Deon selalu jadi bulan-bulanan di sekolahnya karena wajahnya yang terlalu tampan, sifatnya penakut, dan tubuhnya yang lemah. Suatu hari, setelah nyaris tewas ditinggalkan oleh para perundungnya, ia bangkit dengan Sistem Penakluk Dunia yang misterius di tubuhnya. Sistem ini memberinya misi-misi berani dan aneh yang bisa meningkatkan kekuatan, pesona, dan kemampuannya. Mampukah Deon membalaskan semua penghinaan, menaklukkan para wanita yang dulu tak mempedulikannya, dan mengubah nasibnya dari korban menjadi penguasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Flashback
FLASHBACK
Pagi itu, sinar matahari baru mulai menyinari jalan raya saat mobil hitam melaju dengan tenang menuju sekolah. Deon duduk di kursi belakang, tangan kanannya masih memegang kotak makan siang yang dibuat ibunya – roti lapis dengan selada segar dan potongan buah yang diatur rapi.
"Jangan lupa serahkan tugas matematikamu kepada gurumu ya, Nak," suara ibu terdengar lembut dari kursi depan. Dia kadang-kadang menoleh ke belakang dengan senyum yang selalu membuat Deon merasa senang.
"Ya Bu, sudah aku masukkan ke dalam tas," jawab Deon sambil menatap pemandangan luar jendela.
Ayahnya yang sedang mengemudi hanya mengangguk tanpa melihat ke belakang, lalu berkata. "Ayah dan ibumu akan pergi ke luar kota sebentar, mungkin sampai larut malam baru pulang. Kau bisa tunggu dirumah ya, atau kalau bosan bisa main ke rumah temanmu."
Deon mengangguk perlahan. Kalau biasanya dia akan merasa kesepian sendiri di rumah, tapi hari ini dia sudah punya rencana untuk menyelesaikan sesuatu bersama teman sekelasnya. "Baiklah Ayah, aku akan jaga diri."
Sesampainya di sekolah, ibu turun dari mobil dan membuka pintu belakang untuk membantu Deon mengambil tasnya. Dia mencium dahi anaknya dengan lembut, aroma parfum favoritnya yang seperti bunga melati terasa kuat di udara.
"Semangat belajar ya, sayang." ucapnya sambil tersenyum.
Ayahnya juga mendekat, memberikan pukulan lembut di bahu Deon. "Kita bicara lagi malam ini."
Dengan senyum ceria, Deon berlari menjauh menuju gerbang sekolah.
Beberapa Jam Kemudian
Jam pelajaran baru saja selesai. Deon sedang berbicara dengan teman-temannya, ketika pintu kelas tiba-tiba terbuka dengan keras. Pak kepala sekolah berdiri di sana, wajahnya tampak pucat dan ekspresinya serius sekali.
"Deon, tolong datang kemari sebentar," katanya dengan suara yang berat.
Rasa tidak nyaman mulai merambat di perut Deon. Dia berdiri perlahan, mengikuti Pak Kepala Sekolah keluar dari kelas tanpa berkata apa-apa. Mereka berjalan melewati lorong yang sunyi, jauh dari suara bising teman-teman yang sedang bermain di halaman.
Di ruang guru, dua orang polisi sudah menunggu di sana. Salah satunya berdiri dan menghampirinya dengan tatapan penuh rasa kasihan.
"Kau Deon, ya?" tanyanya dengan lembut. Deon hanya bisa mengangguk, tangannya sudah mulai gemetar.
"Aku sangat tidak ingin memberitahumu tentang ini, nak. Kedua orang tuamu mengalami kecelakaan mobil saat sedang dalam perjalanan. Mereka sudah tidak bisa diselamatkan lagi."
Kata-kata itu masuk ke telinga Deon tapi rasanya seperti tidak masuk akal sama sekali. Dia menatap wajah polisi itu dengan mata kosong, pikirannya tidak bisa menerima apa yang baru saja dia dengar.
"Tidak mungkin... mereka mengatakan akan pulang malam ini..." bisik Deon pelan, suaranya hampir tidak terdengar.
Pak kepala sekolah menaruh tangan di pundaknya dengan lembut. "Kami sudah menghubungi keluargamu. Mereka sedang menunggu di rumah sakit."
Di Rumah Sakit
Di rumah sakit, Deon duduk di kursi luar ruangan. Tangannya tetap tertekuk, mata tidak bisa berpindah dari pintu ruang mayat yang hanya beberapa langkah darinya. Dia bisa merasakan bahwa kedua orang tuanya ada di dalam sana, tapi tidak seorang pun yang mengizinkan dia masuk.
"Anak kecil tidak boleh melihatnya, Deon. Kondisinya terlalu parah," kata salah satu petugas rumah sakit dengan nada menenangkan, tapi bagi Deon itu hanya terdengar seperti kebisingan yang tidak penting.
Dia berdiri dengan tergesa-gesa, berusaha mendekati pintu. "Aku mau melihat mereka!!" teriaknya dengan suara yang pecah.
Tapi seseorang menarik tangannya dengan lembut dari belakang. Deon menoleh dan melihat seorang pria tinggi dengan wajah yang mirip ayahnya berdiri di sana – pamannya.
Matanya sedikit merah, tapi dia tetap tampak tenang saat menatap Deon. "Tenang saja, nak. Aku tidak ingin kau melihat mereka dalam kondisi seperti itu. Mereka pasti juga tidak ingin itu."
