Dunia persilatan dipenuhi kepalsuan. Yang kuat menindas, yang lemah hanya bisa menunggu mati.
Dari kegelapan, muncul seorang gadis bermata merah darah, membawa kipas hitam yang memanen nyawa. Ia dikenal sebagai Dewi Kematian. Bukan pahlawan, bukan pula iblis, melainkan hukuman bagi mereka yang kejam.
Setiap langkahnya menebar darah, setiap musuhnya lenyap tanpa jejak. Namun di balik kekuatan terlarang itu, tersembunyi luka masa lalu dan takdir kelam yang tak bisa dihindari.
Ini bukan kisah penyelamatan.
Ini adalah legenda tentang kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 21
Tang Ruo, Qing Fei, dan Meng Xin masih berdiri mematung, saling berpandangan di tengah keheningan savana yang mencekam. Meskipun riuh rendah teriakan pertempuran baru saja reda, atmosfer di sekitar mereka belum sepenuhnya pulih dari kekacauan. Ketiganya adalah Pendekar Ahli yang telah kenyang asam garam dunia persilatan, terbiasa menghadapi genangan darah dan berbagai rupa kematian, namun pemandangan mayat kering yang tergeletak mengenaskan tak jauh dari kereta keempat membuat napas mereka terasa berat dan sesak. Ada sesuatu yang sangat salah, sesuatu yang melampaui nalar bela diri yang mereka pelajari selama puluhan tahun.
Mereka semua sangat yakin, sejak awal perjalanan dari gerbang Kota Yibei hingga bentrokan berdarah tadi, di dalam kereta keempat itu hanya ada seorang gadis muda yang tampak rapuh dengan gaun hitamnya. Wajahnya selalu tenang, gerakannya halus seperti aliran air, dan auranya, yang paling membingungkan, nyaris tak terasa, seolah-olah ia hanyalah manusia biasa tanpa basis tenaga dalam sedikit pun. Justru itulah yang kini paling mengganggu pikiran mereka; bagaimana mungkin kehampaan seperti itu bisa menghasilkan kengerian yang begitu nyata?
“Mustahil…” gumam Meng Xin dengan suara yang bergetar pelan, matanya tetap terpaku pada mayat kering yang kulitnya menghitam itu. “Pendekar Ahli itu mati terlalu cepat. Bahkan seorang Pendekar sekelas kita pun membutuhkan waktu dan pertarungan yang sengit untuk bisa mengalahkannya, apalagi membuatnya menjadi mayat kering dalam hitungan detik.”
“Kalau memang ada Pendekar Guru yang mengawal dari balik bayangan atau bersembunyi di dalam kereta itu, seharusnya kita bisa merasakan tekanan auranya sejak awal perjalanan,” kata Qing Fei sambil mengernyitkan dahi, berusaha mencari penjelasan logis. “Tapi sepanjang jalan, aku sudah berkali-kali menyapu area ini dengan indraku, dan aku tidak merasakan keberadaan kekuatan besar apa pun di sana. Ini benar-benar tidak masuk akal.”
Tang Ruo tetap memilih untuk diam, namun tatapannya tak sedetik pun lepas dari jasad itu. Sebagai pengguna pedang yang mengandalkan ketajaman insting, ia sangat peka terhadap jejak-jejak kematian. Ada sesuatu yang sangat tidak wajar pada tubuh tersebut; tidak ada luka senjata tajam, tidak ada bekas racun di pori-porinya, dan tulang-tulangnya pun tidak hancur oleh hantaman tenaga dalam konvensional. Itu lebih seperti… esensi kehidupan yang dicabut paksa dari akarnya. Namun, melihat suasana yang masih tegang, Tang Ruo memilih untuk menyimpan kecurigaan gelapnya sendiri di dalam hati.
Di sisi lain medan pertempuran, para Pendekar Ahli dari pihak perampok juga berada dalam kegelisahan yang sama, bahkan jauh lebih parah. Wajah mereka yang tadinya garang kini pucat pasi, dan keringat dingin membasahi pelipis mereka meskipun angin sore berhembus sejuk. Nyali mereka yang biasanya sekeras baja mendadak luluh lantak.
“Sial… ini bukan perlawanan yang kita perkirakan,” kata salah satu pendekar perampok dengan suara yang bergetar hebat. “Rekan kita adalah seorang Pendekar Ahli, dan dia mati secepat itu tanpa sempat mengeluarkan satu pun jurus andalannya. Ini bukan lagi soal melawan prajurit istana.”
