NovelToon NovelToon
Taubatnya Si Kupu-Kupu Malam

Taubatnya Si Kupu-Kupu Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Yatim Piatu / Cinta Seiring Waktu / Romansa / PSK / Konflik etika / Mengubah Takdir
Popularitas:39.4k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Kayla dikenal sebagai Queen, seorang kupu-kupu malam yang terkenal akan kecantikan wajahnya dan bermata indah.

Suatu hari Kayla menghindar motor yang tiba-tiba muncul dari arah samping, sehingga mengalami kecelakaan dan koma. Dalam alam bawah sadarnya, Kayla melihat mendiang kedua orang tuanya sedang disiksa di dalam neraka, begitu juga dengan ketiga adik kesayangannya. Begitu sadar dari koma, Kayla berjanji akan bertaubat.

Ashabi, orang yang menyebabkan Kayla kecelakaan, mendukung perubahannya. Dia menebus pembebasan Kayla dari Mami Rose, sebanyak 100 juta.

Ketika Kayla diajak ke rumah Ashabi, dia melihat Dalfa, pria yang merudapaksa dirinya saat masih remaja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Pagi itu udara kampus masih sejuk, embun tipis menempel di dedaunan. Kayla melangkah pelan di koridor fakultas bisnis dengan tas ransel sederhana di punggungnya. Penampilannya sudah berbeda jauh dari beberapa tahun lalu.

Jilbab syar’i berwarna krem menutupi seluruh rambut dan dadanya, cadar tipis menutupi separuh wajahnya, hanya menyisakan mata amber yang tenang. Pakaian longgarnya jatuh rapi, tidak mengikuti lekuk tubuh. Setiap langkahnya terukur, tidak tergesa.

Beberapa mahasiswa menoleh sekilas, sebagian berbisik-bisik, tetapi Kayla tidak lagi gentar. Ia sudah belajar untuk tidak rapuh di hadapan tatapan orang.

Di ruang organisasi keagamaan kampus, beberapa mahasiswi menyambutnya dengan senyum hangat.

“Assalamu’alaikum, Kayla,” sapa seorang perempuan berjilbab lebar.

“Wa’alaikumussalam,” jawab Kayla lembut.

Mereka duduk melingkar. Di tengah, seorang ustazah membuka mushaf Al-Qur’an. “Hari ini kita lanjutkan hafalan Juz 5,” ucapnya.

Kayla menunduk, jemarinya menyentuh lembaran mushaf dengan penuh takzim. Saat melafalkan ayat demi ayat, dadanya terasa lapang. Setiap huruf yang keluar dari bibirnya seolah membersihkan luka lama yang masih tersisa.

Dalam hati, ia berbisik, “Ya Allah, jadikan aku hamba-Mu yang lebih baik. Bersihkan masa laluku dengan amal baikku.”

Selesai kegiatan, Kayla berjalan menuju ruang kelas. Di lorong, ia bertemu dengan Pak Zaenal yang kebetulan sedang berada di kampus untuk memberi kuliah tamu.

“Kayla,” panggilnya dengan senyum hangat.

Kayla menunduk hormat. “Assalamu’alaikum, Pak.”

“Wa’alaikumussalam.” Pak Zaenal menatapnya penuh bangga. “Bagaimana kuliahmu? Kamu terlihat lebih tenang sekarang.”

Kayla mengangguk pelan. “Alhamdulillah, Pak. Berat, tapi saya menikmatinya.”

Mereka berjalan berdampingan menuju mobil.

“Mulai minggu depan, kamu ikut saya ke kantor setiap Jumat sore,” ujar Pak Zaenal. “Saya ingin kamu belajar langsung tentang pengelolaan perusahaan.”

Kayla terkejut. “Tapi, aku masih banyak kekurangan, Pak.”

Pak Zaenal tersenyum tipis. “Justru karena itu. Kamu punya hati yang bersih dan otak yang cerdas. Itu kombinasi yang langka.”

Kayla menatapnya, matanya berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar dipercaya.

***

Bertahun-tahun kemudian, tidak terasa lima tahun telah berlalu.

Kayla berdiri di atas panggung auditorium universitas, mengenakan toga hitam. Di tangannya tergenggam ijazah sarjana. Sorak sorai memenuhi ruangan.

Di barisan depan, Fattah dan Fattan berdiri sambil melambaikan tangan, wajah mereka berseri. Nayla duduk di antara mereka, matanya berbinar-binar.

