Gerard adalah seorang pria yang hidupnya jatuh hingga ke titik terendah. Saat ia nyaris mati kelaparan dan menjadi korban serangan tak dikenal, sebuah Sistem misterius tiba-tiba muncul, menyelamatkan nyawanya dan memulihkan tubuhnya sepenuhnya.
Dibawa ke dalam hutan yang asing, Gerard kini diberi tantangan oleh Sistem: bertahan hidup semalam untuk mendapatkan hadiah luar biasa—uang seratus juta dan sebuah rumah. Namun, di balik janji masa depan cerah itu, ancaman dari masa lalu dan identitas penyerangnya yang gelap masih mengintai, membuat setiap detik menjadi pertaruhan nyata.
Siapakah itu? Dan seberapa rumit masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Loorney, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 - Kerinduan Mawar
Mawar berdiri kaku, tatapannya tak bisa lepas dari sosok Gerard yang perlahan turun setelah memarkirkan mobil di samping motornya. Keheningan sempat menyelimuti mereka, tapi begitu Gerard berjalan mendekat—tanpa aba-aba, tanpa kata—Mawar berlari.
Dan melompat ke dalam pelukannya.
"Kakak!" serunya, suara bergetar hebat. Bukan marah. Bukan gembira biasa. Ada sesuatu di sana—cemas yang memuncak, lega yang meluap, dan rindu yang tak tertahankan.
Gerard menegang. Matanya membulat, kedua tangannya terangkat kaku di udara, tak tahu harus memeluk atau mendorong. Tapi Mawar tak memberi pilihan. Lengannya melingkar erat di punggungnya, wajahnya menempel di dada Gerard, dan tubuhnya sedikit bergetar.
"E-eh? Mawar? Apa yang kamu lakukan?" tanya Gerard, suaranya penuh kebingungan, juga sedikit khawatir.
Mawar tak menjawab. Ia hanya mengeratkan pelukannya, seolah takut Gerard akan menghilang lagi begitu saja.
Mungkin Gerard tak pernah sadar. Tapi selama ini, Mawar selalu ada—menunggu di pagi hari, di siang yang panas, hingga malam yang sunyi. Ia berharap pagar putih itu berderak, berharap motor itu keluar, berharap Gerard muncul dengan senyum hangatnya.
Tapi tak pernah.
Hari berganti hari, dan pagar itu tetap diam. Tak ada kabar, tak ada kontak, tak ada apa pun. Mereka bahkan tak sempat bertukar nomor. Dan itu yang membuat malam-malam Mawar terasa panjang, dipenuhi spekulasi yang tak berujung.
Tapi kini, Gerard ada di sini. Di hadapannya. Masih sama: tinggi, tenang, dan senyum itu—senyum yang ia rindukan tanpa sadar. Meski waktu bersama mereka tak sebanding dengan hari-hari tanpa kabar, perasaan Mawar tak pernah goyah. Justru semakin dalam, mengendap, dan meluap begitu ia melihat sosok itu lagi.
Pelukannya mengerat. Tubuhnya bergetar. Dan Gerard bisa merasakan—pakaiannya mulai basah oleh air mata hangat yang jatuh diam-diam.
Awalnya Gerard kaku, tak tahu harus bersikap apa. Tapi perlahan, tangannya yang terangkat itu turun, menempel lembut di bahu Mawar yang terus bergetar.
"Kakak..." rintih Mawar, suaranya parau, tersekat isak. "Kamu ke mana aja...?"
Bukan tuntutan. Bukan pertanyaan. Itu adalah kerinduan yang selama ini dipendam, yang akhirnya pecah begitu saja.
Gerard menarik napas, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ia tak sepenuhnya paham apa yang terjadi, tapi satu hal yang ia tahu: tangis ini adalah akibat dari kepergiannya yang tiba-tiba. Maka ia merasa bertanggung jawab untuk menjelaskan—meski tak bisa menjelaskan semuanya.
Tangan Gerard mulai mengelus punggung Mawar, pelan, menenangkan. "Aku di sini..." bisiknya. "Maaf udah pergi tanpa bilang."
Tak ada penjelasan panjang. Tak ada alasan. Hanya pengakuan bahwa keheningannya telah menyakiti seseorang tanpa ia sadari.
Dan itu, untuk Mawar.
Momen itu berlangsung sangat lama. Mawar terus menempel, tak pernah berniat menjauh—bahkan setelah tangisnya mereda. Tapi Gerard juga tak bergerak. Ia tetap di sana, lengannya melingkar lembut, tangannya terus mengelus punggung Mawar dengan sabar. Seolah pelukan ini adalah satu-satunya jawaban yang diperlukan.
