Hidup Xiao Chen berubah ketika sebuah kejadian misterius membuatnya terlempar ke jaman kerajaan, dengan berbekal sistem beladiri dan rasa ingin tahu ia mulai menjalani kehidupan barunya yang penuh dengan tantangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RubahPerak77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan menuju Ibukota : Pertarungan Pendekar Suci
Tangan itu memancarkan cahaya keemasan yang menghangatkan, namun tidak demikian yang dirasakan oleh Kuang Mo, karena tangan itu telah meremas pergelangan tangannya hingga tulangnya terasa hampir remuk.
Dengan cepat Kuang Mo menarik tangannya lalu mundur cukup jauh untuk menjaga jarak. Dengan terlepasnya tangan Kuang Mo, tubuh putri Qiong Hua pun jatuh.
Dengan sigap Xiao Chen memapah tubuh lemah sang putri, Xiao Chen juga menarik dengan cepat sebuah selimut dari sistem, kemudian menutupi tubuh putri Qiong Hua dengan selimut tersebut.
"Yang mulia, maaf aku datang terlambat.."
Xiao Chen memasukkan sebutir pil kedalam mulut putri Qiong Hua, lalu mengedarkan tenaga dalamnya supaya pil tersebut segera larut dan terasa khasiatnya.
Dalam waktu singkat, memar yang ada di leher dan anggota tubuh lainnya putri Qiong Hua berangsur menghilang. Putri pun tersadar dari pingsannya.
"Yang mulia, tolong tunggu sejenak disini. Karena aku harus membereskan orang tua mesum itu..!!!"
Putri Qiong Hua hanya menjawabnya dengan anggukan lemah. Xiao Chen menurunkan sang putri, dan menyuruhnya berlindung di balik sebuah batang pohon besar.
Pandangan keduanya sempat bertemu meskipun hanya sekejap, Xiao Chen segera berbalik badan dan melangkah menjauhi sang putri.
Kini kedua pendekar suci saling menatap, berkat pil pemberian peri. Xiao Chen mampu menembus tingkatan pendekar suci gerbang kedua. Sedangkan Kuang Mo masih berada di gerbang pertama.
*****
Jika tingkatan kultivasi dibawah pendekar suci memakai 3 tahapan (awal, menengah dan puncak) maka untuk tingkatan pendekar suci tidak seperti itu.
Saat seorang kultivator ingin menerobos ke tingkatan pendekar suci, maka ia harus melewati salah satu tahapan paling berbahaya. Yaitu melewati titian kematian.
Mereka harus mengolah kekuatan jiwa dan raga mereka dalam satu waktu, kemudian di akhir terobosan mereka harus bertarung melawan ego mereka, hasrat mereka dan nafsu mereka. (Seringnya berwujud mirip dengan mereka, atau dalam kata lain mereka melawan diri mereka sendiri.)
Dan saat semua itu bisa mereka lewati, maka penyatuan tubuh, jiwa dan energi akan menciptakan sebuah ikatan suci, sebuah kekuatan yang sulit di gambarkan. Begitu murni dan suci.
Pendekar suci memiliki 7 tingkatan atau gerbang yang harus mereka kuasai, atau buka. Setiap kali mereka berhasil menerobos atau membuka gerbang, kekuatan yang berlipat lipat menanti. Hingga di puncak gerbang, sebuah kekuatan yang hampir menyerupai kekuatan dewata menanti.
Ketujuh gerbang itu adalah Gerbang pembuka, gerbang penyembuhan, gerbang kehidupan, gerbang kematian, gerbang batas, gerbang kelahiran, dan gerbang kesengsaraan. Adapun gerbang ke delapan adalah gerbang yang menghubungkan seorang pendekar suci dengan kekuatan besar yang bisa mereka miliki setelah berhasil membukanya, gerbang tersebut adalah gerbang bumi.
Kultivator yang berhasil melampaui tingkatan pendekar suci disebut kultivator bumi, dan tingkatan diatasnya adalah gerbang langit, dan mereka yang berhasil menapaki tingkatan ini sering dianggap sebagai manusia dengan kekuatan setengah dewa atau kultivator langit.
******
BLAAAAARRRRRR...
Benturan dua kekuatan dahsyat membuat area sekitar hancur lebur, Xiao Chen melesat memburu Kuang Mo yang mundur dengan kecepatan tinggi.
