Kultivator setengah abadi Yan Biluo harus hidup sebagai Beatrice Nuo Vassal, karakter kecil dalam novel erotika yang seharusnya mati di awal cerita. Karena hal ini, ia pun merayu tunangan lisannya—Estevan De Carlitos, Grand Duke paling kejam dalam cerita tersebut.
Tujuannya sederhana—memperbaiki plot yang berantakan sambil terus merayu tunangannya yang tampan. Namun semuanya berubah saat tokoh utama antagonis tiba-tiba saja meninggal. Sejak itu, fragmen ingatan asing dan mimpi-mimpi gelap mulai menghantuinya tanpa henti.
Beatrice mengira tidur dengan tunangan tampannya sudah cukup untuk menikmati hidup sampai akhir cerita. Namun ia malah terseret dalam emosi, ingatan, dan trauma dari pemilik tubuh aslinya.
Apakah dunia ini benar-benar hanya novel?
Atau sebenarnya ia sedang menghidupi tragedi yang pernah dialami oleh karakter yang ia gantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis Nakal
"Evan," ujar gadis itu mulai menatapnya dengan kode.
Estevan menyentuh wajah cantiknya. "Ada apa?"
Beatrice menyentuh bibirnya sendiri dengan ekspresi nakal. Pria itu mungkin menyadari niatnya dan tersenyum penuh arti.
Keduanya pun akhirnya saling bertautan bibir cukup lama. Dan tentu saja, Beatrice mulai membuat masalah—tangannya menyelinap masuk ke dalam kemeja longgar Estevan tanpa rasa berdosa.
Wajah Estevan memerah hingga ke telinga. Ia langsung menangkap tangan nakal itu.
“Bee, jangan menyalakan api sekarang. Tempat ini tidak cocok. Bagaimana kalau kakakmu tiba-tiba masuk dan memergoki kita?”
Estevan masih harus menjaga citranya sebagai pria yang lurus di depan keluarga Duke Vassal. Tidak mungkin memperlihatkan betapa tergila-gilanya dia di hadapan tunangannya yang menggoda seperti rubah kecil.
Beatrice cemberut. “Dia tidak akan masuk tanpa mengetuk. Lagi pula, kamu ini kan Grand Duke. Tentu kakakku harus mengetuk pintu dulu.”
Menurut Beatrice, seberapa beraninya Angelo ingin menghajar Estevan, tidak mungkin melanggar privasi adik perempuannya sedikit pun. Sama sekali tidak mungkin.
Estevan mencubit hidung mungilnya. “Tetap saja, kamar ini tidak kedap suara. Ayah dan kakakmu adalah ahli pedang. Pendengaran mereka sangat baik. Mereka pasti akan tahu.”
“Kalau begitu … jangan bersuara saja.”
Estevan hampir kehabisan kata-kata. Dia tidak mungkin menyeret gadis itu ke tempat tidur dan memulainya begitu saja. Terlalu berisiko. Ini bukan wilayahnya seperti di Istana Adipati Agung.
Namun Beatrice terus menggodanya. Jari-jarinya menelusuri perut Estevan yang berotot, lalu naik ke dada bidangnya.
"Evan, tidakkah kamu merindukanku?" tanyanya.
"Tentu saja aku merindukanmu, sayangku. Bagaimana mungkin aku tidak merindukan wanitaku sendiri?"
"Kalau begitu, maukah kamu melakukannya denganku sekarang?"
"Bee ..." Estevan merasa bahwa pertahanan psikologisnya akan hancur. Tangan kecil gadis itu terus bergerak liar di tubuhnya. "Sayangku, apakah kamu sengaja menguji ketahanan hasrat biologisku?"
Estevan menggertakkan gigi. Napasnya mulai kacau. Ia hanya bisa mencubit dagu Beatrice dan mencium bibirnya lagi—tapi tentu saja, itu tidak menyelesaikan masalah yang sudah terlanjur bangkit di bawah tubuhnya. Hasrat biologisnya benar-benar menguasai tubuhnya.
“Bee … kamu benar-benar rubah kecil. Apa kamu dikirim dewa untuk menghukumku?” Estevan memeluknya erat. Aroma bunga persik tercium dari tubuhnya.
“Mungkin.” Beatrice tersenyum main-main dan duduk di pangkuannya. “Kalau begitu … biar aku saja yang bergerak.”
Estevan sedikit tertegun. “Oh? Baru belajar sekali, sekarang sudah berani begini?” godanya, tapi ia tidak menolak. Ia menyentuh pinggangnya yang lembut dan ramping.
“Siapa yang mengajariku?” balas Beatrice dengan tatapan nakal.
Estevan terkekeh dan mengecup bibirnya. “Dasar gadis nakal.” Tangannya pun ikut berkhianat dari niat awalnya.
Akhirnya, kedua insan yang terlampau bergairah itu bergerak bersama untuk waktu yang lama. Beatrice menahan suaranya agar tidak bocor keluar. Bahkan dalam bergerak pun masih harus berhati-hati.
Meski Beatrice mengklaim dirinya akan memimpin permainan panas tersebut, tetap saja Estevan harus turun tangan untuk menyelesaikannya sendiri.
Dan saat keduanya mencapai puncak bersama, Estevan menekan pinggul gadis itu kuat-kuat—seperti gunung yang memuntahkan lava panas berkali-kali. Ia juga mencecap leher jenjangnya yang manis dan memeluknya.
"Kamu benar-benar mampu membuatku gila, sayangku," bisiknya.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar kamar. Keduanya langsung menegang.
