Queenora kehilangan bayinya sebelum sempat menimangnya, dia difitnah, dan dihancurkan oleh keluarga yang seharusnya melindungi.
Namun di ruang rumah sakit, tangisan bayi yang kehilangan ibunya menjadi panggilan hidup baru.
Saat bayi itu tenang di pelukannya, Queenora tahu, cinta tak selalu lahir dari darah yang sama, tapi dari luka yang memilih untuk mencinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah janji
…ia hanya perlu menyentuhnya. Jari-jarinya yang gemetar berhenti sesaat di udara, melayang hanya beberapa milimeter dari kehangatan kulit Queenora.
Sebuah keharusan yang aneh, sebuah dorongan yang lahir dari tempat yang lebih gelap dan lebih dalam daripada duka, kini menguasai dirinya.
Ia ingin merasakan kehangatan dan kelembutan kulit itu di bawah sentuhannya, ingin memastikan bahwa kehangatan ini nyata, bahwa kedamaian yang terpancar dari wajah lelap gadis itu bukanlah ilusi yang akan lenyap begitu ia membuka mata.
Aroma sampo bunga dari rambut Queenora bercampur dengan aroma manis susu bayi yang melekat di pakaiannya, sebuah wewangian yang seharusnya tidak serasi, tetapi entah bagaimana kini terasa seperti aroma rumah. Rumah yang sesungguhnya. Napasnya tercekat.
Pengkhianat, sebuah suara dingin di dalam kepalanya menjerit. Suara itu berwajah Luna. Seketika, kehangatan yang menyelimutinya terasa membakar.
Bayangan istrinya yang telah tiada muncul begitu jelas, matanya yang selalu tampak sedikit sedih menatapnya dengan kekecewaan yang sunyi.
Duka untuk Luna adalah sebuah sumpah, sebuah monumen yang ia bangun di dalam hatinya. Dan kini, ia berdiri di depan monumen itu, hendak mencoretinya dengan perasaan terlarang untuk wanita lain.
Rasa bersalah menghantamnya seperti gelombang es, memadamkan api keinginan yang baru saja menyala. Ini salah. Ini semua salah. Queenora ada di sini untuk Elios.
Hanya untuk Elios. Kelembutannya, empatinya, semua itu adalah bagian dari pekerjaannya. Dan keutuhan yang ia rasakan barusan? Itu hanyalah ilusi dari kelelahan emosional, sebuah fatamorgana di tengah gurun kesepiannya.
Dengan tekad yang dipaksakan, Darian mulai menggeser tubuhnya, sangat perlahan, mencoba melepaskan diri tanpa membangunkan Queenora. Setiap milimeter terasa seperti perjuangan. Bahunya terasa kebas, tetapi ia tidak peduli. Ia harus menciptakan jarak, mengembalikan dinding yang telah runtuh dengan begitu mudahnya.
Darian harus kembali menjadi majikan yang dingin, sang duda yang berduka. Peran itu aman. Namun, saat ia berhasil menciptakan sedikit celah di antara mereka, Queenora menggeliat dalam tidurnya.
Kepalanya merosot sedikit lebih dalam ke lekuk leher Darian, seolah mencari kehangatan yang hilang. Lalu, sebuah bisikan lirih keluar dari bibirnya yang sedikit terbuka, sebuah rintihan dari alam mimpi yang begitu rapuh dan pecah.
“Jangan…” gumamnya, alisnya berkerut menahan sakit yang tak terlihat.
“Jangan pergi… kumohon, jangan tinggalkan aku juga…”
Darian membeku. Seluruh tubuhnya menegang. Kata-kata itu, diucapkan dalam ketidaksadaran, menghantamnya dengan kekuatan yang melumpuhkan.
Itu bukan sekadar gumaman acak. Itu adalah gema dari luka terdalam Queenora, sebuah permohonan yang lahir dari trauma ditinggalkan dan dikhianati oleh semua orang yang seharusnya melindunginya. Itu adalah jeritan jiwa yang sama persis dengan ketakutan yang ia pendam tentang Elios.
