NovelToon NovelToon
Merangkai Hasrat

Merangkai Hasrat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Chicklit / Komedi
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: CHIBEL

Jennie Revelton (25) seorang penulis novel dewasa yang terkenal dengan fantasi sensualnya tiba-tiba mengalami writer’s block saat mengerjakan proyek terbesarnya. Semua ide terasa mati hingga seorang pria baru pindah ke unit sebelah apartemennya.

Pria itu adalah tipikal karakter novel impiannya: tampan, mapan, dewasa, dan terlalu sempurna untuk menjadi tetangga. Tanpa sadar Jennie menjadikannya bahan fantasi untuk menghidupkan kembali gairah menulisnya.

Namun semakin sering ia mengamati dan membayangkan pria itu, perasaan Jennie mulai berubah. Dia tak lagi ingin pria itu hanya hidup di atas kertas, tapi juga menginginkannya di dunia nyata.

Keadaan menjadi rumit ketika pria itu mengetahui bahwa dirinya adalah objek fantasi erotis dalam novelnya. Alih-alih marah atau menjauh, pria itu justru mengajukan sebuah penawaran tak terduga.

"Daripada hanya mengandalkan imajinasi, bukankah lebih nikmat jika kau bisa merasakannya langsung?" ~~Johan Alexander.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 - Kantor Johan

Pagi itu, saat Jennie baru saja selesai meratapi kejadian di balkon Johan yang memalukan, ponselnya bergetar dengan liar. Itu adalah pesan beruntun dari editornya.

IBLIS BERPAKAIAN PRADA:

"Gila! Bab 14 dan 16 Midnight Heat meledak! Chemistry kedua tokohnya nyata banget."

"Sensasi ciuman di koridor dan juga mainan ungu itu menarik banyak pembaca."

"Kamu benar-benar melakukan riset atau kamu baru saja menemukan sugar daddy yang hebat?"

Saat membaca pesan terakhir Jennie tersedak kopi instannya. Dia segera mengetik balasan dengan jari gemetar.

JENNIE:

"Hanya melakukan sedikit riset."

"Kebetulan imajinasiku sedang over-power"

Tak menunggu lama pesan balasan datang dari editornya.

IBLIS BERPAKAIAN PRADA:

"Bagus kalau begitu!"

"Untuk Bab selanjutnya coba buat sesuatu di tempat kerja, seperti ketegangan profesional yang berujung pada erotisme terselubung."

"Coba cari latar kantor yang maskulin, dingin, tapi panas."

"Kalau bab ini tidak seberingas bab sebelumnya, naskahmu aku tunda terbitnya sampai tahun depan."

Jennie meletakkan ponselnya dengan kasar di atas meja, semakin hari editornya itu selalu meminta hal yang aneh-aneh, tidak heran jika dia menyebutnya iblis.

Sebenarnya bukan hal sulit membuat suatu adegan di tempat kerja, dia sudah pernah membuatnya sebelumnya, hanya saja itu hanya berdasarkan imajinasi dan juga inspirasi dari beberapa film yang pernah di lihat.

Tapi masalahnya editornya meminta lebih beringas dari bab sebelumnya, sedangkan bab sebelumnya dia dapatkan dari riset lapangan.

Dia tidak pernah benar-benar bekerja di kantor sungguhan selama dia menjadi penulis. Kantornya ya ruang kerja yang lebih mirip kandang babi ini, atau jika bosan dia pergi ke kafe-kafe yang menyediakan Wifi gratis.

Tapi bukan Jennie namanya jika dia kehabisan akal, pandangannya langsung tertuju pada dinding yang membatasi unitnya dengan unit Johan.

Sebuah ide yang agak gila muncul, tapi demi tenggat waktu dari editornya dia tidak punya pilihan lain.

Sepuluh menit kemudian Jennie sudah berdiri di depan unit 502. Meskipun ada bel dia memilih mengetuk pintu itu dengan irama yang ragu.

Tak lama kemudian Johan membuka pintu dengan penampilan yang sudah rapi. "Ada apa? Apa sekarang kau terkunci di depan pintumu sendiri?" tanya pria iu dengan nada geli.

Jennie menggeleng keras, "Mas, aku butuh bantuanmu, sekali ini saja," ucapnya secepat kilat sebelum keberaniannya menguap.

"Aku butuh riset di sebuah kantor, editorku meminta adegan di tempat kerja. Boleh aku ikut ke kantormu hari ini?"

Johan menghentikan gerakannya memakai jam tangan, dia menatap Jennie denga satu alis terangkat. "Kantorku bukan tempat bermain, Jen. Di sana ada tenggat waktu proyek triliunan, bukan tempat untuk mencari inspirasi panasmu."

"Aku janji akan diam! Aku akan duduk di pojokan seperti vas bunga! Aku hanya perlu merasakan atmosfernya. Tolong ya Mas, atau aku akan selamanya menghantuimu meminta ganti rugi jika naskahku gagal terbit."

Johan mendesah panjang, helaan napas tanda menyerah. "Lima menit. Kalau kau belum siap dalam lima menit aku berangkat sendiri."

