NovelToon NovelToon
Luka Sang Pengganti

Luka Sang Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Pengganti / Dosen
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Zahra mencintai Akhsan, kakak kandungnya yang juga menjadi dosen di kampusnya. Menyadari perasaan tak wajar adiknya, Akhsan membangun benteng tinggi dan memilih untuk meminang Gea guna memutus harapan Zahra.
Namun, tragedi berdarah terjadi tepat malam hari saat mereka akan menikah. Kecelakaan hebat merenggut nyawa Gea dan mengungkap fakta mengejutkan—Akhsan ternyata bukan anak kandung Papa Hermawan. Demi menjaga nama baik keluarga dari undangan yang telah tersebar, Papa Hermawan mengambil keputusan ekstrem: Zahra harus menggantikan posisi Gea di pelaminan.
Pernikahan yang dahulu menjadi dambaannya kini berubah menjadi mimpi buruk bagi Zahra. Akhsan yang hancur karena kehilangan Gea berubah menjadi sosok yang dingin dan kejam. Ia menuduh Zahra sebagai dalang di balik kecelakaan maut tersebut, menjebak Zahra dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh dengan kebencian dan air mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Mobil berhenti tepat di depan sebuah restoran fine dining yang telah dipesan secara privat.

Pelayan dengan seragam rapi segera membukakan pintu untuk Aruna. Saat ia turun, Christian sudah menunggu di sana.

"Mas Chris, aku ingin makan siang berdua saja dengan Tuan Akhsan. Urusan investasi ini butuh privasi yang sangat tinggi," ucap Aruna dengan nada profesional yang tak terbantahkan.

Christian menganggukkan kepalanya dengan tenang, matanya memberikan sinyal perlindungan.

"Tentu, Sayang. Aku akan menunggu di mobil bersama tim hukum. Jika ada apa-apa, hubungi aku."

Namun, suasana tenang itu langsung pecah saat Sisil turun dari mobil belakang dengan langkah menghentak.

Wajahnya merah padam karena merasa diabaikan sepanjang jalan.

"Makan berdua? Heh, gaya sekali Anda!" ejek Sisil sambil melipat tangan di dada. Matanya menatap Aruna dengan penuh kebencian.

"Hanya karena Anda investor, bukan berarti Anda bisa mengatur siapa yang boleh ikut makan siang dengan calon suami saya. Dasar wanita bertopeng, paling-paling wajah aslimu itu menjijikkan di balik renda itu, makanya tidak berani pamer!"

Suasana mendadak senyap. Para pelayan restoran tertunduk takut.

Aruna hanya berdiri diam, namun tatapan matanya dari balik topeng renda hitam itu sangat tajam, seolah sedang menatap serangga kecil yang mengganggu.

"Tuan Akhsan! Apakah semua staf Anda memiliki etika yang serendah ini? Saya mulai meragukan profesionalisme Hermawan Group jika orang-orang di dalamnya tidak tahu cara menjaga lidah."

Akhsan yang sejak tadi menahan diri, kini benar-benar meledak.

Ia melangkah maju dan mencengkeram lengan Sisil dengan kasar, menjauhkannya dari Aruna.

"SISIL, CUKUP!" bentak Akhsan dengan suara menggelegar yang membuat Sisil tersentak mundur.

"Sudah kubilang diam! Kamu benar-benar memalukan!"

"Tapi Mas, dia menghinaku!"

"Pulang sekarang!" perintah Akhsan dengan mata yang berkilat amarah.

"Berikan kunci mobilmu pada sopir. Pulang ke rumahmu dan jangan muncul di hadapanku sampai aku memintamu. Sekarang!"

Sisil terperangah. Ia menatap Akhsan dengan mata berkaca-kaca, lalu menatap Aruna dengan dendam yang mendalam.

Tanpa kata, ia berbalik dan berlari menuju mobil dengan perasaan malu yang luar biasa.

Setelah mobil Sisil pergi, Akhsan menarik napas panjang dan mencoba merapikan jasnya. Ia berbalik ke arah Aruna dengan wajah penuh penyesalan.

"Nona Aruna, saya benar-benar minta maaf. Mari, meja kita sudah siap," ucap Akhsan sambil membukakan pintu restoran dengan sopan.

Aruna melangkah masuk dengan anggun dan elegan.

"Kesabaran saya ada batasnya, Tuan Akhsan. Beruntung bagi Anda, makanan di sini kabarnya sangat enak, sehingga saya masih bersedia duduk di satu meja dengan Anda."

