NovelToon NovelToon
ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Wanita perkasa / Cinta Seiring Waktu / Keluarga / Romansa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Alvaraby

"Mencintai bukan hanya soal memiliki, tapi soal memastikan duniamu tetap berputar saat kamu tak lagi ada di sana."

Canida punya segalanya: karir cemerlang sebagai penulis best-seller, suami suportif seperti Alfandy, dan dua anak yang menjadi pusat semestanya. Namun, sebuah amplop putih mengubah hidupnya menjadi nightmare dalam semalam. Vonis kanker serviks stadium lanjut datang tanpa permintaan maaf, merenggut semua rencana masa depannya.

Di tengah rasa sakit yang mulai menggerogoti tubuhnya, Nida tidak takut mati. Ia hanya takut akan satu hal: Kekosongan. Ia takut anak-anaknya kehilangan arah, dan suaminya kehilangan pegangan akidah.

Maka, Nida mengambil keputusan paling gila dan paling menyakitkan yang pernah dipikirkan seorang istri: Mencarikan calon istri untuk suaminya sendiri.

Di satu sisi, ada Anita, ipar ambisius dan manipulatif siap mengambil alih posisinya demi harta. Di sisi lain, ada Hana, wanita tulus yang Nida harap bisa jadi "pelindung surga" bagi keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Dialog Dua Hati

Matahari sore itu merayap masuk melalui celah gorden, menciptakan garis-garis cahaya yang menari di atas sprei tempat tidur Nida. Di luar, suara tawa Syauqi dan Syabila yang sedang bermain sepeda di halaman terdengar seperti musik dari dunia lain—dunia yang begitu jauh dari kenyataan yang sedang Nida hadapi di dalam kamar ini. Nida duduk bersandar pada tumpukan bantal, wajahnya yang semakin tirus tampak pucat meski ia telah berusaha memulas sedikit perona pipi. Di tangannya, sebuah amplop putih yang telah lusuh karena terlalu sering digenggam kini tergeletak pasrah.

Pintu kamar berderit pelan. Fandy masuk membawa nampan berisi bubur hangat dan segelas air putih. Wajah pria itu tampak kuyu, guratan kelelahan tercetak jelas di bawah matanya. Sejak kejadian di dapur kemarin, Fandy bersikeras untuk mengambil cuti dan menjaga Nida. Ia tidak lagi bisa dibohongi dengan alasan "maag" atau "kelelahan bekerja". Cinta yang tajam telah mengendus ada yang tidak beres di balik senyuman istrinya.

"Makan sedikit ya, Sayang? Aku yang masak sendiri," suara Fandy lembut, namun ada getaran kecemasan yang tertahan di sana. Ia duduk di pinggir tempat tidur, menyendokkan bubur dan meniupnya perlahan.

Nida menatap suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada cinta yang meluap, namun ada juga rasa bersalah yang menghujam. Ia tahu, momen ini adalah titik balik. Ia tidak bisa lagi membiarkan Fandy hidup dalam ketidaktahuan yang semu. Menunda kebenaran hanya akan memperdalam luka saat kebenaran itu akhirnya meledak.

"Mas... simpan dulu buburnya. Ada yang harus aku bicarakan," bisik Nida. Suaranya rendah namun mengandung ketegasan yang membuat gerakan tangan Fandy terhenti di udara.

Fandy meletakkan kembali sendok itu ke mangkuk. Ia menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan oksigen untuk menghadapi sebuah hantaman. "Kalau ini soal dokter, besok kita sudah punya janji dengan spesialis terbaik di Singapura, Nida. Kamu tidak usah khawatir soal biaya atau apa pun. Aku akan melakukan segalanya," potong Fandy cepat, seolah takut mendengar apa yang akan diucapkan istrinya.

Nida menggeleng pelan. Ia meraih tangan Fandy, menggenggam jemari pria itu yang terasa dingin. "Bukan soal itu, Mas. Ini soal kenyataan yang sudah tertulis." Nida menyerahkan amplop putih itu. "Ini hasil laboratorium yang sebenarnya. Aku sudah stadium empat, Mas. Karsinoma Serviks."

Ruangan itu mendadak sunyi. Detik jam dinding terdengar seperti dentuman meriam. Fandy menerima kertas itu dengan tangan gemetar. Matanya menyusuri baris demi baris kata-kata medis yang dingin dan kejam. Nida memperhatikan rahang suaminya yang mengeras, dan bagaimana air mata mulai menggenang di pelupuk mata pria yang selama ini menjadi pelindungnya.

"Ini... ini pasti salah, Nida. Laboratorium bisa keliru. Kita akan tes ulang. Kita akan ke Jerman, ke Amerika, ke mana pun!" Fandy mulai bicara dengan nada tinggi, sebuah bentuk penyangkalan yang sudah Nida duga. Fandy berdiri, berjalan mondar-mandir di kamar, mencoba mengusir kenyataan yang baru saja menghuni ruangan itu. "Kenapa kamu baru bilang sekarang? Kenapa kamu simpan sendiri, Nida? Aku ini suamimu!"

"Karena aku ingin kita tetap bahagia, Mas! Meski hanya untuk beberapa hari tambahan!" Nida ikut meninggikan suaranya, air mata akhirnya pecah. "Aku tidak takut mati, Mas. Tapi aku takut melihatmu hancur seperti ini. Aku takut melihat Syabila dan Syauqi kehilangan pegangan."

Fandy jatuh terduduk di kursi rias Nida, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya berguncang hebat. Isak tangis seorang pria yang merasa dunianya baru saja kiamat memenuhi kamar itu. Nida turun dari tempat tidur dengan sisa kekuatannya, ia berlutut di depan Fandy, memeluk lutut suaminya.