Dengan seni naga, langkah bayangan naga. Xiao Chen memperpendek jarak, hingga ketika jarak keduanya hanya sekitar lima kaki, Xiao Chen mengeluarkan salah satu teknik tertinggi dari kitab naga langit.
"Seni Naga Langit, Naga membelah Nirwana.."
Sebuah gelombang energi yang begitu besar menghantam tubuh Kuang Mo hingga menimbulkan suara menggelegar.
KABOOOOOMMMMM...
Tubuh Kuang Mo tergeletak ditanah, pakaiannya terkoyak dan darah keluar dari setiap lubang di tubuhnya.
"Xixixixixi.. Tak pernah terpikir olehku, tiba juga waktunya untukku menggunakan pil setan ini..!!!"
Kuang Mo menelan sebuah sebuah pil berwarna hitam pekat dengan aroma yang membuat mual siapapun yang berada di dekatnya.
"Itu..??"
Sistem mendeteksi bahwa pil tersebut adalah pil pembalik neraka, sebuah pil terlarang yang mempunyai efek samping sungguh mengerikan.
Siapapun yang mengkonsumsi pil pembalik neraka akan mendapatkan energi berlipat ganda secara onstan, namun bayarannya terlalu mahal, bukan hanya kelumpuhan sementara layaknya pil yang dikonsumsi Xiao Chen, melainkan cacat permanen. Dantiannya akan hancur, urat dan ototnya akan putus dan melemah.
"Hanya orang yang sudah putus asa saja yang akan menelan pil seperti itu.." Gumam Xiao Chen.
BOOOOOMMMMMM...
Terdengar ledakan tertahan, Kuang Mo berhasil membuka paksa gerbang kedua berkat pil pembalik neraka. Energi Kuang Mo meluap-luap, semua lukanya sembuh dan kini mereka berdua seimbang dalam hal tingkatan kekuatan.
"Kali ini kau benar-benar akan mati..!!!" Ucap Kuang Mo yang mirip seperti desisan ular.
Xiao Chen memilih diam dan tidak membalas perkataan Kuang Mo, ia sadar jika saat ini dirinya dalam kondisi yang tidak menguntungkan.
"Hanya tersisa dua menit sebelum efek pil ini menghilang."
Udara di sekitar mereka mendadak berat, seolah oksigen dihisap habis oleh tekanan energi yang meluap dari tubuh Kuang Mo.
Dengan aura merah pekat yang menyelimuti sekujur tubuhnya, Kuang Mo menerjang. Langkah kakinya menghancurkan lantai batu di bawahnya, menciptakan retakan menjalar dalam sekejap mata.
"MATIII kau...!!!!"
Sebuah pukulan bertenaga penghancur gunung melesat ke arah dada Xiao Chen.
Xiao Chen tidak menghindar. Ia sadar, dalam kondisi ini, lari hanya akan membuang energi.
Xiao Chen menyilangkan kedua tangannya, memusatkan seluruh tenaga dalamnya untuk membentuk sebuah perisai transparan.
DHHHUUUAAAARRRR...
Benturan itu menciptakan gelombang kejut yang menghempaskan debu dan puing ke segala arah.
Xiao Chen terseret mundur hingga belasan meter, tumitnya meninggalkan bekas dalam di tanah.
Tangan Xiao Chen gemetar hebat, mati rasa. Namun, ia melihat celah, wajah Kuang Mo mulai memucat, pembuluh darah di keningnya menonjol seolah siap meledak, efek samping pil itu mulai menggerogoti dari dalam.
Kuang Mo semakin gila. Ia menyerang membabi buta dengan kecepatan yang hampir tak kasat mata. Pukulan, tendangan, dan hantaman energi bertubi-tubi mendarat di pertahanan Xiao Chen.
Xiao Chen terpaksa memuntahkan darah segar, namun matanya tetap tajam, mengunci setiap gerak-gerik lawan.
"Satu menit..." Bisik Xiao Chen dalam hati, menghitung detak jantungnya sendiri yang berpacu liar dengan waktu.
Tiba-tiba, Kuang Mo melompat tinggi ke udara. Ia menyatukan kedua tangannya, membentuk bola energi hitam kemerahan yang berderak dengan petir destruktif.
