NovelToon NovelToon
The Price Of Fate

The Price Of Fate

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / Action / Romansa
Popularitas:579
Nilai: 5
Nama Author: Bunga Neraka

​"Benarkah keberuntungan selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan? Dan apakah nasib buruk adalah sinonim mutlak bagi kesengsaraan?
​Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, namun memiliki daya hancur yang cukup untuk membuat manusia memalingkan wajah dalam penyangkalan. Secara insting, kita telah terprogram untuk memuja hal-hal baik sebagai satu-satunya sumber kepuasan. Sebaliknya, saat nasib buruk mengetuk pintu, manusia cenderung mendustakannya—bahkan dengan keras mendoktrin diri bahwa itu adalah 'kesialan' yang tidak seharusnya ada.

​Namun, apakah persepsi umum tersebut adalah sebuah kebenaran universal?
​Mungkin bagi sebagian besar orang, jawabannya adalah iya. Namun bagi mereka yang memahami cara kerja semesta, pandangan itu sungguh disayangkan.

Sebab di balik setiap keberuntungan yang kita rayakan, selalu ada harga yang tersembunyi. Dan di balik setiap kesialan yang kita benci, mungkin tersimpan satu-satunya jalan menuju sesuatu yang tidak kita bayangkan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Neraka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji

Ketegangan itu semakin keruh saat salah satu teman akrab Sheila melangkah maju. Ia menatap Seila dengan dahi berkerut, mencoba mencari jawaban di balik kebingungan dirinya kepada Seila.

"Sebenarnya kamu menginginkan apa, Sheil?" tanya teman itu pelan, namun kata katanya mengandung keraguan tajam. Matanya melirik sinis ke arah Andersen yang duduk terdiam. "Apakah kamu menyukai pria itu? Tidak mungkin, kan? Selera kamu tidak serendah itu, Sheila..."

Sheila terdiam. Tenggorokannya mendadak kering saat menyadari teman yang ada di depannya ini sedang menunggu jawaban dari dirinya.

"Ngg-nggak kok! Aku... aku hanya ingin mempertanyakan sikapnya!" Sheila menunjuk Margarette dengan jari yang sedikit gemetar. "Mengapa dia datang kemari dan tiba-tiba menggoda seorang lelaki di kelas tingkat bawah? Apakah kamu menyu—"

"Tidak seperti yang kamu bayangkan, Nona Sheila," potong Margarette.

Margarette menegakkan tubuhnya, melirik Andersen sekilas dengan tatapan penuh kepemilikan. "Aku tidak sedang bermain perasaan. Aku hanya melihat bakat yang luar biasa pada dirinya. Dan karena itulah, aku memutuskan untuk menjadikannya 'pedang' pribadiku. Seorang ksatria untuk kepentinganku."

Tepat saat itu, langkah kaki sang guru terdengar mendekat di koridor.

"Karena guru sudah masuk, aku akan pergi sekarang," ucap Margarette dengan nada santai seolah baru saja menyelesaikan percakapan santai.

Ia melangkah dengan anggun, melewati Sheila dan teman-temannya tanpa sedikit pun rasa bersalah. Saat tubuhnya bersisihan dengan Sheila, Margarette sempat berhenti sejenak, memberikan senyum kemenangan yang tipis sebelum benar-benar melenggang keluar pintu.

[ RUMAH NENEK ]

Setibanya mereka di rumah, ketenangan dinding kayu tua itu langsung pecah oleh rentetan protes Sheila. Begitu mereka masuk ke dalam kamar Andersen, Sheila tidak bisa lagi membendung kekesalan yang ia pendam sepanjang jalan pulang.

"Kenapa kamu diam saja tadi?!" Sheila berbalik dengan napas memburu, menatap Andersen yang sedang meletakkan tasnya di atas meja. "Kenapa kamu membiarkan wanita itu memelukmu begitu mudah di depan semua orang? Haishhh! Kalau sampai kamu memiliki hubungan serius dengannya... aku... aku benar-benar akan sangat marah!"

Andersen hanya berdiri mematung, mendengarkan setiap bait "muntahan" perasaan Sheila. Ia bisa melihat kilat amarah sekaligus kecemasan yang tulus di mata gadis itu. Perlahan, ia melangkah mendekat.

"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, Sheil," ucap Andersen dengan suara rendah yang menenangkan. "Tapi kamu tidak perlu sampai seperti itu. Jujur saja, aku pun tidak menyangka Margarette akan bertindak seberani itu di depan kelas."

Andersen mengulurkan tangannya, menyentuh pipi Sheila yang memerah karena emosi dengan jemari yang sangat lembut. Sentuhan itu seketika memotong kalimat Sheila yang berikutnya. Suasana kamar yang tadinya panas mendadak menjadi hening, hanya menyisakan suara detak jam dinding dan embusan angin musim dingin yang memukul jendela.

"Tapi aku sangat takut, Andersen..." bisik Sheila, suaranya mulai bergetar. Ia tidak memalingkan wajahnya dari sentuhan tangan Andersen.

"Bagaimana kalau dia membuatmu dalam keadaan tidak berdaya? Aku takut 'gadis' itu akan menerkammu...

