Song An, karyawan kantoran abad ke-21 yang meninggal karena lembur tanpa henti, terbangun di tubuh seorang selir bayangan di istana Kekaisaran statusnya setara hiasan, namanya bahkan tak tercatat resmi. Tak punya ambisi kekuasaan, Song An hanya ingin hidup tenang, makan cukup, dan tidak terseret drama istana.
Namun logika modernnya justru membuatnya sering melanggar aturan tanpa sengaja: menolak berlutut lama karena pegal, bicara terlalu santai, bahkan bercanda dengan Kaisar Shen yang terkenal dingin dan sulit didekati. Bukannya dihukum, sang kaisar malah merasa terhibur oleh kejujuran dan sikap polos Song An.
Di tengah kehidupan istana yang biasanya penuh kepura-puraan, Song An menjadi satu-satunya orang yang tidak menginginkan apa pun dari kaisar. Tanpa sadar, sikap santainya perlahan mengubah hati Kaisar Shen dan arah takdir istana dengan cara yang lucu, manis, dan tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Setelah Topeng Itu Jatuh
Setelah penangkapan pangeran Dao istana tidak meledak dalam kekacauan dan tidak ada teriakan serta tidak ada pemberontakan terbuka. Tapi justru sebaliknya ini terlalu tenang.
Seolah semua orang menahan napas, menunggu kabar resmi yang belum diucapkan tapi sudah dirasakan.
Pangeran Dao ditahan.
Kabar itu menyebar seperti asap tipis tidak terlihat jelas, tapi tercium di mana-mana.
Paviliun Song An
Selir Li duduk diam sejak pagi, tangannya memeluk cangkir teh yang sudah dingin.
“Aku masih tidak percaya…” gumamnya.
Selir Zhang berdiri di dekat jendela. “Aku juga. Rasanya seperti mimpi yang buruk tapi tidak bisa bangun.”
Song An duduk di lantai, menyandarkan punggung ke tiang kayu paviliun.
“Ini bukan mimpi,” katanya pelan. “Ini bagian yang memang harus terjadi.”
“Kenapa harus keluarga sendiri?” tanya Selir Li lirih.
Song An menatap halaman kosong.
“Karena orang luar tidak punya akses sebesar itu.”
Keheningan jatuh lagi.
Selir Zhang menoleh. “Kau kelihatan lebih tenang dari biasanya.”
“Aku lelah,” jawab Song An jujur.
“Lelah?” tanya selir Zhang
“Aku sudah menduga kemungkinan ini,” katanya pelan. “Tapi berharap salah.” jawab Song An
Sedangkan di ruang kerja dalam Kaisar, Kaisar Shen tidak tidur semalaman.
Meja di depannya dipenuhi dokumen lama izin perdagangan, catatan penghapusan pajak, jalur logistik tersembunyi.
Semua ditandatangani atau disetujui oleh satu nama.
Dao.
Tangannya berhenti di satu dokumen lama.
Tulisan tangan itu dikenalnya. Mereka dulu belajar kaligrafi bersama.
Pintu diketuk pelan.
“Masuk.”
Song An masuk tanpa suara berlebihan.
Mereka saling menatap sebentar.
“Kau belum istirahat,” kata Song An.
“Kau juga,” jawab Kaisar Shen.
Song An duduk tanpa menunggu izin formal. Sekarang mereka sudah melewati tahap itu.
“Bagaimana keadaannya?” tanyanya pelan.
“Dia tenang,” jawab Kaisar Shen. “Seperti sudah menunggu hari ini.”
Song An mengangguk pelan. “Orang yang merasa benar jarang terlihat panik.”
Kaisar Shen tersenyum tipis, pahit.
“Dia selalu seperti itu. Sejak kecil.”
Percakapan yang Tertunda
“Bolehkah aku menemuinya?” tanya Song An tiba-tiba.
Kaisar Shen menatapnya. “Kenapa?”
“Aku ingin memastikan sesuatu.”
“Kau tidak takut?”
“Takut,” jawab Song An. “Tapi aku lebih takut kalau ada yang belum kita lihat.”
Setelah hening cukup lama, Kaisar Shen mengangguk.
“Aku ikut.”
Di ruang tahanan dalam tidak gelap, tidak lembap, tidak seperti penjara.
Hanya ruangan batu yang sunyi dengan satu meja kecil.