Restoran itu sunyi, hanya menyisakan alunan musik klasik yang samar.

Akhsan melangkah maju, dengan gerakan sigap dan sopan ia menarik kursi kayu jati yang kokoh agar Aruna bisa duduk.

Namun, begitu melihat deretan menu tradisional Indonesia yang kaya bumbu dan berminyak di atas meja, Aruna mengerutkan keningnya.

"Tuan Akhsan, saya tidak suka makanan berminyak dan pedas seperti ini. Saya terbiasa dengan pola hidup sehat," ucap Aruna datar, nada suaranya terdengar sangat berkelas sekaligus menuntut.

Akhsan tersentak, ia segera memberi isyarat kepada pelayan.

"Maafkan ketidaktahuan saya. Pelayan! Segera ganti semua hidangan ini dengan menu organic salad dan protein rendah lemak. Sekarang."

Dengan sigap, para pelayan menyingkirkan piring-piring itu dan menggantinya dengan hidangan sehat sesuai permintaan Aruna.

Setelah semua siap, pelayan membungkuk hormat dan keluar, menutup pintu ruang private itu rapat-rapat.

"Silakan dinikmati, Aruna," ucap Akhsan dengan suara yang sedikit melembut.

Aruna mengangguk pelan. Kemudian, tangannya yang jenjang bergerak ke belakang kepala.

Ia menarik tali sutra yang mengikat topengnya. Perlahan, renda hitam itu terlepas, menyingkap wajah yang selama dua tahun ini disembunyikan oleh teknologi medis Korea.

Deg!

Jantung Akhsan seolah berhenti berdetak. Ia menelan salivanya dengan susah payah.

Di depannya kini duduk seorang wanita dengan kecantikan yang nyaris tidak nyata.

Kulitnya seputih porselen, hidungnya bangir sempurna, dan bibirnya merah alami. Namun, meski wajah itu jauh lebih cantik dari wanita mana pun yang pernah Akhsan temui, ada getaran familiar yang menghantam jiwanya.

"Zahra?" batin Akhsan berteriak, namun ia segera menepisnya karena struktur wajah Aruna jauh lebih tegas dan mewah.

Aruna menyadari tatapan Akhsan yang tak berkedip.

Ia mulai menyantap makanannya dengan gerakan anggun, sesekali lidahnya menyentuh ujung bibir dimana sebuah gerakan kecil yang sengaja ia lakukan untuk menggoda konsentrasi Akhsan.

"Tuan Akhsan," suara Aruna memecah keheningan, membuat Akhsan tersadar dari lamunannya.

"Setelah kita menandatangani kontrak kerja ini, saya punya satu syarat mutlak. Saya harap Anda tidak membongkar wajah saya yang tanpa topeng ini kepada siapa pun. Di dunia ini, hanya Anda dan Christian yang boleh melihat saya seperti ini. Jika ada orang lain yang tahu, kerja sama kita berakhir detik itu juga."

Akhsan mengangguk kaku, tenggorokannya terasa kering.

"Tentu. Saya pria yang memegang janji."

Mereka melanjutkan makan dalam suasana yang sarat dengan ketegangan yang aneh.

Setelah selesai, Akhsan mengeluarkan map kulit berisi dokumen kontrak investasi bernilai miliaran rupiah. Ia mendorong dokumen itu ke hadapan Aruna.

Aruna membacanya sekilas, lalu ia mengeluarkan pena emasnya. Namun, sebelum menggoreskan tanda tangan, ia menatap Akhsan dengan senyum misterius.

"Ada permintaan tambahan dari saya, Tuan CEO," ucap Aruna.

"Sebagai kompensasi karena saya harus tinggal di Jakarta yang berdebu ini."

Akhsan menaikkan alisnya. "Sebutkan saja."

"Pertama, saya butuh fasilitas mandi susu sapi murni setiap pagi di hotel tempat saya menginap. Kedua, saya ingin tinggal di Presidential Suite hotel termewah di kota ini selama bekerja sama dengan Hermawan Group."

Aruna menjeda kalimatnya, ia memajukan tubuhnya sehingga aroma parfumnya memenuhi indra penciuman Akhsan.

"Dan yang terakhir, saya tidak mau sopir biasa. Saya ingin Tuan Akhsan sendiri yang harus antar-jemput saya ke mana pun saya pergi selama di Jakarta. Bagaimana? Apakah Hermawan Group sanggup?"

