Sasha difitnah hamil oleh adik seorang konglomerat, dan hidupnya hancur dalam semalam. Untuk menutup skandal keluarga, Gio Artha Wijaya dipaksa menikahinya.
Di mata publik, Sasha adalah istri sah pewaris Wijaya. Di dalam rumah itu, ia hanyalah perempuan yang dibeli untuk menjaga reputasi. Gio membencinya. Menganggapnya jebakan.
Sasha membencinya karena telah menjadikan hidupnya alat tawar-menawar. Namun semakin lama mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta itu, Sasha mulai menyadari satu hal yang lebih menakutkan dari kebencian Gio.
Ia mungkin tidak pernah difitnah secara kebetulan. Seseorang telah merencanakan semua ini dan Sasha hanyalah bidak pertama.
Akankah Sasha mengetahui siapa dalang dari kejadian yang menimpanya selama ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Sebuah Pilihan
Pagi itu terasa berbeda, bukan karena langitnya lebih cerah, bukan pula karena berita tentang penangkapan Dimas akhirnya resmi dirilis ke publik. Tapi karena untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Sasha bangun tanpa bayangan ketakutan di dadanya.
Ia berdiri di balkon kamar, mengenakan kemeja putih longgar milik Gio. Rambutnya tergerai, wajahnya tenang, namun pikirannya bergerak cepat. Hari ini adalah rapat dewan pertama setelah restrukturisasi besar-besaran di tubuh Wijaya Group.
Dan hari ini, namanya akan tercatat secara resmi sebagai Direktur Eksekutif Pratama-Wijaya Foundation.
Gio keluar dari kamar mandi, jasnya sudah rapi, wajahnya kembali menjadi sosok dingin yang dikenal banyak orang. Namun saat melihat Sasha, tatapannya melunak.
“Kau tidak tidur lagi setelah subuh,” ucapnya.
Sasha menggeleng pelan. “Aku terlalu terbiasa berjaga.”
Gio mendekat, berdiri di sampingnya memandang kota. “Kau tidak perlu berjaga setiap waktu. Sekarang kita berdiri di sisi yang sama.”
Sasha tersenyum tipis. “Justru itu yang membuatku waspada. Ketika semuanya terlihat tenang, biasanya badai baru sedang menunggu.”
Gio menoleh menatapnya. “Kau tidak pernah berhenti berpikir seperti jenderal.”
“Aku tidak pernah punya pilihan lain.”
Keheningan kecil menyelimuti mereka sebelum Gio meraih tangan Sasha, menggenggamnya perlahan. “Apa pun yang terjadi di ruang rapat nanti, jangan biarkan mereka melihat keraguanmu.”
Sasha menatap lurus ke depan. “Aku tidak ragu.”
“Bagus.”
“Tapi aku sadar, hari ini bukan soal jabatan. Ini soal pesan.”
“Pesan apa?”
“Bahwa kita tidak lagi bersembunyi.”
Gio tersenyum tipis. “Kalau begitu mari kita buat mereka mengerti.”
Ruang rapat utama di lantai tertinggi Wijaya Tower dipenuhi wajah-wajah yang selama ini terbiasa mengendalikan arah perusahaan. Beberapa di antara mereka menyambut Sasha dengan senyum tipis yang sulit diterjemahkan—antara hormat dan tidak percaya.
Ia masuk bersama Gio.
Bukan di belakangnya.
Bukan pula di depannya.
Tapi sejajar.
Bisikan kecil terdengar di sudut ruangan. Nama mereka kini selalu disebut bersamaan. Bukan lagi sebagai dua keluarga yang berseteru, melainkan sebagai simbol aliansi baru yang mengguncang struktur lama.
Rapat dimulai dengan laporan finansial. Beberapa proyek dihentikan. Beberapa aset dilepas. Yayasan baru diumumkan sebagai langkah rebranding sekaligus tanggung jawab sosial perusahaan.
Namun suasana mulai berubah ketika salah satu komisaris senior, Pak Surya, angkat bicara.
“Langkah Anda berdua terlalu cepat,” ucapnya, menatap Sasha tajam. “Reputasi perusahaan belum stabil. Mengubah struktur yayasan sekarang berisiko.”
Sasha tidak langsung menjawab. Ia menatap laporan di depannya sebentar, lalu mengangkat wajahnya dengan tenang.
“Justru karena reputasi belum stabil, kita perlu transparansi,” jawabnya. “Yayasan lama digunakan sebagai tameng transaksi yang tidak bersih. Kita tidak bisa membangun masa depan dengan fondasi seperti itu.”
Beberapa orang saling bertukar pandang.
Pak Surya menyipitkan mata. “Anda menuduh manajemen lama?”
Sasha tersenyum tipis. “Saya tidak menuduh. Saya memperbaiki.”
Hening.
Gio memperhatikan Sasha tanpa ikut campur. Ia tahu ini momen Sasha. Ia tidak akan merampasnya.
Pak Surya kembali bersandar. “Dan Anda yakin publik akan percaya begitu saja?”
Sasha mengangguk ringan. “Publik tidak butuh kesempurnaan. Mereka butuh keberanian untuk mengakui kesalahan.”
Seorang direktur lain menyela, “Tapi langkah ini juga membuka luka lama keluarga Anda.”
Tatapan Sasha mengeras, namun suaranya tetap stabil. “Luka yang ditutup rapat akan membusuk. Saya lebih memilih membersihkannya, meski perih.”
