NovelToon NovelToon
Dark Crown: Devil'S Bride

Dark Crown: Devil'S Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Obsesi / Roman-Angst Mafia / Menikah dengan Musuhku / Kriminal dan Bidadari
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Coldmaniac

‎"Aku tidak membelimu untuk dicintai. Aku membelimu untuk menghancurkan ayahmu."

‎Aria Vane hanyalah tumbal. Dijual oleh ayahnya sendiri untuk melunasi utang darah kepada Dante Moretti, pria paling kejam yang pernah memimpin sindikat Milan.
‎Dante tidak butuh istri. Dia butuh senjata.
‎Aria tidak butuh perlindungan. Dia butuh balas dendam.

‎Di atas ranjang yang sama, mereka saling mengincar nyawa. Namun, saat rahasia masa lalu mulai terkuak, Aria menyadari bahwa sang Iblis yang menikahinya adalah satu-satunya peluru yang ia miliki untuk bertahan hidup.

‎Satu pernikahan. Dua pengkhianatan. Ribuan peluru yang mengintai.

‎Di dunia Moretti, hanya ada satu aturan: Jangan jatuh cinta, atau kau akan menjadi orang pertama yang mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Coldmaniac, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Bayang-Bayang di Atas Cakrawala

KEDAMAIAN adalah sebuah gelas kaca yang sangat tipis; indah dipandang, namun bisa hancur hanya dengan satu ketukan yang salah.

Di pulau kecil Kythira, Yunani, waktu seolah berhenti berputar. Matahari pagi menyentuh permukaan laut Mediterania dengan kelembutan seorang ibu, mengubah air biru yang jernih menjadi hamparan berlian yang berkilau. Di balkon vila putih yang berdiri kokoh di atas tebing, Aria Moretti menghirup udara pagi yang kaya akan aroma garam laut dan bunga melati liar.

Ia mengusap perutnya yang kini sudah mulai terlihat menonjol di balik gaun katun putih yang longgar. Ada sebuah kehidupan di sana—sebuah detak jantung kecil yang menjadi simbol dari segala perjuangan dan tumpahan darah yang ia lalui di Roma setahun yang lalu. Aria merasa lebih tenang, lebih utuh, namun di balik ketenangan itu, ada sebuah insting yang tetap terjaga. Insting seorang wanita yang pernah menatap maut dan menolak untuk berkedip.

"Kau melamun lagi, cara mia."

Suara bariton yang akrab itu membuat Aria tersenyum tanpa perlu menoleh. Dante melangkah ke balkon, membawa aroma kopi hitam yang kuat dan kayu cendana. Ia tidak lagi mengenakan tuksedo kaku; hanya kemeja linen biru muda yang lengannya digulung, memperlihatkan tato naga yang kini tampak lebih pudar di bawah sinar matahari Yunani.

Dante melingkarkan tangannya di pinggang Aria, menaruh telapak tangannya yang besar di atas tangan Aria yang berada di perutnya. "Dia menendang lagi pagi ini?"

"Hanya sekali," jawab Aria, menyandarkan kepalanya di bahu Dante. "Sepertinya dia lebih tenang darimu saat seusianya."

Dante tertawa kecil, suara yang kini terdengar lebih tulus dan sering muncul dibandingkan setahun yang lalu. "Jika dia laki-laki, aku harap dia mewarisi kecerdasanmu, bukan temperamenku. Dunia tidak butuh Dante Moretti kedua."

"Dunia mungkin tidak butuh, tapi aku butuh pria yang melindungiku," goda Aria.

Mereka berdiri dalam keheningan yang nyaman selama beberapa saat, menatap kapal-kapal nelayan kecil di kejauhan. Bagi dunia luar, Dante dan Aria Moretti sudah mati dalam ledakan di Istana Kardinal atau menghilang di pegunungan Alpen. Identitas baru mereka sebagai pasangan pengusaha dari Swiss, Elias dan Anna, telah terkubur rapi di bawah lapisan birokrasi yang dibuat oleh peretas terbaik yang bisa dibeli dengan uang Moretti.

