Seri ke-satu
Clara Ayudita tak pernah menyangka bahwa perpisahan tiba-tiba akan menjadi awal dari kehilangan terbesar dalam hidupnya. Noel Baskara laki-laki yang selama ini menjadi rumah, sandaran, dan tempat segala rencana masa depan bermuara tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan.
Satu pesan singkat dan senyum palsu di hari perpisahan menjadi kenangan terakhir yang ia punya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga yang tak seperti keluarga
Clara!” tegur Om Ferdi dengan suara keras yang memantul di ruang tamu sempit itu.
Clara tetap berdiri tegak. Senyum tipis yang terukir di wajahnya bukan lagi senyum ramah seperti dulu, melainkan senyum yang menyimpan arti. Ia bahkan tak mengalihkan pandangannya pada adik ayahnya itu, seolah-olah suara barusan hanyalah angin yang lewat.
Tante Devi cepat-cepat menyentuh lengan suaminya, menenangkan. Dengan wajah yang kembali dipasangi senyum lembut, ia memandang Clara seolah tak pernah ada ketegangan beberapa detik lalu.
“Clara… apa benar kemarin nenekmu ke sini ingin menjual rumah ini?” tanyanya pelan, suaranya dibuat selembut mungkin. Justru kelembutan itulah yang membuat Clara semakin muak.
Clara menoleh perlahan, menatap langsung ke arah Tante Devi.
“Untuk apa Nenek menjual rumah yang bukan miliknya?” balasnya tenang.
“Oh, kami hanya takut kamu menjual rumah ini karena permintaan nenekmu,” ucap Devi cepat, seperti sudah menyiapkan kalimat itu sejak tadi.
Clara diam sejenak. Tatapannya tak lagi tajam, tapi justru datar. Ia tahu itu hanya alasan. Mereka tidak peduli pada rumah ini, tidak peduli pada dirinya. Mereka hanya takut kehilangan bagian yang mungkin bisa mereka klaim jika rumah ini berpindah tangan.
“Om Ferdi kan adik kandung ayahmu. Jangan ikut-ikutan seperti nenekmu, bicaranya nggak sopan,” lanjut Devi, nada suaranya kini sedikit menekan.
Clara menghela napas kecil, lalu tersenyum tipis. “Di bagian mananya Clara nggak sopan, Tante? Clara cuma menanyakan soal usaha Ayah,” ucapnya, kali ini dengan nada lebih rendah namun tegas.
Kata Ayah itu terdengar jelas, sengaja ia ucapkan dengan tekanan. Devi terdiam. Ferdi memalingkan wajahnya sebentar, menatap foto kakaknya yang tergantung di dinding. Wajah dalam foto itu seolah ikut mengawasi.
Dulu, Clara kecil hanya diam mendengarkan percakapan orang-orang dewasa. Dulu ia tak pernah berani membantah. Bahkan setelah kematian kedua orang tuanya, ia mencoba percaya dan bergantung pada keluarga ayahnya. Namun yang ia dapat hanyalah manipulasi dan kebohongan. Usaha ayahnya yang seharusnya menjadi haknya berpindah tangan secara tak resmi dengan dalih ia masih terlalu kecil untuk mengelola.
“Clara belum makan,” ucapnya akhirnya, tetap dengan nada tenang. “Pintu keluar ada di sana.”
Kalimat itu tidak diucapkan dengan keras, tapi maknanya jelas. Ferdi mengepalkan tangannya. Ia sempat mengira Clara masih bisa diarahkan, masih bisa dibujuk seperti dulu. Ternyata sifatnya jauh berbeda dari kakaknya yang selalu memilih mengalah demi menjaga hubungan keluarga.
Tante Devi menelan kesalnya. Ingin rasanya ia meluapkan emosi, namun ia menahannya. Tujuan mereka lebih penting daripada harga diri yang tersinggung.
“Iya… kami pulang dulu ya, Clara. Istirahat yang cukup,” ucap Devi dengan senyum yang dipaksakan.
“Ayo, Mas,” bisiknya sambil menyentuh lengan Ferdi yang masih berdiri kaku.
Ferdi akhirnya melangkah keluar tanpa berkata apa-apa lagi. Pintu tertutup pelan di belakang mereka.
Clara berdiri beberapa detik tanpa bergerak. Suara langkah mereka di teras terdengar samar, lalu hilang. Ia berjalan ke arah pintu dan menguncinya. Bunyi klik kunci terdengar kecil, namun cukup untuk membuatnya merasa sedikit lega.
Ia bersandar pada pintu, menghela napas panjang. Hari yang tadi penuh tawa dan sorak kini berganti dengan hawa dingin yang merayap pelan. Namun kali ini, ia tidak gemetar. Tidak ada air mata yang jatuh.
“Maaf ya, Ayah… Ibu… mungkin Clara terdengar tidak sopan pada keluarga sendiri. Tapi mulai saat ini, Clara tidak akan membiarkan siapa pun merebut milik kita.” Ucapannya pelan namun mantap, ditujukan pada foto kedua orang tuanya yang tergantung rapi di dinding ruang tamu. Ia menatap senyum mereka yang beku dalam bingkai, senyum yang selalu terasa hangat sekaligus menguatkan.
Dulu ia terlalu kecil untuk mengerti banyak hal, terlalu polos untuk menyadari bahwa tidak semua keluarga datang dengan niat baik. Tapi sekarang ia sudah dewasa dan ia lelah terus menjadi pihak yang mengalah.
Setelah itu Clara masuk ke kamar, menggantung tas hitamnya di belakang pintu. Kotak laptop ia letakkan hati-hati di atas meja belajar. Saat hendak merapikan isi tasnya, tangannya mendadak berhenti. Ada yang terasa berbeda. Ia menoleh, lalu meraba sisi tasnya. Kosong. Gantungan kecil yang biasa tergantung di resleting tidak ada di tempatnya. Clara mengerutkan kening dan membuka tasnya, membongkar isinya satu per satu di atas tempat tidur. Dompet, buku catatan, pulpen, semuanya ada. Tapi gantungan itu tidak. Ia berdiri, berjalan ke ruang tamu, memeriksa sofa, kolong meja, bahkan sudut karpet. Tidak ada. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Ia kembali ke kamar dan mengaduk isi tas sekali lagi dengan gerakan yang lebih tergesa
“Aduh… kayaknya jatuh di acara tadi,” gumamnya pelan, suaranya bercampur kesal dan kecewa.
Gantungan itu bukan sekadar hiasan. Itu pemberian terakhir dari ibunya, benda kecil yang selalu membuatnya merasa masih ditemani. Clara duduk di tepi tempat tidur, menatap tasnya yang kini terlihat polos. Rasa frustasi merambat perlahan, membuat dadanya terasa sesak sesaat. Namun ia menutup mata dan menarik napas panjang.
Clara mengusap wajahnya perlahan dan tersenyum tipis meski hatinya masih terasa perih. Ia memilih untuk percaya bahwa jika manusia ikhlas saat kehilangan, Tuhan pasti akan menggantikan dengan sesuatu yang lebih besar. Mungkin bukan hari ini, mungkin bukan dalam bentuk yang sama, tapi suatu saat nanti.
Dengan perlahan ia merapikan kembali isi tasnya dan menggantungnya di tempat semula. Tas itu kini tampak lebih sederhana, dan kamar yang sunyi terasa sedikit lebih lengang, seolah ada bagian kecil dari kenangan yang tertinggal entah di mana.