Akhsan terpaku. Permintaan itu jelas bukan sekadar urusan bisnis, itu adalah jeratan. Namun, melihat wajah Aruna yang begitu memukau dan mengingat saham perusahaannya yang sedang di ujung tanduk, Akhsan tidak punya pilihan.

"Setuju," jawab Akhsan mantap.

Aruna tersenyum penuh kemenangan. Ia membubuhkan tanda tangannya di atas kertas itu.

Ia tahu, dengan ini, ia telah menarik Akhsan masuk ke dalam sangkar yang ia buat sendiri.

Di dalam ruang private restoran itu, Aruna kembali mengikatkan tali sutra topeng renda hitamnya dengan gerakan yang sangat tenang.

Wajah cantik yang sempat membuat napas Akhsan tertahan itu kini kembali tersembunyi di balik misteri. Ia berdiri, merapikan blazer putih gadingnya yang tanpa noda.

"Besok jam delapan pagi, jemput aku di apartemen untuk pindah ke hotel. Ingat, Tuan Akhsan, jangan terlambat sedetik pun. Aku sangat menghargai waktu," ucap Aruna dengan nada memerintah yang dingin.

Akhsan hanya bisa terpaku, mengangguk kaku seolah terhipnotis oleh aura wanita di depannya.

Aruna kemudian melangkah keluar, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di dalam restoran itu bagi Akhsan.

Di luar, Aruna langsung masuk ke dalam mobil mewah yang sudah disiapkan oleh timnya.

Di balik kemudi, Christian menunggunya dengan senyum yang selalu menenangkan.

Begitu pintu tertutup rapat dan mobil mulai melaju menjauhi restoran, Aruna menyandarkan kepalanya ke jok kulit dan mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan.

"Bagaimana, Sayang? Berhasil?" tanya Christian lembut, matanya sesekali melirik istrinya melalui spion tengah.

Aruna melepaskan tawa kecil, tawa yang terdengar sangat lega namun juga getir. Ia memegang dadanya yang berdegup kencang.

"Jantungku rasanya mau copot, Chris! Melihat wajahnya dari dekat, mencium bau parfumnya dan semua ingatan tentang gudang itu seolah mau meluap lagi," Aruna menggelengkan kepalanya.

"Tapi aku berhasil. Dia setuju dengan semua syarat gila itu. Dia benar-benar terjebak."

Christian meraih tangan Aruna dan mengecup jemarinya dengan penuh dukungan.

"Kamu hebat, Aruna. Biarkan dia merangkak di bawah kakimu sekarang."

Tiba-tiba, ponsel Christian berdering. Nama Papa Adrian tertera di layar. Christian menekan tombol loudspeaker.

"Halo, Pa? Sudah sampai?"

"Christian, Papa dan Indri sudah sampai di rumah Jakarta," suara Papa Adrian terdengar berwibawa namun hangat.

"Bagaimana kondisi istrimu? Apa pertemuan pertama dengan Akhsan berjalan lancar?"

Christian melirik Aruna yang tersenyum ke arah ponsel.

"Sangat lancar, Pa. Istriku ini benar-benar singa betina yang tangguh. Kami sedang dalam perjalanan menuju apartemen untuk istirahat. Nanti malam atau besok pagi kami akan berkunjung ke rumah Papa."

"Baguslah. Jaga dia baik-baik, Chris. Jakarta sedang panas, jangan biarkan bajingan itu menyentuh seujung kuku Aruna pun," pesan Papa Adrian sebelum menutup telepon.

Aruna menatap jalanan Jakarta yang mulai macet.

Kota ini dulu merenggut segalanya darinya, namun sekarang, ia kembali dengan perlindungan dari keluarga yang begitu mencintainya.

"Kita ke apartemen sekarang, Mas. Aku butuh mandi dan menyiapkan diri untuk 'kejutan' besok pagi saat sang CEO menjemputku," ucap Aruna dengan senyum licik yang mematikan.

Tak berselang lama mereka telah sampai di Pintu apartemen mewah yang ditutup memutus semua kebisingan Jakarta dan intrik balas dendam yang melelahkan.

Di dalam ruangan yang hanya diterangi lampu temaram, Christian tak lagi membuang waktu.

Dari belakang, ia melingkarkan lengannya yang kokoh, memeluk tubuh Aruna dengan sangat erat seolah takut wanita itu akan menghilang lagi.

Wajahnya disembunyikan di ceruk leher Aruna, menghirup aroma istrinya dalam-dalam.

"Sayang, aku cemburu tadi," bisik Christian dengan nada manja yang hanya ia tunjukkan pada Aruna.

