NovelToon NovelToon
DI BALIK SOROT LAMPU

DI BALIK SOROT LAMPU

Status: sedang berlangsung
Genre:Model / Karir
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

Adrina, 27 tahun, adalah gadis mandiri yang hidup dalam senyap. Setelah ibunya meninggal dan ayahnya memilih membangun keluarga baru, Adrina memutuskan tinggal sendiri di sebuah kosan sempit—tempat ia belajar berdamai dengan kesendirian dan masa lalu yang tak lagi ia bagi pada siapa pun. Lulus kuliah tanpa arah pekerjaan yang jelas, ia sempat menganggur cukup lama hingga sebuah tawaran tak terduga datang: menjadi asisten seorang artis papan atas yang sedang berada di puncak popularitas.

Nama itu adalah Elvario Mahendra—aktor sekaligus penyanyi terkenal, digilai publik karena wajahnya yang nyaris sempurna dan bakatnya yang luar biasa. Namun di balik sorot lampu, Elvario dikenal arogan, temperamental, dan sulit ditangani. Dalam satu bulan terakhir, ia telah mengganti enam asisten. Tidak ada yang bertahan. Semua menyerah oleh tuntutan, amarah, dan standar tinggi yang tampak mustahil dipenuhi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ASISTEN KETUJUH

Sutradara mendekat dengan wajah seputih kertas. "Kita break. Seluruh lokasi akan dicek ulang secara total. Maaf, Mas Elvario. Ini kelalaian kami."

Elvario mengangguk singkat, namun perhatiannya tidak beralih dari Adrina. Ia memperhatikan tangan gadis itu yang gemetar di atas clipboard.

"Lo takut?" tanya Elvario rendah.

Adrina mengangguk kecil, tidak lagi berusaha menutupi kerapuhannya. "Iya. Baru terasa sekarang."

Elvario melangkah lebih dekat, memperpendek jarak di antara mereka. Suaranya terdengar sangat lembut, hanya untuk didengar oleh mereka bertiga. "Terima kasih... sudah merasa takut untuk gue."

Rizal menoleh ke arah lain, memberi mereka ruang dalam kesunyian yang ganjil itu. Studio perlahan kembali diatur, namun sejak detik itu, segalanya telah berubah. Adrina bukan lagi sekadar orang yang mengatur jadwal atau membawakan air. Ia telah menjadi seseorang yang didengar Elvario sebelum siapa pun.

Bagi Elvario, sorot lampu studio tidak lagi terasa sebagai ancaman paling berbahaya. Karena ia tahu, di balik silau lampu itu, ada seseorang yang berani menghentikan dunia demi satu nyawanya.

Waktu istirahat satu jam diumumkan secara resmi melalui pengeras suara. Studio mulai ditinggalkan sebagian kru, menyisakan kesunyian yang ganjil di antara puing-puing kaca lampu sorot yang baru saja dibersihkan. Suasana yang tadinya mencekam perlahan mencair, namun bekas kejutannya masih berdenyut di dada Adrina.

Ia berdiri di dekat pintu keluar, ragu sejenak sebelum menghampiri Elvario yang sedang duduk diam dengan wajah tertumpu pada kedua tangannya.

"Mas," ucap Adrina pelan. Suaranya sudah kembali tertata seperti biasa, meski matanya masih menyimpan sisa gemetar yang sulit disembunyikan. "Saya izin sebentar. Mau menenangkan diri di kafe depan studio. Tidak akan lama."

Elvario mengangkat wajahnya. Ia menatap Adrina cukup lama, seolah sedang menakar sejauh mana guncangan yang dialami gadis itu. Lalu, ia mengangguk pelan.

"Pergi. Telepon gue kalau ada apa-apa," jawabnya. Itu bukan sebuah perintah dari seorang atasan, melainkan sebuah izin yang tulus dari seseorang yang juga sedang berusaha mengumpulkan sisa-sisa ketenangannya.

Adrina mengangguk singkat, lalu melangkah keluar. Udara segar di luar studio terasa seperti oksigen pertama yang ia hirup setelah hampir tenggelam.

Kafe kecil di seberang studio tidak terlalu ramai. Aroma kopi yang kuat menyambutnya, berkelindan dengan musik jazz pelan yang mengalir dari sudut ruangan. Adrina memilih duduk di sudut yang paling tersembunyi, membelakangi layar televisi besar yang sedang menayangkan acara infotainment.

Ia baru saja duduk dan belum memesan apa pun ketika suara tawa kecil terdengar dari meja sebelah. Sekelompok gadis—empat orang—duduk melingkar sambil menggenggam ponsel masing-masing. Mata mereka sesekali melirik ke arah layar televisi. Di sana, wajah Elvario muncul dalam cuplikan tayangan wawancara pagi tadi.

