Kenzo Banyu Samudera adalah anak tiri dari keluarga konglomerat, hidup sebagai pecundang yang dihina, disiksa, dan dibuang. Lemah, cupu, dan tak pernah melawan—hingga suatu malam ia nyaris mati bersimbah darah. Namun kematian itu justru menjadi awal kebangkitan.
Kesadaran Bayu Samudra, petarung jalanan miskin yang tewas dalam pertarungan brutal, terbangun di tubuh Kenzo. Bersamaan dengan itu, sebuah Sistem Pemburu aktif di kepalanya. Kebangkitan ini bukan hadiah. Keluarga Kenzo memfitnah, menghapus identitasnya, dan mengusirnya dari rumah.
Dari jalanan kumuh, Bayu merangkak naik. Tinju jalanannya berpadu dengan kecerdasan Kenzo dan kekuatan sistem. Perlahan ia membangun kerajaan bayangan bisnis legal di permukaan, mafia di balik layar. Namun sisa memori Kenzo menghadirkan luka, kesepian, dan konflik batin.
Di antara dendam, cinta, dan kegelapan, Bayu harus memilih: menjadi monster penguasa, atau manusia yang masih mengingat rasa kalah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: SERANGAN PERTAMA KE VALERIE
#
Jam sebelas malam. Langit gelap tanpa bulan. Awan tebal menutupi bintang. Angin laut bertiup dingin.
Van hitam melaju pelan di jalan pinggiran kota. Nggak ada lampu jalan. Cuma cahaya redup dari lampu depan mobil.
Di dalam van, enam orang duduk diam. Bayu di depan. Tekong nyetir. Wahyu, Sari, Budi di belakang. Rizki di tengah dengan laptop, kabel nyambung ke antena kecil di atap van.
Nggak ada yang ngomong. Cuma suara mesin dan napas mereka yang terdengar.
Bayu menatap keluar jendela. Pikirannya melayang.
Ini misi pertama. Misi beneran. Bukan tarung di ring. Bukan bunuh pembunuh bayaran buat bertahan hidup.
Ini... serangan terencana. Ke keluarga yang pernah buang dia.
Dan malam ini... dia bakal bunuh orang lagi.
Banyak orang.
"Lu yakin mau lanjut?" tanya Tekong pelan. Matanya tetap di jalan.
Bayu mengangguk. "Udah terlalu jauh buat mundur."
"Setelah ini... nggak ada jalan balik."
"Gue tau."
Van berhenti di hutan kecil. Sekitar dua ratus meter dari gudang target.
Mereka semua turun. Buka bagasi. Keluarin senjata.
Wahyu ambil pistol dan pisau berburu. Sari ambil pistol dan tongkat besi. Budi ambil parang pendek dan pistol. Tekong ambil pistol. Bayu... pistol dan sarung tangan karet.
Rizki tetap di van. Buka laptopnya. "Gue udah deket signal server mereka. Kasih gue lima menit."
"Cepet," kata Bayu.
Jari-jari Rizki menari di keyboard. Layar penuh kode. Angka. Simbol.
Dua menit kemudian. "Masuk. Gue dapet akses."
"Matiin kamera."
"Tunggu..." Rizki ketik lagi. "Mati. Semuanya. Mereka cuma lihat layar hitam sekarang."
"Alarm?"
"Udah gue disable. Tapi... kalau ada yang pencet tombol darurat manual, gue nggak bisa apa-apa."
"Kita nggak kasih mereka waktu buat pencet." Bayu menatap timnya. "Ingat. Cepat. Diam. Nggak ada yang hidup."
Mereka semua mengangguk.
"Bergerak."
***
Gudang itu berdiri sendiri di area kosong. Bangunan besar dari besi. Cat biru kusam. Pagar besi tinggi mengelilingi. Lampu sorot di empat sudut.
Dua penjaga di depan. Berdiri santai. Ngobrol sambil ngerokok.
Wahyu dan Budi merayap dari samping. Senyap. Seperti bayangan.
Mereka berhenti di belakang penjaga. Jarak lima meter.
