Lydia tidak pernah menyangka, setelah dipecat dan membatalkan petunangan, ia dicintai ugal-ugalan oleh keponakan mantan bosnya.
Rico Arion Wijaya, keturunan dari dua keluarga kaya, yang mencintainya dengan cara istimewa.
Apakah mereka akan bersama, atau berpisah karena status di antara mereka? ikuti terus kisahnya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noorinor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Jevan tidak melakukan kesalahan apa pun, tapi ia tiba-tiba saja disidang. Awalnya, ketiga sahabatnya mengajaknya ke bar. Namun, alih-alih minum, Jevan justru dihujani banyak pertanyaan.
"Sejak kapan lo dan Lydia dekat? Apa kalian diam-diam punya hubungan? Kenapa kita gak tahu?" tanya Calvin beruntun.
Jevan sampai bingung harus menjawab pertanyaan yang mana lebih dulu. Ia tidak sedekat itu dengan Lydia, bagaimana mungkin memiliki hubungan.
Lagipula, kedekatannya dengan Lydia sekadar sopan santun karena perempuan itu mantan sekretaris Calvin. Bukan karena hal lain yang Calvin pikirkan.
"Ayo, jawab! Kenapa lo malah diam?" ujar Haikal mendesak Jevan.
"Gue dan Lydia gak ada hubungan apa-apa," kata Jevan cepat, sebelum semakin didesak.
Jevan tidak tahu ada apa dengan sahabatnya, namun ia tetap menjawab yang ia bisa. Ia kemudian teringat saat dirinya menangkap tubuh Lydia yang hampir terjatuh. Mungkin itu alasan sahabatnya salah paham terhadapnya.
"Soal yang tadi, kalian lihat sendiri Lydia hampir jatuh. Gue cuma nolong dia," jelasnya.
"Tapi kalian pernah ke coffeeshop bareng," celetuk Nathan saat Calvin dan Haikal hampir mempercayai perjelasan Jevan.
Jadi, alasan ketiga orang itu menginterogasi Jevan adalah karena Arion telah menceritakan kedekatan Jevan dan Lydia. Tujuan mereka sekarang hanya satu, memastikan perjalanan cinta Arion terhadap Lydia berjalan mulus.
Jevan masih belum tahu apa-apa tentang perasaan Arion, sehingga ia tampak seperti orang kebingungan di antara ketiga sahabatnya.
"Kita cuma kebetulan ketemu di sana," ucap Jevan seadanya.
"Percaya sama gue, gue dan Lydia gak ada hubungan apa-apa," lanjutnya, berharap ketiga sahabatnya mempercayainya kali ini.
Ia tidak mungkin dekat dengan perempuan tanpa memberitahu sahabatnya. Lagipula, selama ini mereka selalu terbuka terhadap satu sama lain.
"Oke," Calvin langsung tenang, lalu meminta pelayan bar untuk menghidangkan minuman.
Dua masalah yang mengganggu sudah terselesaikan malam ini. Lydia sudah move on dari Marvin, dan Jevan juga tidak memiliki hubungan dengan Lydia.
Sebelum mengajak Jevan ke bar, Calvin sudah mencari tahu apakah masih ada kemungkinan Lydia belum move on dari Marvin. Bukan sekadar asumsi, ia mencari kebenaran dari sumber tepercaya yang mengenal Lydia lebih dari siapa pun, Aletta dan Rina.
Mereka mengatakan Lydia sudah menghapus Marvin dari hati dan hidupnya, yang berarti perempuan itu sudah move on dari Marvin.
Setelah kedua masalah itu terselesaikan, Calvin, Haikal dan Nathan langsung mengeluarkan kartu dari saku mereka masing-masing, membuat Jevan bertanya-tanya apa yang akan ketiga sahabatnya itu lakukan lagi kali ini.
"Buat biaya hidup Lydia," ujar mereka nyaris bersamaan, yang membuat Jevan mengerjapkan mata.
"Maksud kalian?" tanya Jevan tidak mengerti. Bisa-bisanya ketiga sahabatnya yang sudah memiliki istri berniat menghidupi perempuan lain.
"Lydia sudah tidak mau kerja dan mau hidupnya dibiayai pasangan," jelas Nathan, yang justru semakin mengundang kesalahpahaman.
"Terus kalian mau jadi pasangan Lydia, gitu?" tanya Jevan spontan.
Calvin langsung menggeplak kepala Jevan.
"Sembarangan! gue cinta sama istri gue!" semprotnya.
"Arion yang mau jadi pasangan Lydia. Bayi kita sudah gede, dia suka sama cewek," kata Haikal sambil pura-pura menangis, padahal tidak ada sedikitpun air yang keluar dari matanya.
"Gue juga gak percaya si kakak sudah gede," ujar Nathan ikut-ikutan drama sambil berpura-pura menenangkan Haikal.
Jangan heran, mereka memang kumpulan bapak-bapak aneh, yang menjaga citra dibalik jas kerja. Padahal aslinya, mereka rusuh dan tingkahnya sering tidak masuk akal. Bahkan, anak-anak mereka kadang malu melihat tingkah mereka.
