NovelToon NovelToon
Paper Plane Memories

Paper Plane Memories

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Keluarga / Bullying dan Balas Dendam / Ibu Tiri / Balas Dendam / Romantis
Popularitas:546
Nilai: 5
Nama Author: SellaAf.

Aera, seorang anak perempuan yang kehilangan ibunya karena meninggal. Setelah ibu tirinya datang, hidup Aera berubah total. Ayahnya yang dulunya sangat mencintainya, kini tidak peduli lagi. Aera merasa sendirian dan terkucil, seperti bawang yang terlupakan. Aera hanya ingin satu hal: mengembalikan kasih sayang ayahnya. Tapi, dia menemukan kebenaran yang mengerikan: ibu tirinya lah yang membunuh ibu kandungnya. Aera merasa marah dan sedih, tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Suatu hari, datanglah Leonar, seorang laki-laki muda. Dia ramah dan baik, serta peduli pada Aera. Aera merasa bahagia, tapi kebahagiaan itu tidak akan bertahan lama. Leonar membantu Aera untuk membongkar kasus meninggalnya ibu kandungnya, tapi mereka tidak tahu bahwa ibu tirinya akan melakukan apa saja untuk menyembunyikan kebenaran. Bagaimana Aera dan Leonar akan menghadapi bahaya yang mengancam mereka? Apakah mereka akan berhasil membongkar kebenaran dan mengembalikan kasih sayang ayah Aera? Ataukah mereka akan gagal, dan Aera akan tetap menjadi bawang yang terlupakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alexsa Aldebaran

Bel sekolah berbunyi, menandakan waktu belajar telah selesai. Aera segera merapikan buku-buku yang berserakan di atas meja dan memasukkan nya ke dalam tas sekolah, lalu dengan rasa senang ia ikut berhamburan keluar kelas bersama teman-temannya.

"Semoga gue nggak ketemu sama Panthera atrox," gumam Aera.

Aera keluar dari kelasnya melihat ke kiri dan ke kanan, terlihat suasana begitu gembira tidak seperti hari-hari sebelumnya, setelah sampai di pintu gerbang sekolah ia pun mulai memesan taksi online.

Setelah menunggu beberapa menit akhirnya taksi online yang ia pesanpun akhirnya datang. Aera langsung buru-buru memasuki mobil tersebut.

Saat di lampu merah, ia melihat pengendara motor berboncengan mesra dengan sang wanita yang memeluk erat tubuh pemuda di depannya.

"Kisah cintanya orang-orang kenapa pada mulus banget sih." Gerutunya, "Gue boro-boro mulus, pacaran aja baru pertama kali dan itu juga cuma sepuluh menit." Aera menggelengkan kepalanya.

Saat supir taxsi akan melajukan mobilnya, matanya menangkap satu mobil yang sangat ia kenali.

Aera pun menyuruh supir taksi tersebut untuk mengikuti mobil itu dari belakang.

"Pak, ikuti mobil yang di depan ya." Pinta Aera kepada supir taksi itu.

"Siap, Neng." Ucapnya, Pak supir pun akhirnya kembali melajukan mobilnya mengikuti mobil hitam yang ada di depannya itu.

Mobil hitam di depannya menuju perumahan yang cukup mewah. Setelah sampai di perumahan tersebut Aera pun meminta supir taksi untuk parkir agak jauh dari mobil tersebut agar tidak ketahuan.

Ia melihat laki-laki yang turun dari mobil dan memasuki halaman rumah.

Perumahan ini tipe yang tidak memiliki pembatas, jadi halaman rumah yang satu dengan yang lain saling terhubung.

Aera melihat wanita yang sangat ia kenali keluar dari rumah dan langsung memeluk tubuh laki-laki itu. Tak sampai di situ, Aera di buat kaget lagi dengan kalung berliontin dan sertifikat perumahan pemberian laki-laki itu pada wanita tersebut.

"Sepertinya perumahan ini memang milik wanita jalang itu. Enak banget udah di kasih rumah gede sekarang malah di kasih perumahan lagi. "Gumamnya pelan,

Dengan gemas, wanita itu mencium pipi laki-laki itu, bahkan mereka saling tertawa seperti satu keluarga yang bahagia.

"Jangankan bercanda bersama, anggap gue anaknya aja enggak," Aera menatap pilu pada sosok laki-laki dan wanita tersebut. Dua orang yang membuat hatinya tercabik-cabik.

Potongan- potongan kelam Aera berputar di otaknya.

Jangan sentuh saya!

Jangan pernah muncul di hadapan saya!

Dasar anak sialan!

Anak pembawa sial!

Saya bunuh kamu!

Kamu bukan anak saya lagi!

Nafas Aera tercekat, dadanya naik turun dengan mata yang memerah.

Ia sangat benci dengan penolakan laki-laki itu, apalagi saat ia tahu kalau laki-laki itu mengkhianati mamah nya.

