NovelToon NovelToon
Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Romansa / Komedi / Slice of Life / Urban
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Gia mengira hidupnya sudah berakhir saat karier cemerlangnya di Jakarta hancur dalam semalam akibat fitnah dari mantan tunangannya, Niko. Pulang ke kampung halaman untuk menjaga kedai kopi tua milik ayahnya adalah pilihan terakhir untuk menyembuhkan luka.
Namun, kedai itu ternyata sarang para pengutang! Yang paling parah adalah Rian, tukang bangunan serabutan yang wajahnya selalu belepotan debu semen, tapi punya rasa percaya diri setinggi langit. Rian tidak punya uang untuk bayar kopi, tapi dia punya sejuta cara untuk membuat hari-hari Gia yang suram jadi penuh warna—sekaligus penuh amarah.
Saat Gia mulai merasa nyaman dengan kesederhanaan desa dan aroma kopi yang jujur, masa lalu yang pahit kembali datang. Niko muncul dengan kemewahannya, mencoba menyeret Gia kembali ke dunia yang dulu membuangnya.
Di antara aroma espresso yang pahit dan senyum jail pria tukang utang, ke mana hati Gia akan berlabuh? Apakah kebahagiaan itu ada pada kesuksesan yang megah, atau justru nyangkut di dalam d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Jejak di Tanah Karo

Udara Kabanjahe menyapa kulit dengan gigitan dingin yang lebih tajam daripada udara di desa mereka. Kabut tipis menyelimuti kaki Gunung Sinabung di kejauhan, memberikan kesan misterius pada kota kecil di Tanah Karo ini. Gia merapatkan jaket tebalnya, sementara Rian tetap tampak santai dengan kemeja flanel berlapis jaket parka, meskipun wajahnya masih sedikit pucat karena luka di bahunya belum kering sempurna.

"Rian, kamu yakin dia di sini? Tempat ini luas banget buat nyari satu orang yang niat sembunyi," bisik Gia saat mereka turun dari bus antar-provinsi di terminal kusam.

Rian mengeluarkan ponselnya, memantau koordinat GPS yang sudah ia tanam di enkripsi data yang sempat diakses Danu. "Danu itu orangnya suka kemewahan, Gia. Dia nggak akan sembunyi di gubuk tengah ladang. Dia butuh koneksi internet cepat buat kirim file desain itu ke pembelinya. Di kota ini, cuma ada dua hotel yang punya fasilitas itu."

Gia mengangguk, namun matanya tetap waspada. Ia merasa seperti sedang berada di film spionase, hanya saja ini nyata dan taruhannya adalah nyawa manusia. "Lalu sekarang kita ke mana?"

"Kita ke pasar. Cari sarapan dulu. Perut kosong itu musuh utama detektif amatir kayak kita," canda Rian, mencoba mencairkan ketegangan Gia.

Mereka duduk di sebuah kedai kopi kecil di pinggir pasar Kabanjahe. Aroma kopi Sidikalang yang kuat memenuhi udara, bercampur dengan bau sayuran segar dari pedagang di depan kedai. Rian memesan dua gelas kopi susu dan sepiring mi gomak.

"Enak juga ya, kopinya lebih pahit dari buatanmu, Neng," ujar Rian setelah satu sesapan.

"Ya iyalah, ini kan kopi asli sini. Lagian, fokus, Rian! Kita di sini bukan buat tur kuliner," ketus Gia, meski ia tetap lahap menyantap mi di depannya.

Tiba-tiba, mata Rian menyipit. Ia melihat sebuah mobil sedan hitam dengan plat nomor Jakarta melintas pelan di depan pasar. Kaca filmnya gelap, tapi Rian mengenali stiker kecil di pojok kaca depan—sebuah logo eksklusif dari klub golf tempat Danu biasa menghabiskan waktu.

"Itu dia," bisik Rian.

"Mana?" Gia hampir berdiri, tapi Rian menarik tangannya.

"Jangan menoleh tiba-tiba! Dia menuju arah Berastagi. Sepertinya pembelinya ada di salah satu villa pribadi di sana," Rian segera membayar makanan mereka dan menarik Gia menuju motor sewaan yang sudah ia pesan lewat kenalan lamanya di Medan.

Perjalanan dari Kabanjahe menuju Berastagi tidak memakan waktu lama, namun jalanannya berkelok-kelok tajam. Rian memacu motornya dengan hati-hati, menjaga jarak agar tidak terlihat oleh sedan di depan mereka.

"Rian, bahumu nggak apa-apa?" tanya Gia setengah berteriak melawan angin.

"Cuma senut-senut sedikit. Nggak masalah!" sahut Rian, meski Gia bisa merasakan tubuh Rian sedikit tegang menahan sakit.

Sedan itu berhenti di sebuah villa megah dengan arsitektur kolonial yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon pinus. Pagar besinya tertutup rapat, dan ada dua orang pria berbadan tegap yang berjaga di depan pintu masuk.

