NovelToon NovelToon
Mafia Jatuh Cinta Pada Gadis Desa

Mafia Jatuh Cinta Pada Gadis Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Identitas Tersembunyi / Mafia
Popularitas:592
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Jovan adalah pewaris mafia paling berbahaya di kota. Luka tembak dan pengkhianatan memaksanya melarikan diri ke sebuah desa terpencil, tempat seorang gadis sederhana bernama Mika menyelamatkan nyawanya.

Dengan identitas palsu sebagai petani buah, Jovan hidup di dunia yang tak pernah ia kenal—tenang, jujur, dan penuh kehangatan.

Di sanalah ia jatuh cinta pada Mika, tanpa ia sadari bahwa cintanya adalah ancaman.

Karena saat masa lalu mengejarnya, Mika bukan hanya gadis desa…dia adalah sandera paling berharga di dunia mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dalam Bahaya

Mika menyapu halaman seperti kemarin. Gerakannya pelan, rapi, seperti orang yang ingin meyakinkan dirinya bahwa hidup masih bisa berjalan lurus.

Keranjang pasar diletakkan di sudut. Kosong. Jambu-jambu sudah habis. Bukan karena laku.

Karena dibawa pulang.

Jovan duduk di bangku dekat pintu, bahunya masih kaku. Ia tidak banyak bergerak, tapi matanya tidak pernah benar-benar diam.

Pak Raka muncul dari dalam, membawa gelas kopi. Ia duduk.

Tidak bicara. Hanya menatap jalan kecil di depan rumah.

Suasana itu bertahan sampai suara motor terdengar.

Bukan motor tanpa lampu.

Motor dinas. Pelan. Teratur. Berhenti tepat di depan pagar.

Mika membeku.

Jovan tidak bergerak, tapi seluruh tubuhnya menegang seperti tali yang ditarik.

Kepala dusun turun dari motor.

Senyumnya sama seperti di pasar. Ramah.

Terlalu ramah. “Assalamualaikum.”

Pak Raka berdiri, pincangnya jelas ketika ia melangkah.

“Waalaikumsalam.”

Kepala dusun melirik Mika sebentar, lalu ke Jovan. Tatapan itu singkat. Tapi cukup untuk membuat udara berubah.

“Saya cuma mampir,” katanya ringan. “Silaturahmi.”

Pak Raka mengangguk. “Silakan duduk.”

Kepala dusun duduk di kursi teras, menepuk-nepuk lututnya seolah benar-benar santai.

“Pasar kemarin… agak sepi ya.”

Mika menunduk.

Pak Raka menjawab datar, “Pasar memang begitu. Kadang ramai, kadang tidak.”

Kepala dusun tertawa kecil. “Iya. Tapi orang-orang suka bicara.” Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan nada seperti bercanda, “Apalagi kalau ada orang baru.”

Jovan mengangkat wajahnya sedikit. Tidak banyak. Tapi cukup.

Kepala dusun menangkapnya. “Mas Jovan, ya?” katanya akhirnya.

Nama itu meluncur begitu saja.

Padahal sebelumnya tidak pernah disebut di luar rumah.

Mika menegang.

Jovan tersenyum tipis, bukan hangat. “Hanya singgah.”

“Singgah itu tidak salah,” kepala dusun cepat berkata. “Desa ini terbuka.”

Ia menatap Mika.

“Tapi desa juga… sensitif.”

Pak Raka duduk kembali, suaranya rendah. “Maksudnya?”

Kepala dusun menghela napas seolah sedang memikul beban warga. “Warga mulai bertanya-tanya, Pak Raka. Lapak Mika sepi, orang-orang jadi canggung.”

Mika akhirnya bicara, pelan. “Aku tidak pernah mengganggu siapa pun, Pak.”

Kepala dusun mengangguk cepat. “Bukan begitu, Mika. Kamu anak baik.”

Lalu kalimat berikutnya turun lebih pelan. “Justru karena kamu anak baik… orang-orang tidak mau kamu ikut terseret.”

Sunyi.

Jovan berdiri. Gerakannya pelan, bahunya menahan sakit.

Pak Raka melirik sekilas, seperti peringatan halus. Jangan.

Tapi Jovan sudah berdiri.

“Apa yang mereka takutkan?” tanya Jovan.

Kepala dusun tersenyum. “Bukan mereka.”

Jovan menatap tajam. “Lalu siapa?”

Kepala dusun menyandarkan punggung. Nada suaranya masih ramah, tapi sekarang ada sesuatu yang lain. “Orang-orang luar.” Kalimat itu menggantung seperti jaring.

Mika merasakan dadanya sesak.

Jovan bicara lagi, suaranya rendah. “Kalau ada orang luar yang membuat desa tidak nyaman… kenapa Anda datang ke sini, bukan mencarinya?”

Kepala dusun terdiam sepersekian detik. Lalu tertawa kecil. “Mas Jovan pintar.”

Ia berdiri, menepuk celananya.

“Saya cuma mengingatkan.”

Pak Raka menatapnya.

“Mengingatkan apa?”

Kepala dusun menatap rumah itu sekali lagi, lalu berkata ringan, “Kalau bisa… jangan sering ke pasar dulu. Biar suasana reda.”

Ia melangkah ke motornya.

