NovelToon NovelToon
Mengejar Mauren

Mengejar Mauren

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Gangster / Teen School/College / Persahabatan / Romansa / Kegiatan Olahraga Serba Bisa
Popularitas:805
Nilai: 5
Nama Author: jeffc

Novel ini berkisah tentang kehidupan SMA yang sarat dengan cinta- cintaan, persahabatan, persaingan antar geng di sekolah, dll. dengan latar belakang olah raga bela diri seperti karate, tinju, kick boxing, muathai dsb

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Axel

Seperti biasa, pagi itu Rommy mengenakan kaos dan celana olahraga lalu berlari ke sekolah. Pagi hari suasana Jakarta sudah sibuk, lalu lintas sudah ramai, para pekerja mulai berangkat kantor dan anak-anak sekolah juga mulai berangkat ke sekolahnya.

Sesampainya di sekolah ia segera mandi dan berganti pakaian dengan seragam sekolah, lalu sarapan. Tak lupa dia berselfie ria di jalan, apalagi kalau tujuannya biar bisa dipajang di Facebook, agar Facebook-nya terlihat lebih macho, kan?

Saat jam istirahat pertama, Rommy langsung mengunjungi ruangan kepala sekolah, menemui Pak Sajit dan Bu Catarina untuk melaporkan yang telah dicapainya menjelang acara kegiatan sosial di jompo.

“Selamat pagi, Pak,” ujar Rommy sopan. “Saya mau melaporkan progres kegiatan sosial yang akan datang, Pak.”

“Oh, mari-mari silakan duduk,” kata Pak Sajit ramah.

Tak lama Bu Catarina ikut bergabung dengan mereka untuk mendengarkan pemaparan Rommy.

“Selamat pagi Pak dan Rommy,” salam Bu Catarina.

“Selamat pagi Bu,” salam balik Pak Sajit dan Rommy hampir berbarengan.

“Silakan dilanjut, Rom, ibu mendengarkan saja biar tahu progresnya sampai mana,” ujar Bu Catarina.

“Baik, Bu,” kata Rommy. “Dari Google Form yang kami buat, panti jompo yang akan jadi lokasi diadakannya kegiatan sosial ini adalah Panti Wreda Surya Kencana, Pak, Bu.”

“Hm, tidak jauh dari lokasi sekolah kita, ya?” kata Pak Sajit.

“Benar Pak,” jawab Rommy. “Dan yang kedua adalah mengenai susunan kepanitiaan, ini Pak, Bu.” Rommy menyerahkan print out susunan kepanitiaan kepada Pak Sajit dan Bu Catarina.

“Ada Erick, Sony, Mauren, bagus, susunan kepanitiaan ini sudah mencakup semua unsur dalam sekolah, bukan kelompok kamu saja,” kata Bu Catarina. “Tapi tunggu dulu, kamu nggak salah memasukkan nama Axel sebagai Seksi Keamanan?”

“Tidak Bu, saya sudah pikirkan semua, termasuk antisipasinya, Bu,” jawab Rommy.

Seusai pertemuan dengan Pak Sajit dan Bu Catarina, komplain tentang susunan panitia datang dari Woro, salah satu anggota panitia yang berpapasan dengan Rommy ketika keluar dari ruangan Pak Sajit.

“Rom, gua keberatan Mauren jadi seksi acara,” kata Woro tanpa basa-basi. “Dia kan anak baru?”

“Secara kemampuan dia OK kok. Dan gua tahu di sekolah lamanya dulu dia aktif dalam kegiatan kayak beginian,” jawab Rommy.

“Bener ya. Asal bukan karena lu demen dia aja,” kata Woro nyindir.

“Gawat, gua naksir Mauren sedunia sudah tahu,” kata Rommy dalam hati.

“Enggak, Wor,” kata Rommy agak kaget ditembak Woro begitu. “Ini murni penilaian obyektif gua.”

Woro melanjutkan. “Lalu lu udah sinting masukin trouble maker kayak Axel ke Seksi Keamanan?” Woro agak ngegas waktu membahas soal Axel.

“Tenang, gua udah pikirin,” jawab Rommy. Tapi bukankah gua juga trouble maker? Ingat, tak selamanya penjahat jadi penjahat terus. Pasti ada sisi baiknya.

Woro diam sejenak lalu berkata, “ya sudah, apa lu kata dah!” Kemudian Woro meneruskan langkahnya, dan Rommy kembali ke kelasnya.

“Berapa anggota The Executioners yang masuk dalam panitia, Son?” Tanya Axel kepada Sonny.

“Nggak banyak, bro. Cuma lu sama gua,” jawab Sonny.

“Brengsek. Rommy mau main-main sama kita,” tandas Axel. “Kalau dari Kelelawar Hitam?”

“Nggak banyak juga, bro. Cuma Rommy dan satu orang lagi, lupa gua siapa,” jawab Sonny lagi. “Nggak tahu, Erick sudah masuk Kelelawar Hitam atau belum dia. Kalau masuk berarti tiga dari Kelelawar Hitam. Yang lain non blok.”

“Kalau dia berani main-main, gua berantakin acaranya,” kata Axel. “Seksi keamanan anggotanya sudah dari The Executioners.”