“Mungkinkah rombongan Raja ini sebenarnya dikawal oleh seorang Pendekar Guru yang menyamar?” sahut yang lain dengan nada penuh ketakutan, matanya melirik liar ke arah kereta-kereta kerajaan.
“Kalau benar demikian, kita semua sedang berjalan menuju liang kubur kita sendiri. Setahuku, di Kerajaan Liungyi, Pendekar Tingkat Guru hanya bisa ditemukan di kalangan Jenderal besar dan Kasim Hao. Jika salah satu dari mereka ada di sini, kita hanya akan menjadi butiran debu,” kata pendekar lainnya yang tampak lebih senior.
Ketiganya saling bertukar pandang dengan penuh pengertian, lalu mengangguk secara serempak. Mereka tahu kapan harus bertarung dan kapan harus menyelamatkan nyawa.
“Mundur! Ini bukan pertempuran yang bisa kita menangkan dengan jumlah berapapun,” perintah Pendekar Ahli lainnya. “Kita harus segera pergi dan melaporkan kejadian aneh ini pada Pimpinan Bunga Darah. Jangan sembunyikan satu detail pun tentang mayat kering itu.”
Tak lama kemudian, perintah mundur yang panik menggema di antara barisan perampok yang masih tersisa. Mereka segera berlarian tunggang-langgang masuk ke balik rimbunnya savana, meninggalkan jasad rekan-rekan mereka yang bergelimpangan tanpa sempat menoleh lagi, seolah-olah hantu kematian sedang mengejar tumit mereka.
“Kalian mau lari setelah berani menyerang kami?” teriak Letnan Bai Wang dengan mata yang menyala penuh amarah. “Jangan biarkan satupun dari tikus-tikus ini lolos! Kejar dan bunuh mereka semua!”
Pasukan elit kerajaan segera bergerak dengan cepat. Anak-anak panah dilepaskan secara beruntun, menembus punggung para perampok yang berlari pontang-panting. Beberapa dari mereka roboh seketika tanpa sempat mengeluarkan teriakan, tubuh mereka terseret dan menghilang di antara rumput tinggi yang bergoyang-goyang tertiup angin sore yang semakin kencang.
Meng Xin, Tang Ruo, dan Qing Fei juga sudah bersiap untuk melesat mengejar tiga Pendekar Ahli musuh yang melarikan diri dengan teknik meringankan tubuh. Namun, sebelum kaki mereka sempat menjejakkan tenaga dalam lebih jauh, sebuah suara yang sangat tegas dan penuh wibawa menghentikan semua pergerakan.
“Berhenti.”
Raja Yan Liao melangkah keluar dari pintu kereta ketiga dengan perlahan. Langkahnya sangat mantap, dan tatapannya menyapu seluruh medan pertempuran dengan ketajaman yang membuat siapa pun merasa kecil dihadapannya. Meskipun ia tidak mengeluarkan aura tenaga dalam apa pun, kewibawaan alaminya sebagai seorang pemimpin tertinggi membuat semua prajurit dan pendekar di sana tanpa sadar menahan napas dan menundukkan kepala.
“Tidak perlu dikejar lebih jauh,” lanjut Yan Liao dengan nada suara yang datar namun tak terbantah.
“Tapi Paduka,” kata Bai Wang dengan napas sedikit terengah, mencoba memberikan argumen militer, “mereka sudah berani menghina dan menyerang rombongan kerajaan secara terbuka. Jika mereka dibiarkan lolos, mereka pasti akan kembali dengan kekuatan yang jauh lebih besar dan terorganisir.”
“Bagaimana jika mundurnya mereka saat ini hanyalah umpan untuk memancing pasukan inti kita keluar dari formasi?” tanya Yan Liao balik, membuat Bai Wang tertegun. “Apakah kau begitu yakin tidak ada perangkap lain di balik bukit savana itu?”
Bai Wang terdiam sesaat, keraguan mulai muncul di wajahnya. “Perangkap? Tapi Paduka, mayoritas dari mereka hanyalah tentara bayaran dan manusia biasa yang tidak terorganisir dengan baik.”
Tatapan Raja Yan Liao mendadak berubah menjadi sangat dingin dan menusuk. “Letnan Bai.”
“Hamba ada, Paduka,” sahut Bai Wang dengan segera, merasakan tekanan mental yang berat.
“Apakah kau sekarang sedang mempertanyakan perintah mutlak dari rajamu?” tanya Yan Liao dengan suara yang tenang namun sangat mengancam.
