NovelToon NovelToon
Hunter X Hunter: Raito In The Hunter World

Hunter X Hunter: Raito In The Hunter World

Status: sedang berlangsung
Genre:Naruto / Action / Fantasi Isekai / Anime / Menjadi NPC / Jujutsu Kaisen
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Di tengah dendam, pengkhianatan, dan calamity yang tak terbayangkan, Raito menjadi “cahaya kecil” yang tak pernah padam. penyeimbang yang selalu ada saat dunia paling gelap.

Sebuah kisah survival, pertumbuhan, dan pencarian makna di dunia Hunter x Hunter

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang Troupe dan Greed Island yang Mulai Tercium

Malam setelah konfrontasi singkat dengan Chrollo di aula lelang, Raito, Mira, dan Yuna kembali ke penginapan dengan langkah cepat tapi hati-hati. Udara Yorknew terasa lebih tebal, seperti kota itu sendiri sedang menahan napas setelah melihat Phantom Troupe bergerak terang-terangan.

Di kamar kecil mereka, Yuna langsung tidur di tempat tidur kecil setelah dipaksa minum air hangat (dia masih gemetar ingat wajah Feitan tadi). Raito dan Mira duduk di meja kecil, cahaya lampu kuning redup menerangi wajah mereka.

Mira membuka catatan kecil dari Sera yang baru saja dikirim lewat kurir bayaran.

“Kota ini sudah panas,” katanya pelan. “Sera bilang Troupe baru saja menyerbu salah satu gudang lelang kecil di distrik timur. Mereka bunuh semua penjaga dan ambil beberapa barang langka. Tapi bukan Eclipse Stone. Mereka cari sesuatu yang lain.”

Raito menatap cangkir teh yang sudah dingin. “Greed Island?”

Mira mengangguk. “Iya. Rumor di pasar gelap bilang ada lelang besar malam ini—termasuk akses ke Greed Island. Game yang dibuat Ging Freecss. Banyak yang bilang game itu punya ‘kartu ajaib’ yang bisa ubah realitas. Troupe ingin masuk ke sana. Mungkin mereka anggap itu lebih berharga daripada batu kita.”

Raito diam sejenak. Dia ingat Gon dan Killua—dua anak yang pernah dia lihat sekilas di ujian Hunter. Gon yang riang, Killua yang dingin tapi setia. Kalau Troupe menarget Greed Island, berarti Gon dan Killua pasti akan terlibat.

“Aku nggak bisa biarkan Gon dan Killua sendirian lawan Troupe,” kata Raito pelan. “Mereka nggak tahu seberapa berbahayanya Chrollo.”

Mira memandangnya tajam. “Kamu mau ikut campur? Kita bukan bagian dari cerita mereka. Kita punya batu ini, punya Hisoka yang mengintai, punya Shadow Serpent yang masih dendam.”

Raito menggeleng. “Bukan ikut campur jadi pahlawan. Aku cuma mau pastikan mereka aman. Aku nggak akan lawan Troupe langsung kalau nggak perlu. Tapi kalau mereka dalam bahaya… aku nggak bisa diam saja.”

Mira menghela napas panjang. “Kamu terlalu baik untuk dunia ini. Baiklah. Kita ke lokasi lelang malam ini. Kita amati dari jauh. Kalau Gon dan Killua muncul, kita bantu dari pinggir. Tapi prioritas tetap: lindungi Yuna dan jaga batu itu.”

Raito mengangguk. “Terima kasih.”

Mereka bersiap cepat. Yuna tetap di penginapan dengan Sera yang bersedia menjaganya malam ini (Sera bilang dia nggak mau terlibat pertarungan, tapi mau pantau dari jauh dengan Echo Prism).

Malam itu, gedung lelang besar di distrik pusat sudah ramai. Penjaga bersenjata berjaga ketat, tapi suasana terasa tegang—seperti semua orang tahu ada sesuatu yang besar akan terjadi.

Raito dan Mira masuk dengan undangan palsu dari Sera—mereka berpura-pura sebagai pedagang kecil dari luar kota. Mereka duduk di tribun belakang, mata menyapu kerumunan.