Pangeran Dao duduk santai, tangannya terlipat di meja. Wajahnya tidak menunjukkan penyesalan.
“Gege,” katanya saat mereka masuk. “Kau datang sendiri?” tanya pangeran Dao
“Tidak,” jawab Kaisar Shen.
Dao menoleh, melihat Song An. “Ah. Selir bayangan.”
Song An berdiri tegak. “Pangeran.”
“Sudah bukan pangeran, kurasa,” katanya ringan.
“Kenapa kau tidak lari?” tanya Song An langsung.
Dao tersenyum. “Karena aku tidak kalah.”
Kaisar Shen mengepalkan tangan. “Cukup.”
“Tapi ini menarik,” lanjut Dao santai. “Kalian pikir menang karena menemukanku?”
“Jaringanmu hancur,” kata Kaisar Shen.
Dao menggeleng pelan.“Jaringan itu tidak pernah milikku sepenuhnya. Aku hanya… membuka pintu.”
Song An memperhatikan setiap kata.“Untuk siapa?” tanyanya.
Dao menatapnya lama.“Kau benar-benar ingin tahu?”
“Ya.” jawab singkat Song An
“Untuk orang-orang yang lelah menunggu perubahan darimu, gege.”
Kaisar Shen menatapnya tajam. “Siapa mereka?”
Dao tersenyum tipis.“Kalau kuberitahu sekarang, permainan selesai terlalu cepat.”
Song An melangkah setengah langkah maju.“Ini bukan permainan.”
“Bagi kalian mungkin,” jawab Dao tenang. “Bagiku ini pilihan.”
-----
Mereka akhirnya Keluar dari Ruang Itu, begitu pintu tertutup, Selir Zhang yang menunggu di luar langsung berdiri. “Bagaimana?” tanyanya.
Song An menghela napas. “Ini belum selesai.”
Selir Li menegang. “Apa maksudnya?”
“Dao bukan puncak,” kata Song An pelan. “Dia jembatan.”
Kaisar Shen terdiam.“Aku tidak mau percaya,” katanya lirih.
“Tapi kau sudah tahu,” jawab Song An lembut.
Malam yang Berat
Malam itu, hujan turun pelan.
Selir Li duduk dekat jendela. “Apa kita akan baik-baik saja?”
Selir Zhang menjawab pelan, “Aku tidak tahu.”
Song An memandang langit gelap. “Dulu aku pikir bahaya itu datang seperti badai,” katanya.
“Ternyata lebih sering seperti kabut. Tidak terlihat jelas, tapi membuat kita tersesat pelan-pelan.”
Selir Li menoleh. “Kau menyesal terlibat sejauh ini?”
Song An berpikir lama sebelum menjawab.
“Kalau aku tidak terlibat,” katanya pelan, “aku tidak akan pernah punya kalian.”
Dua selir itu terdiam, lalu mendekat duduk di sisinya.
Untuk beberapa saat, mereka hanya mendengarkan suara hujan.
----
Sedangkan kaisar yang saat ini sendiri di ruangannya, Kaisar Shen berdiri di depan papan catur batu.
Dua bidak sudah jatuh.
Tapi permainan belum selesai.
“Dao…” gumamnya.
Untuk pertama kalinya, ia merasa bukan hanya sebagai kaisar yang dikhianati—
tapi sebagai kakak yang gagal melihat luka adiknya.
Ketukan pelan terdengar.
Song An masuk tanpa banyak kata.
“Kau tidak harus melalui ini sendirian,” katanya.
Kaisar Shen tertawa kecil. “Aku kaisar. Sendiri adalah bagian dari jabatan.”
Song An menggeleng pelan. “Tidak malam ini.”
Mereka berdiri berdampingan dalam diam.
Tidak perlu kata-kata besar.
Hanya dua orang yang sama-sama lelah, tapi masih berdiri.
Di Tempat Lain…
Seorang kurir berkuda meninggalkan ibu kota di tengah hujan.
Di dalam tasnya, sebuah surat pendek.
“Dao tertangkap. Rencana tahap dua dimulai.”
Cap lilin di surat itu bukan milik istana Shen.
Dan bukan milik Dao.
Permainan memang berubah.
Tapi belum berakhir.
Bab ini menutup fase pengkhianatan keluarga, dan membuka fakta bahwa Dao hanyalah penghubung menuju kekuatan yang lebih besar di luar istana.
Bersambung