Tak perlu penjelasan panjang. Tak perlu kata-kata manis. Cukup kehangatan yang kembali mengalir di antara mereka, setelah sekian lama terputus tanpa kabar.
Sesekali, Mawar bertanya dengan suara lemah, seperti anak kecil yang butuh kepastian.
"Kakak kemana aja?"
"Hanya pergi. Istirahat."
"Aku kira kakak kenapa-kenapa..."
"Aku baik-baik saja. Buktinya di sini."
"Aku rindu kakak..."
Gerard tersenyum kecil. Dadanya menghangat.
"Aku juga."
Tak lebih dari itu. Tapi cukup.
Setelah percakapan itu, Mawar menenggelamkan wajahnya sepenuhnya di dada Gerard yang bidang. Pelukannya mengerat, tiba-tiba, tanpa peringatan. Gerard sempat terkejut, tapi sebelum ia sempat bereaksi, Mawar sudah menarik wajahnya kembali. Mendongak dengan mata sembab, merah, dan basah.
"Kakak udah makan?" tanyanya, suara masih lemah.
Gerard tersenyum tipis. Tangannya terangkat, ibu jarinya menyeka perlahan air mata yang masih membasahi pipi Mawar. Gerakannya lembut, hati-hati, seolah sedang menyentuh sesuatu yang rapuh.
"Belum. Nggak sempat," jawabnya pelan.
Mawar diam saja. Membiarkan jari-jari Gerard bekerja, merasakan hangat di pipinya, nyaman dan menenangkan. Ia bahkan hampir memejamkan mata.
"Lihat, matamu jadi bengkak. Nggak baik." bisik Gerard, nada bicaranya seperti menyesali sesuatu.
Tapi Mawar hanya menggeleng. "Biarin."
Gerard sudah mengenal karakter Mawar sejak pertemuan pertama—sisi beraninya, sisi polosnya, bahkan sisi "seram" yang sempat membuatnya merinding. Tapi sisi yang ini... ini benar-benar baru. Dan entah kenapa, ia menikmatinya.
Mawar seperti anak kucing. Manja. Gemas. Menempel tanpa ragu, tanpa malu.
Apa Mawar sadar kalau ini pertama kalinya ia bersikap seperti ini pada lawan jenis? Mungkin tidak. Tapi Gerard juga tak perlu tahu. Yang jelas, momen ini—pelukan di dekat pagar, air mata yang ia usap, dan kini tangan mungil yang menariknya paksa—akan membekas lama.
"Kakak belum makan, kan?" Mawar menoleh, senyumnya merekah meski mata masih sedikit sembap.
Gerard mengangguk, masih agak terkejut dengan perubahan cepat gadis itu.
"Kalau begitu, aku mau masakin kakak sesuatu!" serunya penuh semangat.
"T-tunggu... aku belum mandi!" Gerard mencoba menarik diri, tapi tangannya sudah digenggam erat. "Aku mau mandi dulu—"
"Nggak apa! Perut harus diutamakan!" potong Mawar sambil tertawa kecil, menariknya semakin kuat menuju rumah sendiri.
Gerard yang sempat panik akhirnya menghela napas pasrah. Senyuman kecut mengembang di bibirnya. Ya sudah. Dia nggak salah kok. Aku juga nggak bisa nolak.
Langkahnya mengikuti Mawar dari belakang. Rambutnya tergerai, punggungnya kecil, tapi genggamannya kuat.
Dasar curang, batin Gerard sambil tersenyum tipis. Gimana aku bisa nolak kalau udah kayak gini?
Mawar menuntun Gerard dengan lembut, tangan mereka masih bertaut saat akhirnya tiba di ambang pintu rumah. Begitu melangkah masuk, aroma khas yang sama langsung menyapa—hangat, familiar, mengingatkan Gerard pada kunjungan pertamanya dulu. Isi ruangan masih sama. Suasana masih sama. Semuanya masih sama.
Termasuk yang satu ini.
Dari atas tangga, Linda muncul. Matanya membulat sesaat melihat pemandangan di depannya—putrinya menggandeng tangan seorang pria, tanpa malu, tanpa ragu. Lalu senyum tipis mengembang di wajahnya. Bukan senyum biasa. Senyum tahu segalanya.
"Owh~ ada tamu, nih?" nada bicaranya menggoda, ringan, tapi tajam.
Mawar mengangguk. Tanpa malu. Tanpa menghindar.
Sementara di sampingnya, Gerard diam membeku. Senyuman kaku menempel di wajahnya seperti topeng darurat.
"Ah... Halo, Tante..."