Rian memarkir motornya agak jauh dan mengajak Gia menyelinap melalui kebun jeruk di samping villa tersebut. Mereka merangkak di antara semak-semak hingga sampai ke dinding belakang gedung.

"Gia, kamu tetap di sini. Kalau dalam sepuluh menit aku nggak keluar, atau kamu dengar suara ribut, langsung lari ke jalan besar dan cari polisi," perintah Rian serius.

"Nggak! Aku ikut! Kamu itu lagi luka, Rian! Kalau kamu pingsan di dalam, siapa yang mau gotong kamu?" protes Gia.

Rian menatap mata Gia, ia melihat ketakutan namun juga tekad yang luar biasa. "Oke, tapi jangan lepas dari belakangku. Satu suara pun jangan keluar."

Mereka masuk melalui jendela ruang cuci yang tidak terkunci. Di dalam, suara percakapan terdengar dari ruang tamu utama. Suara yang sangat familiar bagi Rian—suara Danu yang sedang mempresentasikan sesuatu dengan nada sombong.

"... dengan struktur ini, kalian bisa memangkas biaya beton hingga empat puluh persen. Tidak akan ada yang tahu kalau bebannya dialihkan ke titik penyangga yang sebenarnya tidak stabil, karena secara visual, desain ini tampak sempurna," ujar Danu.

"Dan risikonya?" suara pria lain terdengar berat, dengan aksen asing yang kental.

"Risikonya baru akan muncul sepuluh atau lima belas tahun lagi. Saat itu, firma saya sudah tutup dan saya sudah punya nama baru di Karibia. Bukan masalah kalian, kan?" Danu tertawa.

Rian mengepalkan tangannya. Ia tidak bisa menahan diri lagi. Ia menendang pintu kayu ruang tamu itu hingga terbuka lebar.

"MASALAHNYA ADALAH NYAWA ORANG, DANU!" teriak Rian.

Danu tersentak, wajahnya pucat pasi melihat Rian berdiri di sana dengan Gia di sampingnya. Pria asing di depan Danu segera merogoh sesuatu dari balik jasnya, namun Rian lebih cepat. Ia mengangkat sebuah alat perekam kecil tinggi-tinggi.

"Semua pembicaraan tadi sudah terunggah langsung ke cloud server Kejaksaan Agung lewat koneksi WiFi villa ini yang baru saja aku bajak dari luar," ujar Rian dengan senyum miringnya yang paling mematikan. "Danu, karirmu bukan cuma berakhir, tapi kamu bakal membusuk di sel yang lebih gelap dari Mahendra."

Danu mencoba lari menuju pintu belakang, tapi Gia dengan sigap menyandungkan kakinya menggunakan tongkat payung yang ia temukan di pojokan. Danu jatuh tersungkur, wajahnya mencium lantai marmer yang dingin.

"Itu buat semua fitnah yang kamu kasih ke Rian!" teriak Gia puas.

Pria asing itu mencoba melawan, tapi suara sirine polisi yang tiba-tiba meraung di depan villa membuatnya mengurungkan niat. Rian ternyata sudah mengatur semuanya—ia mengirimkan lokasi GPS-nya ke tim Maya sesaat sebelum mereka masuk.

Sore harinya, di depan kantor polisi Berastagi, Rian duduk di bangku taman sambil memegang bahunya yang kini benar-benar terasa sakit. Danu sudah digelandang ke dalam, dan semua dokumen digitalnya sudah disita.

Gia datang membawa dua gelas cokelat panas. "Sudah selesai, Rian. Benar-benar selesai sekarang."

Rian menerima cokelat itu, menghirup uapnya dalam-dalam. "Iya. Naga terakhir sudah tumbang."

"Terus, sekarang kita ke mana?" tanya Gia.

Rian menatap ke arah pegunungan Karo yang indah. "Aku dengar di dekat sini ada kebun kopi yang pemandangannya bagus banget. Gimana kalau kita mampir dulu sebelum balik ke desa? Anggap saja bulan madu... eh, maksudnya liburan kerja."

Gia tersenyum lebar, menyandarkan kepalanya di bahu Rian yang sehat. "Boleh. Tapi kali ini, aku yang bayar kopinya. Pakai uang untung kedai bulan kemarin."

"Asyik! Akhirnya dapet kopi gratis yang nggak masuk catatan utang," tawa Rian pecah, menggema di udara dingin Berastagi.

Mereka berdua tahu, di depan sana mungkin akan ada tantangan baru, tapi selama ada kopi, kejujuran, dan satu sama lain, mereka yakin tidak akan ada lagi badai yang bisa meruntuhkan rumah yang mereka bangun.

1
Satri Eka Yandri
penasaran pov gia wktu di kota,di fitnah apa yah?
Sefna Wati: ayo baca bab selanjutnya kak
biar GK penasaran waktu gia di kota kenapa difitnah🥰🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!