NovelToon NovelToon
Serpihan Yang Patah

Serpihan Yang Patah

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat
Popularitas:908
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dua tahun terjebak dalam neraka pelecehan dan ancaman sang kakak ipar, Markus, membuat Relia kehilangan jiwanya—terlebih saat kakak kandungnya sendiri memilih berkhianat. Di titik nadir, Relia berhasil melarikan diri dan bertemu Dokter Ariel, seorang psikiater sekaligus CEO yang menjadi pelindungnya. Melalui pernikahan yang awalnya berlandaskan rasa aman dari ancaman Markus, Ariel membimbing Relia menyembuhkan trauma parah dan kecemasannya. Ini adalah kisah tentang keberanian seorang wanita untuk memecah keheningan dan merebut kembali hidup yang sempat terenggut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Suasana ruang sidang mendadak hening seketika saat Markus, dengan wajah tanpa dosa yang mengerikan, mulai berteriak dari kursi pesakitan.

Ia menatap tajam ke arah Relia, mencoba melancarkan serangan psikologis terakhirnya.

"Saya tidak bersalah! Yang kalian lihat di video itu hanyalah potongan!" teriak Markus dengan nada yang dibuat-buat sedih namun penuh kebencian.

"Relia, kamu yang tidak waras! Kamu yang memperkosa aku! Kamu yang mengikatku dan menutup mulutku agar aku tidak bisa berteriak, lalu kamu memutarbalikkan fakta seolah-olah kamu korbannya!"

Tuduhan itu begitu keji dan terbalik dari kenyataan, hingga membuat Relia merasa dunianya berputar.

Kalimat "mengikat" dan "menutup mulut" adalah trauma terdalam yang dialami Relia, dan sekarang Markus menggunakan kata-kata itu untuk memfitnahnya.

Relia mencengkeram erat kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.

Kuku-kukunya menusuk telapak tangannya sendiri, mencoba mencari rasa sakit fisik untuk mengalihkan rasa sesak di dadanya yang mulai bergemuruh.

Bayangan kain hitam yang menyumpal mulutnya seolah kembali terasa.

Ariel, yang merasakan tubuh istrinya menegang hebat, segera merangkul bahu Relia.

Ia membisikkan kata-kata yang sangat tegas di telinga istrinya.

"Jangan dengarkan, Relia. Jangan terpengaruh. Itu adalah nyanyian terakhir seorang pecundang yang sudah terjepit. Dia sedang mencoba menarikmu kembali ke dalam lubang kegelapan karena dia tahu dia tidak punya jalan keluar lagi. Lihat aku, Sayang... Bernapaslah untukku."

Relia menatap mata Ariel yang stabil dan penuh perlindungan. Perlahan, cengkeraman tangannya mengendur.

Tiba-tiba, Jaksa Penuntut Umum berdiri dengan tenang namun mematikan.

"Keberatan, Yang Mulia! Terdakwa jelas melakukan gaslighting di ruang sidang. Jika Terdakwa mengklaim dirinya diikat, mohon tunjukkan bukti medis yang menunjukkan adanya bekas ikatan di tangan Terdakwa yang sebanding dengan bekas luka permanen di pergelangan tangan saksi korban."

Hakim menatap Markus dengan pandangan dingin.

"Terdakwa, harap tenang dan hanya menjawab pertanyaan. Kebohongan yang tidak didasari bukti medis hanya akan memberatkan hukuman Anda."

Markus terdiam, napasnya memburu. Ia melihat Relia yang kini tidak lagi menunduk, melainkan menatapnya dengan tatapan kasihan.

"Markus," suara Relia terdengar tipis namun berwibawa di tengah keheningan.

"Borgol di tanganmu sekarang adalah bukti siapa yang sebenarnya bersalah. Kamu tidak bisa membohongi Tuhan, dan hari ini, kamu tidak bisa membohongi hukum."

Hakim mengetuk palu tiga kali, menandakan sidang diskors untuk istirahat makan siang.

