Karya Orisinal.
Genre: Fantasi Timur, Kultivasi, Xianxia.
Sub-Genre: Filosofi, Romance, Adventure, Action.
Desa kecil yang dipenuhi buai kenangan, Jinglan namanya. Di sebalik kabus fajar di ladang, hiduplah Aku—Ling Feng—berdiri ragu, mencoba merabit kata Pak Tua Chen, menyulamnya dengan tanya yang berbalut sunyi. Dalam pengembaraan, Aku menenun apa yang kubawa.
“Untuk Apa Kehidupan Dijalani?”
Jawab mungkin tak pernah kudapatkan. Namun, akankah Jawab sudi menyapaku kelak dan menanti?
Kupastikan langkahku setia pada arah, walau kelak degup jiwa tak lagi tegak menopang raga, kan kusulam tanya dalam bahasa sunyi dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1 : Tentang Buaian, Pertanyaan, Dan Langkah yang Belum Bernama.
Langit sore itu meneteskan cahaya madu lewat sela-sela atap rumbia.
Aku berlutut di punggung gubuk, jari-jari tenggelam dalam dinginnya tanah liat basah. Setiap gerakan menutup retakan kayu adalah ritme yang kupahami, tekan, ratakan, diam sejenak agar melekat.
Bau tanah lembap dan jerami membusuk naik memenuhi rongga hidung, wewangian Jinglan yang tak pernah berubah.
Kemudian, sunyi itu pecah.
Bukan oleh lengking anak-anak atau teriakan ibu memanggil. Ini bunyi berat dan terukur.
Tongkat kayu menusuk tanah dengan sabar, seperti detak jantung bumi yang baru saja terbangun. Aku menoleh.
Pak Tua Chen berdiri di bawah, tubuhnya membentuk siluet melengkung terhadap cahaya senja. Tongkatnya bukan lagi penopang, melainkan tiang yang menambatkannya ke bumi Jinglan. Matanya, dua lubang gelap di wajah keriput, sudah menatapku sebelum aku menyadarinya.
“Besok,” katanya, dan kata itu jatuh seperti batu ke kolam tenang. Suaranya serak oleh waktu dan tembakau, tapi setiap suku kata terpotong jelas. “Rombongan dari Barat. Mereka singgah di Sungai Kelindang. Membawa garam, kain ...” Ia jeda, udara antara kami mengental. “Dan kabar.”
Kabar. Aku merasakan tanah liat di telapak tangan mulai mengeras.
“Kabar tak selalu baik, Bapak Tua.”
Ia mengeluarkan suara dari dalam dada, bukan tertawa, tapi semacam gema lapuk.
“Kau masih menyangka hidup ini tentang baik dan buruk, Ling Feng?”
Pandangannya mengambang melampauiku, menelusuri lekuk ladang dan kabut biru di kaki bukit.
“Desa ini ibarat kolam tenang. Airnya jernih, bisa memantulkan langit. Tapi coba kau tanya pada ikan, adakah yang hidup hanya dengan memandang pantulan?”
Tanganku berhenti bergerak. Jemari masih terbenam dalam lumpur abu-abu.
“Ayahmu,” lanjutnya, dan kini suaranya lebih rendah, seperti mengambil sesuatu dari laci ingatan yang jarang dibuka.
“Malam sebelum dia pergi, dia duduk di sini, di tempat yang sama. Matanya menatap arah yang kau tatap sekarang. Dia bilang. Chen, Jinglan ini buaian. Nyaman dan hangat. Tapi buaian akan menjadi penjara jika anakku tumbuh dewasa tapi takut menginjak tanah. Lalu dia berbisik. Jika suatu hari dia mulai bertanya pada langit yang diam, bimbing kakinya ke bumi yang masih mau menjawab.”
Angin sore membelai kulitku, tiba-tiba terasa lebih dingin. Sentuhannya datang kemudian ke telapak tangan kasar dan hangat menepuk bahuku, ringan tapi meninggalkan bekas.
“Kami tak mengusirmu, anak muda. Kami hanya menunjukkan bahwa pintu itu ada.”
Ia menarik napas dalam, dadanya mengembang seperti kantong udara tua.
“Pergilah. Tapi jangan hanya membawa pedang. Bawa telingamu. Dengarkan bagaimana angin bersiul di celah tebing yang asing. Rasakan getar tanah saat orang asing melintas. Cicipi air dari sumber yang akarnya tak kau kenal. Dengan begitu, kau akan mengerti bahasa bumi yang melahirkanmu.”
Matanya menatapku, dan untuk sesaat, aku melihat bukan Pak Tua Chen, tetapi semua lelaki tua Jinglan, semua ayah yang pernah bertanya, semua jiwa yang pernah merasa sempit di bawah langit yang sama.
“Carilah pertanyaannya, Ling Feng. Bukan jawabannya. Karena sering kali, kita baru paham rumah setelah merasakan hujan di atap orang lain.”