Sebelum naik, ia menoleh pada Mika. “Kamu jaga diri baik-baik, ya.” Lalu pergi.

Suara motor menjauh. Debu turun perlahan. Teras kembali sunyi.

Mika berdiri kaku. “Ayah…”

Pak Raka menghela napas. “Itu bukan silaturahmi.”

Jovan menatap jalan kosong.

“Itu tanda.”

Mika menelan ludah. “Tanda apa?”

Jovan menjawab pelan, seperti seseorang yang akhirnya menyebut bentuk ancaman dengan benar. “Levis sudah masuk lewat mulut orang lain.”

Pak Raka menatap Jovan. "Levis?"

"Hm, sepupu."

"Family?"

Jovan mengangguk. “Kalau kepala dusun sudah bicara begitu…Berarti langkah berikutnya bukan pasar.”

Mika berbisik, “Lalu apa?”

Jovan menatapnya. Ada sesuatu yang berubah di matanya.

Bukan lagi hanya bertahan.

Tapi mulai menghitung.

“Langkah berikutnya…” Ia berhenti, “…adalah rumah ini.”

Di luar, angin menggoyang daun pisang.

Desa masih tampak sama.

Tapi Mika tahu, mulai hari ini, mereka tidak lagi hanya diawasi. Mereka sedang dipersempit.

.

Hari - hari berlalu begitu cepat.

Lampu rumah Pak Raka menyala satu ketika malam tiba.

Mika duduk di ruang tengah, melipat kain.

Jovan berdiri dekat jendela.

Pak Raka keluar sebentar ke belakang. Hanya sebentar.

Untuk memastikan pintu gudang terkunci. Untuk memastikan tidak ada ayam yang lepas.

Hal-hal kecil yang biasanya tidak berarti apa-apa.

Tapi malam ini…hal kecil adalah alasan orang bisa mendekat.

Mika mendengar langkah pincang ayahnya di tanah basah.

Satu.

Dua.

Lalu berhenti.

Mika mengangkat kepala.

“Ayah?”

Tidak ada jawaban.

Jovan langsung bergerak. Bahunya protes, tapi tubuhnya lebih cepat daripada rasa sakit.

Ia membuka pintu. Halaman belakang gelap.

Hanya suara jangkrik. Lalu, suara benda jatuh. Bukan keras.

Seperti seseorang menjatuhkan sesuatu dengan sengaja.

Jovan melangkah satu langkah. “Pak Raka?”

Dan saat itulah Mika melihatnya. Bayangan. Dua orang.

Cepat.

Rapi.

Satu tangan menutup mulut Pak Raka. Yang lain menekan lengannya ke belakang.

Pak Raka tidak sempat berteriak. Ia hanya sempat menatap Jovan.

Tatapan itu bukan minta tolong. Tatapan itu satu pesan. Jangan bodoh.

Mika menjerit. “AYAH!”

Salah satu pria menoleh. Bukan panik. Bukan tergesa.

Seolah mereka sudah tahu ini akan terjadi.

Jovan bergerak maju. “LEPASKAN!”

Satu pria mengeluarkan sesuatu dari saku. Kilatan logam. Pisau kecil. Bukan untuk membunuh. Untuk menghentikan.

Jovan berhenti sepersekian detik, cukup.

Dan cukup itu yang mereka butuhkan.

Pak Raka diseret ke arah pagar belakang. Langkah pincangnya membuat tanah tercabik.

Mika berlari, tapi Jovan menariknya. “Jangan!”

“ITU AYAHKU!”

“Aku tahu!”

Jovan menggertakkan gigi. Matanya tajam, menghitung jarak.

Dua lawan satu. Bahu belum pulih. Dan Mika di belakangnya.

Kalau ia maju…mereka bisa ambil Mika juga.

Itu yang Levis mau.

Motor menyala di luar pagar.

Suara knalpot ditahan. Tidak meraung. Rapi.

Pak Raka didorong masuk.

Satu detik sebelum hilang, Pak Raka menoleh sekali lagi.

Mulutnya bergerak. Hanya satu kata tanpa suara.

Mika.

Lalu motor pergi.

Gelap menelan semuanya.

Sunyi kembali.

Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Mika berdiri membeku.

Dunia seperti berhenti berputar.

Jovan masih di depan pintu.

Tangannya mengepal. Bahunya berdarah sedikit karena gerakan tadi. Tapi matanya…lebih dingin daripada luka mana pun.

Mika berbisik, suaranya pecah.

“Ini… karena kamu.”

Jovan tidak menyangkal. Ia menatap jalan gelap itu. “Ya.”

Mika menahan napas, air matanya jatuh. “Jadi sekarang apa?”

Jovan menjawab pelan. Tidak lagi seperti orang desa. Tidak lagi seperti orang singgah. Tapi seperti seseorang yang akhirnya kembali ke tempat asalnya.

Di kejauhan…Levis duduk santai di kursi kota

Ponselnya bergetar. Satu pesan masuk:

Pak Raka sudah diambil.

Levis tersenyum tipis.

“Bagus.”

Ia mematikan rokoknya.

“Sekarang kau pasti keluar, sepupuku.”

1
Mulaini
Semoga aja Leon masih hidup dan mungkin yang terbakar supirnya.
Mulaini
Siapa laki² yang turun dari mobil hitam apakah salah satu musuh Jovan?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!