NovelToon NovelToon
BANDHANA

BANDHANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:185
Nilai: 5
Nama Author: Beatt

Bandhana memiliki makna hubungan yang mengikat satu hal dengan hal lainnya. Disini Anindita Paramitha memiliki hubungan yang sangat rumit dengan Zaverio Kusuma yang merupakan mantannya namun sekarang jadi kakak iparnya.
Vyan Syailendra, merupakan sahabat Anindita namun permusuhan dua keluarga membuat mereka saling membenci. Namun, hubungan mereka tidak pernah putus. mereka saling melindungi, meskipun membenci.
Dan waktu kelam itu terjadi, Anindita tewas ditangan keluarga suaminya sendiri. Vyan yang berusaha melindungi sahabatnya pun tewas. Zaverio pun membalas keluarganya sendiri dengan cara sadis dan saat semuanya selesai, dia berniat mengakhiri diri sendiri. Namun, dia malah terlempar ke tempat dimana dia bertemu dengan Anindita kecil yang berusia 5 tahun. Akankah, takdir Anindita Paramitha dapat diubah oleh Zaverio? Dan akankah rahasia kelam dapat terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Wanita itu juga menoleh, dan untuk pertama kalinya, Anindita melihat wajahnya dengan jelas. Cantik, muda, mungkin awal dua puluhan. Dan yang paling menyakitkan, tidak ada rasa bersalah di wajahnya. Malah ada senyum tipis, seolah dia yang lebih berhak berada di sana.

"Siapa wanita dan anak kecil ini?" Suara Anindita keluar dengan tenang. Terlalu tenang. Ketenangan sebelum badai. Ketenangan yang lahir dari hati yang remuk redam.

Wanita itu melangkah maju dengan percaya diri, senyumnya makin lebar. "Anda pasti Nyonya Anindita. Halo, perkenalkan, saya Rania Sekar Ayu, asisten pribadi baru Tuan Hardana." Suaranya lembut, merdu, tapi di telinga Anindita terdengar seperti bisa ular berbisa. "Mohon jangan salah paham, Nyonya. Saya dan Tuan Hardana tidak memiliki hubungan apapun selain profesional."

Anindita hanya menatapnya tajam, rahangnya mengeras. Darahnya mendidih, tapi dia menahan amarah dengan segala kekuatan yang dia punya. Dia bukan wanita yang suka membuat adegan. Dia tidak dibesarkan untuk berteriak di tempat umum seperti orang tidak berpendidikan.

Tapi Tuhan, betapa ingin dia menampar senyum manis itu hingga hilang.

"Katanya kamu rapat." Anindita beralih menatap Hardana, suaranya sinis. "Ini rapat yang kamu maksud, wahai Tuan Hardana Kusuma?"

Hardana melangkah cepat, tangannya terangkat seolah ingin meraih Anindita, tapi Anindita mundur selangkah. "Astaga, sayangku, jangan marah seperti itu. Tolong dengarkan aku dulu—"

"Aku mendengarkan." Potong Anindita dingin. "Jelaskan. Sekarang."

Hardana menarik nafas panjang, tangannya mengusap wajahnya dengan frustrasi. "Anak kecil ini... namanya Indira. Dia bukan anakku. Dia anak Rania dan Eldrian—kamu ingat Eldrian, kan? Sahabatku yang meninggal dua tahun lalu dalam kecelakaan itu?"

Anindita diam. Eldrian. Ya, dia ingat. Pria ceria yang sering main ke rumah mereka, yang suka membawakan oleh-oleh setiap pulang dari luar kota. Dia meninggal dalam kecelakaan pesawat dua tahun lalu, meninggalkan istri dan anak yang masih bayi.

"Sebelum meninggal, Eldrian memintaku berjanji untuk menjaga Rania dan Indira," lanjut Hardana, suaranya bergetar. "Karena Rania tidak punya keluarga lain, dan Indira butuh figur ayah... makanya aku menawarinya pekerjaan di perusahaan. Indira mengganggapku seperti papanya karena aku yang selama ini menemaninya."

Anindita menatap dalam mata suaminya, mencari kebohongan. Tapi yang dia temukan hanya ketulusan—atau kepura-puraan yang sangat sempurna.

"Kenapa kamu tidak memberitahuku?" Suaranya melunak sedikit, tapi masih tajam. "Aku ini istrimu, Hardana."

