Gerard adalah seorang pria yang hidupnya jatuh hingga ke titik terendah. Saat ia nyaris mati kelaparan dan menjadi korban serangan tak dikenal, sebuah Sistem misterius tiba-tiba muncul, menyelamatkan nyawanya dan memulihkan tubuhnya sepenuhnya.
Dibawa ke dalam hutan yang asing, Gerard kini diberi tantangan oleh Sistem: bertahan hidup semalam untuk mendapatkan hadiah luar biasa—uang seratus juta dan sebuah rumah. Namun, di balik janji masa depan cerah itu, ancaman dari masa lalu dan identitas penyerangnya yang gelap masih mengintai, membuat setiap detik menjadi pertaruhan nyata.
Siapakah itu? Dan seberapa rumit masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Loorney, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 - Penyelesaian
Pagi itu, tubuh Gerard terasa lebih ringan, lebih segar. Sebuah senyum lebar merekah di wajahnya saat ia menguap dan merentangkan tubuh ke langit-langit kamar. Setelah beberapa saat terdiam, meresapi sunyi pagi, akhirnya ia beranjak ke halaman. Di sana, masih tersisa sedikit "pekerjaan rumah" yang menunggu.
"Halo, masalahku," sambarnya pada sisa ilalang dan ranting yang berserakan, seolah menyapa teman lama. Dengan wajah yang masih dibayangi sisa kantuk, ia mengambil peralatan dari gerobak yang masih tertinggal di teras, lalu mulai bekerja.
Hanya tersisa sedikit. Tak butuh waktu lama atau tenaga berlebih, semuanya beres. Ia meraih karung goni tua yang ia temukan di dalam rumah, lalu mulai memunguti sisa-sisa rumput dan ranting kering. Saat karung itu penuh, ia injak-injak isinya agar memadat, lalu menambahkannya lagi hingga benar-benar padat dan penuh.
Akhirnya, semuanya selesai. Halamannya kini rapi, rumput pendek yang tersisa sengaja ia biarkan sebagai permadani hijau sementara. Di sudut dekat pagar, karung goni yang sudah terikat rapat berdiri gagah, berisi semua sampah kebun dari dua hari terakhir.
Tak lama kemudian, panel notifikasi yang sudah dinantikan muncul di hadapannya.
[Periksa & Bersihkan Rumah]
[Status: Selesai]
[Hadiah: 200.000.000 + Kartu Ajaib]
Kartu Ajaib?
Rasa penasaran langsung menyergapnya. Gerard segera memanggil deskripsi item itu dengan pikirannya.
[Kartu Ajaib]
· Mampu mengambil sesuatu dari seorang individu tanpa terkecuali. Cukup individu tersebut menyentuh kartu ini, maka hal yang Anda pikirkan akan segera menjadi milik Anda.
· Bentuk kartu dapat berubah sesuai keinginan pengguna.
Jumlah: 1
Napas Gerard tercekat. Matanya membelalak, jantung berdebar kencang hampir ke tenggorokan.
Spontan ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan diri agar tidak berteriak. Ini... ini bukan sekadar hadiah. Ini adalah kekuatan. Dengan benda ini, ia bisa mengambil apa saja dari siapa saja—uang, ingatan, kemampuan, bahkan mungkin kekuatan super jika itu nyata.
Jika Superman benar-benar ada, kekuatannya bisa berpindah ke Gerard dalam sekejap sentuhan.
"Ini terlalu berbahaya..." gumamnya pelan, suaranya bergetar antara takut dan kagum. Tapi di balik kecemasan itu, ada api kecil yang menyala dalam dirinya—api yang membisikkan kemungkinan, peluang, dan kekuatan yang tak terbayangkan sebelumnya.
Dengan senyum tipis yang penuh arti, ia melirik ke arah yang tidak pasti di kejauhan, pikirannya sudah melayang pada potensi yang baru saja ia genggam.
"...Tapi juga sangat, sangat menguntungkan."
Benar, ini masih terlalu awal. Baru dua hari sejak Sistem itu muncul dalam hidupnya, dan sekarang ia telah memegang sesuatu yang begitu hebat—sebuah kekuatan yang bisa mengubah segalanya. Jika ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin ia bisa menebus setiap kesalahan di masa lalunya yang kelam. Bahkan... menemukan orang-orang yang dulu menghancurkan hidupnya.
Ya. Di balik sikapnya yang santai dan acuh, pikiran Gerard sesungguhnya adalah medan tempur. Rencana-rencana berputar, skenario bergulir, variabel-variabel dipertimbangkan. Semuanya masih mentah, belum terstruktur rapi. Tapi ia tahu: yang ia butuhkan bukan lagi sekadar bertahan, melainkan bersiap.
Cukup lama ia terdiam di teras, matanya menyapu peralatan kebun satu per satu, memastikan tidak ada yang hilang. Sambil itu, pikirannya terus memanggil-manggil Sistem. Suara asing itu—kadang seperti penonton yang menertawakan, kadang seperti penuntun yang muncul di saat genting—tetap membisu ketika diajak bicara secara langsung. Polanya jelas: Sistem hanya muncul saat ia dalam keadaan terjepit, bingung, atau terpuruk. Selebihnya, ia menjauh.