Mendengar itu, Bai Wang langsung menjatuhkan diri berlutut di tanah yang berdebu. “Hamba tidak berani, Paduka! Ampuni kelancangan hamba.”
“Cukup,” kata Yan Liao, mengalihkan pandangannya kembali ke medan perang. “Segera bereskan tempat ini. Kuburkan jasad para perampok itu dengan layak sebagai sesama manusia, lalu kita harus segera melanjutkan perjalanan sebelum gelap total menyelimuti jalur ini.”
Keputusan itu tentu saja tidak diambil Yan Liao tanpa alasan yang kuat. Sejak awal kekacauan terjadi, Yan Liao telah memperhatikan satu hal dengan sangat jeli; kereta keempat tidak pernah bergerak sedikitpun, dan Cao Yi tidak menunjukkan tanda-tanda ingin keluar, bahkan ketika musuh melarikan diri dalam ketakutan. Sosok yang mampu melenyapkan seorang Pendekar Ahli dalam sekejap mata namun memilih untuk tetap diam.
Para prajurit segera bergerak dengan sigap mengikuti perintah. Jasad-jasad perampok dikumpulkan dan dikubur secara massal di pinggiran savana agar tidak mengundang binatang buas. Darah yang tersisa di jalanan disiram dengan tanah kering, sementara pasukan elit lainnya tetap berjaga ketat di sekeliling area perkemahan darurat, memastikan tidak ada serangan susulan yang datang dari balik kegelapan.
Ketiga Pendekar Ahli kerajaan berdiri tetap waspada di dekat kereta Raja, indra mereka terfokus penuh pada setiap getaran udara.
“Paduka,” lapor Bai Wang setelah situasi dirasa cukup terkendali. “Melihat posisi matahari, sepertinya kita tidak akan sempat mencapai Desa Memping sebelum malam tiba. Jalur di depan terlalu berbahaya untuk dilalui dalam kegelapan. Akan jauh lebih aman jika kita mendirikan perkemahan dan bermalam di sini.”
Raja Yan Liao mengangguk setuju. “Baiklah. Instruksikan para prajurit untuk segera mendirikan tenda dan perkuat barisan penjagaan.”
Permaisuri Bai Ling Yin pun melangkah keluar dari kereta, mendekati suaminya. “Pastikan seluruh prajurit dan para pendekar mendapatkan jatah makanan serta waktu istirahat yang cukup. Kita butuh tenaga mereka untuk perjalanan esok hari.”
“Baik, Yang Mulia Permaisuri,” jawab Bai Wang patuh.
Matahari mulai condong ke arah barat, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang dramatis di atas hamparan savana, ketika pintu kereta keempat perlahan terbuka. Cao Yi akhirnya melangkah keluar dengan gerakan yang sangat ringan, wajahnya tetap tampak tenang dan polos, seolah-olah pembantaian yang baru saja terjadi di depan matanya hanyalah sebuah mimpi siang bolong yang tidak berarti.
Begitu melihat sosok gadis itu, wajah Bai Ling Yin langsung dihiasi senyuman hangat. Ia melambaikan tangannya dan memanggil dengan suara yang cukup keras agar terdengar oleh yang lain.
“Adik Ipar, kemarilah! Bergabunglah dengan kami di sini.”
Kata-kata "Adik Ipar" yang keluar dari mulut Permaisuri seketika membuat Meng Xin, Tang Ruo, dan Qing Fei terlonjak kaget dalam diam. Mereka bertiga saling berpandangan dengan mata terbelalak. Selama ini mereka hanya pernah mendengar rumor samar bahwa Raja Yan Liao memiliki seorang adik angkat perempuan dari keluarga Jenderal besar Cao Xiang, namun mereka baru menyadari sepenuhnya pada saat ini bahwa gadis bergaun hitam yang sejak tadi mereka anggap remeh adalah sosok penting tersebut. Seorang adik angkat Raja dengan status bangsawan yang sangat tinggi.
Namun, di balik keterkejutan mereka tentang status sosial gadis itu, mereka masih belum menyadari satu fakta lain yang jauh lebih mengerikan, sebuah status yang masih tersembunyi di balik wajah tenang dan sikap lembut Cao Yi. Dewi Kematian masih memilih untuk berdiam, dan ia belum memiliki niat sedikitpun untuk memperlihatkan wujud aslinya kepada siapa pun di sana, setidaknya tidak dalam waktu dekat.