Malam itu, di Desa Gadhing yang damai, Tirta hanyalah seorang pemuda biasa yang lebih akrab dengan cangkul daripada pedang. Wajahnya selalu menunduk malu, bicaranya pelan, dan tubuhnya kurus. Ia tak punya minat pada dunia persilatan yang sering dibicarakan para tetua di gardu. Baginya, kebahagiaan adalah melihat ladang bapaknya subur dan senyum ibunya mengembang.
Namun, ketenangan itu hancur saat desa mereka diserang. Sekelompok perampok yang dipimpin oleh Lurah Karta, seorang demang serakah yang terkenal bengis, datang dengan tujuan menjarah. Tirta menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kedua orang tuanya tewas di tangan mereka saat berusaha melindunginya. Suara pedang yang beradu dan jeritan pilu ibu masih terngiang-ngiang di telinganya. Dalam duka dan amarah yang meletup, sesuatu di dalam dirinya pecah. Sebuah kekuatan terpendam bangkit. Dengan tangan kosong, ia berhasil melumpuhkan beberapa perampok, membuat Lurah Karta terkejut dan mundur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENUNGGU POHON SERIBU TAHUN
Langkah kaki Tirta dan Dimas terasa semakin berat, bukan hanya karena kelelahan fisik, tetapi karena udara di jantung Hutan Larangan seolah berubah menjadi cairan kental yang menyesakkan paru-paru. Tanahnya tidak lagi ditutupi dedaunan kering, melainkan lumut hitam yang licin dan berbau busuk. Cahaya matahari telah sepenuhnya kalah, menyisakan kegelapan abadi yang hanya bisa ditembus oleh pendar redup dari bilah Sasmita Dwipa.
"Tirta, kau dengar itu?" bisik Dimas. Galah kayunya ia dekap erat ke dada, seolah benda itu adalah satu-satunya pelindung nyawanya.
Tirta berhenti. Ia memejamkan mata, mengaktifkan indra perasanya yang telah terasah di kawah Bromo. Suara yang didengar Dimas bukan sekadar suara angin. Itu adalah suara gesekan kulit yang keras pada batang pohon, diikuti oleh detak jantung yang lambat namun sangat kuat.
"Di atas," desis Tirta pendek.
Tepat saat ia mendongak, sebuah bayangan raksasa meluncur turun dari kanopi pohon beringin seribu tahun yang berada di depan mereka. Makhluk itu mendarat dengan dentuman yang menggetarkan tanah. Ia nampak seperti manusia, namun tingginya mencapai tiga meter dengan lengan yang panjangnya menyentuh tanah. Seluruh tubuhnya ditutupi oleh rambut hitam kasar yang tebal, dan wajahnya hanya memiliki satu mata besar di tengah dahi yang memancarkan cahaya merah haus darah.
"Banaspati Penjaga..." gumam Dimas, suaranya bergetar. "Legenda itu benar, Tirta. Mereka adalah penjaga perbatasan yang dipelihara dengan darah manusia oleh Tujuh Bayangan."
Makhluk itu tidak memberikan waktu bagi mereka untuk bersiap. Dengan raungan yang memekakkan telinga, ia mengayunkan lengannya yang sebesar batang pohon ke arah Tirta.
BUMM!
Tirta melompat mundur tepat waktu. Tempat ia berdiri tadi kini hancur, meninggalkan lubang sedalam satu kaki di tanah yang keras. Tirta merasakan gelombang kejutnya menghantam dadanya, membuatnya sedikit sesak.
"Dimas, jaga jarak! Gunakan galahmu hanya untuk mengalihkan perhatiannya!" perintah Tirta sambil menghunus Sasmita Dwipa.
Bilah pedang itu merespons niat bertarung Tirta dengan memancarkan cahaya perak yang bercampur dengan urat merah menyala. Tirta melesat maju, gerakannya jauh lebih cepat dan lebih ringan berkat latihan Langkah Awan yang ia sempurnakan di bawah bimbingan Mpu Sengkala.
Ia menebas lengan makhluk itu, namun suara yang terdengar bukanlah suara daging yang terpotong, melainkan dentingan logam yang beradu. Kulit Banaspati itu ternyata sekeras baja pilihan.
"Sial! Kulitnya dilapisi energi hitam!" seru Tirta.
Makhluk itu kembali menyerang, kali ini dengan kedua tangannya secara bersamaan. Tirta terpaksa menahan serangan itu dengan menyilangkan pedangnya di depan dada.
KRETEK!
Lantai hutan di bawah kaki Tirta retak. Ia berusaha menahan beban ribuan kuintal dari tenaga murni sang penjaga hutan. Darah mulai merembes dari sudut bibirnya akibat tekanan tenaga dalam yang beradu. Di tengah himpitan maut itu, Tirta melihat mata merah makhluk itu mendekat, memancarkan kebencian yang murni.
"Kau... tidak akan lewat..." sebuah suara parau dan berat keluar dari mulut makhluk itu, bukan sebagai kata-kata manusia, melainkan sebagai getaran batin yang menyakitkan kepala.