"Itu kesalahan saya, Nyonya." Rania tiba-tiba angkat bicara, wajahnya tertunduk dalam. "Sayalah yang meminta Tuan Hardana merahasiakan ini dari Anda. Saya takut... takut merusak hubungan Anda berdua. Saya tidak ingin Nyonya salah paham dan menganggap ada yang tidak-tidak antara saya dan Tuan."

Anindita memicingkan mata. Ada yang tidak pas. Terlalu sempurna. Terlalu... terencana.

"Kalau kau ingin merahasiakannya karena takut hubunganku dengan suamiku rusak," kata Anindita perlahan, setiap kata keluar dengan penekanan, "itu justru kesalahan besar. Kau malah membuat aku dan suamiku hampir bertengkar sekarang."

"Saya mengerti, Nyonya. Sungguh, ini semua kesalahan saya." Rania membungkuk dalam, terlalu dalam untuk ukuran asisten biasa. "Mohon maafkan saya."

Sebelum Anindita sempat menjawab, Hardana sudah menarik tangannya lembut. "Kamu pasti lelah, sayang. Ayo, kita bicara di ruanganku. Lebih privat."

Anindita melepaskan tangannya kasar, tapi tetap melangkah mengikuti Hardana. Dia butuh jawaban. Dia butuh ketenangan. Tapi yang paling dia butuhkan—dia butuh percaya lagi pada suaminya.

***

Begitu pintu ruang CEO tertutup, Hardana langsung berlutut di hadapan Anindita. Benar-benar berlutut, seperti ksatria yang memohon ampun pada ratunya.

"Maafkan aku, sayangku." Suaranya serak, matanya berkaca-kaca. "Aku tahu ini terlihat sangat buruk. Aku tahu aku salah tidak memberitahumu tentang Rania dan Indira. Tapi aku bersumpah—demi nyawa kita berdua, demi pernikahan kita—aku tidak pernah sekalipun mengkhianatimu."

Anindita menatapnya, air matanya mulai menggenang. Lima tahun. Lima tahun dia mengenal pria ini. Lima tahun dia tidur di sampingnya, tertawa bersamanya, menangis bersamanya. Apakah mungkin... mungkinkah dia berbohong selama ini?

"Aku hanya tidak tahu bagaimana cara memberitahumu tanpa membuatmu khawatir," lanjut Hardana, tangannya mencengkeram lutut Anindita. "Aku takut kamu berpikir yang tidak-tidak. Aku takut kamu merasa aku lebih mempedulikan Indira daripada menantikan anak kita sendiri. Maafkan aku, sayang. Maafkan kebodohanku."

Anindita menghela nafas panjang. Sifatnya yang terlalu baik, yang terlalu mudah memaafkan—kadang dia membenci itu dari dirinya sendiri. Tapi melihat Hardana seperti ini, melihat kesungguhan di matanya... "Baiklah." Anindita mengulurkan tangan, membantu Hardana berdiri. "Aku memaafkanmu. Tapi jangan—jangan pernah membohongiku lagi. Apapun itu."

Hardana memeluknya erat, wajahnya terbenam di ceruk leher Anindita. "Terima kasih, sayangku. Aku berjanji. Tidak akan ada lagi kebohongan."

Anindita membalas pelukannya, menutup mata, membiarkan kehangatan tubuh Hardana menenangkan badai di hatinya. Kejutan. Dia datang untuk memberikan kejutan tentang kehamilannya. Tapi sekarang... sekarang dia tidak yakin ini waktu yang tepat.

Tiba-tiba, ponsel Hardana berdering keras. Hardana melepaskan pelukannya, menatap layar dengan kening berkerut.

"Halo? Ya, saya Hardana Kusuma." Wajahnya berubah serius. "Apa? Sekarang? Baiklah, saya mengerti."

Dia mengakhiri panggilan dengan ekspresi gelisah.

"Ada masalah, sayang?" tanya Anindita, hatinya mulai was-was.

Hardana menggenggam tangannya erat. "Perusahaan cabang kita di Singapura mengalami masalah besar. Audit mendadak, kemungkinan ada fraud di divisi keuangan. Aku harus segera ke sana untuk menanganinya langsung."

"Kapan?"

"Sekarang. Pesawatku berangkat dua jam lagi."

Hati Anindita remuk untuk kedua kalinya hari ini. "Berapa lama?"

"Paling tidak seminggu. Mungkin lebih." Hardana memeluknya lagi, kali ini lebih erat, lebih putus asa. "Maafkan aku, sayang. Kita baru saja baikan, tapi aku harus pergi. Maafkan aku."

