AKU baru saja pulang dari medan perang dengan membawa kekalahan pihak musuh di genggaman tangan mendadak dikejutkan oleh kemunculan seorang anak perempuan kecil berumur lima tahun dari dalam karung goni milik salah satu perompak yang menghalangi jalan. Rasa terkejutku bukan karena sosoknya yang tiba-tiba muncul melainkan perkataan anak itu yang memanggilku Ayah padahal aku tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun. Apakah ini salah satu trik konyol musuhku? Sebab anak itu sangat mirip denganku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bwutami | studibivalvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 9: chrysanthemum: flower of november [2]
MASIH menimbang apakah ini keputusan tepat atau tidak, Elora telah berakhir tenggelam menikmati pemandangan dari luar jendela kereta kuda. Meski tidak sesuai dengan rencana awal–tetapi, karena sudah begini, ya, apa boleh buat. Tidak ada pilihan selain merutuki diri sendiri yang telah kalah darinya. Dia kemudian mengubah posisi duduk menghadap dinding kereta sedangkan kedua tangannya menempel di kaca, terkadang membuka mulut ketika pandangannya menangkap sesuatu yang menarik.
“Hamon di mana?”
“Di depan.” Dia mengangguk, mengerti. “Kau makin gemuk setelah berada di kediaman Duke.”
Dia tiba-tiba memperbaiki posisi duduk seperti semula. Menatapku dengan pandangan yang berbinar-binar dan kedua tangan yang dikepal di atas lutut. Sepertinya, dia ingin mengatakan sesuatu yang serius. “Tuan Duke seling membawa banyak makanan dan menyuluh El makan telus … tapi, Papa lebih unggul kalena El lebih menyukai Papa!”
“Cih.”
“El selius. El menyukai Papa sebesal ini!” katanya sembari merentangkan kedua tangan lebar-lebar.
Aku mengabaikannya lalu menatap ke luar. Tangan kananku bersandar di dinding kereta sedangkan kakiku duduk menyilang. Selama beberapa menit, suasana kembali sepi. Elora tidak berbicara lagi sementara aku larut dalam pikiran yang entah ke mana. Kehampaan yang tercipta hanya diisi oleh suara tapak kuda dan putaran roda kereta.
“Papa, kita mau pelgi ke mana?”
“Petunia.” Aku memejamkan mata. “Perjalanannya masih panjang. Simpan tenagamu dan istirahatlah. Tidak usah mengoceh.”
Jika dipikir lagi, apakah aku sekarang terlihat seolah dari awal aku menginginkan kami pergi bersama? Aku mengernyit. Benar, pasti begitu. Menyiapkan kereta kuda dan menjemputnya pagi-pagi sekali di kediaman Duke. Sejauh mana pun aku menolak, dua fakta itu adalah dasar kuat yang membuat orang-orang mungkin berpikir bahwa aku memang merencakan hal ini. Para pelayan akan mulai bergosip dan cerita yang dilebih-lebihkan akan terdengar pagi ini di seluruh istana.
“Um, apakah kita akan belmalam?”
Perjalanan menuju Petunia menempuh kurang lebih sepuluh jam dengan kereta kuda, tujuh jam dengan menaiki kuda. Namun, karena ada anak kecil yang ikut, perjalanan pasti tertunda karena kereta berhenti untuk istirahat. Itu berarti estimasi waktunya adalah kurang lebih dua belas jam.
Jika membuka portal sihir maka akan lebih cepat sampai, tetapi membawa semua rombongan sekaligus–akan membutuhkan [mana] yang tidak sedikit. Aku memang bisa melakukannya dengan mudah, tetapi masalahnya adalah aku tidak ingin mengeluarkan [mana] sebesar itu untuk Elora. Di sisi lain, melakukan perjalanan jauh bersama anak kecil juga pasti sangat merepotkan. Namun, akan lebih jauh merepotkan jika dia membuat masalah karena lapar. Maka, setelah menimbang selama beberapa saat, akhirnya aku memutuskan untuk menggunakan portal sihir. Keputusan ini jauh lebih baik dibanding harus mendengar kebisingan yang mungkin dia lakukan.
“Tidak, kita akan tiba sebelum jam makan siang.”
***
Petunia perlahan membaik sejak kunjungan terakhir ketika aku memberi makan kegelapan beberapa waktu lalu. Sedikit demi sedikit masyarakat mulai kembali beraktivitas, tempat tinggal perlahan dibangun dibantu oleh pekerja yang dikirim dari istana, sebagian masyarakat bekerja sebagai buruh kasar pada proyek pembangunan penampunhgan air bawah tanah, dan para wanita mulai membantu membersihkan sisa-sisa hantaman banjir.