Namun, di dalam laci meja rias Aria, masih tersimpan sebuah Beretta perak yang terisi penuh. Dan di bawah tempat tidur mereka, terdapat sebuah koper berisi paspor palsu dan uang tunai dalam berbagai mata uang. Mereka tahu, pensiun bagi seorang mafia bukanlah sebuah hak, melainkan sebuah pinjaman yang bisa ditarik kapan saja oleh takdir.

Sore harinya, Dante turun ke dermaga kecil di bawah tebing untuk memeriksa perahu motor mereka. Itu adalah rutinitasnya setiap hari—memastikan jalur pelarian selalu siap. Aria tetap di vila, mencoba membaca beberapa laporan tentang yayasan sosialnya.

Tiba-tiba, suara bel pintu terdengar.

Aria membeku. Mereka tidak pernah menerima tamu. Segala kebutuhan logistik dikirim oleh Agostino melalui perantara yang berganti setiap minggu, dan mereka selalu meletakkannya di depan gerbang luar.

Aria perlahan berdiri, tangannya secara refleks meraba saku gaunnya, tempat ia menyimpan pisau lipat kecil. Ia berjalan menuju monitor keamanan di dekat pintu.

Di layar, ia melihat seorang pria berdiri di depan gerbang. Pria itu mengenakan pakaian pelayan pengantar barang yang umum di pulau itu, memegang sebuah kotak kayu kecil yang diikat dengan tali rami. Wajahnya tertutup topi, namun ia tampak sangat tenang—terlalu tenang untuk seorang kurir yang baru saja mendaki jalanan tebing yang terjal.

"Ya? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Aria melalui interkom, suaranya tetap stabil meskipun jantungnya mulai berpacu.

"Kiriman untuk Nyonya Anna," jawab pria itu dalam bahasa Yunani yang fasih, namun ada sedikit aksen Italia yang tertangkap oleh telinga Aria yang terlatih. "Sebuah hadiah dari masa lalu."

Hadiah dari masa lalu. Kata-kata itu berdentang di kepala Aria seperti lonceng peringatan.

"Letakkan di sana dan pergilah," perintah Aria.

"Saya diperintahkan untuk memastikan Nyonya menerimanya secara pribadi. Ini berisi barang pecah belah yang sangat berharga," pria itu mendongak sejenak ke arah kamera.

Aria melihat matanya. Itu bukan mata seorang kurir. Itu adalah mata yang kosong, dingin, dan penuh dengan perhitungan. Mata seorang Scorpion XIII.

Aria tidak membuka pintu. Sebaliknya, ia segera menekan tombol darurat di ponselnya yang langsung terhubung ke jam tangan Dante di dermaga.

"Dante, kita punya tamu," bisik Aria ke arah mikrofon.

Di layar, pria itu tampak tersenyum tipis, seolah ia tahu apa yang sedang dilakukan Aria. Ia meletakkan kotak itu di lantai, membungkuk hormat ke arah kamera, lalu berbalik dan berjalan pergi menuju jalan setapak hutan.

Beberapa menit kemudian, Dante muncul dari pintu belakang dengan napas yang memburu dan Glock di tangannya. Wajah kedamaiannya telah hilang, digantikan oleh topeng kematian yang selama ini ia coba kubur.

"Mana dia?" tanya Dante tajam.

"Dia sudah pergi. Dia meninggalkan sebuah kotak," Aria menunjuk ke arah layar monitor.

Dante memeriksa keamanan di sekitar vila melalui perangkatnya, memastikan tidak ada orang lain yang bersembunyi di semak-semak. Setelah merasa aman, ia keluar dan mengambil kotak itu. Ia membawanya masuk dengan sangat hati-hati, curiga jika itu adalah bom.

Dante meletakkan kotak itu di atas meja makan kayu mereka. Dengan menggunakan pisau, ia memotong talinya dan membuka tutup kayu itu perlahan.

Aria menahan napas, berdiri di belakang Dante.

