Lima tahun Hana Ayunindya mengabdi sebagai istri sempurna bagi Arlan Mahendra. Namun, cinta saja ternyata tidak cukup untuk mengisi rahim yang masih sunyi. Di bawah tekanan keluarga dan ego yang terluka, Arlan menjatuhkan vonis paling kejam. Ia akan menikah lagi.
Maura hadir bukan hanya untuk memberikan keturunan yang didambakan Arlan, tapi juga untuk perlahan menggeser posisi Hana di rumah yang ia bangun dengan air mata. Hana mencoba ikhlas, mencoba menelan pahitnya dipoligami, hingga ia menyadari bahwa keikhlasan tanpa batas hanya akan membuatnya hancur tak bersisa.
Di tengah puing-puing hatinya, Hana memutuskan untuk bangkit dan menemukan kembali jati dirinya yang hilang. Saat itulah, Adrian Gavriel hadir dan menunjukkan bahwa Hana layak dicintai tanpa syarat.
Ketika Hana mulai berpaling, mampukah Arlan merelakannya? Ataukah penyesalan datang saat pintu hati Hana sudah tertutup rapat?
Kita simak kisah selanjutnya yuk di Karya => Bukan Istri Cadangan.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Gedung Mahendra Group menjulang angkuh di pusat distrik bisnis, namun di dalam ruangan CEO yang luas, suasananya terasa mencekam.
Arlan duduk di balik meja mahoninya yang besar, namun matanya tidak tertuju pada tumpukan berkas di hadapannya. Ia hanya menatap hampa ke arah jendela kaca yang menampilkan cakrawala Jakarta.
Wajahnya yang lebam, dengan sudut bibir yang sedikit robek, membuatnya tampak seperti panglima perang yang baru saja dipukul mundur.
Setiap kali ia mencoba menggerakkan rahangnya, rasa nyeri berdenyut mengingatkannya pada pukulan Adrian Gavriel, dan yang lebih menyakitkan, pandangan jijik yang dilemparkan Hana kepadanya.
Tok ... Tok ...
Pintu terbuka pelan. Sekretarisnya, seorang wanita muda yang tampak gemetar melihat kondisi wajah bosnya, masuk dengan membawa agenda.
"Pak Arlan ... ini mengenai rapat koordinasi dengan para pemegang saham untuk proyek minggu depan ..."
"Tunda," potong Arlan pendek. Suaranya serak dan tidak terbantah.
Sekretaris itu mengerutkan dahi. "Tapi Pak, ini menyangkut dana likuiditas yang sempat terhambat ..."
"Saya bilang tunda, ya tunda!" bentak Arlan tiba-tiba. Tangannya menggebrak meja hingga pulpen di atasnya meloncat. "Geser semuanya ke minggu depan. Saya tidak ingin bertemu siapapun hari ini!"
"B-baik, Pak. Saya permisi." Sekretaris itu mundur teratur, nyaris tersandung kakinya sendiri karena ketakutan.
Arlan kembali terhempas ke sandaran kursinya. Ia memijat pangkal hidungnya. Dunianya yang selama lima tahun ini terasa sangat terkendali, kini berantakan. Ia baru menyadari bahwa selama ini Hana adalah perekat tak terlihat yang menjaga semuanya tetap pada tempatnya.
Hana yang mengatur jadwalnya, Hana yang mengingatkannya minum vitamin saat ia stres, Hana yang memastikan rumah adalah tempatnya beristirahat. Tanpa Hana, ia merasa seperti mesin yang kehilangan pelumasnya, berderit, panas, dan hampir meledak.
Ia tidak boleh membiarkan Hana lepas. Bukan karena ia tiba-tiba mencintainya dengan tulus, melainkan karena ia tidak bisa membiarkan harga dirinya diinjak oleh Adrian Gavriel. Hana adalah miliknya. Properti miliknya.
Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia merogoh ponselnya dan menekan satu nama.
"Dani, ke ruangan saya sekarang."
Sepuluh menit kemudian, Dani, sahabat sekaligus asisten kepercayaan Arlan, masuk ke ruangan. Dani tertegun melihat wajah Arlan. Sebagai orang yang tahu sisi gelap perselingkuhan Arlan, Dani paham betul bahwa Arlan sedang dalam masalah besar.
"Gila, Ar. Lu beneran dihajar sama Gavriel?" tanya Dani sambil duduk di sofa ruang kerja Arlan tanpa menunggu instruksi.
