Lima tahun lalu, Zora hanyalah mahasiswi biasa di mata Dimas. Kini, ia adalah obsesi yang tak bisa ia lepaskan.
Dimas adalah dosen Ekonomi yang kaku dan dingin. Baginya, segala sesuatu harus terukur secara matematis. Namun, rumusnya berantakan saat sang ibu memboyong Zora,mantan mahasiswi yang kini sukses menjadi juragan kain untuk tinggal di rumah mereka setelah sebuah kecelakaan hebat.
Niat awal Dimas hanya ingin membalas budi karena Zora telah mempertaruhkan nyawa demi ibunya. Namun, melihat kedewasaan dan ketangguhan Zora setiap hari mulai merusak kontrol diri Dimas. Ia tidak lagi melihat Zora sebagai mahasiswi yang duduk di bangku kelasnya, melainkan seorang wanita yang ingin ia miliki seutuhnya.
Zora mengira Dimas masih dosen yang sama dingin dan formal. Ia tidak tahu, di balik sikap tenang itu, Dimas sedang merencanakan cara agar Zora tidak pernah keluar dari rumahnya.
"Kau satu-satunya yang tak bisa kulogikakan,Zora!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Aroma yang asing
Pukul tiga pagi. Bandung sedang dalam puncak dinginnya saat pintu kamar terbuka perlahan. Dimas melangkah masuk dengan sisa lelah yang menggelayut di bahunya. Di bawah temaram lampu tidur, ia melihat Zora sudah terlelap dalam posisi membelakangi pintu.
Dimas mendekat, lalu membungkuk sedikit untuk mengecup kening istrinya dengan lembut,sebuah ritual yang biasanya terasa manis, namun malam ini terasa berbeda. Tanpa suara, ia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Begitu pintu kamar mandi tertutup, mata Zora perlahan terbuka. Ia tidak benar-benar tidur.
Zora bangkit perlahan, tangannya meraih kemeja yang tadi dilemparkan Dimas ke atas kursi. Ia mendekatkan kain itu ke wajahnya. Detik itu juga, setitik air mata jatuh membasahi pipinya. Ada aroma yang asing, tajam, dan sangat feminin menyeruak dari kerah baju itu.
"Parfum siapa yang menempel di bajumu, Mas?" bisiknya lirih, suaranya pecah di tengah kesunyian malam. "Apa itu parfum Wulan?"
Hati Zora mencelos. Namun, ia segera menyeka air matanya dan kembali berbaring saat mendengar pintu kamar mandi terbuka.
Selepas membersihkan diri dan berganti pakaian, Dimas langsung membaringkan tubuh di sebelah Zora. Ia menarik tubuh istrinya ke dalam pelukan, lalu mengecup puncak kepalanya dengan intensitas yang lebih dalam dari biasanya.
"Kamu sudah tidur, Sayang?" bisik Dimas tepat di telinga Zora.
Zora sedikit bergerak, memberi tanda bahwa ia terjaga.
"Bangunlah, Sayang... Aku menginginkanmu sekarang," gumam Dimas dengan suara rendah yang serak.
Zora perlahan membuka mata, menatap dalam ke manik mata Dimas. Di sana ada kerinduan, tapi di hidung Zora masih tertinggal memori aroma parfum wanita lain. Ada rasa getir yang menjalar, namun ia juga tidak mampu menolak sentuhan suaminya.
Zora membalas ciuman Dimas dengan lembut, sebuah balasan yang terasa seperti usaha terakhir untuk mempertahankan apa yang masih tersisa. Malam itu, di tengah dinginnya Bandung, keduanya larut dalam keintiman yang panas—sebuah cara untuk saling menghangatkan tubuh, meski hati salah satu dari mereka sedang membeku.
**
Keesokan paginya, rutinitas Dimas masih sama. Ia sedang berdiri di depan cermin, merapikan kemeja kerjanya dengan saksama. Namun, ada yang ganjil. Biasanya, Zora sudah ada di sana untuk membantunya memasang dasi atau sekadar menyapa.
"Sayang, bisa ke sini sebentar?" teriak Dimas.
Satu detik... dua detik... hening. Tak ada sahutan. Dimas mengerutkan kening, tangannya berhenti di kancing kemeja paling atas.
"Zora?" panggilnya lagi, suaranya naik satu nada. "Sayang?"