Meski musim gugur di perbatasan barat agak sedikit dingin dibanding tempat lain, masyarakat justru terlihat lebih bersemangat melakukan kegiatan. Mungkin karena ini demi pembangunan wilayah mereka, sehingga mereka sangat berambisi meski angin meniupkan hawa dingin. Sebab banyak pepohonan dan sebagian besar Petunia adalah hutan dan sungai, maka ada banyak daun gugur yang memenuhi jalan. Suasana cokelat dan jingga lebih terasa sepanjang mata memandang.
Di tengah kehangatan Petunia yang sebenarnya sedang diselimuti hawa dingin, aku sama sekali tidak mengharapkan sambutan serupa dari masyarakat ketika menginjakkan kaki di sini. Biar bagaimana pun, aku adalah orang yang membunuh sanak famili mereka. Namun, di waktu bersamaan juga bertindak sebagai penolong. Ini jelas bukan situasi yang mudah. Namun, ketika mengetahui kedatanganku ke Petunia, masyarakat sana tetap berbaris dan menyambutku meski dengan ketakutan yang tidak lepas dari sorot mata mereka. Hal tersebut tentu adalah pemandangan yang biasa saja bagiku karena sudah sering mendapat pandangan seperti itu. Namun, bagi Elora, itu adalah hal pertama baginya.
“Selamat datang, Yang Mulia.” Count of Cantaloupe memberi salam. “Apakah Anda melakukan perjalanan dengan nyaman?”
Aku segera melirik Elora sedangkan yang dilirik sibuk mengedarkan pandangan sembari berpegangan di ujung jubahku. “Ada banyak hewan yang menempel sehingga itu sedikit mengganggu.”
“Ma–maaf?” Dia terlihat bingung, tetapi aku tidak memberi komentar. Ekor matanya kemudian melirik ke tempat yang lebih rendah sebelum akhirnya membungkukkan badan kembali. “Salam kepada Matahari Adenium. Saya adalah Count of Cantaloupe. Senang bertemu dengan Yang Mulia Putri. Saya sungguh tidak menyangka Anda juga akan datang. Mohon maafkan saya karena terlambat menyadari kehadiran Anda.”
Elora malah mengeratkan genggaman tangan di jubahku sehingga mau tidak mau aku harus menyentuh pundaknya dan berkata, “Count sedang berbicara padamu.”
“Ya, Tuan Count!”
“Apakah Anda melakukan perjalanan dengan nyaman, Putri?” Count bertanya ramah. Namun, yang ditanya malah bergeser mundur ke samping, bersembunyi di bawah kakiku. Sembari tangannya yang bebas memeluk paha, kepalanya menyempil keluar bersama dengan sisi bagian gaunnya yang kelihatan karena tidak sepenuhnya menyembunyikan diri.
“Putri memang sedikit pemalu.” Duke of Astello mengambil alih. “Dia hanya menempel pada Yang Mulia, haha. Benarkan, Yang Mulia?”
Aku berdeham, mengembuskan napas, lalu beralih kepada Count of Cantaloupe yang sedang berusaha mencerna dengan serius apa yang terjadi saat ini. Tentu saja, siapa pun yang melihat pasti tidak akan percaya dengan apa yang dikatakan Duke of Astello. Bagaimana bisa Elora yang seperti tidak takut padaku itu adalah seorang yang pemalu?
“Aku akan mengecek proyeknya. Bawakan juga laporan dan rincian anggarannya.”
“Baik, Yang Mulia. Kalau begitu, silakan ikuti saya.” Count of Cantaloupe kemudian melirik Elora sebelum bertanya, “Apakah Putri juga akan ikut?”
“Ya!”
“Tidak.” Kemudian aku merasa bagian jubahku kembali ditarik. Namun, tanpa menoleh kepadanya, aku segera berkata, “Hamon, bawa Elora berkeliling.”
“Perintah Yang Mulia saya terima.”
Aku dapat merasakan dia bergerak keluar, tidak lagi bersembunyi, tetapi berdiri di tempatnya tadi. Salah satu tangannya masih menggenggam ujung jubahku lalu tarikan kecil di bagian bawah jubah membuatku menoleh. Pelaku yang menarik malah tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya. Aku menunggu dia mengatakan sesuatu, tetapi yang terjadi malah sebaliknya, dia tidak mengatakan apapun dan malah menarik sudut bibir ke atas seperti orang yang tidak waras.
“Apa?”
Elora menggeleng. Aku menghela napas panjang dan berkata, “Pergilah bersama Hamon. Jangan membuat masalah.”
Pegangan di ujung jubahku perlahan mengendur. Aku sempat meliriknya sebentar sebelum benar-benar beranjak. Dari jarak beberapa meter, dia mengayunkan tangan dan berteriak, “Dah, Papa! El akan menunggu dengan sabal.”