Kemudian ia berpaling.
Langkahnya ...
Perlahan menjauh, ditelan bayangan panjang senja. Tapi kata-katanya tidak pergi. Mereka menggantung di udara, menempel pada debu yang beterbangan, meresap ke tanah liat di tanganku.
Aku tetap berlutut, menyaksikan cahaya emas berubah menjadi jingga, lalu memerah. Jemariku, yang masih dilumuri tanah, mulai terasa kaku.
Retakan-retakan halus muncul di permukaan, membentuk peta-peta kecil tak berarti.
Dari ketinggian atap ini, Jinglan terbaring pasif.
Sawah-sawah terhampar seperti permadani hijau yang dijahit rapi, atap-atap gubuk menunduk di bawah berat hari, asap dapur menggulung malas. Semuanya pada tempatnya.
Terlalu pada tempatnya.
Dan aku, di tengah kesempurnaan statis ini, tiba-tiba merasa seperti batu yang tergelincir dari mozaiknya.
Pergi untuk mendengar.
Bisikan itu bukan dari luar, tapi dari dalam tulang.
Selama ini, telingaku hanya mendengar Jinglan dalam pengulangan. Aku tahu dengkuran sungai di malam hari, tahu desis angin musim timur, tahu detak jantung bumi saat hujan akan turun. Tapi aku tak lagi mendengarkannya.
Aku hanya mengingatnya.
Kebiasaan telah membangun tembok tebal antara diriku dan musik desa sendiri.
Aku menatap telapak tanganku. Garis-garis kehidupan di sana tercetak oleh cangkul, oleh pisau, oleh tali pancing. Tangan seorang yang berakar. Tapi malam ini, di balik setiap garis itu, seperti tersembunyi garis lain yang samar, garis perjalanan, garis pertemuan, garis tanah asing.
Kenangan tentang ayah muncul tidak sebagai gambar, tetapi sebagai sensasi, bahunya yang diam terlalu lama di ambang pintu, pandangannya yang menembus hujan menuju sesuatu yang tak pernah kulihat, dan keheningannya yang bukan kosong, tetapi penuh dengan sesuatu yang tertahan.
Dulu kukira itu kelelahan. Kini, di bawah langit yang sama yang pernah ditatapnya, aku paham. Itu bukan kelelahan. Itu adalah mendengar. Mendengar panggilan dari tempat yang terlalu jauh untuk dijangkau, dan terlalu dekat untuk diabaikan.
Jika Jinglan adalah buaian, maka inilah saatnya tubuh yang telah memanjang merasakan setiap anyaman bambu itu mulai mengikat, bukan melindungi.
Buaian itu sendiri yang mendorong pelan, bukan dengan kata-kata, tetapi dengan diamnya yang semakin sempit.
Aku menarik napas. Udara yang masuk terasa berbeda, lebih ringan, seolah ruang di dadaku tiba-tiba membesar.
Untuk pertama kalinya, pilihan tidak terasa seperti batu di leher, tetapi seperti angin di telapak tangan. Bisa dirasakan, tapi tak perlu dicekam.
Aku berdiri saat langit di barat menghanguskan diri sendiri menjadi lembayung. Kaki-kaki yang kaku pelan-pelan melurus, tanah liat kering berhamburan dari jemari, kembali ke bumi seperti debu. Beberapa hal memang harus berakhir sebagai apa adanya.
Jinglan malam ini tidak berubah. Atap yang sama, pohon yang sama, jalan yang sama. Namun, mataku yang melihatnya telah bergeser satu derajat. Dan, satu derajat itu telah mengubah segalanya.
Aku turun dari atap. Langkahku membawaku tanpa arah, menyusuri batas sawah yang gelap. Malam menyelimuti dengan mantelnya yang berbintik-bintik kunang-kunang. Di balik nyanyian jangkrik dan desau padi, telingaku mulai menangkap sesuatu yang lain, ruang kosong di antara semua bunyi itu, ruang yang cukup luas untuk sebuah pertanyaan besar lahir dan beranjak dewasa.
Lalu, dari balik punggung bukit barat, di mana matahari telah tenggelam meninggalkan bekas luka ungu di langit, datanglah angin.
Bukan angin Jinglan yang membawa aroma lumpur dan bunga jidan hua. Ini angin yang lebih kasar, lebih kering, membawa di dalam lipatannya sesuatu yang menusuk, bau logam berkarat, debu jalanan yang terinjak-injak oleh sepatu boot, dan asap kayu yang bukan berasal dari perapian rumah.
Napasku terhenti sejenak.
Di sana, di kejauhan gelap itu, dunia yang bukan Jinglan baru saja membuka mulutnya dan mengembuskan napasnya ke wajahku. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak hanya mendengar panggilannya.
Aku menciumnya.