Elyra Azzahra mencintai Leonard Attahaya tanpa mengetahui siapa sosok Leonard sebenarnya.
Saat kebenarannya terungkap nyatanya perbedaan kasta dan jurang sosial menjadi titik kehancuran keyakinan Elyra akan cinta, namun dia tetap memilih bertahan.
Namun, harapan itu kembali runtuh ketika Leonard ternyata telah dijodohkan. Dalam kehilangan, Leonard memberontak, dan rela mengorbankan segalanya demi Elyra. Bagi Elyra dunia adalah cinta dan cinta bukan berarti dunia.
Mampukah Elyra bertahan demi cinta? atau justru menyerah dengan dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Tiara Hamil
Setelah kejadian hari itu, banyak yang membicarakan tentang Elyra. Tentang Leon, dan tentang ucapan Elyra yang mengatakan bila setelah lulus, dia akan menikah.
Hal itu kian terus terdengar, bahkan Elyra sendiri beberapa kali diwawancarai tentang hal itu oleh temannya. Sedangkan jawaban Elyra sendiri hanya bilang, ya dan terserah.
"Ya, kenapa?" tanya Elyra, dia sudah merasa tidak enak kala itu.
"Biar aku perjelas Elyra, dia sudah dijodohkan denganku. Dan sekarang, aku sedang hamil. Mengandung anaknya, anak Leon dan aku." Ungkap Tiara, Elyra menghela napas kasar.
"Berapa bulan kandungannya?" tanya Elyra, dia seolah santai menghadapi hal itu. Membuat Tiara gatal melihat perlakuan itu.
Gerbang sekolah mulai lengang ketika Elyra melangkah keluar. Sinar sore menyapu halaman, dan di sanalah ia melihat sosok yang sejak tadi berdiri menunggu.
Wanita itu anggun, berpakaian tertutup meski tanpa kerudung. Wajahnya cantik, sorot matanya tajam seperti menyimpan sesuatu.
Elyra mengenalnya.
“Kak Tiara,” ia mendekat tanpa tergesa. Sapanya tenang.
“Sepertinya Kakak sengaja menungguku.” Tiara tersenyum kecil, namun ada kekesalan jelas di matanya.
“Kamu cepat tangkap juga.” Pungkas Tiara, yang memang kala itu menunggu Elyra.
“Ada yang ingin Kakak bicarakan?” Elyra bertanya lembut, tapi tatapannya mantap.
Tiara langsung mengeluarkan ponsel. Kali ini tak ada basa-basi. Sebuah foto ditunjukkan tepat di hadapan Elyra.
“Aku dengar kamu dekat dengan seorang pria. Dia ini, kan?” Elyra melihat foto itu sekilas saja, lalu mengangkat pandangannya kembali.
“Iya,” jawabnya jujur.
“Dia orang yang Kakak maksud.” Tiara mengangkat alis.
“Tanpa rasa malu kamu mengakuinya?” Elyra tersenyum tipis.
“Kenapa harus malu kalau tidak melakukan hal yang salah atau memalukan, Kak?” Kalimat itu membuat Tiara terdiam sepersekian detik.
“Kakak datang jauh-jauh hanya untuk memastikan gosip?” lanjut Elyra tenang. “Atau ingin menyudutkanku?” lanjut Elyra, Tiara mendengus.
“Kamu pintar bicara. Tapi kamu tahu posisimu di keluarga Attahaya itu apa?" Tiara mengepalkan tangannya kesal.
“Aku tahu,” jawab Elyra mantap. “Dan justru karena tahu, aku menjaga batasanku.”
“Kamu merebut apa yang sejak awal disiapkan untukku.” Tiara mendekat selangkah, Elyra tidak mundur.
“Kak,” ucapnya halus tapi tegas. Elyra memang sempat mendengar desas-desus mengenai Tiara yang dijodohkan dengan keluarga Attahaya. Namun Elyra juga sudah tahu, apa pilihan yang diambil oleh Leon kini.
“Dijodohkan bukan berarti dimiliki. Dan perasaan tidak bisa diwariskan.” Hening.
“Aku tidak pernah mengambil siapa pun, kalau ada yang memilih datang padaku, itu karena kehendaknya sendiri.” Lanjut Elyra. Sorot mata Tiara mengeras.
“Kamu pikir kamu menang?” Elyra tersenyum lembut.
“Aku tidak sedang berlomba. Aku hanya jujur pada perasaanku.” Ia menunduk sedikit sopan.
“Kalau Kak Tiara marah, aku mengerti. Tapi jangan salahkan aku atas pilihan orang lain.” Tiara mengepalkan tangan.
“Kamu memang cerdas, terlalu cerdas untuk anak seusiamu.” Gumam Tiara dingin, Elyra menatap lurus.
“Aku hanya belajar menghargai diriku sendiri.” jawab Elyra lagi, singkat namun juga cukup membuat Tiara makin kesal.
Gerbang sekolah kini hampir sepi. Angin sore berembus pelan, mengibaskan rambut Elyra yang mulai lepas dari ikatannya. Tiara berdiri di hadapannya dengan wajah dingin, Elyra menarik napas dalam.