"Siap!" jawab Jennie cepat, dia tersenyum lebar dan segera berlari ke unitnya seperti ada api yang mengejar tumitnya.

****

Kantor Alexander Architect & Partners terletak di kawasan Sudirman, sebuah gedung pencakar langit yang hampir seluruh dindingnya adalah kaca jernih.

"Tetap di belakangku dan jangan menyentuh apapun," bisik Johan saat mereka melewati deretan meja para arsitek muda yang tampak sangat sibuk dengan maket dan layar monitor besar.

"Siap, Bos," sahut Jennie sambil mengeluarkan tablet dan stylus pen miliknya, bersiap untuk mencatat setiap detail.

Johan membawanya ke ruang kerja pribadinya, sebuah ruangan luas yang terpisah dengan dinding kaca buram yang bisa berubah menjadi transparan hanya dengan satu tombol.

Di tengah ruangan, terdapat meja besar dari kayu ek hitam yang dipenuhi denah bangunan berskala besar.

"Duduk di sana," perintah Johan sembari menunjuk sebuah sofa kulit hitam yang tak jauh dari meja kerjanya. "Aku akan rapat lewat zoom selama sepuluh menit, jadi jangan bersuara."

Jennie menurut dan langsung duduk dengan tablet di pangkuannya. Tapi begitu Johan mulai bekerja, fokusnya terhadap atmosfer kantor mendadak bergeser total ke subjek di depannya.

Johan meletakkan kacamata berbingkai hitam di hidungnya, sebuah aksesoris yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

Dan di mata Jennie, ketampanan Johan meningkat sebanyak 400 persen saat mengenakan kacamata.

Kemudian Johan mulai menggulung lengan kemeja putihnya hingga ke siku, memperlihatkan lengan bawah yang berurat dan bertenaga saat pria itu mulai memutar-mutar pensil teknis diantara jemarinya.

Johan tampak sangat serius, alisnya bertaut, bibirnya terkatup rapat saat meneliti sebuah denah jembatan.

Melihat itu jari Jennie mulai mengetik di tabletnya dengan liar.

"Pria itu berdiri di balik meja besarnya, aura dominasinya memenuhi ruangan yang sepi dan dingin. Di bawah kaca mata itu, matanya yang tajam menelusuri garis-garis bangunan seolah sedang menelanjangi sebuah karya seni. Kemejanya yang ketat membungkus bahu lebar itu dengan sempurna."

Johan tiba-tiba berdiri dan berjalan ke arah papan tulis kaca besar dan mulai menggambar sebuah sketsa. Pria itu berbicara dengan istilah dunia teknik yang sama sekali tidak dia mengerti.

Jennie tenggelam dalam dunianya sendiri, dia menulis adegan di mana tokoh wanitanya terjebak di dalam ruangan ini, bersembunyi di bawah meja ek hitam sementara si pria sibuk memarahi bawahannya.

Imajinasinya mulai melenceng jauh ke ke adegan erotis yang sangat mendetail.

Tiba-tiba suara kursi yang digeser membuat Jennie tersentak dari dunia imajinasinya. Ternyata Johan sudah selesai melakukan zoom meeting.

Pria itu melepaskan kacamatanya dan memijat pangkal hidungnya, kemudian dia menatap Jennie yang masih sibuk dengan tabletnya. "Sepertinya kau menemukan banyak inspirasi," ucapnya.

Jennie menatap Johan dengan wajah yang sudah memerah, "Ah? Iya! Banyak sekali hal yang aku temukan untuk inspirasiku di sini."

Saat melihat Johan berjalan ke arahnya, dia segera mematikan layar tabletnya agar pria itu tidak melihat kalimat-kalimat joroknya.

"Apa yang kau tulis?" tanya Johan saat sudah sampai di depan Jennie.

"Hanya deskripsi ruangan, meja, kursi, lampu----"

"Bohong," potong Johan. Dia mengambil tablet dari pangkuan Jennie dengan gerakan cepat hingga sang empu tidak bisa mencegahnya.

"Mari kita lihat seberapa baiknya risetmu kali ini," bisik pria itu.

Mata Johan menelusuri tiap baris kalimat yang baru saja diketik Jennie, dan ruang kerja itu mendadak terasa panas meskipun AC sudah di setel pada suhu 18C.

Pria itu terdiam cukup lama, matanya bergerak dengan sangat lambat. Dan setelah beberapa saat, dia menurunkan tablet itu dan menatap Jennie dengan tatapan intens.

"Kau membayangkan aku melakukan itu padamu di bawah meja ini?" tanyanya sembari menunjuk meja hitam di tengah ruangan.

Jennie tidak bisa menjawab karena lidahnya terasa kelu. Johan mendekatkan wajahnya hingga napas hangatnya menerpa pipi Jennie.

"Jika kau menginginkan riset yang lebih akurat untuk bagian itu, aku bersedia untuk membantu, karena aku tidak pernah membiarkan pekerjaan menggantung begitu saja."

Bersambung

1
HiLo
Suka, konfliknya ringan
HiLo
ditunggu kelanjutannya
Aria
lanjut kakkkk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!