NovelToon NovelToon
Cadar Sang Pendosa

Cadar Sang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Romantis / Cintamanis / Balas Dendam / PSK / Konflik etika
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nadiaa Azarine

Dalam semalam, video scandal yang tersebar membuat kehidupan sempurna Adara hancur. Karirnya, nama baiknya, bahkan tunangannya—semuanya dihancurkan dalam sekejap.

“Gila! Dia bercadar tapi pelacur?”

“Dia juga pelakor, tuh. Gundik suami orang.”

“Jangan lupa… dia juga tidur sama cowok lain meskipun sudah punya tunangan se-perfect Gus Rafka.”

“Murahan banget, ya! Sana sini mau!”

“Namanya juga pelacur!”

Cacian dan makian terus dilontarkan kepada Adara. Dalam sekejap citranya sebagai influencer muslimah bercadar, dengan karya-karya tulisnya yang menginspirasi itu menghilang.

Nama panggilannya berubah menjadi “Pelacur Bercadar”. Publik mengecamnya habis-habisan bahkan beberapa orang ingin memukulinya.

Namun di tengah semua kekacauan yang terjadi, seorang pria mengulurkan tangannya kepada Adara.

“Menikahlah denganku, Adara. Aku akan membantumu untuk memperbaiki nama baikmu. Setelah semuanya membaik—kamu bisa pergi meninggalkanku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiaa Azarine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apa aku bisa dicintai?

Jakarta, 2022

Embun pagi masih menggantung di dedaunan. Adara duduk di balkon apartemennya sambil menikmati secangkir kopi susu hangat. Matanya menatap layar laptopnya tanpa berkedip, memperhatikan kesalahan kalimat yang sedang ia susun untuk buku terbarunya. Hingga suara dering ponsel mengalihkan fokusnya. Nama Umi Nafisah yang tertera di layar ponselnya membuat Adara bergegas mengangkat panggilan itu.

“Assalamu`alaikum, Umi,” sapa Adara.

“Waalaikumsalam. Kamu sedang sibuk, Nak?” tanya Nafisah lembut.

“Enggak, Umi. Hari ini Dara cuma mau nulis aja di rumah.”

“Apa ada deadline penting?”

“Nggak ada, Umi.” Adara menggeleng pelan, meskipun Umi Nafisah tidak bisa melihatnya.

“Jadi gini, Sayang. Hari ini Rafka mau ke Jakarta, mau ngajak kamu fitting gaun pengantin. Kamu ada waktu, kan?”

“A-ada Umi…” jawab Adara gugup. Jantungnya berdetak cepat mendengar ucapan calon ibu mertuanya itu.

“Alhamdulillah. Rafka akan jemput kamu nanti, ya. Tapi tidak ada perempuan yang bisa menemani Rafka dari sini, Nak. Umi dan Mbak Radisa tidak bisa menemani jadi Rafka akan pergi bersama Mufasa. Apa Ayumi bisa menemani kamu?” tanya Umi Nafisah. Tentu saja dia tidak akan membiarkan putranya berduaan dengan Adara.

“Ayumi sedang pergi ke London, Mi,” jelas Adara.

“Wah gimana, ya? Nggak mungkin kamu pergi sendirian sama dua cowok itu. Bukan apa-apa, Umi hanya takut muncul fitnah.”

“Dara paham, Umi…” jawab Adara. Tiba-tiba matanya tertuju pada gadis yang baru saja keluar dari kamarnya. Ah, dia sempat lupa kalau ada orang lain di apartemennya sekarang.

“Umi tenang aja. Adara bisa ajak temen yang lain!” Adara tersenyum sumringah.

“Alhamdulillah kalau begitu. Nanti Rafka akan menghubungi kamu, ya. Umi tutup dulu ya teleponnya, Assalamu’alaikum.”

“Waalaikumsalam, Umi,” jawab Adara. Panggilan pun terputus.

“Junia? Kamu baru bangun?” tanya Adara.

Junia yang baru keluar dari kamar menghentikan langkahnya. Ia menatap Adara lalu mengangguk pelan. “Iya, aku baru bangun.”