"Gila sih," ucap salah satu gadis sambil tersenyum kagum namun getir. "Elvario itu memang ganteng, berbakat... tapi arogannya nggak ketolongan."

Gadis di sebelahnya mengangguk cepat. "Iya, bener. Bahkan dalam sebulan ini saja dia sudah ganti enam asisten. Bayangkan seberapa sulitnya bekerja sama dia."

Adrina menegang tanpa sadar. Jemarinya meremas pinggiran meja.

"Yang sekarang ini jadi asisten ketujuh, kan?" sambung gadis lain dengan nada menyayangkan. "Tapi aneh, identitasnya dirahasiakan. Padahal asisten-asisten sebelumnya sering membocorkan lokasi syuting atau jadwal Elvario ke kita."

Adrina menurunkan pandangannya ke meja kayu di depannya. Ia menyadari satu hal: ia adalah asisten pertama yang tidak "bernyanyi" kepada para penggemar demi popularitas pribadi.

Seorang gadis lain, yang sejak tadi hanya menyimak, akhirnya angkat bicara. Suaranya terdengar lebih tenang dan berat. "Kalian jangan asal menghakimi. Elvario arogan itu bukan tanpa alasan."

Tiga pasang mata langsung menoleh ke arahnya, menuntut penjelasan.

"Ayahnya menekan dia sejak kecil. Memanfaatkan popularitas El demi uang," lanjut gadis itu dengan suara lirih. "Dan ibunya... sekarang sedang berada di rumah sakit jiwa."

Hening sejenak di meja itu. Adrina pun merasa dunianya seolah berhenti berputar sejenak.

"Gara-gara apa?" tanya salah satu dari mereka pelan.

"Ayahnya selingkuh terus-menerus. Tekanan mental ibunya sangat berat melihat anaknya dipaksa bekerja bagai mesin sementara suaminya berfoya-foya. Jadi... kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang dia alami di balik layar."

Adrina menahan napas. Kata-kata itu menghujam kepalanya satu per satu. Arogansi. Tekanan. Ayah. Ibu. Rumah sakit jiwa.

Potongan-potongan informasi itu mendadak menyatu seperti kepingan puzzle yang selama ini kosong di kepalanya. Ia teringat tatapan Elvario setiap kali jadwal berubah mendadak—reaksi ledakannya bukan karena kebencian, melainkan manifestasi dari rasa panik akan kehilangan kendali. Pria itu mengontrol hal-hal kecil dengan obsesif karena ia takut kehilangan kendali atas hidupnya lagi, seperti yang terjadi di masa kecilnya.

Dan kalimat Elvario tadi sore terngiang kembali: "Gue nggak mau orang bertahan karena kasihan."

Adrina akhirnya memesan secangkir teh hangat. Tangannya kini terasa lebih stabil. Ia tidak menoleh lagi ke arah para gadis itu. Ia tidak ingin dikenali, juga tidak ingin terlibat dalam obrolan mereka. Namun, ia menyimpan setiap informasi itu baik-baik di dalam benaknya.

Bukan untuk dijadikan bahan gosip, melainkan untuk memahami manusia yang sedang ia jaga.

Jadi ini alasannya... batin Adrina pelan.

Ia menyesap tehnya, merasakan hangatnya menjalar ke seluruh tubuh. Adrina menyadari satu hal penting: ia bukan lagi seorang penggemar yang mengagungkan Elvario tanpa celah, dan ia juga bukan pembenci yang menilainya secara sepihak.

Ia berada di posisi yang jauh lebih sulit sekaligus istimewa. Ia adalah orang yang berdiri di sisi Elvario saat lampu kamera padam, dan sekarang, ia mulai melihat "manusia" di balik sorot lampu yang menyilaukan itu.

Saat ia melirik jam tangannya, waktu istirahat hampir habis. Adrina berdiri dan mengenakan kembali tasnya. Napasnya kini stabil, langkahnya terasa lebih ringan namun memiliki tujuan yang lebih dalam. Di kepalanya, ia mencatat satu evaluasi paling krusial hari itu: Elvario Mahendra bukan sekadar artis yang arogan. Ia adalah seorang penyintas yang sedang bertahan hidup dengan caranya sendiri.

Dan entah sejak kapan, Adrina tahu bahwa ia ingin menjadi orang yang memastikan hari-hari pria itu tidak lagi sesulit sebelumnya.

1
Selfi Polin
mampir thor, awal yg bagus😍
Joice Sandri
bagus...tertata dg baik kisah n bhsnya
Ros Ani
mampir ah siapa tau suka dg karyamu thor
Dinna Wullan: terimakasih ka saran sarannya
total 1 replies
Tismar Khadijah
bahasanya hmm👍
Tismar Khadijah
lanjuut💪
Tismar Khadijah
baguus
Dinna Wullan: terimakasih dukungannya ka
total 1 replies
Mar lina
aku mampir, thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!