"AYA!! Ingat kamu cuma istri formalitas. Kamu tak punya hak mengatur dengan siapa aku berhubungan, " teriak Rama.
BLAMM!!
Aya terduduk di sisi ranjang dengan air mata yang berderai.
"Aku tahu, aku hanya pelarian buatmu. Setidaknya, jangan buat aku merasa semakin hina dengan menemui wanita itu terang-terangan, " gumam Aya lirih.
Cahaya Insaniah, seorang wanita yang mendapat amanah menjadi istri seorang pemuda penerus perusahaan sawit di Kalimantan bernama Rama.
Rama yang jatuh hati dengan seorang Model lokal, terpaksa menikahi Cahaya karena pesan terakhir mamanya yang tak sadarkan diri akibat kecelakaan mobil.
Mampukah Cahaya menjalankan amanah menjadi istri Rama? Akankah Rama berpaling dari Model lokal itu?
Ikuti kisah mereka dalam Karya HANYA WANITA PELARIAN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Komitmen
Sesampainya di rumah, suara adzan maghrib menggema dari pengeras suara masjid perumahan. Rama memilih ke masjid, Aya akhirnya masuk ke rumah sendiri.
"Hei, Ya. Mana abang? " tanya Raka.
"Bang Rama ke masjid sholat maghrib. Kamu sudah sholat? sudah di depan TV."
"Oh iya, baru mau ini."
Raka mematikan TV dan beranjak masuk ke kamarnya. Raka merasa tidak enak ditanya seperti itu. Sholatnya masih jarang-jarang, hanya kalau dia mau saja. Akhirnya ia terpaksa sholat. Itulah yang terjadi di keluarga Jaka.
Namun perlahan, semua mulai berubah. Sejak di rumah sakit, Harum dan Jaka juga mulai mendisiplinkan diri melakukan sholat wajib. Mereka akan malu menolak atau berdalih setiap Aya, menantu mereka mengajak sholat berjamaah. Kebaikan memang harus di paksakan. Meski Aya tak pernah memaksakan secara langsung.
Perubahan Rama juga mulai terlihat meski belum banyak. Kalau tak mendesak dia akan berjalan ke masjid sholat wajib di sana. Kalau terlalu lelah ia akan minta sholat berjamaah dengan Aya. Aya tak memarahi, ia akan tetap jadi makmumnya.
CEKLEK
Aya masuk ke kamar, membersihkan diri dan bersiap sholat.
Ia sempat tertegun di kamar mandi dengan perkataan Rama di mobil tadi.
"Sebenarnya mereka memang sudah lama ada masalah atau bagaimana ya? "
Aya gamang, karena ia harus menepati janjinya untuk menyerahkan semua hidupnya jika benar Rama sudah melepaskan diri dari Amel.
"Berapa lama aku perlu memastikan yang ia katakan benar? Bagaimana aku bisa yakin? "
Aya menarik nafas panjang. Ia akhirnya melanjutkan bersiap diri untuk sholat.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi."
Setelah berdzikir dan berdoa. Aya mengambil quran lanjut membacanya. Bacaan ayat-ayat Allah itu menenangkan hatinya. Ia selalu ingat pesan Almarhum Aba.
"Baca Alquran kalau mau hidupmu terarah."
Karena pesan itu, Aya tak lepas sehari mengaji meski hanya 1 lembar. Kali ini ia membaca lebih banyak, berharap tak hanya ketenangan hati yang ia dapat, tapi juga keputusan akan seperti apa dia menyikapi perkataan Rama tadi.
CEKLEK
Rama baru sampai, dan masuk ke dalam kamarnya. Ia baru kali ini mendengar suara Aya mengaji. Menenangkan.
Rama duduk di sisi ranjang, membalas pesan masuk yang belum sempat ia balas sambil menunggu Aya selesai mengaji.
Banyak pesan masuk dari Amel. Rama langsung memblokir nomernya. Ia malas berurusan dengan wanita itu. Rasa lelah membuatnya membaringkan tubuh di kasur.
"Bang, mau makan malam sekarang? " tanya Aya.
Rama menatap Aya lekat, pikirannya kemana-mana. Mengingat semua yang di ucapkan sang imam masjid.
