Definisi takdir yang tidak bisa kita tebak.
Kehidupan terus berjalan, hanya bersama ketika bersekolah di sekolah menengah pertama, itupun menjadi musuh yang tidak berujung damai meskipun sudah lulus.
Lama tak jumpa, tanpa kabar, tanpa melihat sosial media, karena sama-sama merasa tidak perlu.
Suatu hari seperti biasanya, gadis bernama Kenzie itu pulang ke rumah ibunya karena libur akhir pekan, namun, kepulangannya kali ini justru berbeda, ia harus menerima pernikahan yang tidak ia inginkan, karena dijodohkan dengan musuhnya saat SMP.
Keduanya sama-sama memiliki kekasih, apa mereka menerima pernikahan tanpa cinta itu?
Kalaupun pernikahan itu terjadi, bagaimana kelanjutan hubungan mereka dengan kekasihnya masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cimai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 : Manusia Kepala Batu!
Kenzo masih berdiri di bawah guyuran shower dengan sedikit mendongak. Ia mengingat kejadian yang tidak terduga hari ini. Setelah menarik napas dalam-dalam, Kenzo mempercepat aktivitas mandinya.
"Gue kenapa seperti ini?" gumam Kenzo.
Meskipun masih ada efek alkohol, keadaan Kenzo sudah lebih baik setelah mandi. Ia duduk di sofa sambil memperhatikan rumahnya yang sudah bersih. Sudut bibirnya tersenyum saat menatap rantang di meja.
"Terima kasih," ucapnya lirih.
Kenzo langsung mengambil piring karena aroma masakan itu sangat menggugah selera.
"Sesuai penampilan, rasanya juga enak." gumamnya.
Kenzo sangat lahap menyantap hasil masakan Kenzie itu.
Sedangkan Kenzie, ia masih menangis mengingat kejadian dirumah suaminya.
"Aku nggak mau ketemu dia lagi!"
Kenzie berusaha menyeka airmatanya, namun, masih sangat sulit untuk berhenti.
"Kak Vito bentar lagi pasti datang, jangan nangis, OKE!"
Kenzie berusaha menarik napas berulangkali, mencoba untuk melupakan kejadian tadi dan berusaha menganggap kejadian tersebut tidaklah nyata.
"Bisa Kenzie, bisa! dia mabuk! dia pasti nggak sadar! dia pasti ngira kamu pacarnya! dia pasti nggak ingat kejadian ini!"
Setelah menarik napas panjang, Kenzie menggunakan makeup yang sempat tertunda.
"Kak Vito?"
Kenzie langsung bergegas ke depan untuk membukakan pintu.
"Cantik sekali Zizieku," puji Vito.
"Bisa aja, tapi, terima kasih." ucap Kenzie.
Kenzie langsung tersipu malu sembari mempersilahkan Vito untuk menunggunya sebentar lagi.
"Kakak mau minum dulu?" tanya Kenzie.
"Nanti nggak jadi jalan, lain kali aja." tolak Vito.
Kenzie tidak tersinggung karena memang tujuannya untuk pergi.
Seperti biasa, Vito memarkirkan mobilnya di depan karena gang untuk masuk ke kontrakan Kenzie sangat kecil dan hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua.
"Sudah?" tanya Vito.
"He'em," jawab Kenzie.
Saat hendak keluar, Vito menahan lengan Kenzie karena melihat wajah kekasihnya sedikit berbeda.
"Kamu habis nangis?" tebak Vito dengan raut wajah khawatir.
Kenzie hampir terkejut, namun, sedetik kemudian ia bisa merubah raut wajahnya.
"Biasa Kak, menangisi drama." jawab Kenzie berbohong.
Vito langsung merasa lega karena Kenzie menjawab dengan nada dan raut wajah yang meyakinkan. Selain itu, kecintaan Kenzie terhadap drama bukan hal yang asing bagi Vito. Ia kerap menjadi curahan hati Kenzie setelah selesai menonton.
"Kalau ada apa-apa jangan pernah dipendam sendiri, ya." pinta Vito.
Kenzie mengangguk.
"Drama di kehidupan nyata, Kak. Kalau kamu tau, kamu pasti kecewa." bathin Kenzie.
Tujuan perjalanan sepasang kekasih itu ke pantai yang masih dekat untuk dijangkau . Hari libur akhir pekan, jalanan sangat ramai. Merekapun terjebak macet di beberapa tempat.
"Mau nungguin sunset nggak?" tanya Vito.
Kenzie langsung mengangguk cepat karena ke pantai tanpa menemui sunrise atau sunset terasa ada yang kurang.
Penampilan Kenzie hari ini lebih feminim, memberikan kesan lebih anggun dengan outer.
"Makan dulu yuk," ajak Vito.
Kenzie mengangguk. Setelah bertahun-tahun berpacaran, sudah banyak hal yang tidak perlu ditutup dengan rasa gengsi ataupun malu. Untuk urusan perut, Kenzie akan langsung mengatakan lapar jika bersama Vito.
Vito sudah membooking sebuah saung untuk istirahat nanti, sehingga tidak khawatir dengan pengunjung yang ramai.
...
Kenzo yang sedang bekerja didatangi oleh Gita dirukonya. Dengan terpaksa, Kenzo menyerahkan pekerjaan ke karyawannya karena harus mengurus kekasihnya itu.
"Aku minta maaf, Babe ... please maafin aku, aku khilaf, aku terlalu ingin memiliki kamu," ucap Gita sampai berlutut.
Biar bagaimanapun, Gita dan Kenzo juga sudah lama menjalin hubungan. Tidak mudah bagi Kenzo untuk mengakhiri hubungan ini begitu saja.