Suasana tegang di ruang sidang perlahan mencair saat pengunjung mulai membubarkan diri. Ariel segera berdiri, menghalangi pandangan Markus yang masih mencoba menatap tajam ke arah Relia.

"Ayo, Sayang. Kita butuh udara segar sebentar," ajak Ariel sambil merangkul pinggang Relia.

Mereka berjalan menuju kantin pengadilan yang cukup luas.

Meskipun banyak mata yang memerhatikan—beberapa wartawan mencoba mendekat namun segera dihalau oleh tim keamanan Arkatama—Ariel tetap fokus pada kenyamanan istrinya.

"Kamu harus makan, Relia. Energi kamu terkuras habis menghadapi fitnahnya tadi," ucap Ariel lembut saat mereka sampai di depan deretan stan makanan.

Relia melihat-lihat menu yang tersedia. Matanya tertuju pada sebuah piring berisi cumi hitam yang aromanya sangat menggugah selera dan tempe goreng yang masih hangat dan garing.

"Aku mau cumi hitam dan tempe goreng, Mas," jawab Relia.

Ada binar kecil di matanya; makanan sederhana ini mengingatkannya pada masa kecilnya sebelum neraka itu dimulai.

Ariel tersenyum lega melihat istrinya memiliki nafsu makan.

Ia memesankan menu tersebut dan membawanya ke meja pojok yang lebih tenang.

"Pelan-pelan makannya," ucap Ariel sambil membukakan tutup botol air mineral untuk Relia.

Relia menyuap nasi dengan tinta cumi yang gurih itu.

"Rasanya enak, Mas. Tempenya juga renyah."

Sambil memperhatikan Relia makan, Ariel menggenggam tangan istrinya di atas meja.

"Tadi itu luar biasa, Relia. Kamu berhasil menguasai dirimu saat dia mencoba memutarbalikkan fakta. Setelah ini, biarkan Mama Wahyuni yang maju sebagai saksi ahli. Dia akan menghancurkan argumen 'gangguan jiwa' yang coba dibangun Markus."

Relia mengangguk sambil mengunyah tempe gorengnya.

"Aku merasa lebih kuat sekarang, Mas. Makan cumi hitam ini seolah memberi aku tenaga tambahan untuk mendengar vonis hakim nanti."

Di tengah keramaian kantin, momen sederhana ini terasa sangat berharga.

Di satu sisi ada ketegangan hukum yang menanti, namun di sisi lain ada kehangatan kecil antara suami istri yang sedang berjuang bersama.

"Habiskan ya, setelah itu kita kembali ke dalam. Aku sudah minta Satrio untuk menyiapkan tiket ke Bali untuk lusa pagi. Jadi, pastikan hari ini kita selesaikan semuanya dengan kemenangan," bisik Ariel dengan kedipan mata yang membuat Relia tersipu.

Suasana di ruang sidang setelah istirahat terasa jauh lebih dingin.

Relia menggenggam tangan Ariel erat saat mereka kembali ke kursi mereka.

Hakim masuk dengan wajah serius, membawa tumpukan berkas yang akan menentukan nasib dua orang di kursi pesakitan tersebut.

"Berdasarkan bukti-bukti yang sah, rekaman video asli, kesaksian saksi ahli, dan fakta persidangan..." suara Hakim menggema, membuat detak jantung Relia berpacu.

"Menyatakan terdakwa Markus bersalah secara sah dan meyakinkan melakukan penganiayaan berat berencana dan percobaan pembunuhan. Menjatuhkan hukuman Penjara Seumur Hidup."

"Dan terdakwa Sarah, dinyatakan bersalah atas pembiaran dan kerja sama dalam tindak pidana, dijatuhi hukuman 15 tahun penjara."

TOK! TOK! TOK!

"TIDAK! INI TIDAK ADIL!" Markus berteriak histeris.

