"Hanya anak yang lahir dari Tulang wangi satu suro yang akan selamat! Istrimu, adalah keturunan ke tujuh dari penganut iblis. Dia tidak akan memberimu anak, setiap kali dia hamil, maka anaknya akan di berikan kepada sesembahannya. Sebagai pengganti nyawanya, keturunan ke tujuh yang seharusnya mati."
Pria bernama Sagara itu terdiam kecewa, istri yang telah ia nikahi sepuluh tahun ternyata sudah menipunya.
"Pantas saja, dia selalu keguguran."
Harapan untuk menimang buah hati pupus sudah. Sagara pulang dengan kecewa.
"Lang, kamu tahu tidak, ciri-ciri perempuan yang memiliki tulang wangi?" tanya Sagara.
"Tahu Mas, kebetulan kekasihku di kampung memiliki tulang wangi." jawab Alang, membuat Sagara tertarik.
"Dia cantik, tapi lemah. Hari-hari tertentu dia akan merasa seluruh tulangnya nyeri, kadang tiduran berhari-hari." jelas Alang lagi.
"Lang, kamu mau nggak?" sagara meraih bahu Alang.
"Mau apa Mas?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayang Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berdua
Menatap gambar berbingkai abu-abu berdiri di atas meja, Niken duduk merenungi keputusannya.
'Apakah, karena wajah Tuan Saga yang tampan, sehingga aku bersedia?'
'Apa karena dia kaya? Atau karena aku putus asa?'
Niken duduk menjulurkan satu kaki, sedangkan kaki satunya di tekuk.
"Melamun?"
Tangan Saga memeluknya, aroma mint menyegarkan menguar membuat Niken tak bisa berhenti menarik nafas lebih dalam.
Ia mendongak, dimana wajah segar Saga membuatnya terpesona. Sebenarnya, ini cinta, atau apa?
"Kopinya." Niken menyodorkan kopi hangat yang tadi di buatnya.
"Terimakasih." Saga meraihnya dari tangan Niken, meminumnya beberapa teguk.
"Mau makan?" tanya Niken, bahkan sekotak makanan hangat telah ia siapkan untuk Saga.
Saga tersenyum, memandangi wajah cantik Niken begitu dekat. Bulu matanya yang lentik, bibirnya yang pink alami, wajahnya yang halus, hidungnya yang mancung, tak lupa bola matanya bening menggoda.
Saga tidak tahan untuk tidak merengkuh dan menciuminya. Jarinya yang dingin setelah mandi, mulai mengusap wajah Niken dan menahannya agar tak menghindari.
"Hemph."
Ternyata Saga lebih buru-buru dari yang dia bayangkan. Tapi melihat dan merasakan seperti ini, membuatnya tak berdaya menghindar lagi.
"Imut sekali." Bisik Saga, berkata di depan bibir Niken yang basah, dia tersenyum senang.
Malu, Niken memilih menenggelamkan diri di pelukan Saga, bersembunyi di dada agar tidak terlihat lagi.
Malah membuat Saga semakin tidak bisa menahan diri. Gadis belia yang wangi, renyah dan menggoda, siapa yang tahan. Sejak awal melihat sudah membuat pikirannya tak karuan, sudah di pelukan mana mungkin di sia-siakan.
Niken memejamkan mata begitu rapat, takut dan ingin menjadi sesuatu yang menuntut.
Rasa sakit mendera meskipun sudah pernah melakukannya. Itu cukup membuat Saga amat bahagia, sulit mengendalikan diri ketika sudah tenggelam jauh ke dalam lautan berombak.
"Nanti, akan ada beberapa orang yang datang mencarimu. Kamu sudah di takdirkan menjadi gadis yang bisa membebaskan mereka dari jerat kesesatan."
Selintas bayangan masa lalu, Perempuan berusia lima puluh tahun sedang mengusap punggung tangan Niken, pelan.
"Kalau banyak, aku harus bantu siapa Bu?"
Niken yang polos itu bertanya, waktu itu berusia lima belas tahun, ia masih mengenakan seragam biru putih panjang, wajahnya yang tirus dengan mata bulat terlihat cantik alami sesuai usianya. Tapi, gurat kekhawatiran juga tampak menggelung di bola mata.
"Yang benar-benar membutuhkan pertolongan."
Istri haji Ibrahim memeluk Niken dan mengusap kepalanya yang tertutup kerudung putih.
"Mendengarnya, Niken jadi takut."
Niken membuka matanya yang terbayang masa lalu itu, ia memandangi wajah Saga yang mendamba diatasnya.
"Tuan Saga" bisik Niken, memanggil pelan.
Panggilannya, membuat Saga semakin bahagia. Ia meraih beberapa lembar tisu yang di letakkan samping.
Niken menahannya.
"Sayang?" Saga memberi kode bahwa dia sudah tak tahan lagi.
Niken membuang tisu di tangannya, menggenggam tangan Saga erat, kemudian menariknya agar tak kemana-mana.
"Aku menginginkannya." ucap Niken.
"Tid_"
Niken membungkamnya, memeluk erat dan membiarkan semua sesuai keinginan yang tidak mau melepaskan satu sama lainnya.
Sampai pada puncak yang tak terbendung, ketika gelombang dahsyat menggulung dirinya. Saga melepaskan semua yang tertahan dari waktu yang cukup lama.
Niken memeluknya erat, membiarkan diri tenggelam dalam kungkungan Saga yang gagah. Sampai laki-laki itu merasa lega dan puas.
