NovelToon NovelToon
LAKSANA SAMUDRA

LAKSANA SAMUDRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Inar Hamzah

Melihatmu tersenyum lebar dibawah sinar mentari pagi, membuatku semangat menjalani hari.

Dandelion, adakah kesempatan untukku ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inar Hamzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ENTAHLAH

Berhari-hari setelah malam itu, tak ada lagi kabar dari Rico. Tak ada lagi pesan singkat di pagi hari, tak ada lagi yang tiba-tiba menunggu di parkiran kantor. Deya sempat merasa ada yang berubah, tapi bukankah ini yang dia mau, kembali pada rutinitas tanpa ada yang menganggu nya lagi.

Waktu berlalu seperti angin berhembus, kini tepat tiga bulan sudah Rico tanpa kabar, malam ini Deya melihat kembali pesan pamit Rico. Betapa tulusnya laki-laki itu akan perasaannya.

“Selamat pagi De, aku sudah di bandara. Aku pamit pergi ya De. Aku nggak tau kapan bisa balik lagi ke kota ini. Tapi doakan, agar aku bisa segera kembali. Aku akan merindukan menyapa mu melalui pesan setiap pagi De. Kamu jangan terlalu capek ya, jangan apa-apa dipaksakan, jangan selalu berkata kalau kamu baik-baik saja. Sesekali menjadi tidak baik juga tidak apa-apa.”

Entah sudah yang keberapa kali dia membaca pesan itu, tapi malam ini ia tersenyum membaca kata terakhirnya. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, ia segera membawa dirinya tidur dalam hangatnya selimut. Tanpa ia sadari tepat seletah dia memejamkan mata, seseorang mengirimnya pesan singkat.

“Selamat malam De, kamu sudah tidur ya ? Pasti sudah kan. Bagaiamana kabar mu, baik-baik saja kan. Aku disini baik-baik saja. Maaf aku baru bisa mengabari mu. Beberapa hari lagi aku akan pulang. Tunggu aku ya De.”

Rico berusaha mencari jaringan ditengah kencangnya angin yang berhembus, dan harus menahan diri dari dinginya malam.

***

Deya terperanjat saat melihat notif dari Rico, dia mengucek matanya yang masih menahan kantuk. Jarum pendek jam bertengger di angka tiga, kesadarannya belum sepenuhnya kembali. Namun pesan singkat itu membawanya pada kesadaran penuh.

Seulas senyum tersemat dibibirnya, dan saat melihat waktu Rico mengiriminya pesan ia merutuki diri. Andai saja dia tidak tidur lebih awal, mungkin mereka bisa saling bertukar pesan beberapa saat. Namun sejurus kemudian ia menyesali isi pikirannya.

“Sadar Deyaaa.” Decitnya di ujung malam itu.

Jarinya menari di atas layar yang bercahaya itu, mengetik balasan pesan untuk Rico. “Selamat pagi, aku baru saja bangun dan membaca pesan mu. Aku baik-baik saja, terima kasih karena sudah dalam keadaan baik-baik saja. Aku tidak menunggu mu, tidak menunggu siapa-siapa. Aku hanya menjalani hari-hari ku seperti biasa. jika urusanmu telah usai, kembalilah. Keluarga mu menunggu mu.”

Deya setengah berbohong, meski jauh dalam hati nya ada bimbang setelah mengirim pesan itu. Dia mulai tak mengerti dengan perasaanya sendiri. Dia menunggu tapi tak tahu apa, dia ingin berontak dan tak peduli tapi hatinya tak bisa berbohong akan baiknya ia diperlakukan. Ia hanya tak ingin membuat Rico kecewa di ujung penantiannya.

Dia menyadari bahwa ia tak bisa sepenuhnya bisa membalas perasaan Rico, karena baginya tak ada paksaan untuk menerima lamaran itu. Di tengah kebimbangan itu, ia memilih beranjak dari tempat tidur dan mulai membasuh wajah dengan dinginnya air.

Di gelarnya sajadah, ia larut dalam bacaannya, meminta petunjuk atas perasaan bimbang yang di rasakannya. Atas rasa yang tak bisa di utarakannya pada manusia, atas gundah yang menderanya, atas desakan sang ayah untuk segera menerima lamaran itu dengan alasan laki-laki itu sangat baik. Namun ia tak ingin menerima seseorang hanya karena kasihan dan tak ada perasaan pasti pada dirinya.

***

Hari-hari berikutnya dijalani oleh Deya seperti biasa, meski di beberapa kesempatan dia mengharapkan Rico tiba-tiba menunggunya di parkiran dengan wajah tak menunjukkan kesal sama sekali, menyambutnya dengan senyum lebar saat mata mereka saling menatap. Tapi lagi-lagi hari itu hanya angan-angannya saja.

“De, Rico masih belum ada kabar ?” Samsu membuka pecakapan di sela makan malam itu.

Deya hanya menggeleng pelan sebagai jawabannya.

“Kamu tak bertukar kabar dengannya ?” Kembali Samsu bertanya.

“Tidak lagi.” Jawabnya sambil menyuapi makanan ke mulutnya. “Namun dia bilang akan kembali dalam beberapa hari lagi.”

“Setelah dia kembali, ayah mau kamu merencakan acara lamaran kalian.” Ucap Samsu yang terkesan seperti sebuah desakan.