Hati Dimas mulai tidak tenang. Rasa khawatir yang tiba-tiba menyerang membuatnya langsung keluar kamar dan menuruni anak tangga dengan tergesa. Langkahnya mendadak terkunci saat tiba di dapur.
Ia terpaku melihat pemandangan di depannya. Zora berdiri mematung menghadap jendela, membelakangi kompor, seolah jiwanya sedang tidak ada di sana.
Aroma hangit menyengat hidung. Dimas membelalak saat melihat kepulan asap dari wajan. "Astagfirullah, sayang!" teriak Dimas sambil berlari mendekat.
Zora tersentak hebat, bahunya berjingkat seolah baru saja ditarik paksa dari alam lain. Dimas dengan sigap mematikan kompor dan menjauhkan istrinya dari area berasap itu.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya Dimas cemas. Ia memegang kedua bahu Zora, matanya menelusuri inci demi inci tubuh istrinya, memastikan tidak ada luka bakar.
"Mas... maafkan aku. Tadi aku..." suara Zora bergetar, terputus di tenggorokan.
"Sudah, sudah. Tidak apa-apa. Duduk dulu," potong Dimas lembut namun tegas. Ia menuntun Zora ke kursi makan, lalu bergegas mengambilkan segelas air mineral.
"Terima kasih, Mas. Maaf," bisik Zora pelan.
Dimas berlutut di depan istrinya, mencoba mencari jawaban di bola mata wanita itu. "Apa yang sedang kamu pikirkan, hmm?" tanya Dimas lembut.
Zora tidak menjawab. Matanya mulai berkaca-kaca, hanya mampu menatap suaminya dengan tatapan nanar yang sarat akan beban.
"Ada yang mengusikmu? Katakan padaku. Apa Mira mengganggumu lagi?" desak Dimas. Zora hanya menggeleng lemah.
"Tidak, Mas. Aku hanya..."
Drttttt... drttttt...
Ponsel di saku celana Dimas bergetar kuat, memecah ketegangan di antara mereka. Zora yang hendak bicara langsung mengatupkan bibirnya kembali.
"Angkat saja, Mas. Barangkali penting," ucap Zora pelan, mengalihkan pandangan.
Dimas ragu sejenak, namun akhirnya mengangguk. Ia menggeser tombol hijau di layar. "Aku angkat telepon dulu, ya?" pamit Dimas.
Zora hanya mengangguk kecil. Ia terus terpaku, menatap punggung suaminya yang perlahan menjauh dengan tatapan yang sulit diartikan. Bibirnya bergetar, nyaris tak bersuara saat ia membisikkan pertanyaan yang sejak tadi menyumbat dadanya.
"Mas... seandainya aku bertanya tentang akta itu, apa kau akan tetap memelukku sehangat semalam?"
Bersambung...
zora
*pergi (minggat) dari rumah tampa izin dan sepengetahuan suami kesalahan fatal
*lebih percaya orang lain dari pada suami, ingat asas kepercayaan wanita yang lebih berkoar2
*membuat suami cemas, bingung, khawatir,
*dia enakan tidur, suami tapi suami dia biarkan kayak orang bodoh, alasan HP mati, tinggal colok cas, hidupkan hubungi suami, ini malah enak2an tidur, kayak tidak ada beban sama sekali
*setelah melakukan banyak kesalahan dengan enteng dia merasa aman saja, zora pakai otak kau tidak mau memaafkan dengan mudah kesalahan suami tapi ketika kau salah kau semudah itu dimaafkan
thor mohon lah berlaku adil, jika sang suami buat salah tidak mudah dimaafkan dan dibuat berjuang dulu baru dimaafkan maka adil lah juga ketika sang istri melakukan kesalahan buat juga tidak semudah itu dimaafkan buat juga berjuang,
buang jauh jauh pemikiran yang selalu menormalisasi semua kesalahan pemeran utama wanita,
adil tidak membuat novel jelek tapi malah membuat novel bertambah berkelas
g bljr dr msalt kemarin
itu membuat Zora terlihat kekanakan dan selalu mendrama.
tapi entah peketjaan apa yg sudah di siapkan sandi, jadi tukang fotokopi atau malah jadi cleaning servis.
soalnya keduanya ada hubungannya dengan Dimas,
Nesa sepupunya Dimas,
sedangkan Wulan walaupun teman yg baik tapi teman lucnat juga🤭
tapi, jangan sampai keposesif an mu ,malah membuat pasangan mu ilfil.
ternyata paksu Dimas 😍
y Dimas persiapan 👍