Kejutan yang Freya siapkan untuk William berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki pria itu berselingkuh. Tanpa niat melabrak, Freya justru merekam pengkhianatan tersebut dan bersumpah akan membalasnya.
Namun, sebelum rencananya selesai, Freya diculik dan dipaksa menerima perjodohan dengan Steven, pria dingin dan berkuasa.
Menolak tunduk, Freya kabur dan menghancurkan karier William dengan menyebarkan video perselingkuhannya.
Tapi, masalah tidak berhenti di sana. Steven murka karena Freya melarikan diri. Ia mengerahkan anak buah untuk menangkap gadis itu, tanpa menyadari bahwa mereka akan bertemu dengan cara yang tak terduga, yang mana Freya menyamar sebagai laki-laki, dan menjadi bodyguard barunya dengan nama Boy.
Kedekatan mereka memicu konflik yang lebih berbahaya, saat Steven mulai merasakan perasaan terlarang pada sosok yang ia yakini sebagai seorang pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Grace terus mencuri pandang ke arah Steven. Begitu ada kesempatan, ia diam-diam menjauh dari William dan melangkah mendekati pria itu.
Ia berhenti tepat di hadapan Steven. Senyum manis langsung terukir di bibirnya, dipadu dengan tatapan yang sengaja dibuat menggoda.
"Kak Steven," sapanya pelan, suaranya direndahkan hingga terdengar intim. "Sepertinya, kita belum sempat berbincang dengan layak malam ini."
Steven hanya melirik sekilas, wajahnya tetap datar. "Jika tidak ada urusan penting, silakan pergi," jawabnya dingin. "Dan perlu kau ingat, aku bukan kakakmu." Ia berbalik hendak pergi, namun Grace tidak menyerah. Wanita itu melangkah lebih dekat, terlalu dekat untuk sekadar formalitas. Jemarinya bahkan nyaris menyentuh lengan jas Steven.
"Pesta seperti ini akan terasa membosankan tanpa teman bicara yang sepadan," ucapnya sambil tersenyum samar, penuh arti.
Rahang Steven mengeras. "Nona Grace, harap tahu batasan." Ia mengangkat dagunya, menunjuk ke arah William yang tengah tertawa bersama para tamu. "Lihat kekasihmu. Dia sedang sibuk menjilat demi mendapatkan dana untuk perusahaannya yang hampir bangkrut. Seharusnya, kau berada di sisinya dan membantunya. Aku yakin, dengan keahlianmu, kau akan mudah mendapatkannya." Steven menatapnya dengan ekspresi jijik.
Grace mengepalkan tangan di sisi tubuhnya, namun bibirnya justru terkekeh kecil, seolah menganggap semua itu hanya gurauan.
"Justru, sekarang aku sedang membantunya." Ia semakin mendekat, bahkan berani menunjuk dada bidang Steven yang terbalut jas. "Aku sedang menggunakan keahlianku untuk membantu mereka. Jadi... kau ingin gaya seperti apa agar kau puas, Tuan Steven?"
"Kau—" Ucapannya terputus ketika Freya tiba-tiba datang dan menarik lengannya mundur.
"Apa maksudmu, Nona Grace?" tanya Freya tajam, sorot matanya menusuk lurus ke wajah wanita itu.
Grace mengangkat alis, tersenyum tipis. "Kau pikir, kau siapa, hah? Minggir! Aku sedang membahas bisnis dengan Tuan Steven." Ia mendorong tubuh Freya ke samping, namun gadis itu tidak bergeming. Sebaliknya, Freya berdiri lebih tegak, bahunya mengeras, tatapannya dingin dan waspada.
Steven menatap punggung bodyguard-nya dalam diam. Ada sesuatu yang menghangat, sekaligus menyesakkan dadanya, melihat cara Freya berdiri melindunginya.
"Apa dia cemburu?" batinnya.
"Aku bodyguard-nya," ujar Freya singkat. "Dan tugasku memastikan tidak ada orang yang melewati batas. Termasuk dirimu."
Steven menghela napas pelan. "Ya, dia hanya bodyguard-ku. Wajar jika dia melindungi ku," batinnya lagi. Namun entah mengapa, pikiran itu justru menyisakan kekecewaan samar di dadanya.
Grace memandangi Freya dari ujung rambut hingga ujung sepatu, lalu terkekeh kecil.
"Kau hanya seorang bodyguard. Kau tidak berhak membatasi relasi Tuan Steven. Lagipula, apa aku terlihat seperti ancaman baginya, hah?"
Freya tetap diam. Tatapannya tidak berkedip sedikit pun, membuat udara di sekitar mereka menegang.
"Aku peringatkan, lebih baik kau minggir," ujar Grace lebih tegas. "Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan Tuan Steven."