“Kak Tiara datang jauh-jauh cuma buat menunjukkan foto?” ucap Elyra ringan.
“Atau takut kehilangan seseorang?” lanjutnya lagi seolah menyindir, namun juga memiliki maksud yang jelas. Sorot mata Tiara menyala.
“Kamu terlalu percaya diri.” sinis Tiara, dia sungguh tak menyangka gadis kecil seperti Elyra akan setenang itu di hadapannya.
“Bukan percaya diri,” Elyra tersenyum tipis.
“Aku hanya yakin. Leon bukan tipe pria yang mudah tergoda, terserah apa kata Kakak tapi sekarang mau apa pun yang dikatakan oleh Kakak, aku akan tetap bersama Leon.” Hal itu seperti disiram bensin.
“Kamu pikir kamu mengenalnya?” Tiara tertawa pendek penuh amarah. “Kamu cuma bocah sekolah, tau!” Elyra mendekat satu langkah, sengaja menusuk.
“Tapi bocah ini yang dia pilih pulang setiap hari.” pungkas Elyra, dia menghela napas dan hening seketika tercipta.
“Yang dia jaga,” lanjut Elyra pelan. “Yang dia cintai.” Senyum Elyra, rahang Tiara mengeras.
“Kamu benar-benar yakin dia setia?” sinis Tiara, Elyra juga pernah mendengar masa lalu Leon. Namun saat ini, Leon itu adalah Leonnya, Leon yang berbeda.
“Aku percaya padanya,” jawab Elyra mantap meski jantungnya berdebar.
“Dan orang yang percaya tidak takut pada masa lalu.” Tambah lagi Elyra, Tiara menggenggam tasnya kuat-kuat.
“Kamu mau tahu masa lalunya?” Elyra menatap lurus, sengaja menekan.
“Kalau Kakak mau membuka aib sendiri, silakan.” Itu membuat Tiara kehilangan kendali.
“KAMU PIKIR AKU BERBOHONG?!” Elyra terkejut tapi tetap berdiri tegak.
“Leon tidur denganku!” teriak Tiara dengan mata memerah.
“Bukan sekali!” Hening memekakkan telinga, dada Elyra terasa sesak.
“Dan bukan cuma itu,” suara Tiara bergetar oleh emosi. “Aku hamil anaknya.”
DUAR!
Dunia Elyra seperti runtuh, kepalanya berdengung, tangannya dingin, matanya panas, tapi dia tidak menangis. Ya, mungkin juga belum. Namun saat ini dia tidak akan menangis.
“...Apa?” suaranya nyaris tak terdengar.
Tiara tersenyum pahit.
“Kamu dengar jelas.” Air mata menggenang di mata Elyra, tapi ia menahannya keras-keras.
“Kakak yakin itu anak Leon?” tanyanya pelan, suaranya gemetar meski berusaha tenang.
“Jangan pura-pura kuat!” bentak Tiara. “Dia pria pertama dan terakhirku!”
Elyra menunduk, dadanya naik turun. Dalam hati ia ingin berteriak, ingin pecah, ingin menangis, tapi ia mengingat wajah Leon, dan janji-janji nya. Elyra kembali mengangkat kepalanya, Elyra ingat dengan senyum Leon dan tatapan tulusnya.
“Aku percaya Leon,” ucap Elyra lirih tapi tegas. Tiara terdiam sesaat, lalu tertawa getir.
“Percaya? Kamu tahu dia meninggalkanku saat aku bilang aku hamil?!” Air mata Elyra jatuh satu, cepat-cepat ia menyekanya.
“Kalau itu benar,” suaranya retak, “maka Leon akan bertanggung jawab. Dan kamu akan pergi, kan?” Tiara mendekat tajam.
Elyra terdiam lama, hatinya hancur. Tak ada gadis 17 tahun yang kuat menerima ini tanpa luka. Namun ia mengangkat wajahnya.
“Aku bukan akan pergi karena kalah,” katanya lirih penuh sakit.
“Aku akan pergi kalau kebenaran memang meminta aku mundur.” lanjut Elyra, dia percaya Leon, dia berusaha percaya, Tiara tertegun.
“Tapi sebelum itu,” lanjut Elyra sambil menahan tangis, “aku tidak akan menghakimi pria yang aku cintai hanya dari ucapan orang yang marah.” Suaranya pecah.
“Aku lemah, Kak… aku takut… aku sakit… Tapi aku masih memilih percaya.” Air mata akhirnya mengalir.
“Karena cinta tanpa percaya cuma akan menghancurkan lebih cepat.” Hening menyelimuti mereka. Tiara menatap Elyra dengan emosi campur aduk. Marah, iri, kalah.
“Kamu terlalu dewasa,” bisik Tiara lirih, Elyra tersenyum pilu.
"Ya, aku juga berharap begitu." Elyra berbalik dan pergi dari hadapan Tiara, meninggalkan rencana Tiara. Dan keteguhan Elyra yang membuat Tiara sendiri merasa tak berdaya.
🤣