"Mungkin nanti," gumam Gerard dalam hati, "kita bisa benar-benar berbicara."
"Baiklah, kalau itu maumu," keluhnya lirih, sebelum akhirnya mendorong gerobak itu keluar pagar. "Aku akan menunggu penjelasanmu. Tentang semuanya." Rasa penasaran itu memang tak bisa lagi ia pendam.
Gerobak kayu berderak pelan di atas jalan. Ia berhenti di depan pagar hitam tinggi rumah sebelah, lalu mengetuknya perlahan. Butuh tiga ketukan sebelum suara klik pintu terdengar.
"Iya, tunggu sebentar!" Suara wanita yang sama langsung menyahut dari dalam, terdengar cerah dan sigap.
Beberapa detik kemudian, langkah kaki mendekat. Pagar besi hitam itu bergeser, dan seorang wanita muncul dengan senyum yang sudah akrab.
"Hai, lagi!" sapanya ramah, tangan melambai kecil.
"Hai juga," balas Gerard, lebih rileks dari kemarin. Ia mendorong gerobak sedikit ke depan. "Ini peralatannya. Terima kasih banyak—berkat ini, pekerjaan jadi jauh lebih cepat."
Wanita itu melirik isi gerobak, mengangguk puas, lalu senyumnya kembali mengembang. "Sama-sama!"
Namun, alih-alih langsung mengambil gerobak, ia justru mengulurkan tangan kanannya ke arah Gerard.
Gerard terdiam sejenak, lalu menyambut uluran itu. "Gerard," katanya, memperkenalkan diri.
"Mawar," balasnya, tangannya mencengkeram dengan pegangan yang kuat dan hangat, seolah ingin memastikan kontak itu berarti. Ia tidak langsung melepaskannya, menahan jabat tangan itu beberapa detik lebih lama dari biasanya, sebelum akhirnya membiarkan genggaman itu terlepas dengan halus.
"Senang akhirnya bisa berkenalan dengan tetangga baru," ucap Mawar, matanya berbinar ramah, namun ada sesuatu di balik tatapannya yang membuat Gerard merasa ada yang lebih dari sekadar sapaan biasa.
Gerard hanya mengangguk kaku, berusaha menghindari tatapan Mawar yang terasa terlalu menyelidik. "Iya, senang juga," ucapnya, suaranya sedikit gemetar oleh rasa tidak nyaman yang mendadak. Lalu ia berbalik, siap untuk mengundurkan diri. "Kalau begitu, permisi dulu…"
Yang mengejutkan, Mawar membiarkannya pergi begitu saja. Hanya dengan senyuman ramah dan lambaian tangan yang lebih lepas kali ini. "Sampai jumpa lagi!" katanya, sebelum memastikan Gerard benar-benar telah masuk ke dalam rumahnya.
Begitu pagar tertutup, Mawar berpaling dan mendorong gerobaknya masuk ke halaman sendiri. Pintu pagar terkunci dengan bunyi yang padat. Di baliknya, dia bersandar pada daun pintu yang kokoh, kepalanya tertunduk. Tangan kanannya mengepal erat di sisi tubuhnya.
"Gerard…" bisiknya lirih, pipinya memerah tanpa bisa ditahan.
Gerard tidak tahu. Ada sesuatu yang belum perlu ia ketahui—sesuatu yang masih tersembunyi di balik senyum tetangganya. Tapi satu hal yang pasti: hidupnya yang dulu sepi dan terlunta kini telah berubah. Kedamaian yang ia kira akan ia dapatkan di rumah baru ini, mungkin tak akan pernah benar-benar datang.
*•*•*
Beberapa jam kemudian.
Di dalam rumah barunya yang kini sudah bersih meski masih kosong, Gerard berdiri di tengah ruang tamu dengan senyum puas. Tata letak ideal sudah terpeta jelas di benaknya. Tinggal mewujudkannya dengan furnitur. Tapi sebelum itu, ada satu kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi.
"Ponsel…"
Sebuah benda yang nyaris menjadi perpanjangan diri di dunia modern. Ponsel lamanya hilang dicuri, bersama kartu identitas dan barang penting lain yang kini tinggal abu. Tapi sekarang, kekhawatiran itu telah berganti menjadi keyakinan. Dengan Sistem dan saldo yang ia miliki, membeli ponsel hanyalah soal waktu. Namun, ada satu hal yang tak bisa ia tunda lagi: mandi.
Aku sudah bau. Berapa hari ini? Atau… minggu? Ah, entahlah. Ia mengendus bau badan sendiri yang menusuk. Aneh juga, dengan bau seperti ini masih ada orang yang mau bersalaman.
Gerard melepas kaos abu-abunya yang sudah kusam dan melemparkannya ke atas kasur. Lalu, matanya beralih ke antarmuka Toko Sistem. Ia memesan perlengkapan mandi lengkap, plus beberapa set pakaian sederhana—dominan hitam dan abu-abu, seperti yang ia suka. Saat proses berlangsung, pikirannya melayang ke kebutuhan lain.
Mesin cuci…