Bagian I: Era Sang Ratu dan Awal Dinasti Kisah bermula dari Queen Elara, seorang wanita tangguh yang membangun fondasi kekuasaan Alexandra Group. Ia menikah dengan Adrian Alistair, pria dingin dan strategis. Dari persatuan ini, lahir dua pasang anak yang menjadi pilar keluarga: si kembar Natalie dan Nathan. Natalie tumbuh sebagai gadis yang tampak lugu namun memiliki sifat "bar-bar" yang terpendam, sementara Nathan menjadi eksekutor tangguh penjaga kehormatan keluarga.
Bagian II: Penyamaran Sang Pangeran Italia Masa muda Natalie Alistair diwarnai oleh kehadiran seorang pengawal misterius bernama Julian, yang sebenarnya adalah Giuliano de Medici, pewaris takhta mafia dan perbankan Italia yang sedang menyamar. Di tengah ancaman rival seperti Jonah dan Justin Moretti, cinta mereka tumbuh dalam gairah yang terjaga.
Bagian III: Dua Pewaris dan Rahasia Kelam Natalie dan Giuliano dikaruniai dua anak: Leonardo dan Alessandra. Leonardo tumbuh menjadi putra mahkota yang sempurna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Deklarasi Cinta Dihadapan Dunia
Sebulan Berlalu, Adrian memutuskan bahwa kerahasiaan Pernikahan Mereka tidak lagi diperlukan. Ia menyewa seluruh layar digital di Times Square dan pusat bisnis Jakarta untuk menampilkan satu foto, tangan mereka yang saling bertaut dengan cincin pernikahan yang berkilau.
Malam itu, mereka mengadakan resepsi pernikahan resmi di kastil pribadi milik keluarga Alistair yang baru saja direnovasi. Ribuan lampu lilin menghiasi taman, dan para pemimpin dunia hadir untuk memberikan penghormatan.
Di depan semua tamu, Adrian memegang mikrofon. "Selama bertahun-tahun, kami dipaksa menjadi musuh oleh dosa-dosa masa lalu orang tua kami. Tapi hari ini, di depan kalian semua, saya menyatakan bahwa Queen Elara Alexandra adalah istri sah saya, Queen saya, dan satu-satunya pemilik Alistair Group."
Queen berdiri di sampingnya, mengenakan gaun pengantin sutra transparan dengan aksen berlian yang sangat berani. Ia tidak lagi tampak seperti wanita yang tertekan skandal, ia adalah api yang membara.
Setelah pesta berakhir, Adrian menggendong Queen menuju kamar utama yang menghadap ke arah laut. Begitu pintu tertutup, semua protokol dan etika bisnis menguap. Yang tersisa hanyalah dua manusia yang saling mendamba.
"Kau milikku, Elara. Seluruh dunia sekarang tahu itu," bisik Adrian parau, menempelkan tubuh Queen ke pintu kayu ek yang besar.
Adrian mencium Queen dengan intensitas yang lebih dahsyat dari sebelumnya. Tangannya bergerak liar, merobek sutra tipis gaun pengantin Queen seolah ia tidak sabar untuk menyentuh kulit yang selama ini hanya bisa ia nikmati dalam sembunyi-sembunyi. Queen mengerang, membalas ciuman Adrian dengan penuh gairah, kakinya melingkar kuat di pinggang Adrian saat pria itu mengangkatnya.
Mereka terjatuh ke atas ranjang berseprai satin hitam. Di bawah cahaya rembulan yang masuk dari jendela besar, Adrian menjelajahi setiap inci tubuh Queen dengan bibirnya. Cumbuan mereka malam itu adalah perayaan kebebasan. Queen mendominasi, membalikkan posisi dan mencumbu dada bidang Adrian dengan penuh kepemilikan.
Penyatuan mereka terasa begitu dalam dan emosional, sebuah tarian panas yang penuh dengan peluh dan desah napas yang memanggil nama satu sama lain. Setiap gerakan adalah janji bahwa mereka tidak akan pernah lagi terpisahkan. Di puncak gairah mereka, Adrian memeluk Queen seolah tidak ingin melepaskannya selamanya, memberikan cinta yang begitu meluap hingga Queen merasa dunianya lengkap.
Beberapa minggu setelah malam yang membara itu, Queen merasa tubuhnya berubah. Ia sering merasa mual di pagi hari dan indra penciumannya menjadi sangat sensitif terhadap aroma kopi yang biasanya ia sukai.
Di kantor pusat Alexandra-Alistair Group, Queen memanggil dokter pribadi mereka secara rahasia. Adrian, yang baru saja kembali dari rapat direksi, masuk ke ruangan dengan wajah cemas melihat dokter ada di sana.
"Elara? Ada apa? Apa kau sakit?" Adrian berlutut di depan Queen, memegang tangannya.
Queen menatap dokter, lalu kembali menatap Adrian dengan mata yang berkaca-kaca namun penuh kebahagiaan. Ia menyerahkan sebuah foto hasil ultrasonografi (USG).
"Adrian..." suara Queen bergetar. "Aku tidak sakit. Aku hanya sedang membawa beban baru untuk kerajaan kita."
Adrian menatap foto hitam-putih itu. Matanya melebar saat melihat dua titik kecil yang berdenyut di sana. "Dua? Ini... ini kembar?"
Dokter tersenyum. "Selamat, Mr. Alistair. Istri Anda mengandung bayi kembar. Mereka sehat dan kuat."
Adrian terdiam seribu bahasa. Ia menangis—air mata seorang pria yang telah melewati penjara, fitnah, dan peperangan harta. Ia membenamkan wajahnya di perut Queen yang masih rata, menciumnya dengan penuh rasa syukur.
"Pewaris kita," bisik Adrian. "Dua malaikat yang akan menghapus semua noda nama Alexandra dan Alistair."
Kabar kehamilan Queen Alexandra menjadi berita terbesar tahun ini. Para investor menyambut gembira karena ini berarti stabilitas jangka panjang bagi perusahaan. Namun, di sudut gelap sebuah penjara internasional, Zee mendengar berita itu melalui radio penjaga.
Zee ditangkap Atas pencemaran Nama Baik Adrian Alistair.
"Kembar?" Zee menyeringai pahit, kuku-kukunya menggores dinding sel. "Satu mahkota untuk satu kepala saja sudah cukup berat, apalagi dua. Nikmatilah kebahagiaanmu, Queen. Karena anak-anakmu akan mewarisi semua musuh yang kau ciptakan."
Namun, Queen dan Adrian tidak peduli lagi. Malam itu, di balkon rumah mereka, Adrian memeluk Queen dari belakang, tangannya mengelus lembut perut istrinya.
"Aku akan membangun dunia yang paling aman untuk mereka, Elara," janji Adrian.
"Dan aku akan mengajari mereka cara memerintah dunia itu," sahut Queen, menyandarkan kepalanya di bahu Adrian.
Sang Queen dan King kini tidak hanya memiliki satu sama lain, tapi juga masa depan yang sedang tumbuh di dalam rahim yang pernah difitnah dunia. Perjalanan mereka mungkin penuh darah, tapi akhirnya, cinta mereka bersemi menjadi kehidupan baru.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading😍