satu… dua… tiga…,” teriaknya dengan megaphone, kemudian dia mengibarkan bendera tanda balapan dimulai.
Jino memutar gas di motornya sambil berbaring di atas jok motor. Speedometer menunjukkan 80, 90, 100, 110, 120 km/jam. 1 km di depannya, pemandangan juga sama. Mauro berbaring di jok motornya dan memacu motornya sekencang mungkin.
Ini bukan balapan motor biasa… ini adalah balapan super ekstrim, di mana seorang juara balap motor 500 cc pun enggan melakukannya.
Motor Jino melaju dengan kencang, mendekati botol yang ada di tengah-tengah.
Pemandangan serupa juga terjadi pada Mauro, dia dan motornya melaju dengan sangat kencang.
Tapi terjadi sesuatu yang tidak diharapkan!
Ban depan Mauro meletus saat motor melaju cepat. Motor oleng dan Mauro terjatuh ke jalan.
Jino tidak memperhatikannya dan terus memusatkan perhatiannya pada botol yang harus diambilnya dalam kecepatan tinggi. Dia berhasil! Jino keluar sebagai pemenang dalam balap motor malam itu.
Tapi tak satupun ada yang memperhatikan atau memberikan tepukan kepadanya.
Para penonton sedang menahan napas, menantikan apa yang sedang terjadi pada Mauro.
Mereka semua khawatir, tapi tak ada yang berani mendekat.
Wasit segera berlari ke arah Mauro untuk memastikan keadaannya. Setelah beberapa saat, wasit mengangkat tangan membentuk tanda X, menandakan bahwa telah terjadi sesuatu dan Mauro tidak mungkin bisa melanjutkan balapan.
Penonton, wasit, dan Jino segera membubarkan diri. Tak lama kemudian polisi dan ambulans datang, memeriksa Mauro dan membawanya pergi dari lokasi.
Di RSUD kota Manado, ruangan ICU terasa begitu dingin meski semua lampu menyala terang.
Papa dan mama Mauro hanya bisa menangis sambil berpelukan di kursi rumah sakit yang keras, air mata mereka jatuh berlinang tanpa suara, dan saling membasahi baju mereka satu sama lain.
Anak semata wayang mereka, yang selalu pulang menyanyi-nyanyi gembira dan tersenyum lebar setelah latihan karate, kini hanya terbaring diam dengan wajah datar. Malam itu telah merenggut segalanya, meninggalkan kesedihan yang lebih berat daripada benda paling berat sekalipun. Mereka tak bisa berkata-kata; hanya pelukan dan tangis yang bisa mereka lakukan.
Keesokan harinya, langit di kota Manado tidak secerah biasanya, seolah ikut berduka atas kepergian Mauro. Upacara pemakaman Mauro berlangsung khidmat di sebuah pemakaman umum di kota Manado. Ratusan orang hadir, dari teman-teman sekolah, teman-teman karate, dan tak ketinggalan Mauren dan Jino.
Beberapa guru juga terlihat hadir memberi penghormatan terakhir kepada Mauro yang pernah memberikan kebanggaan kepada sekolah. Sensei Jimmy yang hadir juga melakukan penghormatan terakhir kepada salah satu anak didiknya yang terbaik itu.
Aroma bunga kamboja dan tanah kuburan menambah haru dan mencekamnya suasana.
Pendeta berkata, “dari debu kembali ke debu,” menambah syahdu dan kesedihan suasana.
Mauren berdiri di barisan depan bersama papa dan mama Mauro, dan tangannya menggenggam saputangan yang sudah basah oleh air mata itu. Matanya yang sembap oleh air mata seolah berharap ini semua cuma mimpi, dan Mauro segera mengucapkan kata ‘I love you’ yang belum sempat diucapkannya itu.
Mauren kemudian menatap langit, dan menjerit dalam hati, “kenapa?”
Jino berdiri bersama barisan teman Mauro yang lain dengan tangan terkepal menahan emosi.
Wajahnya terlihat pucat dan matanya merah akibat tidak tidur semalaman.
Memang dalam balap motor itu dia yang keluar sebagai pemenangnya, tapi kemenangan itu terasa hambar. Dendamnya kepada Mauro bertumpuk-tumpuk: kalah di final karate, dan kalah langkah dalam mengejar Mauren. Dia tidak mau kalah kedua kalinya oleh Mauro, maka dia ajukan tantangan balap motor itu kepada Mauro, dengan taruhan “siapa yang kalah harus menyingkir dari kehidupan Mauren.”
Jino pada akhirnya keluar sebagai pemenang, dan dia menang taruhan itu. Tapi bukan kemenangan semacam ini yang dia mau.
Jino masih terbayang saat motor Mauro hilang keseimbangan lalu terhempas dan saat suara sirene memecah keheningan malam. Jino terhenyak, ini bukan sebuah kemenangan yang membanggakan, melainkan sebuah kehancuran.
Dia memenangkan Mauren dan berhasil membuat Mauro menyingkir dari kehidupan Mauren, tapi dia serasa malah kehilangan dirinya sendiri. Sesaat dia menatap helm yang dikenakannya dalam malam yang menegangkan itu, dan untuk pertama kalinya setelah beberapa belas tahun dia menangis sesenggukan seperti anak kecil.
“Mauro bukanlah seorang sahabat dalam kehidupanku, bahkan dia adalah seorang pesaingku dalam segala hal,” kata Jino dalam hati. “Tapi bukan dengan cara seperti ini yang kuharapkan menang darinya.”
Bayangan rasa bersalah karena menyebabkan Mauro harus pergi selamanya membuat Jino berpikir ekstra keras. Beberapa minggu kemudian dia mengambil keputusan drastis dengan memutuskan untuk tinggal bersama pamannya di Jakarta dan bersekolah di kota Metropolitan itu.
Jiro pindah ke Jakarta tanpa berita, mengganti nomor HP-nya, dan tak mau berusaha mengontak Mauren, seolah ia berusaha mendapat kehidupan baru. Memang, Mauro bukanlah sahabatnya, namun rasa bersalah baik kepada Mauro, papa mama Mauro, maupun Mauren telah membawa perubahan besar pada diri Jino.
Di Jakarta masa sekarang, di sebuah kamar sempit yang hanya diterangi lampu temaram, Axel melepas hoodie, masker, dan kacamata hitamnya. Dia berkata, “Rommy, aku berharap kita bertemu di final kejuaraan tinju itu. Dan kau akan merasakan ini.”
Axel menyeringai kejam sambil meniup kepalan tangannya.