Demi melunasi hutang budi, Dokter Yoga terpaksa menikahi Dinda, wanita pengkhianat yang tak pernah ia sentuh selama setahun pernikahan. Di tengah sandiwara itu, ia harus menjaga Anindya, istri mendiang sahabatnya yang lumpuh akibat kecelakaan tragis.
Saat Yoga berhasil bebas dan menceraikan Dinda demi menikahi Anindya, sebuah rahasia besar meledak: Anindya ternyata adalah Nayla Rahardjo, putri sulung yang hilang dari keluarga mantan mertuanya sendiri.
Bagaimana Yoga mencintai wanita yang ternyata adalah kakak dari mantan istrinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji diujung kesembuhan
Malam itu, suasana di rumah baru Yoga terasa begitu menyejukkan. Yoga mendorong kursi roda Anindya memasuki ruang tamu, di mana Ibu Sekar sudah menunggu dengan senyum paling tulus yang pernah ia miliki.
Anindya sempat menunduk, meremas jemarinya yang dingin karena rasa minder yang tiba-tiba menyerang. Ia takut Ibu Sekar akan menatapnya dengan tatapan kecewa karena kondisi fisiknya, seperti yang dilakukan Ibu kandung dokter Arka dulu. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
Ibu Sekar mendekat, mengusap bahu Anindya dengan lembut, dan memeluknya. "Selamat datang di rumah, Nak Anindya. Yoga sudah banyak bercerita tentangmu. Akhirnya kita bisa bertemu."
"Maafkan kondisi saya, Bu..." bisik Anindya pelan.
Ibu Sekar tersenyum teduh. "Bagi Ibu, kecantikan hati dan kebahagiaan anak Ibu adalah yang utama. Selama Yoga bahagia bersamamu, Ibu akan selalu mendukung kalian."
Mereka bertiga duduk melingkar di meja makan kayu yang sederhana. Tidak ada pelayan berseragam atau suasana kaku seperti di rumah keluarga Dewi. Hanya ada nasi hangat, sayur lodeh, dan sambal terasi buatan Ibu Sekar.
Yoga terus menyuapi Anindya dengan telaten, sesekali menyelipkan candaan yang membuat suasana mencair. Setelah makan malam selesai, Yoga berpamitan sebentar.
"Anin, Ibu... aku ke ruang kerja sebentar ya? Ada laporan dari Rumah Sakit Sehati dan urusan kantor Yogyakarta yang harus aku tandatangani malam ini juga," pamit Yoga sambil mencium kening ibunya dan mengusap rambut Anindya.
Sepeninggal Yoga, Ibu Sekar mengajak Anindya duduk di ruang tengah yang menghadap ke taman kecil. Ibu Sekar menggenggam tangan Anindya, matanya menatap lekat ke arah pintu ruang kerja Yoga yang tertutup.
"Anindya, ada sesuatu yang harus kamu tahu," ucap Ibu Sekar dengan suara rendah. "Selama lima tahun di Jakarta, Ibu hampir tidak pernah melihat Yoga tersenyum lepas seperti tadi."
Anindya mendengarkan dengan saksama.
"Waktu dia menikah dengan Dinda, dia melakukannya demi membalas budi dan karena tekanan. Setiap hari dia pulang dengan wajah lelah, hatinya kosong. Dia menderita, Anin. Tapi sekarang, sejak pindah ke Surabaya dan bertemu lagi denganmu, Ibu merasa putra sulung Ibu sudah kembali."
Ibu Sekar mengusap air mata di sudut matanya. "Tadi di meja makan, Ibu melihat binar di matanya yang sudah lama hilang. Itu semua berkat kamu. Kamu telah mengembalikan nyawa ke dalam diri Yoga."
Anindya tertegun, hatinya bergetar mendengar cerita itu. Ia tidak menyangka kehadirannya membawa dampak sebesar itu bagi Yoga.
"Tolong, Nak... tetaplah di sampingnya. Jangan tinggalkan dia lagi. Biarkan Yoga menjagamu, karena dengan menjagamu, dia sebenarnya sedang menyembuhkan dirinya sendiri," pinta Ibu Sekar tulus.
Anindya mengangguk mantap, air mata haru jatuh di pipinya. "Saya janji, Bu. Saya tidak akan pergi lagi."
Tak lama kemudian, Yoga keluar dari ruang kerjanya dengan wajah cerah. Ia melihat dua wanita yang paling dicintainya itu sedang berpegangan tangan.