“Shalat shubuh nggak?” tanya Adara memastikan.

“Habis shalat aku tidur lagi karena ngantuk banget,” jelas Junia. Tentu saja dia berbohong. Sudah lama sekali ia tidak shalat, sejak ia masuk ke dunia malam.

Adara mengangguk pelan. “Badan kamu gimana rasanya? Kepalanya masih pusing nggak?” tanya Adara lagi.

“Alhamdulillah udah mendingan,” jawab Junia hati-hati.

Adara menatap Junia dengan tatapan ragu. Tapi dia butuh Junia untuk menemaninya hari ini.

“Dara… terima kasih banyak karena kamu udah nolongin aku. Tapi kayaknya aku harus pergi deh. Aku nggak mau melibatkan kamu dalam masalah aku,” ucap Junia.

“Junia… kamu nggak merepotkan aku sama sekali, kok. Sejujurnya aku juga butuh teman di apartemen ini.” Adara menatap Junia. “Aku sedang kuliah S2 di sini dan tinggal sendirian. Keluargaku di Bogor tapi rumah nenekku ada yang di Jakarta sih.”

“Wah, kamu hebat, ya. Pasti kamu orang kaya!” Celetuk Junia.

Adara tertawa kecil. “Orangtuaku iya, kalau aku masih merintis karir.”

“Kamu bekerja?” tanya Junia.

“Aku influencer dan seorang penulis buku non fiksi islami.” Junia memperkenalkan diri. “Kadang aku kerja di luar, dan kadang dari dalam rumah saja. Tapi sejujurnya aku lebih suka di dalam rumah.”

“Jadi… aku ketemu sama artis?” seru Junia.

Adara tertawa. “Bukan artis…” sahutnya.

“Tapi kamu hebat banget. Aku nggak nyangka bisa ketemu orang sehebat kamu!” ujarnya. “Btw, umur kamu berapa?”

“Aku 23 tahun. Kalau kamu?”

“Aku 22 tahun. Jarak kita nggak terlalu jauh, ya. Apa aku harus memanggil kamu kakak?” tanya Junia.

“Hei! Jangan berlebihan. Panggil aku Dara saja, kita teman kan sekarang?” ucapnya.

“Teman?” Junia mengulangi ucapan Adara.

Junia tidak punya teman sejak masuk ke dunia malam. Dia tidak tertarik berteman dengan siapapun. Satu-satunya teman yang ia punya adalah Laura dan itu pun dia sudah tidak pernah tau lagi tentang Laura sekarang. Tapi sekarang seseorang yang baru mengenalnya kemarin mengajaknya berteman.

“Iya, kita teman.” Junia mengangguk pelan. “Dia pasti tidak akan menganggapku temannya lagi saat tau siapa aku sebenarnya. Dia pasti hanya mau berteman denganku karena aku berpakaian sama sepertinya kemarin.” batin Junia.

“Berarti kamu mau kan tinggal di sini?” tanya Adara.

“Mungkin hanya sementara aja, Dar. Aku nggak mungkin menumpang hidup sama kamu, kan?” Junia tertawa kecil.

“Ya sudah, aku nggak bisa memaksa kamu, Jun. Semua keputusan ada di tangan kamu.” Junia mengangguk pelan. “Tapi aku mau minta tolong sesuatu ke kamu, Jun.”

“Minta tolong apa?” Junia mengernyitkan dahinya.

“Aku ada fitting baju pengantin hari ini. Dan mertuaku minta aku ditemenin perempuan. Kamu tau kan meskipun udah tunangan kami nggak bisa jalan berduaan,” jelas Adara. “Biasanya temanku Ayumi yang nemenin aku. Tapi dia lagi di luar negeri. Karena kebetulan ada kamu… kamu bisa nemenin aku nggak?”

Junia terdiam sepersekian detik. Kata pengantin menggantung di udara seperti sesuatu yang asing di telinganya. Menjadi pengantin adalah satu-satunya hal yang bahkan terlalu berdosa untuk ia impikan. Seorang wanita kotor dan berdosa sepertinya tidak layak memimpikan hal semacam itu.

