NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali Untukmu

Terlahir Kembali Untukmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Rebirth For Love / Hamil di luar nikah / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami / Reinkarnasi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Volis

Renan Morris pernah menghancurkan hidup Ayuna hingga gadis itu memilih mengakhiri hidupnya.

Ia sendiri tak luput dari kehancuran, sampai kematian menutup segalanya.

Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Renan terlahir kembali ke hari sebelum kesalahan fatal itu terjadi.

Ayuna masih hidup.
Dan sedang mengandung anaknya.

Demi menebus dosa masa lalu, Renan memilih menikahi Ayuna.

Tapi bagi Ayuna, akankah pernikahan itu menjadi rumah, atau justru luka yang sama terulang kembali?

Bisakah seorang pria menebus dosa yang membuat wanita yang mencintainya memilih mati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Volis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18. Pesta Ultah Edric

Rotten Grand Ceremony.

"Edric, Tuan Muda Kedua Morris benar-benar datang hari ini?” tanya seseorang di dalam klub.

Edric mengangguk, lalu buru-buru menghentikan pelayan yang hendak menyalakan cerutu Davidoff.

“Tunggu. Hari ini dilarang merokok di dalam ruangan. Ada area khusus di luar.”

“Apa-apaan ini?” gerutu seseorang.

“Itu perintah Tuan Muda Kedua Morris,” jawab Edric dengan nada canggung.

“Katanya akhir-akhir ini dia tidak ingin mencium bau asap.”

Beberapa orang saling pandang, lalu akhirnya mengalah.

“Baiklah. Antar aku ke area merokok.”

Di sudut lain, seseorang berbisik pada Silvia,

“Pasti karena kamu tidak suka bau asap. Dia benar-benar peduli padamu.”

Silvia mengangkat alisnya tipis. “Setidaknya dia masih punya hati nurani. Tapi papaku bilang, dia tidak akan menyetujui apa pun sampai Renan benar-benar sukses. Lagi pula, yang paling cakap di keluarga Morris tetap kakak tertuanya.”

Sayangnya, kakak tertua Renan adalah tipe workaholic yang nyaris tak bisa didekati. Dibandingkan itu, playboy seperti Renan terasa jauh lebih mudah dihadapi, setidaknya untuk sementara.

Ia sudah berencana menjauh, begitu kesempatan datang.

Adrian tiba tepat saat kalimat itu terdengar. “Kalian terlalu jauh berpikir,” katanya datar.

Silvia mengerutkan kening. “Maksudmu apa?”

“Yang tidak tahan bau asap itu bukan kamu.”

Seseorang menimpali dengan nada bercanda, "Adrian, jangan bilang kamu cemburu hanya karena tahu Silvia dekat dengan Tuan Muda Kedua Morris?”

Sudut bibir Adrian berkedut. “Kalian ini benar-benar kreatif.”

“Tuan Muda Kedua Morris sudah datang!”

Seruan itu langsung menarik perhatian semua orang.

Hampir semuanya bergerak ke pintu masuk, kecuali Silvia, yang tetap bertahan di tempatnya. Dalam pandangannya, seorang perempuan seharusnya menjaga harga diri, bukan berlarian menyambut pria.

Renan hari ini mengenakan setelan hitam. Penampilannya jauh dari kesan santai biasanya, ia terlihat tegas, rapi, dan penuh wibawa.

Saat sopir membuka pintu belakang, banyak orang tertegun. Sekilas, aura itu mengingatkan mereka pada Revan.

Tak heran. Mereka memang bersaudara.

Renan turun lebih dulu, lalu menggenggam tangan Ayuna. Dengan penuh perhatian, ia merapikan bagian bawah gaunnya sebelum melangkah.

Kerumunan di pintu masuk terdiam sejenak.

Cahaya jatuh tepat ke tubuh Ayuna, membuat siluetnya terlihat bersih dan tenang. Gaun yang dikenakannya tidak mencolok, namun jatuh dengan presisi, menegaskan garis tubuhnya tanpa berlebihan.

Rambutnya terurai menjuntai lembut, perhiasan sederhana memantulkan kilau halus setiap kali ia bergerak. Ia tidak tersenyum berlebihan, tidak pula menunduk.