"Bagaimana dengan Kenzie? apa dia sudah maafin aku?" bathin Kenzo justru tidak fokus pada Gita.
"Babe,"
Gita mengayun-ayunkan tangan Kenzo agar menanggapinya.
"Babe ..,"
Gita masih tidak menyerah, ia memeluk Kenzo tanpa ragu seperti yang sudah biasa mereka lakukan ketika bertemu.
"Kenapa?"
"Kenapa kamu lepasin pelukan aku?" tanya Gita terkejut dengan sikap Kenzo.
Terlihat Kenzo mencoba menghela napas panjang, kemudian ia meraih tangan Gita seraya tersenyum tipis.
"Aku cinta sama kamu, tapi, jangan ajak berbuat seperti itu sebelum menikah. Aku nggak mau kebablasan, dan aku menjaga kesucian kamu." ujar Kenzo.
Gita hanya tersenyum tipis.
"Jangan mabuk-mabukan lagi," pinta Kenzo dengan lembut.
Gita langsung mengangguk cepat karena sudah mendapatkan sinyal positif dari Kenzo yang berarti telah memaafkannya atas kejadian semalam.
"Kamu memang yang terbaik," puji Gita
Berbeda dengan penampilannya tadi malam yang begitu seksi, penampilan Gita hari ini sangat simpel.
Dengan sengaja Kenzo tidak memberitahukan kediamannya yang utama, namun, untuk rumah di bengkel ini sudah biasa dikunjungi oleh Gita dan teman-temannya.
"Kamu nggak perlu aneh-aneh untuk membuatku tertarik," ujar Kenzo.
Keduanya saling berhadapan dengan tangan ada di pinggang pasangan.
"Si tengil?!" bathin Kenzo tiba-tiba melotot.
"Kamu kenapa, Babe?" tanya Gita.
"Babe! aku terlihat aneh kah kok kamu gitu banget lihatinnya?"
Kenzo langsung mengerjapkan bola matanya berkali-kali setelah sadar bahwa didepannya bukanlah Kenzie.
"Astaga!"
"Kamu kenapa, Babe?" tanya Gita khawatir.
Kenzo menggelengkan kepalanya.
"Nggak papa, aku lupa info pekerjaan," jawab Kenzo.
"Oohh,"
Karena Kenzo sangat sibuk, akhirnya Gita pamit pulang setelah merasa bosan. Bahkan Kenzo tidak memberikan ciuman saat kekasihnya hendak pulang, ia hanya melambaikan tangan tanpa mendekati Gita.
"Semakin nggak normal! bikin bosan!" bathin Gita memukul setir mobilnya.
...
Sangat jarang bertemu karena menjalin hubungan jarak jauh, hari ini Vito dan Kenzie berencana menghabiskan waktu bersama hingga malam di pantai.
Kenzie tengah duduk di pasir putih itu dengan pemandangan air laut. Sedangkan Vito masih izin ke toilet.
"Sudah lama nggak ke pantai," gumam Kenzie.
Setelah merasa cukup lama duduk di pasir, Kenzie kembali ke saung.
"Dingin ya?" tanya Vito yang bersamaan kembali.
Kenzie mengangguk sembari memeluk tangannya sendiri.
Vito ikut naik ke saung lalu duduk bersandar.
"Dia nggak merasa bersalah! benar-benar manusia kepala batu! isinya napsu doang!" bathin Kenzie justru terbayang wajah Kenzo yang menyebalkan.
Kenzie langsung tersadar dari lamunannya ketika Vito merengkuh pinggangnya.
"Kak, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Kenzie.
Vito mengangguk.
"Kakak serius mau nikahi aku tahun depan 'kan?" tanya Kenzie.
Umumnya seorang wanita, Kenzie juga ingin meminta kepastian terus-menerus dari seseorang yang ia cintai.
Vito tidak langsung menjawab, ia justru seperti sedang berpikir sehingga membuat Kenzie mengernyitkan dahi.
"Zizie, selama ini kita pacaran, kamu masih ragu?" balas Vito.
Kenzie menggeleng pelan.
"Aku khawatir Kakak nggak serius dan aku hanya menunggu hal yang sia-sia," jawab Kenzie.
Vito masih dengan senyuman di bibirnya.
"Kakak hanya nggak mau menikah dalam keadaan yang belum benar-benar siap, menikah nggak sebercanda itu, Zie."
"Bercanda?" balas Kenzie lalu sudut bibirnya terangkat heran.
Kenzie langsung bergeser, jawaban Vito membuatnya terkejut.
"Bukan gitu maksud Kakak, aduh gimana ya jelasinnya, Kakak akan menikahi kamu ... tapi, Kakak harus menabung, mempersiapkan mental, finansial dan kalau bisa Kakak sudah punya tempat tinggal pribadi buat masa depan nanti," jelas Vito.
Perasaan Kenzie sudah terlanjur kecewa sehingga ia tidak mau membahasnya lagi. Bukan karena kalimat bercanda, tetapi ungkapan Vito yang pernah membahas pernikahan untuk tahun depan, tetapi jawaban hari ini membuat Kenzie tidak menyangka.
"Iya, aku minta maaf, Kak." ucap Kenzie.
Vito merangkul pundak Kenzie sembari meminta maaf pada kekasihnya.
klau kemaren sampek terjadi...aku pasti kecewa sama dia....
untung aja gagal...tapi aku gak suka kalau si kenzo masih nyium nyium si cewek itu.
sedang kenzi masih ori..belum tersentu...
Karena ada kendala dan saat itu author tidak bisa melanjutkan, akhirnya terpaksa dihapus dulu.
In syaa Allah nanti akan di update lagi, untuk saat ini sekalian mau direvisi dulu dan mau fokus ke judul ini dulu ya 🙏
Terima kasih 😍