“Kak Kaylaaa!” teriak Nayla kecil, melompat-lompat.

Kayla tersenyum lebar. Senyum yang kini tidak lagi menyimpan luka, melainkan kebanggaan.

Usai wisuda, mereka pulang ke rumah besar yang kini menjadi tempat tinggal mereka. Rumah itu luas, berpagar tinggi, dengan taman hijau di depan. Di ruang tamu terpajang foto almarhum orang tua mereka, sebagai pengingat bahwa perjuangan Kayla tidak sia-sia.

Di meja makan, Kayla menatap ketiga adiknya dengan haru. Tidak terasa mereka sudah tumbuh besar.

Fattah dan Fattan kini sudah duduk di kelas sebelas SMK favorit di kota, dikenal sebagai siswa berprestasi di bidang teknik. Nayla, yang dulu pernah terbaring lemah karena leukemia, kini sehat, ceria, dan duduk di kelas enam SD unggulan.

Nayla tersenyum lebar sambil mengunyah ayam panggang. “Kak, nanti kalau aku besar, aku mau jadi dokter biar bisa nolong anak-anak yang sakit kayak aku dulu.”

Mata Kayla berkaca-kaca. Ia menggenggam tangan Nayla. “Kakak doakan kamu bisa, Nay.”

“Kalau kita akan menjadi bisnis man. Biar bisa membantu Kak Kayla mengelola perusahaan,” ujar Fattah tertawa terkekeh.

“Kita harus bisa jadi pengusaha muda yang sukses. Aamiin!” pekik Fattan dengan penuh semangat.

Seiring kesibukannya di perusahaan, kuliah, dan kegiatan sosial, Kayla semakin jarang berkomunikasi dengan Ashabi. Pesan-pesan mereka semakin singkat, panggilan telepon semakin jarang. Namun, berbeda dengan Nayla yang masih sering menghubunginya.

“Om Abi! Aku dapat nilai bagus!” seru Nayla suatu sore melalui telepon.

Di seberang sana, Ashabi tertawa lembut. “MasyaAllah, Nay. Om bangga sama kamu.”

Setelah menutup telepon, senyum Ashabi memudar. Ia menatap layar ponselnya, foto profil Kayla yang kini bercadar.

“Kayla, kenapa kamu semakin jauh?” batin Ashabi.

***

Dalfa kini sudah menikah dengan Yasmin. Istrinya adalah perempuan yang dijodohkan oleh Bu Aisyah. Dia adalah wanita yang anggun, terpelajar, dan berasal dari keluarga terpandang.

Namun di balik ketenangan rumah tangganya, malam-malam Dalfa masih kerap dihantui mimpi lama. Wajah Kayla yang menangis di gang sempit, tangan gemetar, mata amber penuh ketakutan, selalu kembali menghantui. Ia tidak pernah benar-benar tenang.

Sementara itu, ketika keluarga besar mencoba menjodohkan Ashabi dengan putri bungsu pemilik pesantren terkenal, ia menolak tegas.

“Aku tidak ingin menikah karena paksaan,” ucap Ashabi dingin.

Bu Aisyah menghela napas panjang. “Abi, kamu sudah waktunya berumah tangga.”

Ashabi menatap jauh ke luar jendela. Bayangan Kayla melintas di benaknya.

“Aku akan menikah jika hatiku benar-benar siap dan dengan orang yang benar-benar aku pilih.”

Suatu malam, Kayla duduk di atas sajadah, mengenakan mukena putih. Suara lirihnya melantunkan doa mengisi keheningan rumah.

Air matanya menetes perlahan.

“Ya Allah, jika masa laluku masih mengejarku, kuatkan aku. Jika hatiku pernah terluka, sembuhkanlah. Jika jalanku masih panjang, tuntunlah aku.”

Kayla menutup doa dengan sujud panjang.

Di luar, lampu-lampu kota berkelip seperti bintang di bumi. Kayla bukan lagi gadis rapuh yang dulu. Dia telah menjadi perempuan yang teguh, berilmu, dan bermartabat.

***

Minggu pagi datang dengan cahaya yang lebih lembut dari biasanya. Matahari belum sepenuhnya meninggi, namun sinarnya sudah menembus sela-sela tirai rumah Kayla, menari di lantai marmer yang mengilap. Udara terasa segar, membawa aroma tanah basah sisa hujan semalam.