Ini adalah serangan terakhir, seluruh sisa hidupnya ditaruhkan dalam satu pukulan ini.
"Jurus Penghancur Jiwa, Gerbang Neraka.."
Dunia seakan melambat. Xiao Chen memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam yang terasa panas di paru-parunya.
Xiao Chen melepaskan seluruh tenaga dalamnya, kuda-kudanya telah siap, ia tidak lagi menahan energi, melainkan membiarkan energinya mengalir mengikuti arus serangan lawan, salah satu teknik tertinggi dari kitab naga langit.
Saat bola energi raksasa itu menyentuh ujung jarinya, Xiao Chen memuntir tubuhnya dengan gerakan sirkular yang halus namun mematikan. Ia meminjam kekuatan ledakan Kuang Mo untuk menambah daya hantam serangannya sendiri.
"Seni Naga Langit, Tapak Naga melawan Samsara.."
Cahaya putih menyilaukan keluar dari telapak tangan Xiao Chen, membelah kegelapan merah milik Kuang Mo. Suara dentuman yang jauh lebih keras dari sebelumnya mengguncang tempat itu.
BLLLLAAAAAARRRRRRR....
Pepohonan hancur diterjang oleh dahsyatnya ledakan dua energi yang saling menghancurkan, setelah itu, area sekitar ledakan membentuk sebuah kawah lebar.
Debu perlahan turun, memperlihatkan Kuang Mo yang berdiri mematung, hanya berjarak satu inci dari dada Xiao Chen. Tangannya masih mengepal, namun tidak ada lagi kekuatan di sana. Perlahan, retakan muncul di kulit Kuang Mo, bukan karena luka pukulan, melainkan karena Dantian-nya yang hancur berkeping-keping akibat efek dari pil pembalik neraka.
"Kau... benar-benar... gila..." Desis Kuang Mo parau, sebelum akhirnya matanya kehilangan cahaya dan tubuhnya tumbang seperti pohon tua yang lapuk.
Xiao Chen terhuyung, jatuh terduduk di samping lawan yang baru saja ia kalahkan. Ia terengah-engah, menatap tangannya yang kemerahan layaknya terkena luka bakar.
Ia menang, namun kondisinya saat ini juga tidak bisa dibilang baik. Xiao Chen merangkak, mencoba kembali ke tempat dimana sang putri berada, akan tetapi untuk menggerakkan kaki saja rasanya butuh tenaga yang begitu besar.
DEEEEGGGGHHHHH..
Jantung Xiao Chen seolah berdetak keras, ia sadar bahwa efek pilnya telah habis. Perlahan matanya mulai sayup dan menjadi sangat berat.
Tiba-tiba saja Xiao Chen merasakan sebuah pelukan yang lembut memapahnya dan menyandarkan kepalanya pada tumpukan dedaunan.
"Apa kau baik-baik saja??"
Rupanya yang memeluknya barusan adalah sang putri Qiong Hua, tuan putri terlihat baik-baik saja. Hal itu membuat Xiao Chen tersenyum tenang.
"Pendekar, terima kasih karena sudah menolongku..sekarang istirahatlah terlebih dahulu.." Putri Qiong Hua bicara dengan nada yang menenangkan jiwa.
"Sebelum itu, aku punya permintaan putri.."
"Apa itu..? Katakanlah.."
"Jika ada yang bertanya tentang sosok yang mengalahkan Kuang Mo, tolong katakan anda dibantu oleh sosok kultivator misterius yang berilmu hebat.." Ucap Xiao Chen dengan terpatah-patah karena menahan rasa lelah yang teramat sangat.
"Baiklah, aku tidak tahu apa maksudmu.. Tapi aku akan melakukannya.."
"Te.. Terima.."
Xiao Chen bahkan tidak sempat melanjutkan ucapannya, pemuda berusia 20 tahunan itu sudah kehilangan kesadarannya.
Tak berselang lama, kelompok pasukan khusus menemukan lokasi tuan putri dan membawanya untuk kembali berkumpul bersama rombongan lainnya yang tersisa, sedangkan Xiao Chen yang masih belum siuman, dengan perintah dari tuan putri Qiong, pasukan khusus memperlakukannya dengan sangat baik dan hati-hati.