"Ada apa ini? Kok serius sekali bicaranya?" goda Yoga sambil mendekat.
Yoga berlutut di samping kursi roda Anindya. "Anin, tadi aku baru saja berdiskusi dengan kolega spesialis ortopedi dan fisioterapi terbaik di Rumah Sakit Sehati. Besok, aku ingin kita mulai melakukan pemeriksaan intensif untuk kakimu. Aku ingin kamu berdiri dan berjalan lagi, bukan hanya untukmu, tapi untuk kita."
Pelukan erat Anindya membuat Yoga sempat terhuyung ke belakang, namun ia segera menyeimbangkan diri dan mendekap wanita itu dengan penuh perasaan. Kehangatan itu seolah menyapu bersih semua rasa lelah Yoga seharian ini.
"Ehem... ehem..."
Suara deheman Ibu Sekar yang disengaja itu memecah suasana romantis di ruang tengah. Anindya yang baru sadar kalau dirinya masih berada di depan calon ibu mertua langsung melepaskan pelukannya dengan gerakan kilat. Wajahnya memerah padam hingga ke telinga, ia menunduk dalam-dalam, pura-pura merapikan roknya.
"Ma-maaf, Bu... Anin lancang," bisik Anindya dengan suara sangat pelan karena malu yang luar biasa.
Ibu Sekar tertawa kecil melihat tingkah calon menantunya itu. "Tidak apa-apa, Anin. Ibu mengerti kalian sedang bahagia. Tapi benar kata Yoga, sebaiknya segera diresmikan supaya pelukannya tidak perlu pakai 'ehem' lagi."
Yoga tertawa lepas, ia sengaja menggoda Anindya dengan menaik-turunkan alisnya. "Dengar itu, Sayang? Ibu saja sudah tidak sabar. Jadi, besok kita urus administrasi ke KUA ya?"
"Mas Yoga!" Anindya memukul pelan lengan Yoga, membuat suasana di rumah itu semakin hangat dengan tawa.
Keesokan harinya, Yoga membawa Anindya ke Rumah Sakit Sehati. Sebagai dokter yang berdedikasi, Yoga tidak main-main. Ia mengosongkan jadwal praktiknya demi mendampingi Anindya menjalani serangkaian tes, mulai dari MRI hingga tes konduksi saraf.
Di ruang konsultasi, Dokter Hendra, spesialis saraf senior sekaligus rekan Yoga, menatap layar monitor dengan saksama.
"Yo, kabar baik," ujar Dokter Hendra sambil menunjuk hasil pemindaian. "Kelumpuhan Anindya bukan disebabkan oleh saraf yang putus total, tapi karena trauma hebat dan adanya penekanan pada cakram tulang belakang yang belum tertangani secara tuntas. Istilahnya, sarafnya hanya 'pingsan' karena tekanan tersebut."
Anindya menggenggam tangan Yoga dengan kuat, jantungnya berdegup kencang menunggu kelanjutan penjelasan itu.
"Artinya, Hendra?" tanya Yoga dengan nada mendesak.
"Dengan prosedur operasi dekompresi minimal invasif dan fisioterapi intensif selama beberapa bulan, ada peluang 80% bagi Ibu Anindya untuk bisa berjalan kembali," jelas Dokter Hendra mantap.
Mendengar angka 80%, Anindya langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia terisak, namun kali ini bukan isak kesedihan, melainkan harapan yang selama ini ia kira sudah mati.
Yoga merangkul bahu Anindya, mencium puncak kepalanya dengan penuh syukur. "Kamu dengar itu, Anin? Kamu akan berdiri lagi. Kamu akan berjalan menuju pelaminan dengan kakimu sendiri."
Anindya mendongak dengan mata yang basah. "Benarkah, Mas? Aku benar-benar bisa sembuh?"
"Aku akan mengerahkan seluruh kemampuanku dan tim terbaik di sini untukmu," janji Yoga. "Kita akan mulai operasinya minggu depan, setelah kondisimu benar-benar stabil."
Sambil menunggu hari operasi, Yoga mulai menyiapkan segala kebutuhan pemulihan Anindya di rumah. Ia memodifikasi salah satu ruangan di lantai bawah menjadi ruang fisioterapi pribadi lengkap dengan peralatan modern dari Aditama Yoga Medika.
Namun, di tengah kebahagiaan itu, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Yoga dari nomor yang tidak dikenal:
> "Selamat atas kebebasanmu, Yoga. Tapi jangan pikir aku akan membiarkanmu bahagia begitu saja sementara namaku hancur di Jakarta. Tunggu pembalasanku."
