Sandrina mendapatkan tiket liburan keliling Eropa. Ketika berada di negara Italia, dia terpisah dari rombongannya. Saat berada di sebuah gang sepi, dia melihat pembunuhan yang dilakukan oleh Alecio dan anak buahnya
Demi menyelamatkan nyawanya Sandrina pura-pura buta dan tuli. Namun, kebohongannya itu segera ketahuan oleh Patrick, kaki tangan Alecio. Dia pun menjadi tahanan kelompok mafia, "Serigala Hitam".
Saat dalam perjalanan ke markas, Alecio dan anak buahnya mendapatkan serangan mendadak dari arah yang tak diketahui. Ban mobil yang ditumpangi oleh Alecio dan Sandrina kena peluru, sehingga mereka harus pindah ke mobil yang lain. Siapa sangka mereka berdua terkena tembakan. Bukan peluru timah atau obat bius, tetapi obat perangsang.
"Kamu adalah budakku! Jadi, sudah sepatutnya seorang budak menurut kepada tuannya." -Alecio-
"Ya Allah, ampuni dosaku. Lebih baik cabut nyawanya Alecio agar aku terhindar dari zina." -Sandrina-
"Bukannya Tuan Alecio impoten? Kenapa jadi Birahi?" -Max
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Pagi di Kastil Serigala Hitam datang dengan cahaya keemasan yang menembus jendela-jendela tinggi berbingkai ukiran kuno. Tirai tebal bergoyang perlahan, membawa aroma rumput basah dan embun dari halaman luas di luar benteng.
Di dalam kamar Alecio, Sandrina mondar-mandir gelisah sejak subuh. Ia masih mengenakan kemeja kebesaran Alecio dan celana kedodoran yang diikat tali gorden. Rambutnya tergerai acak-acakan, matanya tampak lelah, namun pikirannya tajam.
Pintu kamar diketuk pelan dari luar. Sandrina langsung bersiaga seperti prajurit.
“Siapa?!”
“Marcela.” Terdengar suara lembut dari balik pintu.
Sandrina membuka sedikit pintu. Marcela berdiri di ambang, membawa sebuah kantong kain besar dengan senyum tipis.
“Your clothes,” kata Marcel singkat, meletakkannya di sofa.
Sandrina menatap kantong itu dengan curiga, lalu membukanya perlahan. Detik berikutnya mata dia berbinar. Di dalamnya ada gamis panjangnya yang bersih, jilbabnya yang sudah disetrika rapi, serta jaket tipis miliknya yang terlipat dengan hati-hati.
Sandrina menutup mulutnya, hampir terharu. “Ya Allah, akhirnya aku bisa pakai baju normal!” gumamnya lega.
“Segeralah, ganti pakaianmu!” Marcela mengangguk kecil, lalu berbalik pergi tanpa banyak bicara.
Begitu pintu tertutup, Sandrina berlari kecil ke kamar mandi. Kali ini, ia memastikan pintu terkunci rapat, dua kali putar kunci, lalu menggeser pengait tambahan.
“Biar aman, tidak mau ada mafia nyelonong lagi,” ucap Sandrina.
Air hangat mengalir dari shower, menghapus sisa dingin dan ketegangan semalam. Sandrina memejamkan mata sejenak, menikmati sensasi normal yang sudah lama tidak ia rasakan.
Setelah selesai mandi, ia keluar dengan gamis panjangnya yang bersih, jilbab rapi menutupi rambutnya, dan wajah segar. Ia berdiri di depan jendela besar, menyingkap tirai, dan melihat pemandangan di luar.
Di luar, tampak halaman luas kastil, tertata rapi, dengan jalur batu panjang yang mengarah ke gerbang utama. Namun, di sekelilingnya berdiri benteng tinggi, pos penjaga di beberapa titik, dan pria-pria berbadan tegap berjaga dengan pakaian serba hitam.
Sandrina menghela napas panjang. “Kalau aku lari dari sini ke sana, capeknya bisa setengah mati sebelum sampai gerbang,” gumamnya.