Wahyu kasih signal. Tiga. Dua. Satu.
Mereka loncat. Cepat.
Wahyu cekik penjaga pertama dari belakang. Tangan kirinya nutupin mulut. Tangan kanan narik kepala ke belakang. Leher patah dengan bunyi pelan.
KREK.
Budi tusuk penjaga kedua dari belakang. Parang masuk ke ginjal. Dalam. Penjaga itu mau teriak tapi Budi udah nutupin mulutnya. Tusuk lagi. Kali ini ke leher. Darah muncrat.
Kedua mayat jatuh pelan. Nggak ada suara keras.
Wahyu kasih signal aman.
Bayu, Tekong, dan Sari maju. Masuk lewat pintu depan yang udah terbuka.
Di dalam gudang, gelap. Cuma lampu emergency yang nyala redup.
Ada suara. Suara orang ngobrol. Dari ruang kantor kecil di sudut.
Bayu kasih signal. Sari maju duluan. Ngintip lewat jendela kaca.
Tiga orang di dalam. Lagi main kartu. Pistol di meja. Mereka santai. Nggak curiga apa-apa.
Sari balik. Bisik pelan. "Tiga orang. Bersenjata."
Bayu mikir cepat. "Wahyu, Budi. Kalian dari pintu belakang. Gue, Tekong, Sari dari depan. Serempak."
Mereka posisi.
Bayu hitung dalam hati. Tiga. Dua. Satu.
BRAK!
Pintu depan ditendang. Tekong masuk duluan. Pistolnya angkat.
DOR! DOR!
Dua tembakan. Dua penjaga jatuh. Kepala tembus peluru.
Yang ketiga reflek angkat pistol. Tapi Sari lebih cepat. Tongkat besinya ayun keras. Kena pergelangan tangan. Pistol jatuh.
Lalu Bayu masuk. Tinjunya meluncur ke rahang penjaga itu.
KRAK!
Rahang patah. Penjaga jatuh berlutut.
Bayu tarik rambutnya. Paksa dia lihat ke atas.
"Ada berapa orang lagi di sini?"
Penjaga itu meludah darah. "B...brengsek..."
Bayu tusuk pelan di paha dengan pisau kecil. Nggak dalam. Cuma buat sakit.
"AARRGH!"
"Berapa?"
"D...dua... di... di gudang belakang..."
"Terima kasih."
Bayu patahkan lehernya. Cepat. Nggak kasih waktu buat teriak.
Mayat jatuh.
"Dua lagi," kata Bayu ke timnya.
Mereka bergerak ke gudang belakang. Pintu besi besar terkunci.
"Rizki, buka pintunya," kata Bayu lewat radio kecil di telinganya.
"Tunggu..."
Lima detik kemudian, bunyi klik. Pintu terbuka otomatis.
Mereka masuk.
Gudang belakang penuh kardus. Ratusan. Mungkin ribuan. Semua bertuliskan nama perusahaan fiktif.
Tapi Bayu tau isinya. Narkoba. Kokain. Ekstasi. Ganja. Senilai miliaran.
Dua penjaga berdiri di tengah. Mereka langsung angkat senjata pas lihat Bayu.
Tapi Wahyu udah di belakang mereka. Entah dari mana.
DOR! DOR!
Dua tembakan ke kepala. Dua mayat jatuh.
Hening.
Bayu menatap sekeliling. "Aman?"
Tekong cek satu per satu sudut. "Aman. Nggak ada yang lain."
"Bagus." Bayu jalan ke tengah gudang. Menatap tumpukan kardus.
Ini semua milik Valerie. Bisnisnya yang gelap. Yang dia sembunyiin dari dunia.
Dan sekarang...
"Bakar semuanya."
Budi dan Wahyu langsung bergerak. Siram bensin ke kardus-kardus. Ke dinding. Ke lantai.
Sari ambil uang kas yang ada di kantor. Sekitar dua miliar tunai. Masukin ke tas besar.
Bayu berjalan ke salah satu mayat. Penjaga yang tadi dia tanya. Dia keluarin kertas kecil dari saku. Tulis sesuatu dengan spidol.