Yoga menatap layar ponselnya dengan dingin. Ia tahu itu adalah pesan dari Dinda. Namun, Yoga tidak takut. Ia segera menghapus pesan itu dan menatap Anindya yang sedang mencoba berdiri dengan bantuan alat penyangga di ruang terapi.
Hari yang dinanti-nantikan pun tiba. Lorong ruang operasi Rumah Sakit Sehati terasa begitu sunyi, hanya deru mesin pendingin ruangan yang menemani kecemasan dua orang wanita paruh baya yang duduk di ruang tunggu.
Nenek Lastri, yang sengaja dijemput Yoga dari Yogyakarta, tak henti-hentinya memutar butiran tasbih di tangannya. Di sampingnya, Ibu Sekar terus menggenggam tangan wanita tua itu, saling menguatkan meski keduanya sama-sama tegang.
Tak lama kemudian, Yoga muncul dengan seragam scrub hijaunya. Ia baru saja selesai melakukan kunjungan pasien di bangsal lain dan langsung bergegas menuju ruang tunggu operasi.
"Ibu, Nenek..." Yoga menyalami mereka berdua dengan takzim. Ia lalu duduk di antara mereka, mencoba memberikan ketenangan meskipun hatinya sendiri bergemuruh. "Anin adalah wanita yang kuat. Dokter Hendra dan tim adalah yang terbaik di sini. Kita harus percaya pada mereka."
Setelah penantian yang terasa seperti berjam-jam, lampu merah di atas pintu ruang operasi akhirnya padam. Pintu terbuka, dan Dokter Hendra keluar sambil melepas masker medisnya. Wajahnya tampak cerah, sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya yang lelah.
Yoga, Ibu Sekar, dan Nenek Lastri serentak berdiri.
"Bagaimana, Hendra?" tanya Yoga dengan nada yang bergetar karena emosi.
Dokter Hendra menepuk bahu sahabatnya itu dengan mantap. "Operasi dekompresinya berjalan sangat lancar, Yo. Kami berhasil melepaskan jepitan sarafnya tanpa komplikasi sedikit pun. Anindya sudah sadar dari anestesinya."
Nenek Lastri langsung sujud syukur di lantai rumah sakit, sementara Ibu Sekar memeluk Yoga dengan tangis bahagia.
"Anindya bisa dipindahkan ke ruang VIP sekarang untuk observasi. Jika pemulihannya secepat ini, dalam beberapa hari kita sudah bisa memulai latihan stimulasi otot kaki," lanjut Dokter Hendra.
Beberapa saat kemudian, Anindya sudah terbaring nyaman di ruang VIP yang sangat mewah dan asri, hasil pesanan khusus dari Yoga. Saat Anindya perlahan membuka matanya, hal pertama yang ia lihat adalah wajah Yoga yang menatapnya dengan penuh cinta.
"Mas..." bisik Anindya lemah karena sisa bius.
"Sstt... jangan banyak bergerak dulu, Sayang," Yoga mengusap kening Anindya dan mencium tangannya dengan lembut.
"Operasinya sukses. Dokter bilang sarafmu sudah bebas. Sekarang tinggal tugasmu untuk berjuang di fisioterapi nanti."
Nenek Lastri mendekat dan mencium pipi cucu kesayangannya itu. "Alhamdulillah, Nduk. Gusti Allah merestui niat baik Dokter Yoga."
Anindya menatap kaki di balik selimut putih itu. Meski belum bisa digerakkan secara bebas, ia merasa ada aliran hangat yang selama ini tidak pernah ia rasakan, seolah nyawa baru baru saja ditiupkan ke kakinya.
Malam itu, saat Ibu Sekar dan Nenek Lastri sudah beristirahat di sofa panjang, Yoga tetap setia duduk di samping ranjang Anindya. Ia menggenggam tangan wanita itu, tidak mau melepaskannya sekejap pun.
"Anin, setelah kamu benar-benar bisa berdiri nanti, aku tidak mau menunggu lebih lama lagi. Aku ingin segera membawamu ke pelaminan," bisik Yoga.
Anindya tersenyum malu-malu di balik masker oksigennya yang tipis. "Mas Yoga sudah sangat baik. Aku janji akan rajin fisioterapi supaya tidak memalukan saat berdiri di sampingmu nanti."
Yoga terkekeh kecil. "Kamu tidak pernah memalukan, Anin. Bahkan saat di kursi roda pun, kamulah yang paling bersinar di mataku."