Di dalam kotak itu tidak ada bom. Tidak ada kepala manusia atau ancaman fisik lainnya. Hanya ada satu benda yang tergeletak di atas kain beludru merah.

Sebuah cincin perak tua dengan ukiran gagak yang mencengkeram kunci. Cincin asli pemimpin klan Moretti yang seharusnya hancur saat Istana Kardinal meledak setahun lalu.

Di bawah cincin itu, terdapat secarik kertas dengan tulisan tangan yang sangat elegan:

> "Darah tidak pernah benar-benar kering di atas marmer, Dante. Phoenix tidak hanya bangkit dari abu, ia juga menuntut tumbal untuk setiap bulu yang terbakar. Roma merindukanmu. Dan kami merindukan... warisan yang kau bawa di dalam rahim istrimu."

>

Dante meremas kertas itu hingga hancur. Rahangnya mengeras hingga pembuluh darah di lehernya menonjol. Kemarahan yang ia tekan selama setahun meledak seketika, namun kali ini bercampur dengan rasa takut yang murni. Ketakutan akan keselamatan anaknya.

"Mereka tahu," bisik Aria, suaranya gemetar. "Bagaimana mereka bisa tahu, Dante? Kita sudah melakukan segalanya untuk menghilang."

Dante berbalik, memegang bahu Aria dengan tangan yang sedikit gemetar. "The Circle tidak pernah benar-benar mati, Aria. Aku membunuh kepalanya, tapi tubuhnya masih bernapas di bawah tanah. Mereka butuh simbol. Mereka butuh cincin ini, dan mereka butuh pewaris Moretti untuk melegitimasi kekuasaan baru mereka."

"Jadi mereka menginginkan bayi ini?" Aria memegangi perutnya, rasa mual yang bukan karena kehamilan menyerangnya.

"Mereka menginginkan kontrol," sahut Dante. "Jika mereka memiliki anak kita, mereka memiliki klan Moretti selamanya. Mereka ingin menciptakan boneka baru."

Dante berjalan menuju lemari rahasia di balik dinding ruang tamu. Ia membukanya, memperlihatkan barisan senjata dan peralatan komunikasi yang selama ini ia jaga agar tetap bersih.

"Kita tidak bisa lari lagi, Aria," ucap Dante sambil mengisi magasin senjatanya. "Jika kita lari, mereka akan terus membuntuti kita seperti bayangan. Mereka akan menunggu sampai kau melahirkan, sampai kita lengah, lalu mereka akan menerkam."

Aria menatap cincin gagak di atas meja. Cincin itu seolah-olah sedang menatapnya balik, menuntut tanggung jawab yang ia pikir sudah ia lepaskan. Ia teringat sumpah mereka di New York dan Roma.

"Apa rencana kita?" tanya Aria, suaranya kini kembali tajam. Rasa takutnya telah berubah menjadi keberanian yang dingin. "Kita tidak mungkin kembali ke Roma dengan kondisi saya seperti ini."

"Kita tidak perlu ke Roma," Dante menoleh, matanya berkilat jahat. "Kita akan menarik mereka ke sini. Ke tanah yang kita kuasai. Tapi sebelumnya, aku harus menghubungi satu-satunya orang yang mungkin tahu siapa yang memimpin faksi baru ini."

"Siapa?"

"Marco. Dia tidak pernah benar-benar berhenti bekerja di bayang-bayang. Aku memintanya untuk tetap mengawasi Roma dari jauh jika hal seperti ini terjadi."

Malam itu, pulau Kythira yang biasanya tenang terasa sangat mencekam. Angin bertiup lebih kencang, dan suara ombak yang menghantam tebing terdengar seperti langkah kaki ribuan musuh. Dante telah memasang sensor gerak tambahan di sekitar vila dan menyiapkan ranjau perimeter.

Aria duduk di sofa, memegang ponsel satelit yang baru saja diaktifkan kembali. Setelah beberapa kali nada sambung, sebuah suara yang sangat dikenal terdengar di seberang sana.

"Bos?" suara Marco terdengar sangat terkejut, sekaligus lega. "Aku sudah menunggu panggilan ini selama enam bulan."