"Enggak, lo nggak boleh nangis, lo nggak boleh lemah, lo harus bisa berdiri di atas kaki lo sendiri, Aera." Ucapnya, menyemangati dirinya.

"Kalian harus bertanggung jawab atas apa yang kalian perbuat sama nyokap gue, pengkhianat kaya lo nggak pantes buat hidup. Reno Pahresa!" Aera tersenyum menyeramkan,

Saat melihat kedua orang itu masuk kedalam rumah, Ia berjalan perlahan menuju mobil berwarna hitam itu, matanya mengedar mencari sesuatu yang ia butuhkan, ia mengambil satu batu besar dan langsung memasang kuda-kuda untuk melempar batu itu ke kaca mobil milik Reno.

Prang!!!

Suara pecahan mobil membuat pemiliknya dan satu wanita itu keluar dari rumah.

"Astaga mas, mobil kamu," ucapnya sambil menutup mulut dengan tangannya.

Reno mendekat dan melihat kaca mobil depannya pecah.

"Siapa yang lakuin ini mas?"

Reno terdiam, ia memikirkan siapa yang berani mengusik ketenangan nya.

"Nggak ada yang berani mengusik hidup seorang Reno Pahresa, kecuali—Anak sialan itu." Lirihnya.

Reno tersenyum miring, ia akan memberikan pelajaran pada gadis itu dengan setimpal.

Aera sendiri sudah meninggalkan perumahan tersebut, "Mampus! Pasti si Reno lagi marah-marah," Aera tertawa terbahak-bahak.

...----------------...

Sedangkan di sisi lain, Wain Alvarez sedang tiduran di paha Fuji—Ibu kandung wain, dengan Ijul Alvarez—Ayah kandung wain, yang melirik-lirik sinis pada anaknya itu.

"Apa, sih. Jul, lirik-lirik mulu?"

"Kamu ngapain pulang, sih? Udah bener rumah ini damai nggak ada kamu," tuturnya masih menatap sinis pada Wain.

"Suka-suka aku lah, iya kan mamiku sayang?" Wain memanasi Izul dengan mencium pipi Fuji.

Pasangan anak dan bapak itu memang sering bertengkar dengan Fuji yang menjadi bahan rebutan.

"Mih, suruh anak kamu pergi deh. Papih males kalau ada anak tengil ini."

"Anak tengil yang papih maksud itu anak papih juga, yah!" Fuji menggelengkan kepalanya.

"Kayanya anak papih ke tuker, deh mih waktu  dirumah sakit," celetuk Izul yang membuat Wain  melempar batal sofa padanya.

"Ngaca jul ngaca! Muka kita bahkan mirip. Cuman bedanya anaknya lebih ganteng dari pada bapaknya!" Wain menyugar rambutnya dengan jari-jari tangannya.

Izul yang melihat Wain langsung memutarkan matanya malas, "Ckkk... kalau bukan karena papih yang goyang, kamu nggak bakal lahir di dunia ini."

"Pih... udah." Sahut Fuji malu-malu.

...----------------...

Bruk!

Ia jatuh terduduk saat salah satu gadis dengan seragam yang sama dengan miliknya sengaja mendorongnya, hingga jatuh ke lantai dengan wajah berurai air mata.

Srek!

"Makannya lo nggak usah kecantikan bitch! Udah jelek belagu lagi! Gatel banget sama cowok orang." Cibir gadis itu dengan tangan menjambak rambutnya kemudian gadis itu di hempaskan hingga kepalanya hampir terkantuk lantai.

Alexsa, gadis yang saat ini di rundung oleh tiga gadis seangkatannya, mendongak menatap mereka dengan takut kemudian ia menundukkan kepalanya, "Aku atau cowok kamu yang ganjen? Udah jelas-jelas Davin yang duluan ngasih coklat ke aku." Ucapnya.

"Anj*ng ini orang! Udah jelas-jelas lo yang salah!  Ngerasa paling cantik lo setelah dikasih coklat sama Davin, Hah!"

Alexsa terdiam, selalu seperti ini, ini bukan kali pertama ia dirundung, sudah berkali-kali mereka selalu seperti ini kepadanya.

Jangan tanya kenapa ia tidak melaporkan mereka pada guru.

Sudah, ia pernah melaporkannya, tapi apa yang bisa di harapkan dari anak yatim piatu seperti dirinya. Uang lah yang menutup kebusukan mereka. Hampir tiga tahun ia sekolah di sini, dirundung adalah makanan keseharian nya, ingin menyerah? Tentu, memang orang mana yang sanggup jika terus-terusan di hadapkan dengan kumpulan iblis seperti mereka, Walaupun Alex Aldebaran sepupunya tapi Alexsa tidak pernah mengadu ke siapapun ia menutupi semua masalahnya selama ini.

1
SellaAf
😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!