Sikapnya tenang, seperti seseorang yang tahu tempatnya, dan tidak perlu membuktikan apa pun.

Sejak kapan Renan bersikap seperti ini?

“Semua orang melihatmu,” bisik Ayuna pelan, sedikit malu.

“Mereka akan menghormatimu karena aku peduli padamu,” jawab Renan tanpa ragu.

“Aku suamimu. Selama aku berdiri di sisimu, mereka akan memperlakukanmu dengan hormat.”

“Kakak Kedua,” sapa Edric sambil mendekat.

Renan adalah putra kedua keluarga Morris, sehingga panggilan itu sudah menjadi kebiasaan. Namun di lingkaran ini, pengaruhnya tak kalah dari siapa pun.

Ia mengangguk singkat.

Sopir menyerahkan hadiah yang dibawanya. Renan mengambilnya dan langsung menyerahkannya pada Edric.

“Aku lihat jam tangan ini siang tadi. Kupikir cocok untukmu.”

Edric menerimanya dengan dua tangan. “Selera Kakak Kedua memang selalu tepat.”

“Ayo masuk. Semuanya sudah siap.”

Saat berjalan ke dalam, Edric memberi anggukan sopan pada Ayuna, sebuah salam yang jelas dan penuh penghormatan.

Salah satu teman Edric melirik Renan lalu menatap Ayuna dengan rasa ingin tahu yang terang-terangan.

“Eh, Kak Renan,” katanya sambil tersenyum setengah bercanda, “ini pacar baru, ya?”

Beberapa orang di sekitar refleks menoleh.

Ekspresi Ayuna tidak berubah mendengar pertanyaan orang itu, ia hanya menunggu.

Adrian yang berdiri di samping mereka mengangkat alis, lalu menepuk bahu pria itu ringan, seolah menertawakan kebodohannya sendiri.

“Istri,” katanya singkat. “Bukan pacar.”

Senyum pria itu langsung menghilang. “Oh. Maaf, maaf. Aku nggak tahu.”

Renan baru menoleh, tatapannya tenang, nyaris malas.

“Sekarang tahu,” ujarnya datar.

Nada suaranya rendah, tidak keras, tapi cukup untuk menutup topik.

Pria itu tertawa canggung dan segera mengangkat gelasnya. “Selamat datang, Kakak Ipar.”

Ayuna mengangguk sopan.

Tidak perlu penjelasan panjang.

Satu koreksi sudah cukup untuk menempatkan segalanya pada posisi yang benar.

Ia bisa merasakan suasana berbeda. Tidak ada tatapan meremehkan. Yang ada justru kehati-hatian, pengamatan, dan rasa hormat.

Wajahnya tetap tenang.

Ia tahu, kini ia bukan hanya Ayuna.

Ia adalah istri Renan dan ia tidak akan membiarkan suaminya kehilangan muka.

❀❀❀

Dengan satu lengannya melingkari pinggang Ayuna, Renan merasa geli melihat tubuhnya yang sedikit kaku. Ia menunduk dan berbisik di telinganya, suaranya rendah dan tenang.

“Tenanglah. Tidak ada satu pun orang di sini yang berani meremehkanmu. Justru mereka yang harus berhati-hati.”

Ayuna menatapnya sesaat. Kata-kata itu seperti jangkar, perlahan, ketegangannya mengendur.

Untuk hari ini, ia benar-benar mengerti apa itu rasa percaya diri.

Bukan karena gaun yang dikenakannya, bukan karena tatapan orang lain, melainkan karena pria di sisinya.

Di antara kerumunan, banyak pikiran mulai berputar.

Apakah ini pacar baru Renan?

Sejak kapan dia bersikap seteliti ini?

Mereka belum pernah melihat Renan memperlakukan seorang wanita dengan sikap seprotektif itu, bahkan setengahnya pun tidak.

Silvia bangkit dari sofa ketika rombongan masuk. Ia hendak membuka mulut, tetapi kata-katanya tertelan saat melihat Renan merangkul seorang wanita dengan sikap begitu alami.

Alisnya langsung berkerut.