Wajahnya merah padam, pembuluh darah di lehernya menegang.

Kejadian selanjutnya berlangsung begitu cepat. Markus, dengan kekuatan sisa keputusasaannya, berhasil menyentak tangannya dari pegangan petugas saat akan diborgol kembali.

Entah dari mana, ia mencabut sebuah pisau kecil yang rupanya telah ia sembunyikan di balik kaus kakinya selama ini.

"JALANG! KAMU HARUS MATI BERSAMAKU!"

Markus melompat melewati pagar pembatas, mengayunkan pisau itu lurus ke arah dada Relia.

Relia mematung, matanya terbelalak melihat maut yang datang begitu cepat.

"RELIA!"

CRAKK!

Ariel tidak berpikir dua kali. Ia menarik tubuh Relia ke belakang punggungnya dan menggunakan tangannya sendiri untuk menangkis tikaman itu.

Mata pisau yang tajam itu merobek telapak tangan Ariel hingga menembus ke sisi lain.

Darah segar menyembur, membasahi jas hitam Ariel dan mengenai wajah Markus.

"Mas Ariel!" jerit Relia histeris melihat tangan suaminya bersimbah darah.

Markus yang sudah kesetanan mencoba menarik kembali pisaunya untuk menyerang lagi, namun petugas kepolisian tidak memberikan kesempatan kedua.

DOR!

"ARGHHH!" Markus jatuh tersungkur setelah sebutir peluru menembus betis kanannya.

Ia mengerang kesakitan, pisau di tangannya terlepas dan langsung diamankan petugas.

Ruang sidang menjadi kacau.

Polisi meringkus Markus yang bersimbah darah di lantai, sementara Sarah hanya bisa menjerit histeris di kursinya.

Ariel tersungkur berlutut, memegang tangannya yang terluka parah.

Wajahnya meringis menahan sakit, namun matanya tetap tertuju pada Relia.

"K-kamu tidak apa-apa, Sayang?" bisiknya dengan suara gemetar.

"Mas, tanganmu! Darahnya banyak sekali!" Relia menangis, ia merobek ujung blusnya untuk membebat tangan Ariel yang terluka.

Mama Wahyuni langsung berlari menghampiri mereka.

Sebagai dokter, ia segera mengambil alih situasi.

"Petugas! Panggil ambulan sekarang! Ariel butuh tindakan bedah!"

Di tengah kekacauan itu, Relia menatap Markus yang sedang diseret keluar oleh polisi.

Pria itu kini benar-benar hancur, merayap di lantai seperti binatang yang terluka.

Tidak ada lagi rasa takut di hati Relia, yang ada hanya kesedihan melihat Ariel terluka demi melindunginya.

"Aku tidak apa-apa, Relia," Ariel mencoba tersenyum di tengah rasa sakitnya.

"Hanya luka kecil, selama kamu selamat, ini tidak ada artinya."

1
Uthie
Awal cerita yg sudah sangat mengerikan 😰
Mundri Astuti
lagi napa ngga diborgol si, kan dah bahaya banget ...dari kemarin nafsu banget mau bunuh relia juga ..
Mundri Astuti
si Markus bener" ya, masih belum jera..miskinin sekalian dia biar ngga bnyk gaya ma ga berkutik
Mundri Astuti
usut sampe tuntas Ariel, siapa" aja dibelakang Markus yg ngebantu melrikan diri ..ringkus juga si Sarah.
mudah"an relia selamat
Herdian Arya
mungkin itu lebih baik, kalaupun lahir juga akan menderita punya bapak kelainan mental seperti Markus.
Mundri Astuti
lah relia kan belum nikah sama Markus, jatuhnya anak diluar nikah calon bayi relia, dan itu nasabnya pada ibu
my name is pho: iya kak.
total 1 replies
Herdian Arya
saking bencinya dengan Markus dan sarah pengen tak kremasi hidup hidup tuh 2 manusia iblis.
my name is pho: sabar kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!