NovelToon NovelToon
A WINTER OF MY HEART

A WINTER OF MY HEART

Status: tamat
Genre:Karir / Angst / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Sinopsis
Aruna Rembulan Maharani
Gadis dengan kata-kata yang membelenggu.
Ia adalah editor handal yang hidup di balik tirai kata-kata puitis namun kosong. Di permukaan, Aruna terlihat tenang dan terkendali, seorang gadis yang pandai memoles keburukan dunia menjadi narasi yang indah.
Biru Laksmana Langit
Laki-laki dengan lensa yang memburu kebenaran.
Lahir di tengah gelimang harta keluarga Laksmana, Biru justru memilih menjadi anomali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab spesial 1 : Galeri tanpa dinding

​Pagi di desa pesisir ini memiliki ritme yang sangat berbeda dengan Jakarta. Tidak ada raungan klakson yang memicu adrenalin atau kepulan asap knalpot yang menyesakkan dada. Di sini, pagi dimulai dengan suara srak-sruk sapu lidi yang beradu dengan tanah berpasir dan aroma kayu bakar dari dapur tetangga yang menyusup lewat ventilasi.

​Biru biasanya bangun lebih awal. Ia memiliki kebiasaan membiarkan aku meringkuk lebih lama di balik selimut tipis kami, sementara ia melakukan ritual paginya: menyeduh kopi tubruk. Uap hitam pekat itu memenuhi ruang tengah, berbaur dengan bau khas cairan kimia film yang samar-samar masih tertinggal di ujung jarinya.

​Studio kami bukanlah ruangan steril yang dingin seperti galeri-galeri di Senopati. Itu adalah jantung dari rumah ini. Dinding-dindingnya penuh dengan rak buku kayu yang kubuat bersama Biru dari sisa-sisa kayu palet, diisi dengan karya sastra klasik yang kertasnya sudah menguning hingga jurnal fotografi internasional. Di tengah ruangan, sebuah meja panjang dari kayu jati bekas kapal nelayan menjadi saksi bisu kerja kerasnya. Serat kayunya yang kasar seolah menyimpan cerita tentang ombak dan badai, sama seperti foto-foto yang Biru hasilkan.

​"Na, kemarilah. Aku butuh matamu," panggil Biru dari teras. Suaranya rendah, namun selalu berhasil menarikku keluar dari lamunan.

​Aku menghampirinya sambil mengucek mata, menyesap kopi dari cangkir keramik yang sedikit retak di bagian bibirnya—cangkir favoritku karena ia memiliki sejarah terjatuh saat kami pertama kali pindah. Biru sedang menjemur cetakan foto di atas tali rami menggunakan penjepit kayu. Foto-foto hitam putih itu bergoyang pelan ditiup angin laut yang membawa uap garam.

​"Lihat Pak Darma di foto ini," Biru menunjuk potret seorang nelayan tua. Pak Darma sedang tertawa lebar hingga matanya hanya menyisakan garis tipis, tangannya yang legam dan berurat memegang seekor ikan kakap merah besar. "Dulu, saat aku masih terobsesi dengan estetika penderitaan di Jakarta, aku mungkin akan mengambil sudut pandang yang dramatis dari bawah. Menunjukkan betapa kecilnya dia dibandingkan dunianya untuk memancing rasa iba kurator. Tapi sekarang... lihat binar di matanya, Na. Itu bukan binar kelelahan. Itu binar kebanggaan. Dia bukan objek kasihan. Dia adalah pemenang atas lautnya sendiri."

​Aku terdiam cukup lama, menyentuh tepian foto yang masih terasa sedikit lembap. Ada sesuatu yang bergetar di dadaku. "Dan kita benar-benar akan memajang ini di luar? Di pagar rumah? Maksudku... ini bukan ruang pameran yang aman, Biru. Debu, tangan anak-anak, hujan... mereka bisa merusaknya."

​"Ya," jawab Biru mantap, matanya menatap lurus ke arah jalan setapak di depan rumah kami. "Aku ingin pagar kita menjadi galeri. Aku ingin orang-orang desa ini melihat diri mereka sendiri tanpa perlu merasa kecil. Seni tidak boleh hanya ada di gedung berkaca di Sudirman yang pintunya dijaga pria berseragam yang hanya membukakan pintu untuk orang-orang berjas. Seni harus pulang, Na. Pulang ke pemilik aslinya."

​Sore itu, kami menjadi tontonan warga. Biru, dengan kaos oblongnya yang terkena noda cat, mulai memaku bingkai-bingkai kayu sederhana di sepanjang pagar. Ketukan palunya beradu dengan suara deburan ombak di kejauhan. Sementara itu, aku duduk di teras dengan buku catatan di pangkuan, menyiapkan deskripsi naratif untuk setiap foto.

​Aku sengaja membuang jauh-jauh gaya bahasa editor yang kaku dan penuh istilah teknis. Aku menulis tentang bagaimana Pak Darma selalu menyisakan ikan terbaik—bukan untuk dijual, tapi untuk kucing-kucing liar di pasar. Aku menulis tentang bagaimana kerutan di dahi Bu Siti adalah peta cuaca yang lebih akurat daripada aplikasi ponsel mana pun.

​Saat matahari mulai tergelincir, mengubah warna langit menjadi jingga keunguan yang megah, galeri itu "resmi" terbuka. Tanpa pita merah, tanpa sampanye.

​Anak-anak kecil yang baru selesai mengaji berlarian mendekat. Mereka menunjuk-nunjuk foto kakek mereka dengan riuh, tertawa melihat wajah yang biasanya keras kini tampak begitu artistik di bawah bingkai. Para nelayan yang baru pulang dengan sarung tersampit di bahu berhenti sejenak. Wajah-wajah yang terbakar matahari itu tersipu malu. Ada kebanggaan yang jujur saat mereka menyentuh bingkai kayu itu, seolah memastikan bahwa ya, itu memang benar diri mereka.

​Kami akhirnya duduk di teras setelah kerumunan sedikit mereda. Lampu tumblr yang kupasang di langit-langit teras berpijar kuning keemasan, memantul di mata Biru. Ia menggenggam tanganku erat di bawah meja kayu jati itu.

​"Dulu aku merasa harus memiliki pameran tunggal di galeri ternama untuk bisa merasa menjadi seniman, Na," bisiknya sambil menatap Pak Darma yang sedang menjelaskan fotonya sendiri pada cucunya di depan pagar kami. "Ternyata, hanya dengan sebuah bingkai kayu bekas dan selembar kertas, kita bisa memberi mereka sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang: rasa hormat pada diri sendiri. Dan bagiku, itu jauh lebih berharga daripada tepuk tangan di Jakarta."

​Aku bersandar di bahunya, merasakan kedamaian yang asing namun sangat kuinginkan. Di balik pagar sederhana itu, aku belajar bahwa mahakarya yang sesungguhnya bukan tentang seberapa mahal ia terjual, tapi tentang seberapa besar ia mampu memanusiakan manusia.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Wiwik Darwasih
bagus👍
deepey
bikin meleleh..
deepey
salam kenal kk.
Isti Mariella Ahmad: Salam kenal 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!