Playboy tetap playboy.

Dan siapa wanita ini?

Tatapan-tatapan dari teman-temannya hanya membuat hatinya semakin tidak nyaman.

Renan memang tidak pernah bisa dibandingkan dengan Revan.

“Tuan Muda Kedua Morris benar-benar diberkati keberuntungan,” ucap Silvia dengan nada masam.

Pandangan matanya jatuh pada gaun yang dikenakan Ayuna.

Gaun itu, ia mengenalinya. Koleksi terbaru Canel.

Gaun yang bahkan belum berhasil ia dapatkan.

Sementara wanita ini sudah memakainya.

“Keberuntungan apa?” Renan menoleh dengan ekspresi datar.

“Dia memang selalu ada di sisiku.” Nada suaranya terlalu tenang untuk disangkal.

Adrian segera menimpali, seolah menambah tekanan.

“Benar. Kak Renan dan Kakak Ipar sudah bersama lebih dari dua tahun. Hebatnya, setelah selama itu, mereka masih se so sweet ini.”

Renan meliriknya malas. “Pergi sana. Bagaimana kalau Tante Linda mencarikanmu pasangan?”

Adrian langsung menggeleng. “Aku tidak mau.”

Baru saat itulah teman-teman dekat Renan dan Edric menyadari mengapa wanita itu terasa familiar.

Bukankah dia wanita yang pernah dibawa Tuan Muda Kedua Morris sebelumnya?

Hanya saja dulu, Tuan Muda Kedua Morris tidak pernah bersikap seperti ini. Dan penampilannya tidak seindah dan secerah ini. Seingat mereka terakhir kali gadis itu terlihat sayu dan tertekan.

Renan dulu tidak pernah seperhatian ini. Kalau tidak salah, wanita itu hanyalah gadis biasa dengan wajah cantik.

Lalu bagaimana bisa berubah seperti sekarang?

Saat mereka berjalan menuju meja makan, wajah Silvia menggelap. Ia menghentakkan kakinya kesal.

“Siapa dia sebenarnya?”

“Apa maksudnya ‘bersama selama dua tahun’? Aku sama sekali tidak tahu!”

Rasa malu bercampur jengkel menyelinap ke dadanya.

Kalau memang begitu, mengapa Renan dulu tidak menolak sikap genitnya?

“Kamu memang tidak ada saat itu,” seseorang menjelaskan.

“Gadis itu mahasiswi terbaik dari Universitas Indonesia. Dulu mereka cukup dekat. Tapi entah kenapa, setelah itu Renan mendadak menjauh. Kami pikir mereka sudah putus.”

“Ternyata tidak.”

Di sisi lain ruangan, Renan dengan alami mengurus Ayuna sepanjang makan, menuangkan air, mengingatkan makan pelan, memastikan ia nyaman.

Dan Ayuna sudah terbiasa dengan perlakuan itu sekarang.

Tanpa sadar, ia bersandar sedikit lebih dekat padanya.

1
Anonymous
Halah ... cowok kek gitu gak usah dikasih kesempatan
Volis: Temanya memang itu 😊
total 3 replies
Aku Fujo
maantaapppp
Volis
Maaf, ya. Author ternyata salah update bab. Bab Tidak Semua Orang Tulus itu seharusnya bab 12 🤗
NOname 💝
Demnnnn
gak ketebak sih ini, siapa yang mati tadi? 😭🤌🏻

Btw semangat ya Thor. mampir juga yuk di karya aku PENYANGKALAN. Siapa tau suka dengan sisipan kata-kata sangsekerta
Adel
bentar... ini dia mati beneran? Trus idup lagi? Gimana? Moga next chap ngejawab🙌
Adel
hm, ini si Renan tanggung jawab nggak lo👊
Adel
hm, mungkin dia mati suri
Indah MB
semoga keluarga renan baik dan kocak🤭
Indah MB
Renan jgn mengulangi kesalahan yg sama lagi ya
Indah MB
pantas di maafin g ya thor? soalnya belum tau 2 tahun lalu itu cerita mereka bagaimana..
Indah MB
syuka banget klo yg terlahir kembali gini hehehe ... 💪 thor ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!