“Kenapa ayah ingin sekali aku menikah dengannya. Apa ayah tidak ingin aku menikah dengan pilihan ku sendiri ?”

“Siapa laki-laki pilihan mu itu ?” Samsu menyudutkan putrinya di tengah ruang makan itu. “Teman-teman kantor mu itu ? Yang katanya menyukai mu ? Namun tidak pernah ayah melihat mereka sungguh-sungguh.” Tatapan Samsu menghujam Deya dan meminta untuk tak lagi dibantah.

“Ayah, kita lagi makan.” Kia berusaha menengahi.

Makanan dalam piringnya belum habis, namun Deya sudah tak lagi berselara. “Kalau gitu, kenapa bukan ayah saja yang lamaran dengannya, jika ayah ingin sekali menjadikan dia sebagai bagian dari keluarga ini.” Jelasnya dan beranjak meninggalkan meja makan dengan piring yang masih berisi nasi.

“Deyaaa.” Panggil Samsu dengan nada menggertak. “Ayah begini karena dia yang terbaik buat kamu.”

“Baik buat ayah, belum tentu baik buat ku.” Bantah Deya dan berjalan menuju kamarnya membawa kesal yang tak bisa dijelaskan.

Terdengar helaan nafas panjang dari Kia sang istri, “Aku tidak mau, jika suatu saat dia gagal dan melimpahkan penyesalan pada kita. Itu sebabnya aku membebaskan dia memilih jalan hidupnya sendiri selama itu baik.” Papar Kia beranjak dari meja makan dan membawa beberapa tumpuk piring.

“Aku hanya ingin memberikannya yang terbaik, selama aku masih bernafas.” Samsu tak ingin kalah dan masih keras kepala.

Deya membanting pintu dengan keras, dan membawa paksa dirinya pada tempat tidur. Matanya menjatuhkan beberapa tetes air, seperti embun yang tersiram sinar mentari di deduanan pagi hari.. Jangankan melangsungkan lamaran, memikirkannya saja Deya sudah enggan.

Ia ingin mengadu, tapi pada siapa ? Ia ingin sekali menumpahkan kekesalannya, tapi bagaimana caranya. Pandangannya tertuju pada langit yang lebih terang lebih dari biasanya.

“Purnama ternyata.” Lirihnya dan melihat pada bulan yang bulat sempurna, sendu ia menatap sekitar yang dimandikan cahaya bulan.

Di bawah langit yang sama, tempat yang berbeda, di tengah derasnya ombak yang menghatam karang ia menatap bulan yang sama. Namun bedanya, seulas senyum singkat tersemat dibibirnya. Membayangkan pertemuan yang akan segera tiba.

“Aku mengharapkan kamu masih sama, sama seperti aku pergi De.” Lirihnya pada angin.

“Ternyata aku masih saja sama seperti saat dia pergi.” Bisik Deya, wajah manisnya tersiram cahaya malam.

***

“Bagaiman ibu, ada yang bisa saya bantu ?” Tanya Deya sopan setelah melihat seorang wanita paruh baya yang tergopoh-gopoh menghampirinya.

“Mbak ini kenapa uang saya kurang ?” Wanita itu balik bertanya.

“Maaf ibu, kami tidak menerima komplain setelah customer meninggalkan meja.” Jelas Deya dengan tenang.

“Loh tapi ini uangnya kurang mbak.” Nada bicara wanita itu naik satu oktaf dan mengalihkan fokus.

“Mohon maaf ibu.” Ucap Deya kembali.

Wanita paruh baya itu beberapa saat yang lalu melakukan transaksi dengan Deya, namun karena terburu-buru jadi tak sempat mengecek uang yang di terimanya.

“Saya nggak mau tau ya mbak, kamu harus mengganti uang ini.” Wanita itu semakin ngotot.

Deya melirik sekitar mencari keberadaan satpam, namun tak didapatinya.

“Kenapa ? Benarkan kamu mengurangi uangnya saya ini ?” Tuduh ibu itu.

“Mohon tenang dulu ibu.” Lerai Hendy yang menyadari ada kesalah pahaman. “Ibu, ibu tadi sudah meninggalkan meja ini, kami tidak bisa menerima komplain lagi ibu.” Hendy menjelaskan dengan setenang mungkin.

“Duh, satpam mana lagi ini.” Gerutu Selfi yang beranjak dari kursinya dan meninggalkan Deya juga Hendy.

“Tapi saya baru menghitungnya tadi di luar.” Ibu itu masih tak ingin mengalah. “He mbak, kamu yang mengambil uang saya. Kamu tidak akan mendapatkan keberkahan dan keselamatan karena memakan uang saya.” Ibu itu semakin menuduh dan menyudutkan Deya.

Mendengar hal itu membuat Deya tersentak bukan main, dan keadaan dalam ruangan mulai tak kondusif, beberapa saat kegiatan terhenti karena fokus teralihkan pada sumber keributan.

“Maaf ini ada apa ?” Tanya Satpam dengan tergopoh-gopoh menghampiri meja tempat mereka.

Satpam itu di ekori oleh Selfi dan laki-laki yang selama ini di beberapa kesempatan Deya inginkan kehadirannya.

Tatapan mereka saling beradu, Rico melihat mata Deya berkaca-kaca. Sejurus kemudian laki-laki itu mengerti masalah yang sedang terjadi.

“Tenang, ada aku.” Ucap Rico tanpa suara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!