Mata gadis itu menyipit, menaksir jarak. “Tapi bukan berarti mustahil.”
Pintu kamar terbuka tanpa ketukan. Alecio melangkah masuk dengan langkah tenang,vjaket hitam tersampir di bahu, kemeja putih rapi, rambutnya masih sedikit basah. Begitu masuk, ia berhenti mendadak.
“Sandrina sudah mandi?!” batin pria itu.
Wanita itu berdiri di dekat jendela, mengenakan pakaian bersih, cahaya pagi jatuh lembut di wajahnya. Wangi aroma lembut sabun serta sampo ringan menguar di udara.
Alecio merasakan sesuatu yang tidak nyaman pada dirinya. Bukan marah, bukan takut, melainkan sensasi hangat yang menjalar di dadanya, turun perlahan ke perutnya. Tubuhnya berdesir. Rahangnya mengeras.
“Sial, kenapa cenat-cenut lagi?” batin Alecio mengumpat. Ia mengalihkan pandangan cepat, berusaha terlihat dingin.
Sandrina menoleh, langsung memasang wajah galak. “Masuk kamar orang tanpa izin lagi?! Tidak ada adab!”
Alecio berdeham. Lalu, bicara dalam bahasa Inggris, “Ini kamarku.”
Sandrina mendengus. “Terserah!”
Hening sejenak. Alecio menarik napas, mencoba mengendalikan diri. Aroma Sandrina membuat pikirannya kacau dan ia membencinya.
“Ayo sarapan,” ucapnya singkat.
Sandrina mengerutkan kening. “Untuk apa?”
“Agar kau tidak pingsan kelaparan di kastilku,” jawab Alecio datar.
Sandrina ragu, tetapi perutnya langsung berbunyi keras. Krucuk… krucuk…
Alecio meliriknya sekilas. Lalu, tersenyum mengejek. Sementara Sandrina, memalingkan wajah, pura-pura tidak dengar.
Ruang makan kastil membuat Sandrina ternganga.
Meja panjang mengkilap membentang seperti runway pesawat, kursi-kursi berukir tersusun rapi, lampu gantung kristal berkilau di langit-langit tinggi.
Pelayan berdiri di sisi dinding, koki mondar-mandir di belakang, dan Marcela berdiri anggun di ujung ruangan.
Alecio duduk di kursi utama. Sandrina duduk agak jauh darinya, tetapi masih di meja yang sama.
Berbagai hidangan disajikan di atas meja. Ada roti hangat, keju, telur, daging asap, sup krim, buah-buahan, jus segar, dan kopi hitam pekat.
Sandrina menatap semuanya dengan hati-hati. Perutnya berteriak minta diisi. Namun, wajahnya tegang. Ia memandang piring-piring itu satu per satu, curiga.
Alecio memperhatikannya dari sudut mata. “Kenapa tidak makan?”
Sandrina menggigit bibir. Ia ingin menjelaskan, tetapi bahasa Inggrisnya pas-pasan. Ia mengangkat tangan, menunjuk salah satu piring berisi daging.
“No … no … pig,” kata Sandrina terbata.
Semua orang saling berpandangan bingung.
Marcela mengerutkan kening.
Sandrina menghela napas, lalu mencoba lagi dengan gestur dramatis. Dia menunjuk perutnya, lalu menggeleng kuat. “I no eat … babi!”
Patrick yang berdiri tak jauh hampir tertawa, tetapi menahan diri. Sementara yang lainnya tercengang mengira Sandrina seorang kanibal yang makan bayi.
Alecio mengangkat alis. “Baby?”
Sandrina mengangguk mantap. “Babi, haram ... haram!” Ia membuat tanda silang dengan tangan, lalu menunjuk ke beberapa hidangan lain.
Para pelayan saling berbisik. Marcela tampak mulai mengerti, meski masih ragu.
Alecio menatap Sandrina dengan ekspresi yang sulit dibaca, antara bingung dan penasaran.