"Ini baru permulaan, Ibu."
Dia lipet kertas itu. Masukin ke saku mayat.
Pesan. Buat Valerie.
Biar dia tau... ini bukan kebetulan. Ini... serangan.
"Udah selesai!" teriak Wahyu.
"Keluar. Sekarang."
Mereka semua lari keluar. Cepat. Budi lempar korek api yang udah nyala ke genangan bensin di pintu.
WUSSHH!
Api menyala besar. Merambat cepat. Masuk ke gudang.
Mereka lari ke van. Naik cepat.
"GAS! GAS! GAS!" teriak Bayu.
Tekong injak gas dalam-dalam. Van melaju kencang.
Sepuluh detik kemudian...
BOOOMMM!
Ledakan besar. Api menyembur tinggi ke langit. Gudang runtuh. Kardus-kardus terbakar semua.
Asap hitam mengepul tebal.
Di dalam van, mereka semua diam. Menatap api lewat kaca belakang.
"Gila..." bisik Rizki. "Kita... kita bener-bener lakuin..."
Wahyu tertawa. Tawa kemenangan. "Kita berhasil! Nggak ada yang kena!"
Budi ikut ketawa. Sari tersenyum tipis.
Tapi Bayu... diam.
Dia menatap api yang makin besar.
Enam orang mati malam ini. Enam nyawa hilang karena perintahnya.
Apakah gue... monster sekarang?
Tapi suara lain di kepalanya menjawab.
Mereka pilih jalan ini. Mereka jaga narkoba yang bunuh ribuan orang. Mereka nggak innocent.
Dan Valerie... dia yang suruh bunuh Kenzo. Dia yang layak mati.
"Bayu."
Suara Tekong nyadarin dia.
"Lu... oke?"
Bayu mengangguk pelan. "Gue oke."
Tapi tangannya gemetar. Dia sembunyiin di balik jaket.
Van melaju terus. Menjauh dari api. Dari mayat. Dari bukti.
***
Keesokan pagi. Mansion Samudera.
Valerie duduk di ruang makan. Secangkir kopi di depannya. Dia baca tablet. Berita pagi.
Raka masuk dengan wajah panik.
"IBU!"
Valerie menoleh. "Ada apa? Kenapa teriak?"
"Gudang... gudang kita di pelabuhan... terbakar!"
Valerie berdiri cepat. Tablet jatuh ke lantai. "APA?!"
"Tadi malam. Ada yang serang. Bunuh semua penjaga. Bakar semua barang."
Wajah Valerie jadi pucat. "Berapa... berapa kerugian..."
"Lima miliar. Mungkin lebih. Semua barang habis."
"SIALAN!"
Valerie lempar cangkir kopi ke dinding. Pecah. Kopi tumpah.
"Siapa?! Siapa yang berani?!"
"Polisi... polisi masih selidik. Tapi... ada pesan."
Valerie menatapnya tajam. "Pesan apa?"
Raka kasih kertas kecil. Kertas yang ditemuin di saku mayat penjaga.
Valerie baca.
"Ini baru permulaan, Ibu."
Tangannya gemetar. Kertas itu jatuh.
"Kenzo..."
Bisikan itu keluar pelan.
"Dia... dia masih hidup..."
Raka menatap bingung. "Kenzo? Dia kan udah... kita udah kirim orang..."
"DIA MASIH HIDUP!" teriak Valerie histeris. "DIA YANG LAKUIN INI!"
Dia berjalan mondar-mandir. Napasnya cepat. Panik.
"Kita... kita harus cari dia. Sekarang. Kirim semua orang. Cari Kenzo. Bunuh dia. BUNUH DIA!"
Raka mengangguk cepat. Keluar ruangan sambil telepon.
Valerie berdiri sendirian. Menatap kertas di lantai.
"Kenzo... kau... kau berani lawan aku..."
Tangannya mengepal. Kuku-kukunya menancap di telapak sampai berdarah.
"Aku akan bunuh kau. Dengan tanganku sendiri."
Dan perang...
Baru saja dimulai.