“Bee, Yang Mulia Grand Duke? Sudah selesai mengobrol? Waktunya makan malam.” Suara Angelo terdengar tidak senang.
Beatrice hampir tidak bisa merespons dengan benar. Dia dan Estevan masih menyatu. Dan dia tahu betul Estevan tidak mungkin selesai hanya dengan satu putaran.
“Kakak … tunggu setengah jam lagi. Kami akan turun.”
“Jangan lama-lama. Tidak baik menunda makan malam,” jawab Angelo. Untungnya, dia tidak memaksa masuk.
Begitu suara langkah kaki menjauh, Beatrice menghela napas lega. “Dia sudah pergi?”
“Ya.” Estevan juga mendengar Angelo turun ke lantai bawah. “Sudah kubilang ini tidak aman. Sekarang kamu harus bertanggung jawab. Selesaikan ini.”
“Bukankah satu kali cukup?”
“Kamu bermimpi. Kita harus menyelesaikannya dalam setengah jam. Tapi sayangku, setengah jam tidaklah cukup bagiku.”
Wajah Beatrice memerah. "Kalau begitu, buatlah menjadi singkat."
Estevan tidak keberatan. "Kamu harus membayarnya lebih lama di masa depan."
Keduanya kembali berciuman. Estevan berhati-hati agar gaun yang dikenakan Beatrice tidak kusut nantinya.
Dan pada akhirnya, mereka benar-benar menyelesaikannya—dua kali—sebelum akhirnya bergegas merapikan diri dan turun ke ruang makan seolah tidak terjadi apa-apa.
......................
Di ruang makan, Marionne sibuk menenangkan suami dan putranya yang hampir mengaum seperti singa.
“Ibu, pria itu pasti melakukan sesuatu pada Bee!” Angelo menggertakkan gigi. "Pasti mengancamnya juga!"
"Kamu terlalu khawatir. Grand Duke sangat baik dan tahu batasannya." Marionne mencoba menenangkan putranya lebih dulu.
Siapa tahu bahwa suaminya bahkan lebih parah daripada putranya.
"Tidak, tidak! Yang Mulia Grand Duke pasti memakan Bee di sarang kelinci kita. Bagaimana pun juga, pemakan daging tidak mungkin mencoba makan rumput!" Leonidas memegang pisau makan seperti memegang pedang.
Marionne memutar bola matanya. “Lalu kamu makan rumput?”
Lagi pula, sejak kapan keluarga Duke Vassal menjadi kelinci?
Leonidas mengangkat dagu. “Sayang, jangan khawatir. Aku makan daging. Bukankah kamu makananku?”
Angelo diam-diam menyaksikan orang tuanya saling menggoda satu sama lain. Dia sakit kepala. Bukankah kita sedang membicarakan Estevan dan Bee? Pikirnya.
Begitu pasangan muda itu masuk, dua singa itu langsung diam seperti kucing jinak.
“Maaf membuat kalian menunggu,” kata Estevan sopan.
Marionne melambaikan tangannya dengan santai. “Tidak apa-apa. Jarang kita makan bersama. Semoga Yang Mulia tidak keberatan dengan hidangan sederhana kami.”
“Makanan dari Benua Timur sangat cocok untukku. Dan … panggil saja aku Evan mulai sekarang, Nyonya Duchess.”
Marionne langsung bersinar seperti lampu kristal. “Oh, tentu saja! Kalau begitu, panggil saja saya Bibi Marionne di masa depan.”
Estevan tersenyum lembut. “Tentu, Bibi.”
Leonidas dan Angelo hampir menjerit. Mereka berdua seperti baru saja menelan lalat.
Leonidas berdeham. “Kalau begitu … panggil saja saya paman di masa depan.”
“Baik, Paman,” jawab Estevan tanpa berkedip.
Angelo terpaksa mengikuti perkembangannya saat ini. “Kita … seumuran. Jadi … panggil sesuka hati Anda.”
“Baik, Saudara.”
Angelo membeku. Lidahnya terasa kelu dan kulit kepalanya kesemutan. Dipanggil saudara oleh Grand Duke adalah pengalaman yang tidak pernah ia bayangkan dan cukup aneh.
Saat makan malam, mereka membahas penundaan pernikahan. Meski merasa ada yang aneh, keluarga Duke Vassal akhirnya menerimanya.
“Tidak apa-apa. Bee baru berumur 18 tahun,” kata Marionne.
Angelo menatap Estevan dengan sorot tajam. “Anda tidak akan membiarkan adik saya tinggal di Istana Grand Duke, kan?”
“Angelo!” Marionne memelototinya.
“Bu! Setelah bertunangan, pihak wanita bisa tinggal di keluarga calon suaminya!”
Tiga pasang mata tertuju ke Estevan sekaligus.
Beatrice buru-buru membantu. “Bu, meski aku tinggal di sana, aku pasti akan pulang.”
“Kenapa kamu membantunya?” Angelo merasa kesal.
“Kami pasangan. Tentu harus saling membantu.”
Estevan hampir tersenyum puas—meski ditahan mati-matian.
Ada pun Angelo, dia mengerutkan kening. Dia tidak menyangkalnya. Dan lihatlah pria berambut perak itu! Tampaknya cukup sombong dengan dukungan adik perempuannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari yang dinantikan semua orang akhirnya tiba. Perburuan musim semi resmi dibuka. Semua yang berpartisipasi dalam perburuan musim semi tahun ini berkumpul di lapangan terbuka hijau yang berada di dekat hutan.
Tenda-tenda keluarga bangsawan sudah berdiri sejak kemarin. Yang paling besar tentu milik Grand Duke Carlitos dan putra mahkota Julio.