Setelah mengetahui pengkhianatan sang kekasih, serta ada masalah di pabriknya, Rayyan memutuskan untuk healing sejenak ke sebuah desa, tempat salah seorang sahabatnya berada.
Tapi, nasib justru mempermainkannya. Malam itu, Rayyan menyelamatkan Lilis yang hendak di lecehkan seseorang, tapi Rayyan terjebak dalam sebuah kondisi, yang membuat warga desa salah paham, hingga mengharuskannya menikahi Lilis, seorang janda kembang.
Bagaimanakah lika-liku perjalanan mereka selanjutnya?
Apakah Rayyan akan tetap mempertahankan Lilis sebagai istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#29
#29
Rayyan menghembuskan nafasnya, setelah Tiga puluh menit berlalu, ingin marah, tapi kok yang menelepon adalah orang kepercayaan nya di pabrik. “Jangan-jangan Lilis sudah tidur?” gerutunya ketika kembali dari balkon kamar.
Dan benar saja dugaannya, Lilis sudah meringkuk di bawah gulungan selimut. Apa boleh buat, Rayyan hanya bisa meringis pasrah melihatnya. Padahal suasana amat mendukung, tak ada gangguan, dan Rayyan pun paham bahwa Rosa sengaja menciptakan momen ini dengan sempurna.
Rayyan pun sangat berharap malam ini akan berjalan dengan suasana syahdu, tapi telepon tiga puluh menit itu benar-benar mengganggu.
Klek!
Klek!
Dua buah lampu utama Rayyan matikan, agar cahaya kamar lebih redup. Pria itu pun ke kamar mandi untuk bersih-bersih sebelum menyusul Lilis yang sudah tenggelam ke alam mimpinya.
Rayyan duduk lalu merebahkan badan perlahan di pembaringan, ia menyibak selimut, kemudian kembali menutupi sebagian tubuhnya yang kini berbaring miring menatap rambut Lilis yang tergerai di atas bantal.
Secara otomatis tubuhnya bergeser mempersempit jarak di antara dirinya dan punggung istrinya, tak mau rugi begitu saja, Rayyan pun menarik tubuh Lilis, dan memeluk pinggangnya erat.
Instingnya sangat natural, menghidu tengkuk, rambut, hingga pundak Lilis yang tertutup pakaian. Telapak tangan Rayyan turun perlahan ke pinggang lalu mengusap paha istrinya dengan gerakan lembut.
Tanpa Rayyan sadari sesungguhnya Lilis masih kesulitan memejamkan matanya, penyebabnya adalah baju kurang bahan yang Rosa hadiahkan. Lilis terpaksa mengenakan pakaian itu, karena ia tak punya pilihan lain, untunglah pakaian berbahan jaring laba-laba itu dilengkapi dengan outer, jadi masih aman untuk dikenakan.
Tapi sekarang, gerakan tangan Rayyan yang semakin sensual, membuat tubuh Lilis merinding tak karuan. Bermula dari paha, kini tangan Rayyan semakin berani menyusup ke area lain yang berada di balik pakaian yang ia kenakan.
Berawal dari kecupan lembut di tengkuk dan pundak, sesuatu yang semula tidur nyenyak karena belum saatnya keluar kandang, kini berdiri tegak memohon untuk di jinakkan.
“Ah— shit!” Rayyan mengumpat dan mengerang seorang diri, karena ia semakin terjebak dalam permainannya sendiri.
Lilis menggigit bibirnya dengan kuat, berharap tak mengeluarkan suara desah jahanam, karena tangan Rayyan semakin naik dan membelai area dada dan perutnya. “Ssshh—”
Rayyan tertawa kegirangan karena tanpa sengaja mendengar suara desisan yang berasal dari mulut istrinya. Ia pun menarik tubuh Lilis hingga kini berbaring telentang, dan nafas yang mulai naik turun tak karuan. “Belum tidur?” bisik Rayyan, suaranya mulai parau.
“Hampir, tapi tangan Mas, ganggu banget,” ungkap Lilis.
“Masa? Bukan karena kamu mulai kegerahan?” goda Rayyan kemudian menyibak selimut yang menutupi sekujur tubuh istrinya.
“Jangan!” pekik Lilis, tapi terlambat, karena Rayyan sudah melihat kain tipis yang sepertinya sengaja di dobel agar tak terlihat isi di dalamnya.
Lilis salah tingkah, hingga kedua tangannya reflek menyilang, menutupi tubuhnya yang kini ditatap dengan pandangan penuh hasrat oleh suaminya.
