Seminggu menjelang hari bahagianya, dunia Jamila runtuh seketika. Di sebuah gubuk tua di tepi sawah, ia menyaksikan pengkhianatan paling menyakitkan: Arjuna tunangannya, justru bermesraan dengan Salina, sepupu Laila sendiri. Sebagai gadis yatim piatu yang terbiasa hidup prihatin bersama kakaknya, Jamal, serta sang kakek-nenek, Engkong Abdul Malik dan Nyai Umi Yati, Mila memilih tidak tenggelam dalam tangis.
Jamila mengalihkan rasa sakitnya dengan bekerja lebih keras. Dengan kulit hitam manisnya yang eksotis dan kepribadian yang pantang menyerah, ia mencari nafkah melalui cara yang tak lazim: live streaming di TikTok. Bukan sekadar menyapa penonton, Jamila melakukan aksi nekat memanjat berbagai pohon mulai dari jambu hingga durian sambil bercengkerama dengan para followers nya
Awalnya hanya kagum pada keberanian Laila, Daren, pemuda tampan dari Eropa perlahan jatuh cinta pada ketulusan Jamila, dan berniat melamarnya, apakah Jamila menerima atau tidak ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indira MR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21. Menjadi Mualaf
Matahari mulai tergelincir ke arah barat saat Ustadz Ali tiba di teras hotel kecil tempat Daren menginap. Penampilannya bersahaja baju koko putih yang mulai pudar, sarung tenun, dan tas tasbih kecil.
Daren sudah menunggunya. Kemeja putihnya digulung hingga siku, wajahnya tak lagi memancarkan keangkuhan, melainkan raut pria yang sedang dahaga mencari tahu tentang dirinya dan Tuhannya.
"Jadi, ini Mr. Daren?" tanya Ustadz Ali dengan senyum tenang.
"Cukup Daren, Pak Ustadz," sahut Daren kaku, meski hatinya berdegup kencang. Ia mempersilakan pria tua itu duduk.
"Saya punya ribuan pertanyaan. Dan saya hanya ingin memahami sesuatu"
Ustadz Ali terkekeh pelan.
"Agama ini diturunkan untuk kaum yang berpikir, Daren. Silakan, tumpahkan apa yang mengganjal di hati"
Daren menarik napas panjang, membuka buku catatan kecilnya.
"Pertama engkong Malik bilang saya tidak boleh masuk Islam hanya karena Jamila. Tapi di dunia saya, setiap saya melakukan sesuatu harus ada target. Jika target saya adalah wanita yang saya cintai wanita yang membuat saya tidak bisa tidur setiap malam kenapa itu salah? Bukankah cinta adalah motivasi tertinggi?"
Ustadz Ali mengangguk.
"Daren, bayangkan kamu membangun gedung pencakar langit di atas pondasi pasir hanya karena ingin melihat pemandangan indah dari puncaknya. Begitu badai datang, atau pemandangan itu tak lagi indah, apa yang terjadi pada gedung itu?"
"Akan runtuh," jawab Daren cepat.
"Begitu juga iman. Jika pondasimu adalah manusia, maka saat manusia itu mengecewakanmu dan percayalah, manusia pasti mengecewakan maka Tuhanmu ikut runtuh. Islam ingin kamu membangun pondasi bersandar pada Tuhan. Jamila adalah hadiah atau bonus dari Tuhan, Daren. Bukan Tuhan."
Daren terdiam. Selama ini ia merasa bisa membeli atau menaklukkan apa pun. Namun kini, ia sadar bahwa mencintai Jamila dengan cara yang benar berarti ia harus melepaskan ego sang penakluk itu.
"Lalu soal tunduk pada Tuhan," lanjut Daren, suaranya sedikit meninggi.
"Saya mengatur pasar saham, kompetitor, bahkan jalur penerbangan. Bagaimana mungkin saya harus merasa rendah diri? Apakah menjadi muslim berarti saya menjadi lemah?"
Ustadz Ali menuangkan teh.
"Justru sebaliknya. Saat kamu hanya tunduk pada Satu Dzat yang menciptakan alam semesta, kamu tidak akan pernah lagi bisa ditundukkan oleh manusia mana pun. Kamu tidak akan takut rugi atau dihina. Menjadi hamba Tuhan berarti merdeka dari menjadi budak dunia."
Pertemuan itu berlanjut hingga larut malam. Daren belajar tentang konsep Tauhid. Ia bertanya tentang penderitaan, takdir, dan satu hal yang paling menyiksa batinnya,dosanya di masa lalu
"Ustadz, saya pernah membuang seseorang seperti sampah. Saya menghina orang dibawah saya, dengan uang saya,kekuasaan saya. Apakah Tuhan mau mendengar orang seperti saya?" tanya Daren lirih. Ada getaran penyesalan yang nyata.
"Pintu Tuhan tidak pernah tertutup Daren. Yang sering terjadi adalah manusianya yang enggan mengetuknya," jawab Ustadz Ali lembut.
Malam itu, di balkon hotel, Daren menatap hamparan sawah yang gelap. Ia teringat betapa sombongnya ia saat mendarat dengan helikopter. Kini, berdiri hanya dengan sandal jepit hotel, ia merasa begitu kecil di bawah langit luas.
Namun, di tengah rasa kecil itu, ada satu keinginan yang membara,ia ingin menjadi pria yang layak bersanding di samping Jamila di hadapan Tuhan.