"Marco, mereka menemukan kami," ucap Dante melalui speakerphone. "Mereka mengirim cincin kakekku ke sini."

Keheningan terjadi di seberang telepon. "Cincin itu? Itu mustahil. Aku sendiri yang melihat reruntuhan istana itu dibersihkan oleh otoritas Vatikan. Barang itu seharusnya hilang."

"Tapi itu ada di depanku sekarang," sahut Dante. "Siapa yang memimpin sekarang, Marco? Siapa yang cukup gila untuk mengejar kami ke Yunani?"

"Ada nama baru yang muncul di jalanan Roma, Bos. Mereka memanggilnya 'Il Monarca'—Sang Penguasa. Tidak ada yang tahu wajahnya, tapi dia memiliki semua sisa-sisa Scorpion XIII dan dana yang tidak terbatas. Dia sedang mengumpulkan faksi-faksi The Circle yang tersisa untuk membangun kembali Project Phoenix."

Aria angkat bicara. "Marco, apakah Il Monarca punya hubungan dengan keluarga Vane? Atau Lucchese?"

"Itu yang aneh, Nyonya. Dia justru memburu semua orang yang pernah berhubungan dengan Julian Vane. Dia seolah sedang membersihkan noda untuk memulai sesuatu yang murni. Tapi ada satu hal lagi... dia memiliki dokumen medis Nyonya. Dia tahu tentang kehamilan Anda sejak bulan ketiga."

Aria tersentak. Seseorang di klinik lokal di Kythira telah berkhianat.

"Marco, aku ingin kau datang ke sini," perintah Dante. "Bawa tim kecil yang bisa kau percayai. Kita tidak akan menunggu mereka menyerang. Kita akan menyiapkan penyambutan yang tidak akan mereka lupakan."

"Saya akan berangkat malam ini, Bos. Saya akan sampai dalam dua belas jam melalui jalur laut."

Setelah telepon ditutup, Dante mendekati Aria. Ia berlutut di depan istrinya, menaruh kepalanya di pangkuan Aria.

"Aku berjanji padamu ini akan berakhir di Roma," bisik Dante penuh penyesalan.

Aria mengusap rambut Dante. "Jangan meminta maaf, Dante. Dunia ini tidak akan pernah membiarkan kita pergi begitu saja. Tapi ingat satu hal... kita bukan lagi orang yang sama seperti setahun lalu. Kita punya sesuatu yang layak diperjuangkan sekarang."

Aria mengambil cincin gagak itu dari meja dan memasukkannya kembali ke tangan Dante. "Pakai ini. Jika mereka menginginkan pemimpin klan, berikan mereka pemimpin yang paling mereka takuti. Pakai cincin ini dan pimpinlah perang terakhir kita."

Dante mengambil cincin itu, menatapnya sejenak, lalu menyematkannya kembali di jari manisnya. Getaran kekuasaan seolah kembali mengalir ke dalam tubuhnya. Ia bukan lagi Elias sang pengusaha; ia adalah Dante Moretti.

Di kejauhan, di atas perairan Mediterania, sebuah kapal pesiar mewah sedang melaju perlahan menuju Kythira. Di atas dek kapal itu, seorang pria dengan jas abu-abu berdiri sambil memegang teropong, menatap ke arah vila putih di atas tebing.

"Target terkonfirmasi," ucap pria itu ke radionya. "Siapkan tim penyerbu. Kita tidak hanya membawa pulang cincin itu. Kita membawa pulang masa depan Moretti."

Perang untuk generasi berikutnya telah dimulai. Dan kali ini, medannya bukan lagi gereja atau pelabuhan, melainkan rumah yang mereka cintai.

1
Nida Saefullah
kerenn....
awesome moment
tekad yg 👍👍👍
awesome moment
👍👍👍
Nida Saefullah
👍💪
fitri ani
luar biasa
Coldmaniac: terima kasihhh
total 1 replies
awesome moment
blm slesekan? kpn lanjutnya?
Coldmaniac: ditunggu yaaaaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!