Dan benar saja—di sudut aula, Gon dan Killua berdiri bersama Leorio dan Kurapika. Gon tampak antusias, Killua waspada. Mereka sedang berbisik tentang “kartu masuk Greed Island” yang akan dilelang malam ini.

Raito merasa hangat di dada. “Mereka ada di sini.”

Mira mengangguk. “Dan Troupe juga.”

Di sisi lain aula, bayang-bayang bergerak. Chrollo duduk tenang dengan buku di pangkuan. Di sekitarnya, Feitan, Machi, Nobunaga, dan beberapa anggota lain tersebar—tidak mencolok, tapi aura mereka seperti kabut dingin yang menyelimuti ruangan.

Lelang dimulai. Barang pertama adalah senjata Nen langka—dibeli mafia besar. Barang kedua adalah permata yang konon punya kekuatan penyembuhan—dibeli kolektor kaya.

Lalu pembawa acara mengumumkan barang utama malam itu:

“Item spesial: Greed Island – Game Board dan akses masuk! Dibuat oleh Ging Freecss. Harga awal: 1 miliar jenny!”

Ruangan riuh. Gon dan Killua langsung tegang. Chrollo menutup bukunya pelan, senyum tipis muncul di wajahnya.

Tiba-tiba, lampu aula padam seketika.

Teriakan penonton pecah.

Di kegelapan, suara Chrollo terdengar lembut tapi jelas:

“Terima kasih atas barangnya. Kami ambil sekarang.”

Lampu menyala kembali—tapi beberapa penjaga sudah terkapar. Feitan dan Nobunaga sudah berada di panggung, mengambil kotak Greed Island.

Gon berteriak. “Hei! Itu milik kami!”

Killua menarik Gon mundur. “Jangan gegabah. Itu Phantom Troupe.”

Raito berdiri. Embun cahaya di tubuhnya mulai berdenyut.

Mira pegang lengannya. “Kita nggak ikut campur langsung. Tapi kalau mereka ancam Gon dan Killua…”

Raito mengangguk. “Aku tahu. Kita amati dulu.”

Tapi sebelum Troupe kabur, Hisoka muncul dari tribun—kartu remi berputar di tangannya, senyum lebar.

“Ara~ Ara~ Troupe mau ambil Greed Island? Lucu sekali. Tapi aku juga mau main di game itu.”

Chrollo menoleh ke Hisoka. “Kau mau ikut campur?”

Hisoka tertawa. “Mungkin. Atau mungkin aku cuma mau lihat kalian bertarung dengan ‘cahaya’ yang baru itu.”

Matanya langsung tertuju ke Raito di tribun belakang.

Raito merasakan tatapan itu seperti jarum dingin.

Chrollo tersenyum tipis. “Kalau begitu… mari kita lihat siapa yang paling pantas dapat game ini.”

Troupe mulai bergerak ke arah pintu keluar. Gon dan Killua mengejar. Hisoka mengikuti dengan santai.

Raito berdiri. “Kita ikut. Dari jauh. Kita pastikan Gon dan Killua aman.”

Mira mengangguk. “Dan kalau Troupe ambil batu itu… kita rebut kembali.”

Yuna, yang diam-diam ikut dari penginapan (dia menyelinap keluar), muncul di belakang mereka.

“Kak! Aku ikut!”

Raito dan Mira terkejut, tapi tidak sempat marah.

Mereka bertiga berlari mengikuti kerumunan—menuju pertarungan besar yang akan menentukan nasib Greed Island, Eclipse Stone, dan nasib mereka semua.

Di belakang, Hisoka melirik ke arah Raito dengan senyum lebar.

“Fajar yang tertahan… sekarang mulai berlari. Aku akan ikuti… sampai akhir permainan.”

1
Cucu 23
Ini semakin menarik ☠️💀☠️🥶🥶
Kashvatama: terimakasih supportnya 💪💪💪
total 1 replies
Cucu 23
Let's go!!!!!☠️💀🥶😎👍🔥
Cucu 23
Kerja bagus 😎😎👍👍🔥
Adibhamad Alshunaybir
mantap author lanjutkan up nya
Adibhamad Alshunaybir: karya nya bagus bagus ya kak minta saran dan ajaran nya kak author☺🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!