Arlan mendengus, tidak ingin membahas kekalahannya. "Gue butuh cara, Dan. Gimana caranya bikin Hana balik. Dia nggak mau angkat telepon gue. Dia punya perlindungan dari Gavriel sekarang."
Dani terdiam sejenak, menimbang-nimbang. "Ar, sejujurnya, lu udah keterlaluan. Lu bawa Maura ke rumah lu, lu hina Hana di depan keluarga lu. Sekarang lu berharap dia balik cuma gara-gara lu babak belur?"
"Gue nggak butuh ceramah!" bentak Arlan. "Gue butuh strategi. Ibu udah nggak tahan di rumah. Maura... dia bahkan nggak tahu gimana caranya bikin kopi yang bener. Gue bisa gila kalau begini terus."
"Kalau gitu, pakai cara yang paling sensitif buat Hana," saran Dani dengan nada licik. "Hana itu orangnya perasa. Pakai alasan kesehatan nyokap lu, tapi jangan cuma omongan. Lu harus bikin itu kelihatan nyata. Atau... lu mainkan kartu Maura. Bikin seolah-olah Hana yang jahat karena membiarkan wanita hamil menderita. Tekan dia lewat rasa bersalahnya."
Arlan terdiam. Matanya menyipit. "Rasa bersalah... Ya, Hana selalu punya hati yang terlalu lembut untuk orang lain."
"Tapi hati-hati, Ar," Dani mengingatkan. "Gavriel bukan lawan sembarangan. Dia punya intelijen yang lebih kuat dari kita."
Pemandangan yang benar-benar berbeda terjadi di sebuah restoran Prancis bergaya modern, hanya lima menit dari gedung Gavriel Corp. Sinar matahari siang menyentuh permukaan gelas kristal di atas meja, menciptakan pendaran cahaya yang cantik.
Hana tertawa lepas. Sebuah tawa yang renyah, tulus, dan belum pernah terdengar selama lima tahun terakhir. Di depannya, Adrian baru saja menceritakan pengalamannya saat pertama kali belajar memasak di London yang berakhir dengan pemadam kebakaran mendatangi apartemennya.
"Jadi kau benar-benar membakar seluruh dapurnya hanya karena ingin membuat souffle?" tanya Hana di sela tawanya, sambil menyeka air mata kecil di sudut matanya.
Adrian tersenyum tipis, sebuah senyum langka yang hanya ia tunjukkan pada segelintir orang. "Aku terlalu ambisius dengan suhunya. Tapi setidaknya sekarang aku tahu bahwa api dan aku bukan kombinasi yang bagus di dapur."
Hana menggeleng-gelengkan kepalanya. "Dan sekarang kau adalah CEO salah satu perusahaan properti terbesar, tapi kalah oleh sebuah souffle. Itu sangat tidak adil bagi reputasimu."
"Reputasiku sudah aman selama kau tidak menceritakannya pada tim legal kita, Hana," canda Adrian. Ia menatap Hana dengan intensitas yang berbeda. "Senang melihatmu tertawa seperti ini. Kemarin malam... aku sempat khawatir tawa ini akan hilang selamanya."
Hana terdiam sejenak, menyesap jus jeruknya. "Aku juga mengira begitu. Tapi saat aku terbangun pagi ini dan menyadari bahwa tidak ada yang berteriak meminta pelayanannya disiapkan, aku merasa... merdeka. Aku merasa seolah-olah beban seberat gunung sudah diangkat dari pundakku."
"Kau pantas mendapatkannya. Kau bukan pelayan siapapun, Hana. Kau adalah wanita paling kompeten yang pernah kutemui dalam bisnis ini," ujar Adrian serius.
Hana merasakan pipinya sedikit memanas. Pujian Arlan selama ini hanyalah tentang betapa baiknya ia mengurus rumah, tapi Adrian memujinya sebagai seorang profesional.
"Terima kasih, Adrian. Omong-omong, soal berkas yang disiapkan tim legal pagi tadi... aku sudah memeriksanya. Ada beberapa celah di pembagian aset Mahendra Group yang bisa kita gunakan."
Adrian mengangguk, namun ia meletakkan garpunya. "Hana, siang ini jangan bicara bisnis dulu. Nikmati makananmu. Dunia tidak akan runtuh jika kita berhenti menjadi ambisius selama satu jam."
Hana tertegun, lalu tersenyum manis. "Kau benar. Aku terlalu terbiasa harus selalu siaga setiap saat."
Suasana di meja itu begitu hangat. Mereka berbincang tentang banyak hal, seni, perjalanan, hingga buku-buku favorit. Hana merasa seolah ia sedang menaklukan dunia. Bukan dengan kekerasan atau paksaan, tapi dengan cara merebut kembali haknya untuk bahagia.