Keesokan harinya, Daren berjalan kaki ke pasar desa. Ia melihat seorang ibu tua penjual kerupuk yang tersenyum tulus meski dagangannya sepi. Ia melihat petani tertawa lepas hanya makan dengan lauk sambal dan kerupuk.
"Kenapa mereka lebih tenang dari saya yang punya segalanya?" tanya Daren.
"Karena mereka tahu siapa yang menjamin rezeki mereka," jawab Ustadz Ali.
"Ketenangan tidak dijual di bursa saham Frankfurt, Daren. Itu hadiah untuk hati yang bersyukur."
Tiba-tiba, langkah Daren terhenti. Di ujung jalan, ia melihat Jamila. Gadis itu sedang membantu anak kecil yang terjatuh. Cahaya yang tulus dari hati.
Satu minggu berlalu. Jerry, asistennya, terus menelepon panik tentang rapat pemegang saham di Munich.
Daren memimpin rapat lewat video conference, masih ada hal yang ingin dia gali di Indonesia tidak sekedar melamar pujaan hatinya.
Sore itu, Daren kembali menemui Ustadz Ali tanpa buku catatan. Wajahnya bersih dari ketegangan.
"Ustadz, saya sudah merenung. Saya lelah menjadi tuhan bagi diri saya sendiri. Saya ingin masuk Islam. Bukan lagi karena Jamila. Bahkan jika Engkong Malik menikahkan Jamila dengan Harun Dubai hari ini, saya ikhlas, saya butuh Tuhan."
Air mata menetes di pipi sang CEO.
"Alhamdulillah," bisik Ustadz Ali.
"Itulah hidayah, Allah telah memberikanmu hidayah, Daren."
Kabar Daren akan bersyahadat menyebar cepat. Engkong Malik yang mendengar hal itu hanya tersenyum tipis sambil mengasah parangnya. Ia tahu, Daren telah melewati ujian.
Daren bersyahadat di masjid kecil desa, disaksikan warga Desa Suka Maju, Ia belajar berwudhu dengan air kolam yang dingin, melatih lidahnya mengucapkan huruf 'ain dan 'ha hingga berkeringat.
Malam sebelum hari besarnya, Daren menatap rumah Engkong Malik.
"Mil, aku sadar aku bahkan tidak layak menyebut namamu. Tapi biarkan aku memperbaiki diriku di hadapan Penciptaku dulu. Setelah itu, aku akan datang sebagai pria baru. Bukan Daren si kaya, tapi Daren yang takut kepada Tuhannya." gumamnya dihati.
Suasana di Masjid Al-Ikhlas sudah terasa berbeda. Masjid kayu itu biasanya hanya diisi oleh para sesepuh desa, namun pagi ini, pelataran dipenuhi warga. Mereka penasaran melihat Daren yang akan menjadi mualaf.
Daren tiba dengan berjalan kaki. Ia mengenakan baju koko putih baru pemberian Ustadz Ali dan sarung yang masih tampak kaku ia kenakan. Langkahnya pelan, matanya menunduk sebuah pemandangan yang mustahil dibayangkan oleh rekan bisnisnya di Jerman.
Di sudut belakang masjid, di balik tirai hijau pembatas jamaah wanita, Jamila duduk bersimpuh. Jantungnya berdegup tak beraturan. Ia bisa melihat bayangan Daren melalui celah kecil kain. Ada rasa sesak yang aneh di dadanya antara tidak percaya dan haru.
" Daren," suara Ustadz Ali menggema melalui pengeras suara tua masjid.
"Syahadat ini bukan sekadar syarat untuk menikahi seorang wanita, Ini adalah sumpah setia kepada Pencipta semesta. Apakah kamu siap?"
Daren mendongak. Matanya merah, bukan karena kurang tidur, tapi karena gejolak emosi yang membuncah. Ia sempat melirik ke arah tirai hijau, seolah tahu Jamila ada di sana.
"Saya siap, Ustadz. Bukan demi manusia, tapi demi ketenangan yang selama ini tidak bisa saya beli dengan uang saya," jawab Daren mantap.Ustadz Ali mulai menuntun,
"Asyhadu..."
"Asyhadu..." suara Daren bergetar.
"...an laa ilaaha..."
"...an laa ilaaha..."
"...illaallaah."
"...illaallaah!"
Saat kalimat pertama selesai, air mata Daren jatuh membasahi karpet. Lidah Jermannya yang kaku terasa tiba-tiba ringan saat mengucapkan nama Tuhan.
"Wa asyhadu..." lanjut Ustadz Ali.
"...anna Muhammadur Rasulullah."
Begitu kalimat itu tuntas, gema
"Alhamdulillah"
bersahutan dari warga desa. Daren menunduk dalam, bahunya berguncang. Ia menangis sesenggukan seperti anak kecil yang baru menemukan jalan pulang setelah tersesat puluhan tahun di belantara dunia yang kejam.
Saat Daren keluar dari masjid dengan wajah yang tampak lebih bercahaya namun sembab, langkahnya terhenti. Di gerbang masjid, sebuah mobil mewah berwarna hitam legam terparkir, kontras dengan Harun Dubai turun dari mobil. Mengenakan jas mahal dan kacamata hitam, ia berdiri menghadang jalan Daren. Di tangannya, ia memutar-mutar kunci mobil sport, seolah memamerkan kekayaannya.
"Selamat, Daren. Akting yang bagus," sindir Harun dengan tawa meremehkan.
"Tapi ingat satu hal, Islam bukan hanya soal KTP. Kamu pikir dengan begini Engkong Malik akan langsung memberikan Jamila? Kamu tetaplah pria asing"
Bersambung