"Mencintai Pak Alkan itu ibarat looping tanpa break condition. Melelahkan, tapi nggak bisa berhenti"
Sasya tahu, secara statistik, peluang mahasiswi "random" sepertinya untuk bersanding dengan Alkan Malik Al-Azhar—dosen jenius dengan standar moral setinggi menara BTS—adalah mendekati nol. Aris adalah definisi green flag berjalan yang terbungkus kemeja rapi dan bahasa yang sangat formal. Bagi Aris, cinta itu harus logis; dan jatuh cinta pada mahasiswa sendiri sama sekali tidak logis.
Tapi, bagaimana jika "jalur langit" mulai mengintervensi logika?
Akankah hubungan ini berakhir di pelaminan, atau justru terhenti di meja sidang sebagai skandal kampus paling memilukan? Saat doa dua pertiga malam beradu dengan aturan dunia nyata, siapa yang akan menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatin fatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 15
Malam pertama di rumah baru mereka terasa begitu sunyi, namun penuh dengan getaran yang tak bisa dijelaskan. Setelah hiruk-pikuk resepsi yang menguras energi, kini hanya ada Sasya dan Alkan di dalam kamar yang beraroma terapi lavender.
Sasya duduk di tepi tempat tidur, masih mengenakan gamis putih simpel setelah salat Isya berjamaah tadi. Jantungnya berdegup kencang—bukan lagi karena urusan skripsi, melainkan karena kesadaran penuh bahwa pria yang kini sedang melipat sajadah di hadapannya adalah suaminya. Lelaki yang dulu ia kagumi dari barisan belakang kelas, kini menjadi imam dalam hidupnya.
Baru saja Alkan hendak mendekati Sasya, ponsel di atas nakas bergetar hebat. Alkan melihat layarnya—sebuah panggilan internasional.
"Mas... siapa?" tanya Sasya pelan.
Alkan menghela napas, menatap layar lalu menatap istrinya dengan rasa bersalah. "Panitia konferensi di Jepang, Sya. Mereka butuh konfirmasi draf presentasi saya malam ini karena ada perubahan jadwal mendadak untuk besok pagi via Zoom."
Sasya tersenyum kecil, meski ada sedikit rasa kecewa yang menyelusup. "Angkat saja, Mas. Itu amanah. Sasya tunggu di sini."
Alkan menjawab telepon itu, berbicara dalam bahasa Inggris yang fasih selama hampir lima belas menit. Sasya memperhatikan punggung tegap suaminya. Ada rasa bangga yang luar biasa, namun juga rasa rindu yang mendalam padahal mereka berada di ruangan yang sama.
Setelah menutup telepon, Alkan meletakkan ponselnya jauh-jauh. Ia mematikan daya perangkat itu—sebuah tindakan simbolis yang berarti log out dari dunia luar.
"Maafkan saya, Sasya," ujar Alkan lembut. Ia berjalan mendekat dan duduk di samping Sasya. "Saya sering lupa kalau sekarang hidup saya bukan cuma soal riset dan data."
Alkan meraih tangan Sasya, jemarinya yang panjang mengelus lembut bekas guratan henna di punggung tangan istrinya. Sasya memberanikan diri untuk menatap mata Alkan—mata yang biasanya dingin dan analitis, kini tampak begitu hangat dan penuh damba.
"Mas... nggak apa-apa. Sasya bangga punya suami yang dedikasinya tinggi," bisik Sasya.
Alkan mendekat, memperkecil jarak di antara mereka hingga Sasya bisa menghirup aroma parfum kayu cendana yang menenangkan dari tubuh Alkan. Tangan Alkan beralih menyentuh pipi Sasya, menyelipkan sisa anak rambut ke balik telinga istrinya dengan gerakan yang sangat lembut.
"Malam ini," suara Alkan merendah, berat dan dalam, "nggak ada dosen, nggak ada mahasiswa. Nggak ada variabel luar. Cuma ada saya dan kamu."
Alkan mendaratkan kecupan lembut di kening Sasya—sebuah kecupan yang lama dan penuh takzim, seolah sedang menyalurkan seluruh rasa hormat dan cintanya. Sasya memejamkan mata, merasakan desiran hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Keberanian yang tadinya ia kumpulkan mendadak lumer.
Perlahan, Alkan membimbing Sasya untuk bersandar. Gerakannya sangat berhati-hati, memastikan Sasya merasa nyaman dan dihargai. Saat tatapan mereka bertemu kembali, Alkan berbisik pelan tepat di telinga Sasya.
"Terima kasih sudah sabar menunggu saya di sepertiga malammu, Sasya. Sekarang, izinkan saya menjaga kamu di setiap detik hidup saya."
Di dalam kamar yang hanya diterangi lampu tidur yang remang, dua hati yang selama ini hanya berinteraksi melalui batasan formalitas, kini saling tertaut dalam kehalalan yang indah. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi jarak. Hanya ada keheningan yang bicara lebih banyak daripada ribuan baris kode, menyatukan dua jiwa dalam sinkronisasi yang sempurna di bawah rida-Nya.
Keesokan paginya, sinar matahari masuk melalui celah gorden. Sasya terbangun dan mendapati Alkan sudah bangun lebih dulu, namun ia tidak sedang di depan laptop. Alkan duduk di samping Sasya, mengamati wajah istrinya yang masih mengantuk dengan senyuman yang belum pernah Sasya lihat sebelumnya.
"Pagi, Istriku," sapa Alkan.
Sasya tersipu, menyembunyikan wajahnya di balik selimut. "Mas... jam berapa? Konferensinya gimana?"
"Sudah selesai sejam lalu. Saya minta jadwal paling pagi supaya sisa hari ini bisa saya habiskan untuk membantu istri saya masak sarapan," Alkan mengecup tangan Sasya dan mencium bibir sasya secara singkat"Rencana ke Lombok tetap jalan lusa. Tapi hari ini, kita mulai bulan madu di rumah saja. Setuju?"
Sasya tertawa kecil dan mengangguk. Ternyata, hidup dengan "Dosen Killer" setelah menikah jauh lebih manis daripada semua teori algoritma yang pernah ia pelajari.