***
Yang paling pertama selesai dibangun adalah Katedral G-Cans, bangunan bercat putih bersih dan merupakan yang terbesar di seluruh benua. Itu adalah bangunan utama yang nantinya menghubungkan seluruh pipa-pipa saluran air bawah tanah sekaligus sebagai kontrol utama antisipasi banjir. Disebut katedral karena terdapat banyak tiang di atas tanah. Memasuki bagian terdalam bangunan, maka akan ditemukan sebuah ruangan yang dijaga ketat.
Di dalam sana, terdapat tangga menuju ke bagian dalam bumi, di mana pipa-pipa dan saluran air berada. Sebab digali cukup dalam dari atas permukaan tanah, maka anak tangga yang berjejer agak banyak dengan rute yang didesain berbentuk setengah lingkaran. Tangga hanya akan sampai di pertengahan bumi, pipa-pipa besar disusun ke atas seperti tiang, lalu nantinya saluran air yang paling besar akan dibangun paling bawah. Count of Cantaloupe menjelaskan saat menuruni tangga.
Ketika tiba di ujung anak tangga, para pekerja dan buruh nampak bolak-balik mendorong kereta berisi tumpukan tanah bekas galian untuk dibawa ke atas. Penyihir yang membantu terbagi dalam beberapa kelompok: pengebom tanah, penjaga stabilitas, dan pengatur udara di dalam lorong sedangkan ksatria dari keluarga Duke of Astello bertugas sebagai penjaga, tenaga bantuan, dan medis.
“Bagaimana dengan keadaan anak-anak dan wanita?”
“Semuanya hampir pulih, Yang Mulia.” Duke of Astello yang ikut dalam peninjauan proyek melaporkan. “Luka ringan dan menengah sebanyak 20 orang telah berangsur membaik, anak-anak yang terluka secara mental perlahan riang kembali, dan orang tua diberikan ruangan khusus dan perhatian ekstra. Untungnya, tidak ada penyakit menular sehingga kesehatan dan keamanan dapat terkendali.”
Aku menyerahkan laporan yang diberikan Count of Cantaloupe kepada kepala ksatria kekaisaran, berkata, “Duke of Astello akan menjadi penanggung jawab langsung Petunia. Sampai pembangunan selesai dan bisa difungsikan, tinggallah untuk sementara di sini dan bangun wilayah ini. Aku mengandalkanmu.”
“Perintah Yang Mulia akan saya laksanakan.” Duke of Astello menunduk hormat.
Lalu, aku beralih pada Count of Cantaloupe. “Kerja bagus. Untuk selanjutnya, aku percayakan proyek ini kepadamu. Kalian berdua bekerja samalah untuk membangun kembali Petunia.”
Count memberi hormat. “Saya menerima perintah Yang Mulia.”
Berbalik, menaiki anak tangga diikuti barisan prajurit di belakang. Ketika telah keluar dari Katedral G-Cans, Duke of Astello yang berada selangkah di belakang, berkata pelan, “ Sudah waktunya jam makan siang, Yang Mulia. Putri pasti sedang menunggu Anda.”
“Ya.”
Ketika dalam perjalanan ke tenda, aku tidak sengaja mendapati para wanita memasak di atas api unggun di depan tenda yang dijadikan dapur umum. Penyihir membuat apinya stabil dan aman bahkan ketika ditiup angin. Mereka lalu membawa masuk makanan ke dalam tenda pengungsian setelah selesai memindahkannya ke dalam wadah. Para pekerja muncul dari arah yang berlawanan. Sedetik kemudian, orang-orang mulai ramai berdatangan. Di tengah angin yang bertiup lumayan kencang, daun-daun yang beterbangan, lalu anak-anak yang berlarian entah ke mana, semuanya tertawa hangat seolah tidak merasa sedih dengan musibah yang menimpa mereka.
Perlahan, aku melanjutkan langkah kembali ke tenda berwarna hitam yang bentuknya berbeda dari yang lain. Terletak paling ujung dengan dua orang penjaga, atap segitiga dengan bendera Kekaisaran Adenium di atasnya. Terlihat tidak kalah besar dari tenda pengungsi yang didirikan di sini. Ketika menyibak pintu tenda ke atas, senyuman Elora yang selalu menyambutku dalam kondisi apapun adalah hal pertama yang kujumpai.
Seolah tidak terpengaruh dengan dinginnya Petunia, senyuman hangat itu terlihat istimewa di wajahnya.
“Selamat datang, Papa!”[]
ya ampun.... elora
detil sekali penjelasannya
butuh siraman cinta agar lebih melunak