Kevin sanjaya adalah seorang pemuda pekerja keras yang berasal dari keluarga miskin. Demi menyambung hidup, ia bekerja sebagai kurir pengantar makanan untuk sebuah perusahaan Ojol Indonesia.
Suatu hari, dalam salah satu pengantaran malamnya, ia mengalami kejutan pahit. Kamar hotel yang menjadi tujuan pesanannya ternyata adalah kamar yang dipesan oleh pacarnya sendiri—bersama pria lain—untuk menghabiskan malam.
Tertangkap basah, sang pacar justru memutuskan hubungan mereka di tempat itu juga. Dengan dingin, ia mengatakan bahwa Kevin sanjaya terlalu miskin dan tidak mampu memberinya kehidupan yang diinginkan.
Saat amarah dan penghinaan hampir meluap, sebuah notifikasi tiba-tiba terdengar dari ponselnya:
“Pengantaran selesai. Hadiah sistem telah diperoleh!”
Berkat kebiasaannya membaca novel, Kevin sanjaya langsung menyadari satu hal,
ia telah mendapatkan sebuah sistem cheat.
Sistem ini memberinya hadiah luar biasa setiap kali ia menyelesaikan misi pengantaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenjiro Dominic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 – Kamu Tidak Berhak
Begitu kata-kata kevin sanjaya terucap, bahwa dialah bos baru Imperial Entertainment. ruangan itu seolah membeku selama satu detik.
Lalu…
Tawa meledak bersamaan.
“HAHAHA—!”
“Kevin, kamu serius?”
Christian karamoy menepuk meja sambil tertawa sampai matanya berair.
“Sejak kapan kamu jago bercanda? Kita bahkan belum mulai minum!”
“Lelucon Kevin memang beda,” ejek seorang mantan teman sekamar.
“Dulu bikin surat cinta, sekarang bikin dongeng!”
Regina tidak tertawa.
Ia menatap Kevin sanjaya dari ujung kaki sampai kepala, sorot matanya dingin dan penuh penghinaan. seperti sedang menilai sesuatu yang tidak layak dibicarakan.
“Cukup,” katanya pendek.
Ia berdiri, mengenakan kembali kacamata hitamnya.
“Aku tidak punya waktu untuk badut.”
“Aku pergi. Tidak perlu mengantarku.”
Suasana mendadak canggung. Beberapa orang masih tersenyum, tapi tawa sudah berhenti.
Saat Regina berbalik menuju pintu, suara kursi bergeser terdengar.
“Regina....”
Kevin sanjaya berdiri.
Suaranya tidak keras, tapi cukup jelas untuk menghentikan langkahnya.
“Ada satu hal lagi.”
Regina berhenti, sedikit menoleh dengan alis terangkat.
“Apa lagi?”
“Aku ingin mengundangmu,” ucap Kevin sanjaya tenang,
“untuk menyanyi di pesta ulang tahun adikku.”
Ruangan kembali hening.
Beberapa orang saling berpandangan, mengira mereka salah dengar.
“Menyanyi?”
“Di pesta ulang tahun?”
Regina tertawa kecil, kali ini lebih tajam dari sebelumnya.
“Kamu bercanda lagi?”
Ia berbalik sepenuhnya, mendekat dua langkah.
“Kamu tahu tarifku?”
“Dua ratus juta sebagai pembuka,” katanya dingin.
“Setengah miliar untuk setiap lagu.”
Ia mencondongkan tubuh sedikit, suaranya merendah namun menusuk.
“Kevin sanjaya, jangan salah paham.”
“Aku dulu memang pernah menyukaimu.”
“Itu kebodohan masa muda.”
“Tapi itu tidak berarti kamu bisa memintaku melakukan apa pun.”
Beberapa siswa menelan ludah.
Tak satu pun berani menyela.
“Aku sekarang superstar,” lanjut Regina.
“Setiap menit waktuku bernilai uang.”
“Kamu… seorang Ojol pengantar makanan.”