Kayla sudah bangun sejak subuh. Setelah salat, ia menyiapkan sarapan sederhana: nasi hangat, telur dadar, dan tumis sayur yang masih mengepul. Nayla duduk di meja makan sambil mengayunkan kakinya yang belum sampai ke lantai, sementara Fattah dan Fattan sudah lebih dulu selesai makan dan sibuk berdebat kecil tentang siapa yang akan duduk di kursi depan mobil nanti.

“Hari ini kita benar-benar jadi ke kampung adat, kan, Kak?” tanya Nayla dengan mata berbinar.

Kayla tersenyum, mengelap tangan di celemeknya. “Iya. Kakak sudah janji, ‘kan?”

Fattah menepuk meja pelan. “Aku mau lihat rumah panggungnya!”

“Dan aku mau beli gelang kayu!” sahut Fattan cepat.

Kayla tertawa kecil melihat semangat mereka. Di hatinya ada rasa hangat, tapi juga sedikit perih. Ia ingin setiap hari bisa membahagiakan adik-adiknya seperti ini, tanpa beban, tanpa bayang-bayang masa lalu yang kadang masih mengintai.

Mereka berangkat sekitar pukul tujuh pagi. Jalan menuju kampung adat itu berliku, dikelilingi pepohonan hijau dan sawah yang terbentang luas. Nayla menempelkan wajah ke kaca mobil, tak berhenti berdecak kagum melihat pemandangan di luar.

Sesampainya di sana, suasana terasa berbeda. Aroma kayu tua bercampur dengan wangi bunga-bunga liar. Rumah-rumah panggung berdiri berjejer, dihiasi ukiran khas yang indah. Beberapa wisatawan tampak berjalan santai, ada pula penduduk setempat yang mengenakan pakaian tradisional.

Kayla menggenggam tangan Nayla, sementara Fattah dan Fattan berlari kecil di depan, tertawa riang.

Namun, langkah Kayla tiba-tiba melambat ketika ia melihat sosok yang tak asing berdiri di dekat sebuah bale-bale kayu.

Ashabi.

1
༺⬙⃟⛅y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
jadi itu beneran dalfa ya

aduh gimna ini
༺⬙⃟⛅y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
tak apa lah kay itu wajar tp fomuslah dgn kerja saja
༺⬙⃟⛅y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
tp apakah betul itu dalfa atau siapa ya

dan ahh masih bikin bgg
༺⬙⃟⛅y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
ayok lah kay ceritalah jgn kau pe dam biar tahu
༺⬙⃟⛅y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
hahhhh jadi ada alasan nya knp kayla bisa terjerumus ya
༺⬙⃟⛅y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
ehh asabi orang kaya juga ya

trus duit dr mna dia apa g di lertanyakan sm org tuanya ya
༺⬙⃟⛅y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
sabar lah kay

nnti ada wktunya itu klo sudah autornya berkehendak 🙈🙈🙈
༺⬙⃟⛅y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
ohh jd dulu kay org kaya juga ya
༺⬙⃟⛅y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
llha lah

kemasa saja ini orang knp baru muncul aja
༺⬙⃟⛅y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
aduh itulah klo org punya harta

trus se enak nya ya
༺⬙⃟⛅y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
yo harus kuat too kay
ini baru permulaan ya
༺⬙⃟⛅y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔
wow kumkira akan lebih dr 100 jt aq dag deg2an klo menyebut nominal dgn depan nya pake M
Naufal Affiq
kenapa di gantung ceritanya,
nuraeinieni
orang itu pintar koreksi kesalahan orang,tapi tdk sadar utk inropeksi mulutnya utk berbicara yg sopan.
nuraeinieni
semoga saja sdh ada calon baby,,,biar aby dan kayla,merasakan juga jadi orang tua.
martiana. tya
bikin penasaran ihhhh.... 😄
Nar Sih
semoga usaha dan ihtiar mu kali ini sgra membuah kan hasil ya kayla sgra hadir buah cinta kalian
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
ken darsihk
Dengan kesabaran dan tawakal pasti semua nya akan indah pada waktu nya
Sugiharti Rusli
bahkan karena itu bu Aisyah tidak ragu tuk membela sang menantu yang sudah dipilih oleh Ashabi karena hatinya yang memilih dan bukan nafsunya,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!