"Melihat dia menatapmu tanpa kedip, melihatmu sengaja menggodanya, hatiku rasanya panas."

Aruna membalikkan tubuhnya di dalam pelukan Christian. Ia menangkup wajah suaminya, menatap mata pria yang telah memberinya hidup kedua itu dengan penuh cinta.

Ia tersenyum tipis, melihat bibir Christian yang sedikit cemberut.

"Mas, jangan cemburu. Dia hanya mangsa, tapi kamu adalah pemilik hatiku," ucap Aruna lembut.

Tanpa menunggu lama, Aruna berjinjit dan mencium bibir suaminya, menghapus semua keraguan dan rasa panas di hati Christian.

Ciuman itu awalnya lembut, namun segera berubah menjadi luapan rindu dan gairah yang sudah lama mereka simpan.

Di dalam kamar yang dingin oleh AC, suasana berubah menjadi panas.

Suara desahan halus sepasang pengantin baru itu memenuhi ruangan, menjadi saksi bahwa di balik topeng Aruna yang dingin dan penuh dendam, masih ada seorang wanita yang butuh dicintai dengan tulus.

Christian mencintai setiap jengkal tubuh Aruna, termasuk bekas luka bakar di punggungnya yang kini sudah memudar, menganggapnya sebagai tanda perjuangan seorang pemenang.

Satu jam berlalu dengan begitu cepat. Keheningan kembali menyelimuti kamar itu.

Aruna berbaring dengan napas yang masih belum teratur di pelukan Christian.

Ia menyandarkan kepalanya, mencium dada bidang suaminya yang hangat sebelum akhirnya matanya terasa berat.

Di bawah dekapan pria yang paling tulus mencintainya, Aruna akhirnya tertidur pulas.

Ia menyimpan tenaganya, karena ia tahu, besok jam delapan pagi adalah awal dari kehancuran Akhsan Hermawan yang sesungguhnya.

1
Fatma
jangan bilang nanti aruna malah balikan sama akhsan, suaminya gmn?
Masha 235
lha terus christian kepiye aruna ...mau diapain ..
my name is pho: sabar kak 🤭
total 1 replies
Piyah
,masa begitu, arunany
Dwi Winarni Wina
balas dendam siap dimulai tunggu kehancuranmu akhsan...
Dwi Winarni Wina
siulet bulu sisil kayak cacing kepanasan🤣🤭
Dwi Winarni Wina
Akhsan merindukan zahra pret tega sekali menyiksa zahra, siap2 aruna cristian akan balas dendam🤣
Dwi Winarni Wina
Zahra akan ganti identitas dengan barunya, siap2 balas dendam...
Dwi Winarni Wina
Zahra adiknya cristian akan membalas dendam sm keluarga hermawan dan akhsan akan melakukan operasi plastik
Dwi Winarni Wina
Zahra balas dendam telah orang2 yg menyakitinya...
Dwi Winarni Wina
bagus cristian selamatkan zahra dari para iblis itu...
Dwi Winarni Wina
zahra bertahan balas org2 telah menyakitimu, jadi zara yg kuat tanggung jangan jadi zahra yg lemah yg mudah ditindas....
Dwi Winarni Wina
Zahra pergi yg jauh akhsan dan orgtua sendiri aja gak peduli sm kamu, ngapain juga bertahan yg ada dapat siksaan aja
Dwi Winarni Wina
cristian bawa zahra pergi jauh daripada disakiti sm akhsan terus...
Dwi Winarni Wina
muncul ulet bulu kegatelan ini🤣🤭
Dwi Winarni Wina
akhsan gak punya hati apa, menyiksa zahra...
Dwi Winarni Wina
sebaiknya pergi yg jauh aja zahra, daripada diperlakukan kayak tahanan...
Dwi Winarni Wina
kejam sekali akhsan sm zahra, zahra istri kamu perlakukan dengan baik..zahra juga tidak bersalah bukan penyebab kematian gea...
𝑸𝒖𝒊𝒏𝒂
klo akhsan disusui mama'y zahra itu sma aja akhsan & zahra saudara sepersusuan & itu hukum'y haram jika mereka brdua menikah
my name is pho: Zahra bukan anak dari mama Hermawan
total 1 replies
Dwi Winarni Wina
Lagian bukan zahra juga penyebab kematian gea kali, seharusnya sadar akhsan menyalahkan zahra teru...
Dwi Winarni Wina
akhsan kejam bingit menuduh zahra penyebab kematian gea, kecelakaan yg menimpa gea karena takdir...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!