"Buktikan kalau mas Rama menikah saat itu tulus, bukan lagi terpaksa. Berikan perhatian kecil, sering beri pujian dan peluk lebih banyak. Jadi pendengar yang baik untuk istri Mas. Jangan lupa yang terakhir, do'akan. Do'akan supaya Allah yang meyakinkan semua usaha mas itu benar tulus. Dan istri mas pasti akan percaya. "
"Bang Rama, " panggil Aya lagi.
"Eh iya, kenapa? "
Aya mendekat, lalu duduk disisi ranjang bersebelahan dengan Rama.
"Apa abang memikirkan soal tadi? bang Rama menyesal putus dengan Amel? "
"Nggak Aya, Aku mantap soal itu. Aku hanya teringat pesan pak imam masjid sebelum sholat maghrib tadi."
"Syukurlah kalau begitu. Kalau abang mantap dan berjanji akan komitmen, Aku juga akan memenuhi janjiku."
Rama terkejut, padahal dia baru berniat akan berusaha meyakinkan Aya. Ternyata Allah sudah mengabulkannya do'anya.
Rama tersenyum lega. Kebahagiaan memenuhi hatinya. Ia menarik Aya dalam pelukannya.
Meski Aya masih merasa canggung, namun ia membalas pelukan itu dengan hangat sambil berdoa agar Allah selalu kuatkan hati mereka dalam pernikahan yang di ridhoi.
***
"Hah.. brengsek, aku di blokir Rama."
Amel melempar ponselnya ke atas sofa hotel.
"Jadi gimana dong? aku juga sudah kehabisan uang nih, " sahut Alya.
"Aku heran, kenapa dia bisa tahu aku tidur dengan John? "
"Apa mungkin ada yang mengikuti kita? Atau bisa jadi Rama sendiri yang mengutus orang untuk mengawasimu? " tanya Alya.
"Nanti dulu soal itu. Kita harus cari cara buat pulang."
"Kamu minta aja sama John, pepet terus dia. Ajak lagi ketemuan, gimana? " usul Alya.
"Kamu juga lah, masa aku aja?"
"Aku lupa tuker nomer sama Petter waktu itu," sahut Alya terkekeh.
"Ih, bego amat sih kamu. Hhhh..Ck.. ya sudah aku coba hubungi John dulu."
Amel ke balkon hotel menghubungi John. Lebih tepatnya merayu John untuk memanfaatkannya.
Kalau bukan karena terhipnotis barang mewah disini, mereka mungkin tak akan kehabisan uang seperti saat ini.
Amel yang berniat minta kiriman uang saku tambahan dengan Rama justru mendapat kata putus, bukan notifikasi m-banking.
Amel merayunya dengan mengirim pesan setelah berusaha beberapa kali menelponnya dan tak di jawab. Sialnya, saat pesan yang ia kirim sudah terbaca, bukan jawaban yang ia terima, tapi nomor ponselnya di blokir oleh Rama.
"Berhasil, malam ini kita ketemu dengannya di tempat kemarin. Pastikan kamu dapat nomer Petter. Aku sudah membujuk John mengajaknya juga. "
"Kalau begitu, aku bersiap dulu."
Alya berlalu ke kamar mandi. Amel merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia masih penasaran, bagaimana Rama tahu aktivitasnya disini?
"Apa mungkin, yang di bilang Alya benar ya?" tanyanya lirih.
Amel baru teringat, kerabat Rama yang juga menaksirnya. Dari dia-lah Amel tahu pernikahan mendadak Rama dengan wanita yang dijodohkan orang tuanya beberapa waktu lalu di rumah sakit.
Amel berusaha mencari kontaknya di riwayat panggilan lalu mengirim pesan padanya.
[Lex, Apa kabar? kamu sibuk sekali ya? Aku lama tak mendengar suaramu]
Pesan terkirim dan sudah di baca.
[Aku baik, biasa sibuk pekerjaan. Rama sudah jadi manajer sekarang. Kamu tahu? ]
[Oh ya?? Dia tak cerita soal itu. Dia marah padaku, aku sedang di luar negri liburan. Aku kehabisan uang tapi dia memblokir ku dan memaksa minta putus. ]
[Wah, kalian putus? ]
[Aku ragu, mungkin dia cuma masih marah karena aku minta tambahan uang saku. Sialnya, dia memblokir ku]
[Ku rasa, itu alasannya saja. Dia akan melangsungkan resepsi pernikahannya beberapa hari lagi.]