"Mas, dengarkan aku... waktu bukan lagi milik kita. Aku sudah banyak bersujud, memohon petunjuk. Dan aku sampai pada satu kesimpulan yang mungkin akan menyakitimu, tapi kumohon, berpikirlah dengan jernih demi anak-anak," Nida menjeda, menghapus air matanya sendiri. "Aku ingin mencari... aku ingin mencarikanmu istri, Mas. Seorang ibu untuk Syabila dan Syauqi sebelum aku benar-benar pergi."

Mendengar itu, Fandy tersentak. Ia menarik tangannya dari wajah, menatap Nida dengan pandangan yang mengerikan—campuran antara kemarahan, ketidakpercayaan, dan rasa sakit yang amat sangat. Ia seolah baru saja mendengar penghinaan paling kejam dalam hidupnya.

"Apa kamu bilang? Istri?" Fandy berdiri dengan kasar hingga kursi itu terguling. "Nida! Kamu anggap apa pernikahan kita selama ini? Kamu pikir aku ini pria yang hanya butuh pemuas biologis sehingga kamu bisa mencari penggantinya seperti mencari asisten rumah tangga?"

"Ini bukan soal itu, Mas! Ini soal amanah!" Nida berteriak membela diri, ia masih bersimpuh di lantai. "Syabila butuh bimbingan saat dia baligh nanti. Syauqi butuh tangan yang membimbingnya salat saat aku sudah di dalam kubur. Kamu CEO, Mas. Kamu sibuk. Kamu tidak bisa sendirian menjaga mereka dari fitnah dunia yang semakin gila ini."

"Aku tidak peduli! Aku bisa belajar! Aku bisa menyewa pengasuh terbaik, guru agama terbaik!" Fandy berteriak, suaranya pecah oleh amarah dan duka. "Tapi aku tidak bisa berbagi hatiku dengan siapa pun selain kamu, Nida! Kamu sedang menghinaku. Kamu sedang mengusirku dari hatimu bahkan sebelum Tuhan memanggilmu!"

Fandy berjalan menuju pintu, ia merasa sesak di dalam kamar itu. Namun sebelum ia keluar, suara Nida yang lirih dan bergetar menghentikannya.

"Bagaimana jika wanita itu adalah Anita Sasmira? Bagaimana jika ibumu memaksa kamu menikah dengannya saat aku sudah tidak ada? Kamu tahu bagaimana Anita, Mas. Kamu tahu dia tidak akan pernah mencintai anak-anak kita. Dia hanya mencintai duniamu. Apakah kamu tega membiarkan Syabila dan Syauqi tumbuh di bawah asuhan wanita yang hanya menganggap mereka beban?"

Fandy tertegun. Nama Anita seperti racun yang masuk ke dalam perdebatan mereka. Ia tahu ibunya memang sangat menyukai Anita dan berkali-kali memberikan sinyal agar Fandy memberikan perhatian lebih pada sepupunya itu. Namun, memikirkan pernikahan di saat istrinya sedang berjuang melawan maut terasa seperti sebuah pengkhianatan yang menjijikkan.

"Aku tidak akan menikah dengan siapa pun, Nida. Titik," ucap Fandy dingin tanpa menoleh.

"Aku akan mencarikan seseorang yang mencintai Allah lebih dari segalanya, Mas. Seseorang yang akan menjaga akidah anak-anak kita. Itu wasiatku. Itu permintaan terakhirku sebagai istrimu," Nida menangis tersedu-sedu, wajahnya menempel di lantai dingin mushola kamar.

Fandy tidak menjawab. Ia keluar dari kamar dan membanting pintu, meninggalkan Nida dalam kesunyian yang menyayat. Di luar, hujan mulai turun kembali, menghapus sisa-sisa kehangatan sore. Fandy berlari ke arah taman belakang, di bawah guyuran hujan ia berteriak melepaskan beban yang tak tertahankan. Ia merasa dikhianati oleh takdir, dan kini ia merasa dipaksa oleh cinta istrinya sendiri untuk melakukan sesuatu yang paling ia benci.

Di dalam kamar, Nida masih bersujud. Dialog dua hati itu tidak berakhir dengan kesepakatan, melainkan dengan luka baru yang menganga. Namun Nida tahu, ini hanyalah permulaan. Ia harus tetap teguh. Baginya, kebahagiaan Fandy dan masa depan iman anak-anaknya jauh lebih berharga daripada egonya sebagai seorang istri yang ingin dicintai sampai mati.

Malam itu, mereka tidur dalam satu ranjang namun terasa ada jurang yang sangat dalam memisahkan mereka. Fandy memunggungi Nida, dan Nida hanya bisa menatap punggung suaminya sambil terus merapalkan doa. Ia tahu, Fandy marah karena cinta. Dan ia pun melakukan ini karena cinta yang jauh lebih besar—cinta yang melampaui batas-batas dunia, cinta yang ingin memastikan bahwa kelak, mereka akan berkumpul kembali di surga-Nya, tanpa ada satu pun yang tertinggal karena salah asuhan di dunia.

Lampu kamar dipadamkan, namun dua pasang mata di sana tetap terjaga, menatap kegelapan dengan pikiran masing-masing. Di ujung malam, Nida membisikkan kata "Maaf" yang hanya didengar oleh malaikat, sementara Fandy menggigit bibirnya menahan isak yang tak kunjung usai. Babak baru perjuangan mereka baru saja dimulai, sebuah perjalanan mencari pengganti yang tak tergantikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!