Gio akhirnya berbicara, suaranya rendah namun tegas. “Keputusan ini sudah final. Jika ada yang merasa tidak sejalan dengan visi baru perusahaan, kami tidak akan menahan.”
Pesan itu jelas.
Tidak ada lagi ruang bagi mereka yang bermain di balik layar.
Rapat berakhir dengan ketegangan yang belum sepenuhnya reda. Namun satu hal pasti—arah perusahaan telah berubah.
Sore harinya, berita tentang restrukturisasi dan pembentukan yayasan baru memenuhi media. Beberapa memuji langkah berani mereka. Beberapa meragukan motif di baliknya.
Sasha duduk di ruang kerjanya, membaca artikel demi artikel tanpa ekspresi.
Gio masuk tanpa mengetuk, membawa dua cangkir kopi.
“Sudah kubilang jangan membaca komentar publik terlalu lama,” katanya.
Sasha menerima cangkir itu. “Aku tidak membaca komentar. Aku membaca pola.”
“Dan?”
“Ada pihak yang sengaja menggiring opini bahwa kita hanya menyelamatkan citra.”
Gio duduk di depannya. “Kita memang menyelamatkan citra.”
Sasha tersenyum tipis. “Tapi bukan hanya itu.”
Gio menatapnya lama. “Kau lelah?”
Sasha terdiam sejenak sebelum menjawab, “Sedikit.”
Gio bangkit, berjalan mengitari meja, lalu berdiri di belakang kursi Sasha. Tangannya bertumpu di bahu istrinya.
“Kau tidak harus membuktikan apa pun pada siapa pun,” ucapnya pelan.
Sasha menutup matanya sebentar, menikmati kehangatan itu. “Aku tidak melakukannya untuk mereka.”
“Lalu untuk siapa?”
Sasha membuka mata dan menoleh sedikit. “Untuk diriku yang dulu. Yang tidak pernah punya suara.”
Gio terdiam.
Ia jarang mendengar Sasha berbicara tentang masa lalunya dengan nada sejujur itu.
“Kau punya suara sekarang,” katanya akhirnya.
Sasha berdiri perlahan, berbalik menghadap Gio. “Dan kau?”
“Apa?”
“Kenapa kau melakukan semua ini, Gio? Jangan jawab karena cinta. Aku ingin jawaban yang lebih jujur.”
Gio menghela napas pelan. “Karena aku lelah hidup di bawah bayang-bayang kesalahan ayahku. Karena setiap kali melihatmu, aku sadar aku tidak ingin menjadi pria yang sama seperti dia.”
Sasha menatapnya lekat-lekat. “Jadi aku ini semacam pengingat moral?”
Gio terkekeh pelan. “Kau lebih dari itu. Kau ancaman sekaligus keselamatan.”
“Menarik.”
“Dan kau?”
Sasha mengangkat dagu. “Aku melakukan ini karena aku tidak ingin anak kita nanti tumbuh dalam dunia yang sama kotornya dengan yang kita warisi.”
Gio membeku.
“Anak?” ulangnya pelan.
Sasha menyadari ucapannya, tapi tidak menariknya kembali. “Suatu hari nanti. Jika kita sampai di sana.”
Tatapan Gio berubah. Ada sesuatu yang lebih lembut, lebih dalam.
“Kau benar-benar sudah merencanakan jauh ke depan,” gumamnya.
“Aku selalu begitu.”
Gio mendekat selangkah. “Dan dalam rencanamu itu… aku masih ada?”
Sasha menatapnya tanpa senyum. “Itu tergantung.”
“Tergantung apa?”
“Tergantung apakah kau tetap memilihku ketika keadaan tidak lagi menguntungkan.”
Gio mendekat lagi, kini jarak mereka hanya sejengkal. “Aku sudah memilihmu ketika semuanya berantakan. Kenapa aku harus mundur saat semuanya mulai tertata?”
Sasha terdiam beberapa detik.
Di luar jendela, matahari mulai tenggelam, memantulkan warna jingga di kaca gedung-gedung tinggi.
“Kita tidak akan pernah benar-benar tenang, Gio,” ucap Sasha pelan. “Selalu ada musuh baru. Selalu ada harga yang harus dibayar.”
Gio mengangguk. “Aku tahu.”
“Dan mungkin suatu hari nanti, pilihan kita hari ini akan menyakiti seseorang.”
“Itu risiko.”
Sasha menatapnya dalam-dalam. “Kalau saat itu tiba… jangan berdiri di depanku untuk melindungiku.”
Gio menyipitkan mata. “Lalu?”
“Berdirilah di sampingku. Biarkan aku ikut menanggung akibatnya.”
Gio tersenyum tipis, sorot matanya hangat namun penuh tekad.
“Sha,” ucapnya pelan, hampir berbisik, “aku tidak pernah ingin menjadi pahlawanmu. Aku ingin menjadi pasanganmu. Jadi jika dunia kembali menantang kita… katakan saja satu hal.”
Sasha menatapnya, alisnya terangkat sedikit. “Apa?”
Gio menyentuh pipinya lembut, suaranya rendah dan mantap.
“Katakan bahwa kau masih memilihku. Dan aku akan berdiri di mana pun kau berdiri. Jadi sekarang aku yang bertanya—”
Ia berhenti sejenak, memberi jeda yang membuat udara di antara mereka terasa lebih padat.
“Setelah semua yang kita ubah hari ini… apakah kau masih melihatku sebagai pria yang layak berjalan di sampingmu, Sasha?”