Siang harinya Pak Sajit mengirimkan pesan di grup WhatsApp sekolah yang isinya:

“Anak-anak, kita baru kedatangan seorang sensei karate baru yang asli Jepang, Sensei Nakamura. Untuk mendaftarkan diri ikut ekskul tersebut, silakan penuhi syarat-syarat administratif yang diminta di website sekolah. Terima kasih.”

Sepulang sekolah, Mauren yang sangat antusias segera gerak cepat menyiapkan syarat-syarat administratif yang diminta, termasuk surat izin orang tua, pas foto, dan beberapa syarat lain. Tak lupa dia menyertakan sertifikat sebagai pemegang sabuk hitam (dan 6).

Tak terkecuali Axel, dia juga bergerak cepat menyiapkan syarat-syarat administratif yang diminta. Tak ada yang tahu, Axel juga menaruh hati pada si cantik Mauren yang jago segala macam bela diri itu.

Rommy? Dia sebenarnya kepingin ikut, karena yakin Mauren pasti ikut ekskul karate itu. Tapi dia tidak sempat mengurus syarat-syarat administratif yang diminta karena kesibukan menyiapkan paperwork kegiatan sosial.

Sementara teman-temannya sibuk menyiapkan syarat-syarat administratif ekskul karate, Rommy justru tenggelam dalam rencana kegiatan sosial. Malam harinya ia membentuk grup WhatsApp “Panitia Kegiatan Sosial SMA Tunas Bangsa” untuk memudahkan koordinasi. Dan pesan pertamanya singkat: ajakan rapat online malam itu.

Rapat malam itu berjalan dengan sederhana, tapi sangat efisien dan menunjukkan bahwa Rommy cukup capable dan serius memimpin panitia.

Usai rapat, Rommy mengunggah screenshot rapat malam itu. Namun seakan menyindir Rommy, Axel menulis status di Facebook-nya, “Sibuk mempersiapkan syarat-syarat administratif ekskul karate di sekolah.”

Facebook yang seharusnya menjadi ajang pertemanan malah kini seperti ajang sindir-sindiran. Apalagi ada anggota Kelelawar Hitam yang menscreenshot status Axel itu dan mengirimkannya ke grup WhatsApp Kelelawar Hitam.

Rommy yang membaca itu, darahnya mendidih dan emosinya meluap dan segera memberi komentar pada status Axel di Facebook-nya: “Jangan merasa menang, urusan kita belum selesai.” Tapi komentar itu segera dihapusnya dan tidak jadi dikirim, karena Rommy segera sadar bahwa kepentingan sekolah lebih penting daripada sekadar persaingan Geng Kelelawar Hitam dan Geng The Executioners.

Mungkin bagi sebagian orang, konflik hanya berhenti di layar ponsel, namun bagi sebagian lainnya, tekanan justru berlanjut ketika mereka pulang ke rumah yang terasa seperti neraka. Contohnya Axel yang stres berat karena pertengkaran kedua orang tuanya yang seakan tanpa ujung pangkal.

“Baik, angkat semua barang-barangmu dan jangan pernah menginjak rumah ini lagi!” bentak Mama Axel.

“Aku peringatkan kamu, Linda, kalau kamu tidak membuka pintu ini, akan aku dobrak!” bentak Papa Axel.

Axel di kamarnya menutup kedua telinganya dengan tangan, tapi bentakan demi bentakan kedua orang tuanya tetap masuk ke dalam telinganya.

Karena tak kuat menahan semua itu, Axel memberanikan diri keluar dari kamar dan membentak kedua orang tuanya, “Papa, Mama, Axel cuma mohon adanya ketenangan di rumah ini. Tolong hentikan keributan kalian!”

“Axel, masuk ke kamarmu! Anak kecil jangan ikut campur urusan orang tua!” bentak Papa Axel.

“Urusan orang tua? Papa tahu Axel sangat stres dan tertekan dengan keributan kalian!” teriak Axel. “Sekarang Papa mau apa? Mau pukul Axel? Ini silakan!”

Muka Papa Axel merah menahan marah, dan bersiap memukul anak tunggalnya itu, tapi tiba-tiba Mama Axel keluar dari kamarnya yang terkunci itu.

“Pukul aku! Jangan pukul Axel!” teriak Mama Axel yang mengurungkan niat Papa Axel memukul Axel. “Axel, demi Tuhan, masuk ke kamarmu, sebelum terjadi sesuatu.”

“Tidak, Ma. Sebelum Papa dan Mama berhenti, Axel tidak akan masuk kamar,” jawab Axel. “Biar Axel jadi korban, asal Papa dan Mama bisa rukun.”

Akhirnya Papa dan Mama Axel mengalah dan berdamai demi Axel. Namun kejadian seperti ini terjadi hampir setiap hari selama beberapa tahun ini. Entah apa yang menjadi pokok persoalannya.

Mungkin itu yang membuat Axel menjadi anak yang bengal dan seorang trouble maker.

Usai keributan dalam keluarganya mereda, Axel masuk kamarnya dan membaca pesan di grup WhatsApp panitia kegiatan sosial, membaca susunan panitia yang dikirim oleh Rommy dan menyeringai.

“Tunggu saatnya.”

1
bartolomeus marsudiharjo
Gue banget
bartolomeus marsudiharjo
Seru banget. Menjanjikan.
jc: terimakasih
total 1 replies
Noname
Karya Ai ?
jc: bukan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!