Di saat kritis tersebut, Dimas Rakyan berteriak. Ia melompat dari balik semak, menghujamkan galah kayu jatinya tepat ke arah mata besar sang Banaspati.
"Makan ini, raksasa jelek!"
Hantaman itu tidak melukai mata sang makhluk secara langsung karena ia sempat memejamkan kelopak matanya yang tebal, namun gangguan itu cukup untuk membuat fokusnya terbagi. Tekanan pada pedang Tirta mengendur.
Tirta mengambil kesempatan itu. Ia tidak lagi mencoba memotong kulit makhluk itu secara fisik. Ia teringat pesan Ki Ageng Lingga: Senjata yang paling tajam bukanlah yang membelah daging, tapi yang membelah energi.
Tirta menarik napas panjang, memutar aliran Sinar Gadhing di dalam tubuhnya secara terbalik—sebuah teknik berisiko tinggi yang disebut Pusaran Rembulan. Energi perak di bilah pedangnya mulai berputar kencang, menciptakan suara dengungan seperti jutaan lebah.
"Sasmita Dwipa: Tebasan Pemutus Sukma!"
Tirta mengayunkan pedangnya dalam satu gerakan vertikal yang sangat tenang. Bilah pedang itu tidak menyentuh kulit makhluk itu secara langsung, namun gelombang energi yang dipancarkannya menembus lapisan kulit baja dan langsung menghantam jalur energi hitam di dalam tubuh sang Banaspati.
Makhluk itu mematung. Raungannya terhenti di tenggorokan. Cahaya merah di matanya meredup sejenak sebelum akhirnya meledak mengeluarkan uap hitam yang bau busuk.
BRUGH!
Tubuh raksasa itu jatuh berlutut, lalu perlahan mulai hancur menjadi debu hitam dan serpihan kayu busuk. Penjaga itu bukan makhluk hidup sepenuhnya; ia adalah mayat yang digerakkan oleh ilmu hitam tingkat tinggi.
Tirta jatuh terduduk, napasnya memburu. Ia menyandarkan punggungnya pada bilah pedangnya yang ia tancapkan ke tanah. Penggunaan Pusaran Rembulan barusan menguras hampir separuh tenaga dalamnya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Dimas sambil berlari mendekat. Ia nampak syok melihat bagaimana Tirta menghancurkan raksasa itu dengan satu serangan.
Tirta mengangguk lemah, menyeka darah di bibirnya. "Aku hanya... sedikit lelah. Tapi kita tidak bisa lama di sini. Bau kematian ini akan memancing penghuni hutan lainnya."
Saat mereka bersiap untuk melanjutkan perjalanan, Tirta menyadari sesuatu. Di tempat debu Banaspati itu berserakan, terdapat sebuah kepingan logam kecil berbentuk medali dengan ukiran singa emas.
Tirta mengambil kepingan itu. Jantungnya berdegup kencang. "Ini... milik utusan suci yang membawa Mayang. Mereka memang sengaja meninggalkan penjaga ini untuk memperlambat kita."
"Atau untuk mengukur seberapa kuat dirimu," sahut sebuah suara wanita yang lembut namun dingin dari atas pohon.
Tirta dan Dimas segera waspada. Di atas dahan pohon beringin yang tadi dihuni Banaspati, kini berdiri seorang wanita muda mengenakan pakaian ringkas berwarna hijau hutan. Wajahnya cantik namun memiliki sorot mata yang tajam seperti belati. Di punggungnya terikat sebuah busur besar yang terbuat dari tulang binatang purba.
"Siapa kau?" tanya Tirta, tangannya kembali menggenggam hulu pedang.
Wanita itu melompat turun dengan sangat anggun, mendarat tanpa suara di atas lumut. "Namaku Sekar Wangi. Aku adalah sisa dari mereka yang kau sebut 'mangsa' oleh organisasi Tujuh Bayangan. Jika kau ingin mengejar mereka ke Samudra Kidul, kau akan butuh penunjuk jalan yang tahu cara menghindari lubang-lubang neraka di hutan ini."
Dimas menatap wanita itu dengan curiga. "Bagaimana kami bisa mempercayaimu? Di hutan ini, bahkan pohon pun bisa berbohong."
Sekar Wangi tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata. "Kalian tidak punya pilihan. Utusan suci itu sudah sampai di tebing ratapan. Dalam dua hari, ritual mereka dimulai. Kalian bisa mencoba jalan sendiri dan mati dimakan rawa, atau ikut denganku."
Tirta menatap mata wanita itu dalam-dalam. Ia tidak merasakan hawa membunuh, melainkan rasa duka yang mendalam yang mirip dengan apa yang ia rasakan. Tirta menyarungkan pedangnya.
"Pimpin jalannya," ucap Tirta tegas.
"Tirta! Kau yakin?" Dimas protes.
"Dia punya dendam yang sama dengan kita, Dimas. Aku bisa merasakannya," jawab Tirta pendek.
Dengan bergabungnya Sekar Wangi, perjalanan mereka menembus Hutan Larangan memasuki babak baru. Namun Tirta tahu, setiap sekutu baru membawa rahasia baru, dan di dunia persilatan yang kejam ini, harga sebuah kepercayaan terkadang harus dibayar dengan nyawa.