“Lis— kamu—”
“Mas, jangan dilihat, aku malu,” cicit Lilis berusaha menarik selimut untuk dipakai menutupi tubuhnya. Tapi dasar Rayyan jahil, ia justru membuang selimut jauh dari jangkauan Lilis.
Ah, janda memang berbeda, Lilis sudah paham apa yang harus ia lakukan untuk menyenangkan suaminya di saat seperti ini, begitulah pemikiran Rayyan. Tapi, kenapa Lilis masih malu padahal sudah pernah melaluinya bersama pria lain?
“Tapi, Mas mau.”
Gleg!
Dengan susah payah, Lilis menelan air ludahnya, “Mau? Mau ap—” tanpa ba bi bu lagi, Rayyan menghentikan ucapan Lilis, langsung action saja, tak perlu banyak bertanya.
Setiap sentuhan Rayyan, terasa seperti mengalirkan aliran listrik di kulit Lilis. Kini tak ada lagi yang bicara, yang terdengar hanya suara desah, serta kecipak mesra dari lidah dan mulut mereka yang saling beradu.
Setelah pemanasan beberapa saat yang lalu, kini Lilis mulai sedikit bisa mengimbangi aksi suaminya. Ia mendes ah pelan tatkala ciuman Rayyan mulai turun perlahan, menjelajah dengan tak sabar, hingga—
Srek!
“Mas!”
“Pakaian ini memang diciptakan untuk di robek, Sayang,” bisik Rayyan sembari memberikan gigitan kecil di telinga Lilis.
“Tapi, ahsss— kalau— Nyo— nyahh bertanya, gimana?”
“Besok atau lusa, aku belikan yang baru.”
“Buat apa beli, kalau hanya untuk di robek, itu mubazir, Mas.”
Cup!
Rayyan terkekeh kemudian mengecup sekilas bibir Lilis, “Good, lebih baik tak usah memakai pakaian.”
Lilis melotot, kedua tangannya tetap berusaha menutupi bagian tubuhnya yang kini tak lagi tertutup kain jaring laba-laba. “Jangan ditutup lagi,” protes Rayyan.
Ia mengganti posisi tubuhnya, dan kini membuat Lilis terkurung di bawah tubuhnya. “Mas minta izin memulainya, bismillah—”
Setelah Lilis mengangguk, Rayyan menegakkan tubuhnya sejenak, melepas kaos santai dan celana yang melekat di tubuhnya. Walau bukan kali pertama melihat pemandangan tersebut, tapi, suasana yang kini berbeda membuat Lilis memalingkan wajah karena malu.
Terlebih Lilis melihat benda pusaka yang sebentar lagi akan memporak-porandakan dirinya untuk pertama kali.
“Jangan berpaling, karena hanya kamu yang Mas izinkan melihatnya, dan hanya kamu yang boleh menyentuhnya.”
Setelah itu tak ada lagi suara, semua berjalan secara natural, kecupan-kecupan memabukkan, deru nafas yang memburu tak beraturan menambah panas suasana.
Di tengah cu mbuan yang kian panas, tangan Rayyan menyingkirkan sisa kain yang menutupi tubuh istrinya, hingga mereka bisa saling memandang dalam suasana remang-remang memabukkan.
“Ssshhh—”
Rayyan terkejut manakala mendengar rint ihan Lilis seolah ia sangat kesakitan. Rayyan pun heran karena beberapa kali percobaannya belum juga membuahkan hasil. “Kenapa susah sekali?” gerutunya frustasi.
Lilis meletakkan kedua telapak tangannya di dada Rayyan, “Mas—”
“Hmmm—”
“Aku— mmm— ini— bisakah pelan-pelan?” pinta Lilis, karena sejak tadi Rayyan terus mencoba dengan tak sabaran.
“Kenapa, hmm?”
“Sakit,” aku Lilis parau.
“Bukankah kamu pernah—” tebak Rayyan, namun, ucapannya terhenti di tengah jalan.
Lilis menggeleng, “Belum pernah. Mas adalah pria pertama bagiku.”
###
Udahan aahh, kelanjutannya kena sensorr 🔞🔞 Silahkan menunggu kabar mereka di luar pintu. Kata Rayyan, kalau ada penontonnya takut nggak khusyu’.
Dah pada tidur sana! Jangan nungguin lagi 🤣🤣🤣
cepet pulih ya lis
pantes lah kalau kurang gizi, lilis banting tulang buat nyari uang kebutuhan emak tiri