Anindita mengusap punggung suaminya, walau hatinya menjerit protes. "Tidak apa-apa. Aku mengerti. Ini pekerjaanmu. Hati-hati di sana, ya? Dan jangan lupa kabari aku."

"Pasti." Hardana mengecup keningnya lama, sangat lama, seolah mencoba mengingat setiap detail wajah istrinya. "Aku akan kembali secepat mungkin."

Anindita tersenyum tipis. "Kembalilah cepat. Ada kejutan yang menunggumu."

Mata Hardana berbinar. "Kejutan apa? Beritahu sekarang saja."

"Bukan kejutan namanya kalau aku beritahu sekarang," goda Anindita, meski dadanya terasa berat. "Cepat selesaikan pekerjaanmu dan pulang. Kejutan ini... spesial."

Hardana mencubit hidungnya gemas, membuat Anindita tertawa kecil—tertawa pertamanya hari ini yang tulus. "Baiklah, baiklah. Aku akan menantikannya. Sampai jumpa, sayangku."

Satu kecupan terakhir, dan Hardana menghilang di balik pintu.

Anindita terduduk di sofa mewah ruang CEO itu, menatap kosong ke jendela besar yang memperlihatkan Jakarta di senja hari. Tangannya melayang ke perutnya yang masih rata, mengusapnya lembut.

"Maafkan Mama, sayang," bisiknya pelan pada janin yang bahkan belum bisa mendengar. "Kejutan kita harus ditunda sebentar."

"Lama tidak berjumpa, Anindita."

Suara berat itu membuat Anindita tersentak dari lamunannya. Dia menoleh cepat... dan jantungnya seakan berhenti berdetak.

Di ambang pintu, berdiri seorang pria tinggi dengan postur yang sempurna. Jas hitam tiga potong yang dipakainya terlihat seperti dibuat khusus oleh penjahit terbaik Milan, setiap jahitannya sempurna mengikuti lekuk tubuhnya yang atletis. Rambut hitam legamnya disisir rapi ke belakang, rahangnya tegas dengan sedikit janggut tipis yang memberikan kesan maskulin. Tapi yang paling menghantam Anindita—matanya. Mata hijau zamrud yang tajam, dingin, tapi entah kenapa selalu membuat lututnya lemas.

Zaverio Kusuma.

Kakak ipar sekaligus CEO Kusuma Group. Putra sulung keluarga Kusuma, pewaris tunggal kerajaan bisnis senilai triliunan rupiah. Di dunia bisnis, namanya disebut dengan campuran kekaguman dan ketakutan. Taktik bisnisnya kejam, keputusannya final, tidak ada yang berani menentangnya.

Dan yang paling Anindita ingin lupakan—dia adalah mantan kekasihnya. Pria pertama yang membuatnya jatuh cinta. Pria pertama yang menghancurkan hatinya.

"Kak." Anindita bangkit, berusaha terlihat tenang walau jantungnya berdegup kacau. "Kamu mengagetkanku."

Zaverio melangkah masuk dengan anggun, setiap langkahnya memancarkan kekuasaan dan dominasi. Dia berdiri tepat di hadapan Anindita, terlalu dekat—cukup dekat hingga Anindita bisa mencium aroma cologne-nya yang maskulin, aroma yang dulu sangat dia kenali.

"Kamu terlihat pucat." Mata hijau itu menatapnya intens, terlalu intens. "Ada masalah dengan adikku?"

Anindita tertawa kecil, berusaha santai. "Tidak ada. Hanya... hari yang panjang."

"Benarkah?" Zaverio memiringkan kepalanya sedikit, senyum tipis bermain di bibirnya. Senyum yang dulu bisa membuat Anindita meleleh, tapi sekarang hanya membuatnya waspada. "Atau mungkin ada yang ingin kau ceritakan... pada mantan kekasihmu yang dulunya sangat mengenalimu?"

Anindita menelan ludah. Berbahaya. Pria ini berbahaya.

"Itu sudah lama, Kak. Kita sudah move on."

"Oh?" Zaverio melangkah lebih dekat, hingga hanya sejengkal jarak memisahkan mereka. Matanya menatap dalam, seolah membaca setiap rahasia yang Anindita sembunyikan. "Apakah benar begitu, Anindita?"

Dan di detik itu, Anindita tahu—hidupnya yang sudah rumit, baru saja menjadi jauh lebih complicated.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!