Namun, di tengah tawa mereka, ponsel Hana yang diletakkan di atas meja bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal, namun Hana tahu persis siapa pengirimnya dari gaya bahasanya.
"*Hana, Mama jatuh pingsan tadi siang. Tekanan darahnya sangat tinggi. Aku tahu kamu benci aku, tapi tolong... demi Mama, datanglah ke rumah sakit*."
Senyum Hana perlahan memudar. Bahunya yang tadi rileks, kini kembali menegang. Adrian menyadari perubahan raut wajah itu seketika.
"Dari dia?" tanya Adrian, suaranya kembali dingin.
Hana mengangguk pelan, menyerahkan ponselnya pada Adrian. Adrian membaca pesan itu dengan cepat, lalu mendengus sinis.
"Ini pola yang klasik, Hana. Menggunakan orang tua sebagai tameng saat dia merasa terdesak. Kau percaya Ibu Mira benar-benar pingsan?"
Hana menarik napas panjang. "Mama Mira memang punya riwayat darah tinggi. Tapi waktunya... waktunya terlalu pas setelah kejadian semalam."
"Jangan terjebak, Hana," Adrian menatap mata Hana dalam-dalam. "Dia sedang mencoba menarikmu kembali ke dalam lumpur. Dia tahu kau punya hati yang lembut. Jika kau pergi ke sana, kau memberinya kesempatan untuk memanipulasimu lagi."
Hana menatap jendela restoran. Di luar sana, langit Jakarta mulai berawan. "Aku tidak akan kembali menjadi budaknya, Adrian. Tapi jika benar Mama Mira sakit... aku tidak ingin punya beban moral seumur hidup karena mengabaikannya."
Adrian menghela napas, ia tahu Hana tidak bisa dipaksa jika menyangkut kemanusiaan. "Baiklah. Jika kau ingin memastikannya, aku akan menemanimu. Tapi tidak sekarang. Biarkan intelijenku mengecek kebenarannya di rumah sakit. Jangan melangkah ke jebakan tanpa persiapan."
Hana menatap Adrian dengan rasa syukur. "Kau selalu selangkah lebih maju, ya?"
"Aku hanya tidak ingin melihatmu menangis lagi," jawab Adrian lembut.
Di Kediaman Mahendra.
Di ruang tengah rumah Mahendra, Ibu Mira memang sedang berbaring di sofa dengan kompres di dahi, namun ia tidak pingsan. Arlan duduk di sampingnya, memegang ponsel dengan wajah tegang.
"Gimana, Ar? Hana balas?" tanya Ibu Mira dengan suara yang dibuat-buat lemah.
"Belum, Mah. Tapi pesan itu sudah dibaca," sahut Arlan.
Maura, yang berdiri di sudut ruangan, tampak tidak senang dengan rencana ini. "Mas, apa kita beneran harus melakukan ini? Kalau Hana beneran datang dan dia malah bikin keributan gimana?"
Arlan menoleh dengan tatapan tajam. "Diam kamu, Maura! Ini satu-satunya cara supaya dia mau bicara sama aku. Kalau dia sudah di sini, aku akan pastikan dia nggak bisa keluar lagi sampai dia cabut tuntutan cerainya."
Ibu Mira mendesah pelan. "Mama lakukan ini karena Mama nggak mau rumah ini hancur, Maura. Kamu hamil, kamu butuh orang yang bisa urus rumah ini supaya kamu nggak kecapekan. Dan sejujurnya... masakan Bi Inah makin hari makin tidak karuan."
Maura mendengus pelan, hatinya perih. Ternyata ia tetap dianggap tidak berguna meski sedang mengandung pewaris Mahendra. Namun, ia tidak punya pilihan. Ia harus mengikuti permainan Arlan demi mempertahankan posisinya.
Arlan kembali menatap ponselnya. Ia menunggu. Ia yakin, sifat Hana yang terlalu baik akan menjadi senjata makan tuan bagi wanita itu. Ia tidak tahu bahwa kali ini, Hana tidak datang sendirian.
...----------------...
To Be Continue....
nnti kl gk adil jng nangis minta cerai lagi nikmati saja toh di keloni juga kan dpt burung nya juga kan. sakit ya telen saja.
awas habis ini jng cerai jng jd wanita labil.
sebegitu murah nya Hana Hana.
habis ini jng nyusahin yg Bantu kamu supaya bisa cerai.