Deon merasakan air mata mulai mengalir deras di pipinya. Dia jatuh ke pangkuan pamannya, menangis dengan sekuat tenaga sambil menggenggam baju pamannya dengan erat. Semua kenangan tentang pagi itu – senyum ibu, suara ayah, rasa hangat pelukaan mereka – tiba-tiba menghantamnya sekaligus.
"Kenapa ini bisa terjadi, Paman?" tanya Deon dengan suara bergetar.
Pamannya menarik napas dalam-dalam sambil memeluk Deon lebih erat. Ia tak sanggup mengatakan apa-apa pada Deon.
Deon hanya terus menangis, tidak mampu mengucapkan kata-kata lagi.
BEBERAPA BULAN KEMUDIAN
Pamannya memasuki ruangan dengan tas plastik di tangannya, kemudian menaruhnya di atas meja makan. "Aku bawa makanan kesukaanmu, Nak. Kau belum makan apa-apa sejak pagi kan?"
Deon tetap terpaku pada foto keluarga di atas meja kayu, tubuhnya tidak bergerak sedikitpun. "Tidak ada yang rasanya enak, Paman..."
Pamannya mengambil mangkuk dan menyajikannya dengan hati-hati, lalu duduk di sofa sebelahnya. Dia menatap foto yang sama dengan ekspresi mendalam. "Aku tahu rasanya, Nak. Terkadang rasanya seperti dunia kita sudah berhenti berputar kan? Tapi kau harus makan sedikit saja, badanmu perlu energi."
Deon perlahan-lahan menoleh menghadap pamannya, matanya merah dan sedikit bengkak. "Mengapa mereka harus pergi begitu saja, Paman? Mereka mengatakan itu kecelakaan biasa... tapi kenapa tidak ada yang mau mengatakan padaku detailnya? Bahkan aku tidak bisa melihat mereka untuk terakhir kalinya."
Pamannya menghela napas panjang, kemudian meraih tangan Deon dengan lembut dan memeluknya. "Aku juga masih mencari jawabannya, Nak. Yang aku tahu hanya apa yang diberitakan polisi. Dan tentang tidak mengizinkanmu melihat mereka... mungkin mereka berpikir itu yang terbaik untukmu saat itu. Kau masih terlalu kecil untuk melihat hal-hal yang tidak patut dipandang."
Deon menarik tubuhnya sedikit menjauh, matanya mulai berkaca-kaca. "Tapi mereka adalah orang tuaku, Paman! Aku punya hak untuk melihat mereka..."
Pamannya mengelus punggungnya dengan lembut. "Aku tahu, Nak. Tapi kau tidak sendirian. Aku akan selalu ada untukmu. Kau akan tinggal di rumahmu saja seperti dulu, tapi aku akan memastikan kau tidak kekurangan apa-apa. Uang sekolah, makanan, pakaian – semuanya akan aku urus."
Deon mengangkat wajahnya, mata masih berkaca-kaca. "Tapi kenapa? Aku tidak bisa membalas semua itu, Paman."
Pamannya memberikan senyum hangat padanya, meskipun mata dirinya masih terlihat sedih. "Kau akan membayarnya di masa depan, nak," katanya dengan lembut. "Tapi jangan khawatir tentang itu sekarang. Sekarang, kita fokus untuk melewati hari-hari ini bersama-sama."
Dia kemudian menepuk bahu Deon dengan lembut. "Apakah kau sudah pikirkan tentang sekolah? Mereka sudah menghubungiku, mengatakan kau bisa kembali kapan saja kalau sudah siap."
Deon menurunkan pandangannya ke lantai, menggenggam ujung celananya dengan erat. "Aku tidak tahu, Paman. Bagaimana aku bisa pergi ke sana dan bersekolah seperti biasa sementara segalanya sudah berubah? Teman-temanku pasti akan melihatku dengan cara yang berbeda."
Pamannya membungkuk sedikit agar bisa melihat wajah Deon. "Mungkin saja begitu, tapi kau tidak bisa selalu menyendiri seperti ini, Nak. Sekolah adalah tempat kau bisa belajar, bertemu teman, dan sedikit demi sedikit kembali ke kehidupan yang normal. Dan ingat janjiku ya – uang sekolah, biaya hidup, semua itu aku akan tangani. Kau tidak perlu khawatir tentang apa-apa."
Deon mengangkat pandangannya dengan tatapan cemas. "Tapi aku tidak ingin kau merasa terbebani karenaku, Paman.”
Pamannya tersenyum hangat, kemudian menyentuh dahi Deon. "Kau termasuk keluargaku juga, Deon. Ayahmu adalah saudara kandungku – kita satu darah. Kalau dia masih ada di sini, dia pasti akan melakukan hal yang sama, kalau aku dalam keadaan sepertimu sekarang."
Deon menatap mata pamannya dengan ekspresi bingung namun penuh harapan. "Tapi bagaimana cara aku membayarnya? Aku tidak punya apa-apa, Paman."
Pamannya mengambil mangkuk bubur dan memberikannya ke Deon. "Kau punya dirimu sendiri, Nak. Cukup dengan menjadi orang yang baik dan selalu ingat baiknya orang tuamu, itu sudah cukup untukku. Sekarang, mari kita makan makanannya sebelum dingin ya? Setelah itu kita bisa berbicara tentang apa yang ingin kau lakukan selanjutnya."
Deon menerima mangkuk dengan tangan yang sedikit gemetar, kemudian mengangguk perlahan. "Baiklah, Paman.”
semangat terus bacanya💪💪