Sandrina akhirnya menyerah menjelaskan dengan kata-kata. Ia menarik piring buah-buahan ke depannya, ada apel, anggur, jeruk, dan potongan melon. Ia pun mulai makan dengan lahap, pipinya mengembang seperti hamster.
Semua orang memandangnya heran. Namun, tidak ada yang berani bersuara.
Perut Sandrina sudah tidak berbunyi lagi, tetapi mulutnya tetap bekerja tanpa henti.
Alecio memperhatikannya dalam diam. Entah kenapa, melihat Sandrina makan buah dengan wajah puas membuat sudut bibirnya hampir terangkat.
Sandrina menelan terakhir potongan apel, lalu menatap Alecio dengan mata menyipit.
“Aku tetap mau pulang,” katanya tegas, meski bahasa Inggrisnya masih belepotan.
Alecio bersandar di kursinya, menatapnya lama.
“Aku belum mengizinkanmu pergi.”
Sandrina mendengus. “Aku tidak butuh izinmu.”
Suasana tegang, namun ada percikan aneh di antara mereka.
Marcela memperhatikan keduanya dengan senyum tipis yang penuh arti. Sementara para pelayan menahan napas, menyadari satu hal, wanita cerewet yang dibawa oleh tuanya ini bukan sekadar tawanan biasa.
Sejak sarapan pagi itu, pikiran Alecio tidak pernah benar-benar tenang. Ia berdiri di dapur utama Kastil Serigala Hitam, tempat yang jarang sekali ia datangi. Dia memandangi barisan koki dan pelayan yang berjajar rapi seperti sedang menunggu keputusan pengadilan.
Di hadapannya terbentang meja panjang penuh bahan makanan, daging, keju, saus, roti, anggur, sayuran, dan berbagai bumbu khas Italia. Alecio bersedekap, wajahnya serius.
“Kalian dengar baik-baik,” ucap Alecio tegas.
Marcela berdiri di sampingnya, memegang catatan kecil. Sementara para pelayan berdiri tegak dengan telinga fokus untuk mendengarkan ucapan bosnya.
Alecio menghela napas, lalu mulai berbicara pelan tetapi jelas, seolah ia sedang membacakan strategi perang. “Wanita bernama Sandrina itu tidak boleh diberi makanan yang mengandung babi atau produk turunannya.”
Para koki saling berpandangan.
Salah satu koki mengangkat tangan ragu. “Bos, maksudnya prosciutto, pancetta, salami, semua itu tidak boleh?”
Alecio mengangguk. “Semua.”
Marcela menulis cepat di catatannya.
Alecio melanjutkan, “Juga alkohol. Tidak boleh ada minuman beralkohol di dekatnya.”
Seorang pelayan berbisik, “Berarti tidak ada anggur?”
Alecio menatap tajam. “Tidak ada.”
Suasana dapur mendadak tegang, seperti mendapat aturan baru yang rumit.
Alecio mengusap dahinya. “Sediakan lebih banyak buah, sayur, roti tanpa lemak babi, dan daging halal jika memungkinkan.”
Koki saling berbisik panik.
Marcela menatap Alecio dengan ekspresi heran. “Sejak kapan Anda peduli sedetail ini pada makanan seseorang?”
Alecio terdiam sejenak, lalu menjawab datar, “Dia tawanan penting. Aku tidak mau ada masalah.”
Marcela menahan senyum kecil, tidak sepenuhnya percaya.
Beberapa saat kemudian, Alecio sudah berada di ruang medis pribadi bersama Francisco. Ruangan itu dipenuhi peralatan modern, lemari kaca berisi botol-botol obat, dan kursi kulit hitam di tengah.
Francisco berdiri bersandar pada meja, memandang Alecio dengan alis terangkat. “Ada apa lagi?” tanyanya santai.
Alecio duduk kaku. “Masalah yang sama.”
bukan kesempitan yah di ajak nikah ntar pas sandrina mau banyak lagi alasan ini itu