"Tenang saja, Sheil... aku tidak akan kalah semudah itu," bisik Andersen, mencoba menyuntikkan keyakinan pada suara rendahnya guna meredam badai di hati gadis itu.

Sheila mendongak, menatap mata Andersen dengan sisa-sisa kekesalan yang kini bercampur dengan rasa manja. "Tuh, kan! Kalau kamu memang tidak bisa dikalahkan dengan mudah, berarti..." Sheila menggantung kalimatnya, bibirnya mengerucut kecil. "Heummm... Andersennn!"

Tanpa sadar, Sheila melangkah maju, memperpendek jarak yang tersisa di antara mereka. Ia meletakkan kedua telapak tangannya di dada bidang Andersen, merasakan detak jantung pria itu yang tenang dan stabil di balik jaket barunya. Tubuhnya bersandar ringan, mencari perlindungan dari rasa cemas yang tadi sempat membakar dadanya.

Andersen tertegun sejenak, namun kemudian ia meluluhkan ketegangannya. Ia mengangkat tangannya, membalas dekapan itu dengan usapan lembut di kepala Sheila.

"Tadi nenekmu mencarimu," ucap Andersen lembut, suaranya bergetar pelan di dekat kening Sheila. "Katanya ada sesuatu yang penting yang ingin beliau bicarakan denganmu..."

Keheningan yang nyaman menyelimuti kamar itu untuk beberapa saat. Sheila memejamkan mata, menikmati kehangatan dan rasa aman yang hanya bisa diberikan oleh "orang yang ada di depannya".

Setelah merasa emosinya benar-benar stabil dan tenang, Sheila perlahan melepaskan diri. Ia menyuruh Andersen melonggarkan genggaman tangannya yang tadi sempat mendekapnya erat.

"Aku temui Nenek dulu," gumam Sheila dengan wajah yang kini jauh lebih cerah, meski rona merah masih tertinggal di pipinya.

Ia melangkah keluar, menutup pintu kamar Andersen dengan suara klik yang halus, meninggalkan Andersen sendirian dalam keheningan kamar yang kini terasa lebih luas.

Begitu pintu tertutup dan langkah kaki Sheila menghilang, Andersen segera menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Kasur itu berderit, menopang raga yang sebenarnya masih menyimpan sisa-sisa luka pertempuran fisik dan mental. Ia menatap langit-langit kamar yang temaram, membiarkan keheningan menyerap napasnya yang berat.

"Semoga..." gumamnya lirih. Hanya kata itu yang terasa pas untuk menghadapi tantangan yang kini mulai terasa.

Beberapa hari berlalu dengan ketegangan yang kian menebal. Saat jam istirahat kembali tiba, bayangan Margarette kembali muncul di ambang pintu kelas.

Tanpa memedulikan tatapan sinis siswa lain, Margarette menghampiri meja Andersen dengan keanggunan seorang pemangsa.

"Nanti kamu harus menemaniku, ya?" bisik Margarette. Ia sedikit membungkuk, membuat aroma parfumnya kembali mengunci indra penciuman Andersen. "Saat ini aku benar-benar membutuhkanmu...

"Kita akan bertemu nanti, tepat setelah kelas selesai," lanjut Margarette pelan, nyaris seperti rahasia di antara sepasang kekasih. "Jangan terlambat, Ksatria-ku."

Tanpa menunggu jawaban, Margarette segera memutar tubuhnya dan meninggalkan kelas dengan langkah cepat. Ia bergerak lincah sebelum sosok Sheila muncul di koridor, menghindari konfrontasi lain yang hanya akan membuang waktunya.

Bel akhir pelajaran berbunyi, memicu hiruk-pikuk siswa yang bersiap pulang. Di tengah kebisingan itu, ponsel di saku Andersen bergetar. Sebuah pesan singkat muncul di layar: "Ksatria, aku sudah di depan. Jangan membuatku menunggu."

Andersen menghela napas...

Namun, tepat saat ia hendak berdiri, sebuah bayangan menghalangi langkahnya. Sheila sudah berdiri di depannya, memeluk sebuah buku teks tebal dengan ekspresi yang tampak ragu namun penuh harap.

"Euhmmm, Andersen..." Sheila berdeham kecil, matanya melirik ke arah lain sejenak sebelum kembali menatap Andersen. "Kamu... bisa bantu aku nanti? Ada beberapa tugas yang belum selesai, dan aku ingin mengerjakannya di perpustakaan selagi kelas mulai sepi. Kamu mau menemaniku, kan?"...

Andersen tertegun. Ia melirik ponselnya sekali lagi, lalu menatap wajah Sheila yang terlihat begitu tulus. Ada rasa bersalah yang menusuk...

"Baiklah, aku akan menemanimu sebentar," jawab Andersen akhirnya. Suaranya terdengar sedikit dipaksakan, meski ia berusaha memberikan senyum tipis untuk menenangkan Sheila.

Sheila tampak lega, senyumnya mengembang seketika. "Terima kasih, Andersen! Ayo, lewat sini."

1
BoimZ ButoN
anak SMA main pistol ga ada kronologis nya dlu
Ahmad Fauzan: kecuali, ada backspace yang lumayan dan sangat mempengaruhinya.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!