“Tentu,” jawabnya akhirnya. “Aku bisa nemenin kamu kok!” jawab Junia. Setidaknya dia bisa melihat proses pernikahan secara langsung. Mungkin itu saja sudah cukup.

---

Dua jam kemudian, mobil hitam berhenti di depan butik bridal syar’i premium di Kemang. Pintu belakang terbuka dan Rafka turun lebih dulu. Ia bergegas membukakan pintu untuk Adara, mempersilahkan gadis itu untuk turun.

Sementara Mufasa membantu membuka pintu untuk Junia. “Silakan, Mbak.” ujarnya ramah.

Adara turun dengan anggun. Jantungnya berdetak cepat saat melihat Rafka. Dia semakin tampan saja. Adara bergegas mengalihkan pandangannya saat mengingat bahwa Rafka belum halal untuk ia tatap.

“Ayo, Jun!” Adara menggandeng tangan Junia lalu bergegas masuk ke dalam butik.

Di dalam butik, gaun syar’i berwarna ivory dipajang di stand. Salah satu pramuniaga datang menyambut Adara dengan ramah.

“Selamat datang, Nona Adara. Kami sudah siapkan beberapa pilihan yang akan sangat cantik untuk dipakai saat pernikahan Nona Adara dan Tuan Rafka besok.” Pramuniaga itu menuntun Adara menuju ruangan khusus.

“Kamu suka gaun yang kayak mana?” Adara melirik Rafka.

“Semua baju itu bakalan cantik kalau kamu pake, Dara. Jadi apapun pilihan kamu, aku akan suka,” jawab Rafka dengan senyuman manisnya.

Adara berdehem mendengar ucapan Rafka. Sementara Mufasa menatap sahabatnya itu dengan tatapan muak.

“Lebay lo!” ujarnya kesal.

“Iri aja lo, jomblo!” Rafka menjulurkan lidahnya.

“Ih malah berantem!” Adara memutar malas bola matanya lalu menarik tangan Junia untuk mengikutinya.

Adara masuk ruang ganti ditemani Junia. Setelah beberapa menit di dalam ruang ganti, tirai pun terbuka.

Adara melangkah keluar mengenakan gaun cantik dengan detail lace kecil. Gaun itu memiliki potongan A-line yang mengalir indah, dimulai dari pinggang yang sedikit dinaikkan dan melebar longgar hingga menyapu lantai. Bagian roknya berlapis-lapis, memberikan volume yang lembut.

Rafka menatap Adara tanpa berkedip. Mufasa yang melihat hal itu langsung menarik telinga Rafka agar segera sadar.

Pramuniaga tersenyum, “Bagaimana menurut calon suaminya?”

Rafka menarik napas pendek. “Cantik. Selalu cantik.”

Wajah Adara memerah mendengar pujian Rafka. Untung saja ia memakai masker hingga tidak ada yang bisa melihatnya.

Junia menatap adegan itu lalu menarik napas kasar, dadanya terasa sesak. Aneh sekali. “Apa aku bisa merasakan dicintai laki-laki seperti itu? Dicintai dan dihormati tanpa harus menjual tubuh?” batinnya.

***

Bersambung…

1
Suratmi
sepertinya ada musuh dalam selimut,, seperti nya rasa iri si Jun bakal buat Dara kena Fitnah,,semangat ya kak author..di tunggu upnya💪💪
Suratmi
karya Author sangat bagus.. menginspirasi kita perempuan agar lebih berhati-hati dalam kehidupan
Lovita BM
ayok up lagi kakak ✊🏼
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Meliandriyani Sumardi
salam kenal kak
Sweet Girl
Bisa jadi ... mesti diselidiki.
Khan sudah ada clue, Tattoo Mawar.
Sweet Girl
Ijin baca Tor...
episode pertama bagus, bikin penasaran.
semoga selanjutnya makin bagus.
Sweet Girl
Kamu salah... Makai Cadar kok karena Adara...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!