"Gak sesuai ekspektasi," seru Liam menatap para ayah di ruang VVIP bar. Ia kira mereka bakal heboh seperti biasa, tapi ternyata jauh dari dugaan.
Sebenarnya, di dalam sana sudah cukup heboh, tapi kehebohan yang jauh dari harapan.
"Memang kurang seru sih," sahut Dareen menyetujui perkataan Liam.
"Seharusnya mereka ajak kita minum," timpal Hira mengungkap kekecewaan.
***
Pagi itu, Lydia berniat membeli kartu perdana baru agar Marvin tidak bisa menghubunginya. Namun, ia terkejut melihat sebuah paper bag yang terletak di depan pintu apartemennya.
"Apa ini?" gumamnya sambil mengecek isinya. Tidak disangka, di dalamnya terdapat kartu perdana beserta ponsel dan case lucu.
Ia melihat sekitar, barangkali ada orang yang tanpa sengaja meninggalkan barangnya di sana. Namun, tidak ada satupun orang yang bisa ia lihat di sekitar sana, yang berkemungkinan pemilik barang.
"Tidak mungkin ada orang yang sengaja menaruhnya di sini, kan?" tanyanya, lalu kembali melihat paper bag berisi ponsel itu.
Ternyata, di dalam paper bag itu terdapat catatan kecil. Lydia langsung mengambilnya dan membaca yang tertulis di sana.
..."Kamu mau ganti kartu, kan? Sudah saya belikan sekalian dengan HP-nya."...
...A...
Begitulah yang tertulis di catatan kecil di dalam paper bag. Seolah memang ada seseorang yang sengaja meletakkannya di sana. Anehnya, orang itu seolah tahu Lydia berniat mengganti nomor ponsel.
"A? Kak Aletta?" gumamnya menatap catatan itu.
Tidak ada yang tahu niatnya mengganti nomor selain Aletta dan Rina, sehingga besar kemungkinan 'A' adalah inisial nama Aletta.
Ia kemudian membawa masuk paper bag itu, dan berniat bertanya langsung apakah benar Aletta yang meletakkan itu di depan pintu apartemennya.
Setelah Lydia masuk, seseorang muncul dari tempat persembunyian dan tersenyum melihat Lydia membawa masuk paper bag darinya.
"Semoga saja Lydia suka," gumam orang tersebut.
***
"Arion?"
Lydia terkejut mengetahui siapa yang memberinya kartu perdana, ponsel, dan case lucu. Bukan Aletta seperti dugaannya, melainkan Arion. Tidak hanya itu, Aletta juga mengatakan Arion menyukainya.
"Kamu tidak perlu menerima Arion sekarang, dia hanya sedang mengikuti saran Calvin untuk mengejar cintanya," ucap Aletta dari seberang telepon.
Lydia benar-benar tidak percaya. Laki-laki yang dua bulan lalu memecatnya dan membuatnya kehilangan pekerjaan kini memiliki perasaan terhadapnya.
"Ini bukan prank, kan?" tanya Lydia, mengungkap ketidakpercayaannya.
Bayangkan saja, Rico Arion Wijaya, pewaris dua perusahaan besar, tiba-tiba menyukainya dan bahkan memberinya hadiah ponsel keluaran terbaru, hanya karena ia ingin mengganti nomor ponsel.
"Bukan, Lydia. Tadi malam Arion mengaku sendiri, Arion bahkan tidak suka melihat kamu dekat dengan Jevan," jelas Aletta meyakinkan.
Lydia langsung teringat saat Jevan menangkap tubuhnya yang hampir terjatuh, dan Arion yang membuang muka darinya. Momen singkat itu seolah membenarkan penjelasan Aletta.
Namun, hal itu belum bisa menjadi bukti bahwa Arion benar-benar memiliki perasaan padanya. Lydia masih belum bisa mempercayainya.
"Oh ya, Arion juga mau magang di Adhivara Grup mulai besok. Arion ingin mempersiapkan dirinya agar bisa menanggung biaya hidup kamu," lanjut Aletta.
Hah? Bagaimana?
***
Lydia berjalan ke dapur untuk mengambil minum. Ia membutuhkan air dingin untuk menenangkan diri setelah semua kejutan pagi ini.
Satu hal yang ia pelajari hari ini, jangan bicara sembarangan di depan laki-laki, takut perkataannya dianggap serius—seperti Arion.
Ia hanya bercanda saat mengatakan sudah lelah bekerja dan ingin ada orang yang membiayai hidupnya. Tapi sekarang, Arion berniat mengabulkannya.
Setibanya di dapur, Lydia langsung mengambil sebotol air mineral dari kulkas dan meneguknya sampai tidak tersisa. Isi kulkasnya tampak penuh. Meski sudah menganggur, ia masih memiliki cukup banyak tabungan di rekeningnya.
"Sekarang aku tidak tahu harus bersikap bagaimana jika aku bertemu Arion nanti," keluhnya setelah menghabiskan sebotol air mineral.