"Jangan tinggalkan aku juga...."
Tiba-tiba, Luna terasa begitu jauh. Dukanya terasa seperti gema dari masa lalu yang memudar. Yang nyata saat ini adalah wanita yang gemetar dalam tidurnya di bahunya, seorang penyintas yang bahkan dalam mimpinya pun masih berjuang melawan hantu-hantu pengabaian.
Dan ia, dengan keegoisannya, nyaris menjadi satu lagi hantu yang meninggalkannya. Perlahan, sangat perlahan, Darian mengurungkan niatnya. Ia merelaksasikan bahunya, membiarkan kepala Queenora kembali bersandar dengan nyaman. Pandangannya beralih dari wajah Queenora ke kereta dorong di mana Elios tertidur dengan damai.
Putranya. Dan wanita ini. Keduanya adalah korban dari takdir yang kejam, keduanya diselamatkan oleh satu sama lain. Dan ia? Ia berdiri di tengah-tengah mereka, terbelah antara masa lalu yang menghantuinya dan masa kini yang menuntutnya. Ia tidak bisa memilih masa lalu.
Masa lalu adalah kuburan yang dingin. Masa kini adalah kehangatan ini. Napas yang teratur ini. Kebutuhan yang tak terucap ini. Ia tidak tahu apa sebutan untuk perasaan ini. Ini bukan lagi sekadar ketertarikan fisik. Ini adalah… kebutuhan untuk melindungi.
Sebuah keinginan yang luar biasa kuat untuk memastikan bahwa tidak akan ada lagi yang menyakiti gadis ini. Untuk memastikan bahwa mimpi buruknya tidak akan pernah menjadi kenyataan. Tangannya yang tadi ragu-ragu kini terangkat kembali.
Namun, kali ini tujuannya berbeda. Bukan untuk menyentuh karena hasrat, melainkan untuk memberikan kepastian. Ia dengan lembut menyingkirkan sehelai rambut yang jatuh di dahi Queenora. Gerakannya begitu ringan, nyaris tak terasa.
Kerutan di dahi Queenora sedikit mengendur. Darian mencondongkan tubuhnya sedikit, bibirnya mendekat ke telinga Queenora, cukup dekat hingga napas hangatnya bisa dirasakan. Ia akan memberikan jawaban atas permohonan dalam mimpi itu, sebuah janji yang mungkin akan ia sesali, sebuah janji yang melanggar sumpahnya pada duka. Tapi ia tidak peduli lagi.
“Aku tidak akan meninggalkanmu, Queenora,” bisiknya, suaranya serendah gemerisik daun.
“Setidaknya tidak sekarang.” Ia menarik diri, membiarkan kata-kata itu melayang di udara yang sunyi. Sebuah kelegaan yang aneh menyelimutinya, seolah dengan mengucapkan janji itu, ia telah memilih sebuah jalan.
Untuk saat ini, jalan itu sudah cukup. Ia menyandarkan kepalanya kembali ke puncak kepala Queenora, menutup matanya, dan membiarkan keheningan malam menyelimuti mereka bertiga.
Keheningan yang baru itu terasa sakral, sebuah janji yang melayang di udara malam.
Rumah itu akhirnya terasa damai. Namun, kesucian itu pecah bahkan sebelum sempat mengendap. Sebuah perubahan samar pada cahaya di ujung koridor menarik perhatian Darian.
Matanya terbuka perlahan, mencoba menyesuaikan diri dengan bayangan. Sebuah garis cahaya tipis dari bawah pintu kamar tamu yang seharusnya kosong kini terlihat jelas. Dan bersamaan dengan itu, sebuah bayangan panjang dan ramping merayap tanpa suara di lantai marmer, mendekat ke arah mereka.
Sesosok bayangan berdiri membeku di ambang pintu ruang keluarga, diam-diam mengamati segalanya.