"Sayang, jangan panggil aku Tuan lagi. Kau istriku." Bisik Saga, menciumi rambut Niken yang wangi khas, menurutnya.
"Nanti semua orang curiga." jawab Niken, mengusap punggung Saga yang basah oleh keringat.
"Memangnya, kalau orang tahu apa kamu malu?" tanya Saga, melonggarkan pelukan dan melihat wajah berkeringat Niken.
Niken menggeleng, dia tersenyum lembut, memandangi wajah Saga yang semakin tampan.
Sejenak, keduanya berpelukan erat di ranjang yang luas. Niken sendiri menatap langit-langit kamar hotel milik Saga itu.
"Sayang, kita ke dokter saja ya? Aku tidak bisa membiarkan mu mendapat masalah." bujuk Saga, ternyata ia pun sibuk dengan pikiran yang rumit.
"Kenapa?" tanya Niken, menoleh suaminya.
"Gendis tak kan membiarkan anak kita. Dia pasti akan mengejar mu nanti, dan aku tidak mau itu terjadi. Aku mau kamu aman, aku mau kamu baik-baik saja. Menemaniku seperti ini, sudah lebih dari cukup."
"Tapi aku mau." jawab Niken.
"Kau tahu itu sangat berbahaya?" tanya Saga, mengusap wajah Niken, menatapnya.
"Kalau aku bisa bagaimana?" tanya Niken.
Saga sendiri bingung, bisa atau tidak dia tidak tahu, lagipula Niken memang benar tulang wangi yang ia cari. Tapi soal simbol pembebasan Niken tidak punya.
"Kalau di luar, rasanya tidak enak." bisik Niken.
Menghentikan kebingungan Saga, pria itu jadi tersenyum mendengar bisikan Niken yang kembali menggodanya.
"Menantang ku?" Saga mengunci tangan Niken ke atas kepala.
"Aku harus bekerja." rengek Niken.
"Kau di pecat!"
"Hah!"
Di luar sana, berkali-kali Rumi melirik ruang kerja bos belum juga terbuka. Bahkan hari sudah sore pun tak ada tanda-tanda pergerakan. Dia semakin yakin, kalau Niken itu memiliki hubungan khusus dengan bos mereka.
Kita tinggalkan Saga yang sedang bersenang-senang.
Di rumah besar, Gendis turun dari mobilnya dengan kaki pincang, di sisinya Nina menopang dengan susah payah.
"Sial sekali aku, tidak biasanya seperti ini." kesal Gendis, terus menggerutu.
"Bibi?" Dewi menyapa Bibinya yang meringis.
"Kau? Ada apa?" tanya Gendis.
"Ada tamu?" ucap Dewi, menunjuk ruang tamu yang luas, ada seseorang duduk di sana.
Gendis berjalan menuju ruang tamu, melihat siapa yang datang padahal tak memiliki janji.
"Anda, siapa?" tanya Gendis, ia duduk pelan dibantu Nina.
"Oh, nyai gendis. Maaf aku datang mengganggu. Di tempat kerja mu, kau sulit sekali untuk ditemui." ucap seorang pria, memakai pakaian muslim, tampan, tapi mendatangi gendis yang merupakan paranormal.
"Duduklah." ucap Gendis, setelah menelisik laki-laki itu, ia tahu kalau penampilannya tak lebih dari hanya sebuah kemunafikan.
"Terimakasih. Aku datang tentu ingin membicarakan hal yang penting. Aku, ingin minta bantuan sekaligus menawarkan hal berharga."
Kening gendis berkerut, kira-kira apa yang berharga?
"Katakan."
Pria itu terkekeh, kemudian berkata dengan dingin. "Menghabisi kiyai Yusuf!"
Gendis terkejut, tapi melihat penampilan laki-laki munafik di depannya, dia jadi tertarik. Orang beriman yang pembohong, akan mudah di habisi, daripada orang biasa tapi imannya tulus.
"Imbalannya?" tanya Gendis.
"Sepasang janin kembar." jawab Sang ustadz.
Gendis terkekeh, merasa lucu dengan imbalan yang akan dia terima. "Kau pikir itu imbalan? Itu syarat mutlak jika ingin menghabisi orang yang kuat. Soal imbalan, lain lagi." ucap Gendis, sorot matanya dingin.
"Dia pemimpin sebuah pondok, perguruan silat, dan banyak lagi kelompok-kelompok di bawahnya. Kalau kau berhasil, sebagiannya milikmu, kau bisa melakukan praktik untuk memenuhi kebutuhan mu. Kalau uang, aku yakin kau sudah tidak membutuhkannya."
Gendis terdiam, ada rasa tertarik mendengar janji laki-laki itu.
"Kau juga akan lebih mudah mendapatkan syarat mutlak mu itu. Asrama tak hanya di huni putri atau putra, tapi bisa keduanya."
"Setuju!"
aq mlah deg2an wis semua terbongkar kan alang mau dewi tau kebusukan mu juga lang
waktu ku tolol aq ga tau yang nongol2
ku sengol2 ku kira pistol ehh ternyata nya pistol 🤭🤭🤭
gendis g bisa lagi bikin saga tunduk akhirnya cari tumbal lain dan memghabisi dgn dgn sadis krn ketahuan 👻👻👻👻👻 the mit nya laper cuuuyy
kasih mie ayam apa yaaa 🤭
jd sebenarnya siapa itu hayoo
dan gendis ohh klakuan mu sunguh iblis