"Ini cek satu miliar. Tapi serahkan putri mu." Dexter.
Dexter yang dikenal dingin terhadap perempuan. Tapi tertarik pada seorang gadis yang ditemuinya.
Dengan caranya sendiri, dia memaksa untuk menikahi gadis itu. Bahkan tidak segan-segan memberikan cek senilai satu miliar.
"Pa, aku tidak ingin menikah dengan pria tua dan cacat." Wilona.
Sementara gadis yang diincar Dexter adalah Kiandra. Seorang gadis yang memiliki identitas ganda.
Siapa gadis itu sebenarnya? Apa yang istimewa dari gadis itu sehingga membuat Dexter tertarik? Bahkan rela mengeluarkan uang sebanyak itu untuk mendapatkan gadis itu.
Kalau penasaran baca yuk.
Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Tidak ada kaitannya dengan kehidupan nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pa'tam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
"Tante pemilik toko ini?" tanya Kiandra sambil memegang baju yang ingin di belinya.
"Pilihan Nona bagus, ini model terbaru di toko kami," kata Arsy tanpa menjawab pertanyaan Kiandra.
Kiandra mengangguk, dia semakin yakin jika wanita didekat nya ini adalah pemilik toko ini.
Kiandra hendak mengambil baju yang lain, namun Arsy segera membantunya. Kiandra dengan cepat menolak, karena tidak ingin merepotkan orang lain.
"Tidak apa-apa Nona, ini memang sudah menjadi tugas kami melayani pelanggan. Apalagi Nona adalah pelanggan VIP," kata Arsy. "Oh iya, kalau boleh tahu, siapa nama Nona?" tanya Arsy.
"Kiandra Tante," jawab Arsy. "Suamiku yang memberikan kartu khusus, katanya dengan kartu ini aku bisa belanja apapun secara gratis," ungkap Kiandra.
"Oh. Nona sangat beruntung, pasti suaminya orang kaya, ya?"
"Maaf Tante, aku tidak bisa cerita banyak tentang suamiku," jawab Kiandra sambil menoleh sebentar ke arah suaminya.
"Apa yang sedang mamamu lakukan?" tanya Zio pada Dexter.
"Aku harus mencegah mama, jangan sampai mama membuat Kiandra merasa tidak nyaman," kata Dexter tanpa menjawab pertanyaan Zio.
"Biarkan saja, mungkin mamamu sedang pendekatan dengan istrimu tanpa mengungkapkan statusnya," kata Zio. "Kita lihat saja, tidak mungkin mamamu berbuat yang tidak-tidak." Zio menambahkan.
Dexter hendak bangkit dari duduknya, namun segera ditahan oleh Zio. Dexter khawatir jika mamanya tidak menyukai gadis pilihannya.
Setelah selesai berbelanja, Kiandra mengucapkan terima kasih kepada Arsy dan pegawai kasir.
"Mau beli yang lain?" tanya Arsy.
"Cukuplah Tante, aku juga tidak butuh apa-apa lagi," jawab Kiandra.
"Ayolah, biar Tante temani kamu berbelanja," kata Arsy.
"Apa tidak merepotkan? Takutnya nanti Tante dipecat, zaman sekarang sangat sulit untuk mencari pekerjaan," kata Kiandra.
Arsy hanya tersenyum. Dengan santai dia menggandeng tangan Kiandra, tanpa menghiraukan Dexter dan Zio yang masih duduk di sofa.
"Wilona, bukannya itu kakak mu ya? Tapi kok bersama nyonya Arsy?" tanya teman Wilona.
Wilona memperhatikan kedekatan Kiandra bersama Arsy. Sementara di belakangnya ada Zio dan Dexter.
"Iya, baru aku ingat. Pemuda tadi itu tuan muda keluarga Henderson. Aduh, habislah kita, kita sudah menyinggung mereka," kata temannya yang lain.
"Kenapa tidak bilang-bilang sih? Kalau aku tahu, aku yang akan menggaet cowok itu," ujar Wilona.
Wilona menghampiri Arsy dan Kiandra yang sedang berjalan. Langkah mereka terhenti ketika Wilona menghadangnya.
"Tante tunggu." Wilona dengan percaya diri menghampiri Arsy dan Kiandra. Zio dan Dexter yang berada di belakang mereka juga berhenti. Namun masih berjarak sekitar lima meter.
"Kamu?" Arsy memicingkan matanya.
"Aku Wilona Tante, dia kakak ku, dia sudah menikah dengan pria dan lumpuh," jawab Wilona sambil menunjuk Kiandra.
"Lalu, apa maksudnya mengadu kepadaku?" tanya Arsy.
"Tante, Tante jangan tertipu olehnya. Kakakku itu baru datang dari desa dan tidak tahu apa-apa. Takutnya Tante dimanfaatkan olehnya," jawab Wilona.
Kiandra hanya terdiam, dia tidak mau menjelaskan semuanya. Yang penting, suaminya percaya kepada-nya.
Sementara Arsy hanya tersenyum, kemudian menoleh ke belakang melihat reaksi putranya. Arsy yakin, jika pilihan putranya tidak akan salah.