Freya menaikkan sudut bibirnya. Tangannya mengepal di depan dada, lalu ia memiringkan leher ke kanan dan kiri hingga terdengar bunyi halus dari persendiannya.
"Jadi, kau ingin berbicara bisnis dengan Tuan Steven, ya?"
Tubuh Grace seketika menegang. Ingatannya melayang pada saat bagaimana Freya mematahkan jari William tanpa ragu. Hal itu membuat wajahnya memucat.
"Ma-mau apa kau?" tanyanya tergagap, ketakutan.
"Kenapa kau gugup, nona Grace?"
"B-berhenti!" tangan Grace menahan dada Freya agar berhenti mendekat. "B-baiklah, anggap saja aku datang di waktu yang kurang tepat." Ia melirik Steven sekali lagi, penuh makna, lalu berbalik pergi.
Freya baru mengendurkan bahunya setelah sosok itu menjauh, meski sorot matanya masih mengikuti langkah Grace.
"Dasar," gumamnya pelan.
Steven menatap punggung Freya beberapa detik lebih lama dari seharusnya. Namun, bayangan percakapannya dengan Rena di balkon kembali terputar jelas di kepalanya. Kata-kata tentang uang, tentang pilihan seketika, membuat sikapnya berubah.
Tatapannya mengeras, suaranya menjadi dingin. "Kau sudah selesai?" tanyanya singkat.
Freya menoleh, bingung oleh perubahan itu. "Tuan?"
"Kalau sudah, kembali ke posisimu."
Nada itu terdengar berbeda. Jauh, seperti dinding es yang tiba-tiba tumbuh di antara mereka.
Freya menelan ludah. Dadanya terasa mengganjal namun, ia tetap mengangguk kecil dan mundur selangkah.
"Ada apa dengannya? Apa aku melakukan kesalahan?" batin Freya
Belum sempat ia berkata apa-apa lagi, Denis dan Rena sudah berdiri di hadapan mereka.
Rena menatap Freya sekilas, dengan senyum tipis tersungging di bibirnya, seolah mengirim isyarat yang hanya mereka berdua yang tahu.
Dan, Steven melihatnya. Tangannya langsung mengepal.
"Aku datang membawa kabar baik, Steve," ujar Denis senang. "Perusahaan ku akhirnya mendapat suntikan dana besar."
"Oh," jawab Steven datar.
"Tentu saja ada syaratnya." Denis terkekeh kecil. "Investor menginginkan hubungan yang lebih erat dengan pernikahan."
Freya membulatkan matanya, sedangkan Steven masih terlihat datar.
"Awalnya, aku berpikir menjodohkan William. Tapi sayangnya, anak itu sudah punya kekasih." Ia lalu menatap lurus pada Steven. "Jadi, aku ingin menjodohkan mu dengan putri tuan Bayu."
Suasana seketika membeku. Steven mengepalkan tangannya erat, rahangnya mengeras. "Kau ingin menjual ku demi keuntungan mu? Dasar tidak tahu malu," geram Steven.
"Kenapa memangnya? Toh, kau juga belum mempunyai kekasih," seru Denis. "Lagipula, jika kau menikah dengan Putri tuan Bayu, perusahaan mu akan semakin besar dan kuat."
Freya refleks melangkah maju, berdiri di depan Steven, tubuhnya tegang seperti perisai. "Anda seharusnya tidak—"
"Tuan Steven sudah memiliki calon istri," potong Miko cepat.
Semua mata beralih pada Miko. Ia menunduk sopan, suaranya tenang namun, tegas. "Dan, pernikahan itu akan berlangsung dalam waktu dekat."
"Apa?" pekik Denis. "Bagaimana mungkin? Kenapa kau tidak membicarakannya dulu dengan papa? Dan... Bagaimana dengan investasi nya?"
"Apa kau pikir, aku peduli?" Steven tersenyum miring, memasukkan sebelah tangan ke dalam saku celananya. "Ini hidupku. Terserah aku ingin menikah dengan siapa. Dan, kau?" Steven mencondongkan tubuhnya, menatap tajam Denis. "Kau tidak berhak mengaturku."
Kata-kata itu bagaikan palu besar yang menghantam tubuh Freya. Dadanya terasa diremas kuat. Napasnya tercekat. Ingatan lama menghantamnya tanpa ampun, saat pertama kali ia bertemu Steven. Saat bodyguard melaporkan jika calon istri Steven melarikan diri.
"Ternyata, dia masih menunggunya," batin Freya. Ia menggigit bibirnya, menahan sesuatu yang panas dan perih menjalar di dadanya.
Steven melihat perubahan itu. Namun, Dia hanya diam, menggenggam erat gelas di tangannya, sebelum akhirnya ia menenggak isinya hingga habis, seolah menelan semua perasaan yang tidak seharusnya muncul.