Ia tersenyum miring.
“Kamu dan adikmu bahkan tidak punya hak untuk membicarakan tarifku.”
Kata adikmu membuat ekspresi Kevin sanjaya berubah.
Senyumnya lenyap.
Ia bisa menerima ejekan.
Ia terbiasa diremehkan.
Namun merendahkan keluarganya, itu garis yang tidak boleh dilewati.
“Regina,” katanya perlahan, suaranya datar tapi berat,
“ingat baik-baik kata-kataku.”
“Kamu akan datang.”
“Dan kamu akan menyanyi di pesta ulang tahun adikku.”
Beberapa orang refleks tertawa, mengira itu masih lelucon.
Namun nada suara Kevin sanjaya tidak mengandung sedikit pun candaan.
Regina menyipitkan mata.
“Oh ya?”
“Aku ingin tahu,” katanya dingin,
“dengan cara apa?”
Ia menatap Kevin lama, seolah mencoba mencari celah keraguan di wajah pria itu, namun yang ia temukan hanyalah ketenangan.
“Hmph.”
“Berhentilah bermimpi.”
Ia berbalik dan melangkah pergi dengan anggun, sepatunya berbunyi tegas di lantai marmer.
Baginya, Kevin sanjaya hanyalah pria yang gagal move on dari masa lalu.
Datang ke reuni ini saja sudah bentuk toleransi.
Di luar ruangan, dua bodyguard segera mengikutinya.
Sementara itu, Kevin sanjaya duduk kembali.
Ia mengeluarkan ponselnya tanpa tergesa-gesa, mengetik sebuah pesan singkat.
“Besok pagi. Suruh Regina datang ke kantor.”
Pesan itu dikirim ke asistennya di Imperial Entertainment.
Tanpa emosi tambahan.
Seolah ia baru saja mengatur jadwal rapat biasa.
"Kevin…”
Beberapa teman mendekat, kali ini tanpa nada bercanda.
Christian menepuk bahunya.
“Jangan dipikirkan. Regina memang sudah berubah.”
“Iya,” sambung Megan lebih pelan,
“dia selalu merasa satu level di atas kita.”
“Kamu jangan sakit hati.”
Kevin tersenyum ringan.
“Kenapa harus sakit hati?”
Ia mengangkat gelasnya.
“Malam ini kumpul, kan? Minum saja.”
Ucapan itu membuat suasana mencair kembali.
Tawa perlahan kembali terdengar.
Cerita-cerita lama bermunculan, tentang masa kuliah, tentang kemiskinan Kevin sanjaya dulu, tentang bagaimana mereka patungan demi makan bersama.
Setiap kali nama Kevin sanjaya disebut, ruangan selalu dipenuhi gelak tawa.
Namun tidak satu pun dari mereka tahu...
Pria yang mereka tertawakan sudah berdiri di puncak yang sama sekali berbeda.
Di luar jendela, mobil mewah Regina melaju menjauh.
Kevin sanjaya melirik sekilas, lalu meneguk minumannya.
Dalam hatinya, sebuah senyum dingin terukir.
“Besok… kamu akan tahu.”
Tiba-tiba...
DING!
Suara mekanis bergema di dalam benaknya.
“Tugas acak telah dihasilkan.”
“Hadiah: Vila mewah Gunung Tianlu + 10 poin sistem.”
“Jenis misi: Berbatas waktu.”
“Syarat wajib: Host harus mengenakan seragam pengantar makanan.”
Nada sistem menjadi lebih dingin.
“Jika misi gagal, hadiah dibatalkan.”
“Tambahan penalti: satu bagian vital host akan menyusut satu sentimeter.”
“Host, apakah Anda menerima misi ini?”
Kevin sanjaya tertawa kecil di dalam hati.
“Seragam pengantar makanan?”
“Menarik.”
Ia mengangkat gelasnya sekali lagi.
“Terima.”
aku kasih kopi deh biar semngat trus😁