"Maaf, aku suka sama dia. Apa ada masalah?" tanya Arsy.
"Tante, percaya padaku, jangan sampai Tante menyesal dikemudian hari," jawab Wilona.
"Jangan menggurui ku, aku lebih tahu menilai orang. Mana yang tulus dan mana yang bermuka dua?" ujar Arsy. "Ayo sayang," kata Arsy lalu menggandeng tangan Kiandra.
Kiandra tersenyum tipis, kemudian berjalan dan dengan sengaja menabrakkan pundaknya ke pundak Wilona, sehingga Wilona sedikit terhuyung.
Sementara kedua teman Wilona sudah takut-takut. Karena Wilona sudah berani memprovokasi nyonya dari keluarga Henderson.
"Tante ini ibunya Dexter?" tanya Kiandra.
"Kamu sudah tahu?" tanya Arsy balik.
Kiandra menoleh ke Dexter, dilihatnya Zio dan Dexter cukup mirip. Jadi Kiandra pun merasa curiga.
Arsy memegang tangan Kiandra. "Panggil mama," kata Arsy.
Kiandra tersipu, lalu mengangguk. Tadinya dia berpikir, jika wanita yang dipanggilnya tante itu benar-benar pegawai di toko itu.
"Ma, Kiandra sama aku saja," kata Dexter saat berdekatan dengan Arsy.
"Enak aja, Kiandra hari ini dengan mama, lain kali baru dengan kamu," kata Arsy.
Dexter sebenarnya ingin menghindari kedua orang tuanya. Dan belum saatnya memperkenalkan Kiandra kepada keluarganya.
Kiandra tidak bisa berkata apa-apa. Sumpah demi apapun, dia menjadi canggung, karena yang bersamanya ternyata adalah mertuanya.
"Jangan sungkan, beli apapun yang kamu inginkan," kata Arsy.
"Tapi Tante, eh Ma. Ini saja sudah cukup," kata Kiandra.
Arsy tersenyum. Namun dia tetap membawa Kiandra masuk kesebuah toko yang lain. Berbagai barang yang dibeli oleh Arsy untuk Kiandra.
Sedangkan dari kejauhan, Wilona mengepalkan tangannya kuat. Dia merasa iri dengan Kiandra yang selalu beruntung. Bahkan, nyonya dari keluarga Henderson seperti memanjakannya.
"Sial! Kenapa Kiandra selalu beruntung? Bahkan Tante itu juga tidak menggubris perkataan ku," gumam Wilona.
Kedua teman Wilona tidak mau ikut campur. Keduanya memilih berbelanja tanpa menghiraukan Wilona yang terus membuntuti Kiandra.
Sedangkan yang dibuntuti nya lagi asyik berbelanja. Lama-lama, Wilona pun menyerah juga dan segera pergi dari situ.
"Sudah cukup Ma, ini sudah kebanyakan," kata Kiandra.
"Tidak apa-apa sayang, Dexter tidak mungkin membelikan semua ini untukmu," kata Arsy.
"Ma, aku tidak ada waktu untuk berbelanja. Lebih baik kasih uangnya saja," kata Dexter.
Setelah selesai berbelanja, mereka pun berencana untuk pulang. Namun ponsel Kiandra berdering, Kiandra pun minta izin untuk sedikit menjauh untuk menjawab telepon.
"Halo."
"Halo Boss, tempat kita diserang."
"Apa?! Bagaimana bisa?"
"Boss tenang saja, kami akan mengatasi semuanya."
Kiandra hendak bicara lagi, namun panggilan telepon sudah terputus secara sepihak. Kiandra menyimpan kembali ponselnya dan segera menghampiri Dexter dan keluarganya.
"Maaf Ma, Pa, Dexter, aku ada urusan. Tolong pinjam mobilnya sebentar," ucap Kiandra.
"Aku ikut," kata Dexter.
"Kami juga ikut," kata Arsy dan Zio bersamaan.
Kiandra merasa tidak enak untuk melibatkan keluarga suaminya. Juga, dia tidak ingin identitasnya terbongkar. Bisa-bisa dia dibenci oleh keluarga suaminya. Begitulah pemikiran Kiandra.
Tanpa Kiandra tahu, suaminya juga ketua dunia bawah. Setelah kejadian waktu itu, Dexter memimpin kembali kelompok mereka yang sempat bubar.
"Tidak usah, aku bisa atasi semuanya," kata Kiandra.
"Ayo," ajak Arsy tanpa menghiraukan perkataan Kiandra.
Kiandra tidak dapat menghentikan mereka. Bahkan ibu mertuanya terlihat antusias dan tanpa ragu menarik tangan Kiandra pelan.
"Biar aku yang menyetir," kata Dexter ketika mereka sudah berada di parkiran.
Kiandra yang hendak masuk ke dalam mobil dibagian kemudi pun tidak jadi. Mobil pun bergerak perlahan keluar dari parkiran. Kemudian melaju setelah keluar dari parkiran.
Sementara mobil yang dikendarai Zio juga melaju menyusul mobil di depannya. Melihat kegelisahan Kiandra, Arsy dan Zio langsung mengerti, jika telah terjadi sesuatu yang tidak bisa dianggap enteng.