Amel geram membaca pesan Alex sepupu Rama dari pihak ibu itu.
"Pantas saja dia langsung setuju saat aku minta uang untuk liburan. Ternyata dia punya rencana lain, " dengus Amel.
[APA???! Jadi karena itu? ]
[Alex bisa kah kamu membantu ku? Aku tak bisa pulang kalau begini. Hiks]
[Baiklah. Sebentar aku kirim. ]
Amel bernafas lega.
"Satu bantuan lagi datang, aku harus memberinya imbalan."
[Terima kasih sayang, kamu memang selalu jadi penyelamat ku. Kamu mau ku kirim videoku? untuk menemanimu malam ini. ]
[Kirim lah, videomu pasti membayar rinduku.]
[Oke, setelah ini aku kirimkan]
"Pekerjaan gampang hanya kirim videoku, uang langsung masuk. "
Amel menyeringai, dia mulai beraksi dan menyiapkan ponselnya untuk merekam.
***
Rama, Aya dan Raka makan malam bersama setelah shalat maghrib.
Sebelum keluar dari kamar, Aya membujuk Rama untuk bersikap baik pada adiknya. Bagaimana pun juga ia tak ingin kecemburuan Rama yang terlihat berlebihan itu malah memicu pertengkaran yang tidak seharusnya.
Untung saja Rama terbujuk, tapi ada syarat yang ia minta pada Aya. Aya menyanggupi tapi ia belum tahu syarat apa yang akan di minta Rama.
"Jadi, rencana kamu magang dimana? " tanya Rama.
"Di perusahaan karet punya teman Papa, Bang. Aku sudah masukan pengajuan. Senin rencana aku mau ke sana."
"Baguslah, enam bulan waktu yang lumayan untuk mengumpulkan pengalaman. "
Aya tak banyak bicara. Ia hanya fokus melayani dan makan. Bi Sri kebetulan ia minta pulang lebih awal, jadi Aya yang melayani makan malam hari ini.
Aya duduk di ujung, menjaga jarak dengan Raka.
"Bang, motornya diantar besok ya? " tanya Aya.
"Ia kata pekerjanya tadi. Kenapa? "
"Aku mau pulang ketemu umi sebentar, " rengek Aya.
"Ya sudah tunggu sampai motornya datang. Baru ke sana dengan motor baru, " bujuk Rama.
"Masalahnya, jam berapa datangnya? Kalau sore gimana? "
"Nanti aku aja yang tungguin motornya Aya bang. Abang antar Aya aja dulu ke rumah mertua."
"Kamu nggak keluar? " tanya Rama.
"Nggak, Bang. Biar senin fit. Dari kemarin aku nggak enak badan. "
"Oke, kalau gitu besok abang temenin ke rumah. "
Aya tersenyum senang. " Makasih ya Raka. "
Raka hanya mengangguk.
Makan malam selesai, Raka ijin pamit tidur lebih awal.
Rama dan Aya masih mengobrol depan TV.
"Gimana? lebih enak begini kan Bang? Biar nggak nambah kerutan, " goda Aya sambil menunjuk wajahTV Rama.
Rama mencubit pipi Aya gemas, Aya hanya bisa meringis.
"Iya Abang tahu, tapi jangan lupa syaratnya harus di tepati ya."
Aya melirik, seolah tak mendengarkan. Matanya fokus ke TV.
Rama mematikan TV lalu menarik tangan Aya, membawanya ke kamar.
Aya yang tak siap hanya bisa mengikuti langkah Rama. Ia tiba-tiba cemas.
"Loh, bukannya mau nonton dulu sambil nunggu isya. "
"Siap-siap sholat isya berjamaah sebentar lagi kan? "
"Abang nggak ke masjid? "
"Di rumah aja ya, subuh aja abang ke masjid lagi."
CEKLEK
CTEK
"Ngapain di kunci? Kan belum mau tidur, " tanya Aya mulai curiga.
"Setelah sholat kita langsung tidur ya. "
DEG
Aya yang duduk di sisi ranjang, jantungnya mendadak berdegup kencang.
Rama berlalu ke kamar mandi sambil menahan senyum. Menyiapkan diri menuntut janjinya malam ini.